Pengalaman Pertama Scuba Diving

Pertama kali nyebur ke laut waktu kecil itu pas snorkeling di Pulau Pantara, Kepulauan Seribu. Rasanya gak sampai 1 menit melihat bawah laut, aku trauma karena melihat ikan yang lebih besar dari badanku dan melihat kedalaman saat itu. Sekarang udah bangkotan, jadi penasaran gimana rasanya scuba diving

Pertama kali scuba divingSo nervous and excited at same time!

Kepikiran mau coba scuba diving mungkin sudah dari tahun lalu. Barulah tahun ini memutuskan, kalau gak sekarang, kapan lagi? Lalu, apa yang akhirnya membuat tekad bulat untuk ambil kelas? Aku pikir Indonesia itu sudah terkenal akan keindahan bawah lautnya. Kayanya seru juga ya eksplor bawah laut, selain wisata land tour.

Open Water Diver Course


Tanggal 11 April lalu, untuk pertama kalinya kelas kolam di Kolam Renang Sepolwan, Lebak Bulus. Ada kolam dangkal dan kolam dalam di sini. Kolam dalam sekitar 3,5 meter. Sebelumnya, kami dijelaskan mengenai alat-alat yang digunakan selama menyelam termasuk cara penggunaannya. Kelas kolam pertama aku dan Bayu (buddy), diajar sama ka Jonat dan ka Zaki dari Kurabesi Dive School.

Waktu akhirnya harus turun ke kolam dalam, even aku gak berani. Aku gagal terus untuk descent (turun) sampe dasar. Iya ditambah tingkat visibility kolam yang kurang baik saat itu, ditambah  juga hujan deras. Panik? Gak usah ditanya. Sampe bilang dalam hati, yaampun ini aku salah gak sih bisa sampe sini. Haha. 

Baru sebentar ka Jonat dan Bayu descent, aku sudah gak lihat keberadaan mereka dan aku jadi malah nunggu di surface. Parah banget rasanya pertama kali nafas pake mulut lewat regulator aja aneh buatku. Mungkin lebay, tapi kayanya tulisan ini sedikit banyak bisa menggambarkan kepanikanku ya.

Kelas kolam pertama. Muke serius amet nih.

Tanggal 14 April, kami ada kelas teori virtual by zoom. Kalo kata lagu Pamungkas "To the Bone" dijelasin teori-teori scuba diving. Mulai dari alat selam, fisika penyelaman, dan masih banyak lagi. Iya, kami belajar fisika dan matematika seperti zaman sekolah dulu. Semua materi termasuk videonya, bisa diakses online atau melalui aplikasi mySSI. Ada beberapa section dan tiap section ada tes, yang juga jadi materi saat ujian teori nanti. Selama 2,5 jam kelas berasa cepat aja gitu. 

Kelas teori virtual ditemenin sama Ponie.

Tanggal 15 April, kami kelas kolam lagi. Lokasinya di Kolam Renang Aquatic Center Bekasi. Sekarang kolamnya lebih dalam, sekitar 5 meter. Tapi karena tingkat visibility lebih baik, jadi rasa takutku berkurang (sedikit). Kami belajar materi-materi yang akan diujikan nanti saat open water ke laut, ada sekitar 20 basic skills lebih yang harus kami pelajari. Hari itu kami diajar sama ka Raymond, which is orang pertama yang aku hubungi saat mau gabung les diving ini. 

Kolamnya bening!

Pengalaman Pertama Scuba Diving di Laut


Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Tanggal 17-18 April, kami ke pergi ke Pulau Pramuka untuk latihan di laut sekaligus ujian praktek dan teori. Untuk lulus ujian dan menerima lisensi open water diver, kami harus menyelam di laut sebanyak empat kali. Kami berangkat dari Dermaga 16 Marina Ancol menuju Pulau Pramuka selama kurang lebih 1,5 jam dengan kapal ferry.

Persiapan diving hari pertama bareng ka Yasser.

Setelah check-in dan makan siang, kami bersiap untuk diving di spot pertama dan kedua. Lokasinya di Dermaga Pulau Pramuka. Pertama kalinya nyelup ke laut di kedalaman 6 meter, untuk mempraktekkan materi-materi yang sudah kami pelajari di kolam. Apa rasanya? Gak usah ditanya, lagi deg-degan, panik, takut, excited, campur aduk semua! Haha. 

"Mask on, regulator on." kata ka Raymond sambil menginsyaratkan jempol ke bawah.

Aku susah descent, sampai akhirnya ka Raymond bantu aku untuk sampai panggung putih, karena Bayu dan ka Yasser sudah menunggu di sana. Jujur aku deg-degan saat mask clearing dan mask removal. Aku harus merem saat itu karena mataku pake softlens

Walaupun udah latihan di kolam, tetap aja rasanya beda. Mata agak perih dan hidung agak tersedak. Tapi saat itu, apa yang bisa kulakukan adalah bertahan bukan? Haha. Kadang manusia begitu kan, saat terdesak, akhirnya jadi bisa melakukan apa yang sebelumnya mungkin dirasa gak bisa. Jadi akhirnya bisa juga mask clearing di bawah laut. 

Ini panggung putih di kedalaman 6 meter yang kumaksud.

Aku gak terlalu bermasalah dengan equalizing. Tapi kadang malah lebih khawatir mask di mata yang (berasanya) suka mau copot. Padahal ka Raymond bilang mask aku udah kenceng. Haha. Fyi, equalizing itu menyamakan tekanan udara pada telinga. Di kelas teori dikupas tuntas kenapa kita harus melakukan itu. Selain masalah mask clearing dan susah descent, masalah lainnya adalah bouyancy. Yaampun si Irene ini memang banyak masalah hidupnya. Haha.

Spot Menara.

Fish Shelter/Fish Apartement.

Spot ketiga dan keempat namanya Soft Coral dan Area Perlindungan Laut (APL). Aku melihat banyak hal yang belum pernah kulihat sebelumnya (norak). Di spot Soft Coral, ada menara tempat ikan berkumpul, kelihatannya kaya puncak monas ya. Lalu ada fish shelter/fish apartment (yang bentuknya kotak-kotak itu). 

"Fish shelter/Fish apartment itu semacam artficial structure yang ditaruh supaya ikan di sana dan berketurunan sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai, karena ikanpun butuh struktur untuk hidup. Makanya terumbu karang yang bentuknya macam-macam, jadi lokasi favorit ikan." kata ka Raymond. 

Finally got my bouyancy.

Ikan Memora yang nempel di tank-ku.

Area Perlindungan Laut adalah area yang tidak diperbolehkan melakukan kegiatan ekstraktif seperti memancing. Jadi hanya boleh berkegiatan non-ekstraktif seperti diving, snorkeling, dan penelitian. Hal tersebut dilakukan supaya ikan dan karang di dalam APL tumbuh sehat dan tidak memiliki tingkat kematian tinggi. 

Kami menyelam hingga kedalaman 15 meter. Selain belajar basic skills penyelaman, kami juga diajarkan menggunakan dive computer (dive comp) yang ternyata canggih banget! Bukan jam tangan biasa, tapi dive comp ini menunjukkan tekanan udara, kedalaman air, hingga suhu air laut. Terlebih saat mereka ada pada kedalaman tertentu, dive comp akan memberi tahu batas maksimal waktu yang dibutuhkan selama di bawah laut.

Moray Eel.

We did it!


Surprisingly, pas dibawah laut itu kok lama-lama rasanya malah bisa udah menikmati. Rasanya senang banget bisa lihat school fishing walaupun ikan kecil-kecil. Haha. Aku melihat penyu, bintang laut, jenis-jenis coral yang aku pelajari di kelas teori, ikan Nemo, ikan Memora dan Moray Eel. Tak terkecuali aku juga melihat banyak sampah. Hiks. 

Fyi, Moray Eel itu sejenis belut yang biasanya bersembunyi diantara karang. Dia menampakkan bagian kepala dan mulut dengan gigi yang tajam. Ka Raymond memberi tanda bahwa ikan ini berbahaya jika kita mengusiknya. Jadilah akupun bergegas meninggalkan Moray Eel. Haha

Serba-serbi Les Diving; Harga & Dive School


From pool to the sea. Aku bisa bilang ternyata untuk belajar basic scuba diving di open water course hanya membutuhkan waktu seminggu. Bisa dilihat dari tanggal diatas ya. Waktu yang terbilang singkat buatku. Tapi kegiatan olahraga menantang ini memang butuh jam terbang juga biar lebih terbiasa dengan air, alat, dan skill pastinya.


Pertanyaan paling banyak soal les diving ini adalah sekolah dimana dan berapa biayanya. Jadi waktu ke Papua akhir tahun lalu, aku ketemu sama mas Wiro. Doi cerita-cerita tentang diving gitu. Lalu pas akhirnya mau les diving, aku kepikiran tanya mas Wiro, kali aja punya kenalan. 

Eh beruntungnya aku dikenalin sama ka Raymond. Belum mulai les aja, udah diceritain macem-macem soal dunia perlautan yang bikin penasaran. He's Assistant Instructor Trainer SSI International, Marine Conservation Practitioner, and he's full experience of this for sure. Jadilah makin trusted, ya kan? Haha. ka Raymond ini yang jadi instructor-ku dari Kurabesi Dive School. Ada divemaster ka Zaki dan ka Jonat yang ngajarin kami juga.

Me and my instructor.

Pengajaran di Kurabesi Dive School itu fun tapi tetep fokus. Jadi kalau salah, pasti diminta ulang sampe kita benar melakukannya. Instructor dan divemaster sabar banget aseli, penjelasannya mudah dimengerti, diajarin sampe bisa, dan yang paling penting bikin nyaman. Oops! Maksudnya gini lho guys, jujur mungkin udah gak terhitung berapa kali aku panik di kolam dan laut apalagi. 

Tapi rasanya dengan instructor dan divemaster yang bikin tenang, dan berasa kalo kita gak sendirian, it feels like more safe and always in positive energy.  Aku ingat banget kata-kata ka Raymond, saat panik itu kadang kita bawaannya pengen buru-buru muncul ke surface. "Tapi apa yang kita cari di surface? Udara? Kita bawa udara di tank." Oh oke I will always noted then

Harga per April 2021. Mari coba sebelum harga naik.

Kelas Open Water Course di Kurabesi Dive School seharga Rp5.300.000 cukup worthit buatku. Harga tersebut sudah kelas kolam, kelas teori, dan kelas laut di Pulau Pramuka. Semua alat, termasuk wetsuit, mask, fins, tank, dan lain-lain juga sudah termasuk untuk dipinjamkan. All in tinggal bawa diri aja guys! Pembayarannya juga bisa dicicil lewat Tokopedia, jadi bisa pilih senyamannya. Haha.

Pengalaman pertama scuba diving sangat berkesan buatku. Bukan cuma teknik menyelam, tapi saat scuba diving, aku belajar banyak. Belajar percaya sama kemampuan diri, belajar untuk gak cepat panik. Kami juga belajar untuk menghargai dan melakukan evaluasi dari setiap penyelaman tentang apa yang baik dan kurang dari penyelaman kami, dari segi apapun. 

Thanks team!

Kalo udah lulus, selain dapat kaos, dapet merchandise, dan sertifikat juga guys.
Dapet jodoh juga bisa sih kalo cocok ye kan? Haha.

There's always first time for everything. Finally graduated as Open Water Diver. I still beginner and need more dive log. Haha. Thanks team, for made one of my bucket list come true. Hopefully, see you in the next dive trip!

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Hutan Indonesia Salah Satu Solusi Mitigasi Iklim

Gletser terakhir di Indonesia. Sumber: Good News From Indonesia

Beberapa tahun belakangan, berasa gak sih cuaca di negeri ini gak menentu? Apalagi kalau lagi panas rasanya menyengat banget, mataharinya gak ada diskon. Masih ingat juga banjir bandang yang terjadi di Kalimantan Selatan dan NTT belum lama ini? Kondisi ekstrem tersebut adalah tanda-tanda perubahan iklim. Makanya, kita butuh solusi untuk krisis iklim yang terjadi. Salah satunya adalah Hutan Indonesia sebagai Mitigasi Iklim. Apa maksudnya?



Masalah Krisis Iklim di Indonesia


Berdasarkan World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019, menyatakan bahwa perubahan iklim menempati posisi teratas sebagai penyebab musibah seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem. 

Yuyun Harmono, selaku Manager Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) mengatakan bahwa perubahan iklim yang terjadi menyebabkan biodiversitas dan ekosistem terganggu sehingga berdampak pada kehidupan manusia, seperti; kelangkaan air dan gagal panen/kekurangan pangan.
 

Sebuah lembaga analisis bernama Carbon Brief, mengumpulkan data dari enam lembaga pemantau suhu permukaan bumi dan menyatakan bahwa Tahun 2020 adalah suhu terpanas sepanjang sejarah dengan kenaikan 0,9 derajat celcius lho! Nah, jika peningkatan mencapai ambang batas suhu yaitu pada 1,5 derajat celcius, hal ini akan menyebabkan pemusnahan terhadap ekosistem penting yang mendukung kehidupan manusia, misalnya sumber pangan.
Dalam acara gathering virtual Eco Blogger Squad pertama ini, ka Gita memperkenalkan kami sebuah teori bernama Ekonomi Donat dari Kate Worth. Sebuah diagram yang berbentuk donat ini menggambarkan hubungan antara sumber daya alam, manusia, dan kesejahteraannya. 

Diagram terdiri dari lingkaran bagian luar dan dalam. Lingkaran pada bagian dalam menunjukkan sumber daya bagi kehidupan kita, seperti; makanan, air, energi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan lingkaran pada bagian luar menunjukkan batasan alam yang bisa menjadi potensi terjadinya krisis iklim, polusi air, rusaknya ekosistem, dan lain-lain.

Sedangkan ruang yang ada bagian tengah diantara keduanya menunjukkan ruang tempat manusia bertahan hidup. Diagram Ekonomi Donat menjelaskan bahwa lingkaran bagian luar adalah batas yang harus kita jaga, supaya apa yang ada pada lingkaran bagian dalam, tidak mengganggu fungsi ekologis. Tanpa tanah, udara, air yang kualitasnya baik, akan sulit untuk merencanakan sesuatu di ruang bagian tengah. 

Hutan Bukan Hanya Sekadar Pohon


Hutan memang identik dengan pohon-pohon. Tapi lebih dari itu, hutan adalah rumah bagi flora dan fauna khas Indonesia serta memiliki banyak kekayaan alam untuk kehidupan makhluk hidup, apalagi hutan di Indonesia. Hutan mungkin terlihat jauh di mata, namun manfaatnya bisa kita rasakan, termasuk sebagai pemasok oksigen paling besar di muka bumi dan sebagai sumber pangan. 



Pada tahun 2020, transaksi e-commerce mencapai nilai Rp266,3 T, namun presentasi produk lokal masih dibawah 20% di semua platform (fashion, makanan, alat rumah tangga, dan lain-lain). Padahal kita harusnya bangga dengan produk lokal dan hasil hutan Indonesia. Dengan membeli produk lokal hasil hutan, kita tidak hanya membantu melestarikan alam, tapi juga membantu masyarakat yang hidup dari hasil hutan.


Hutan Indonesia menjadi salah satu solusi mitigasi iklim dan hal-hal di atas adalah peran kita untuk bantu jaga hutan. Kita juga bisa dukung produk hutan non-kayu lainnya di sini ya. Christian Natalie, selaku program manager Hutan Itu Indonesia (HII) mengatakan bahwa kita harus gencar melakukan kampanye dan narasi tentang pentingnya hutan dan kaitannya dengan perubahan iklim.

Selain menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup, hutan itu adalah sumber inspirasi. Saya suka mendengarkan beberapa lagu dari musisi yang terinspirasi dari alam. Beberapa lagu favorit saya antara lain lagu; Alami (Slank), Mahameru (Ari Lasso), Indonesiaku (Trio Lestari). Apa kamu terinspirasi dari alam juga?

Hutan Indonesia sebagai Salah Satu Solusi Mitigasi Iklim


Climate change is real! Kamu tahu kan salju Pegunungan Cartenz Jayawijaya di Papua adalah satu-satunya salju abadi di Indonesia? Namun keberadaan salju di sana semakin menipis. Para peniliti memperkirakan bahwa gletser ini akan mencair dan hilang pada tahun 2025!

Masalah krisis iklim yang terjadi di Indonesia dapat ditangani salah satunya dengan menjadikan hutan  sebagai salah satu solusi mitigasi iklim. Mitigasi iklim maksudnya usaha untuk mengurangi resiko peningkatan emisi gas rumah kaca.
Merayakan hari bumi, juga menyelamatkan manusia. Alam bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam. -Gita Syahrani, kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)-
Krisis iklim terjadi karena pemanasan global. Banyak faktor yang menyebabkan pemanasan global, antara lain; meningkatnya efek rumah kaca, polusi udara, penggunaan listrik yang boros, sampah plastik, dan penggundulan hutan. Padahal fungsi hutan adalah mengatasi efek rumah kaca penyebab pemanasan global. 

Untuk itu penting juga untuk menerapkan prinsip energi berkeadilan dalam upaya melakukan mitigasi perubahan iklim, antara lain dengan; menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia, memastikan hak-hak pekerja, dan hak free, prior and informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak, serta memastikan energi yang adil, dan meminimalisir limbah energi itu sendiri. 

Hak free, prior and informed consent yang dimaksud adalah hak masyarakat adat untuk mengatakan "ya dan bagaimana" atau "tidak" untuk pembangunan yang mempengaruhi wilayah mereka. 


Dalam rangka Hari Bumi, yuk mari kita berkontribusi juga untuk mengurangi jejak karbon untuk bumi yang lebih lestari dengan apapun profesi kita. Hutan Indonesia menjadi salah satu solusi mitigasi iklim, mari kita jaga bersama. Let's celebrate earth day every day!


Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Tips Lestarikan Cantikmu


Narasi soal melestarikan lingkungan memang sudah sering digaungkan. Tapi pada kesempatan kali ini, dalam rangka Blogger Gathering bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Madani Berkelanjutan, Blogger Perempuan, dan bersama narasumber yang ahli di bidangnya, membahas tentang topik "Lestarikan Cantikmu" secara virtual. Lho gimana caranya melestarikan cantik itu?

Gunakan Skincare Harus Bikin Happy 


Narasumber pertama adalah kak Danang Wisnu, seorang skincare content creator yang juga berprofesi sebagai dokter gigi. Melihatnya di layar zoom saja sudah membuatku iri karena muka kak Danang glowing banget! Haha. Kak Danang berbagi cerita tentang pentingnya memperhatikan kandungan atau bahan baku yang ada pada produk kecantikan.
"Pakai skincare itu harus bikin happy. Ketika produk yang kita pakai diproses dengan bagus dari sumber yang bagus, bahkan kita bisa saling menolong sesama. Maka hal itu yang membuat kita semakin bahagia." kata ka Danang.
Aku setuju dengan statement ini. Ketika kita sudah menemukan skincare yang tepat untuk kulit kita, rasanya gak mau skip untuk memakainya dan ini menjadi rutinitas yang menyenangkan. Penggunaan produk kecantikan juga harus sesuai dengan permasalahan kulit masing-masing. Untuk itu penting bagi kita mengetahui kandungan yang ada dalam produk kecantikan tersebut. sehingga kita mengerti cara kerjanya.

See! Wajah bersinarnya ka Danang. Haha

Pemilihan bahan baku yang ramah lingkungan dengan kesehatan kulit juga harus diperhatikan. Dengan begitu, kita jadi lebih aman dan nyaman menggunakan produk tersebut dan kembali lagi bikin suasana hati juga jadi happy. Menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan bukan hanya berdampak bagi kulit tapi juga berdampak bagi bumi. 

Fyi, skincare itu bukan cuma untuk para perempuan aja ya! Tapi laki-laki juga wajib pakai skincare, apalagi menggunakan sunscreen. Setuju? Ternyata kak Danang mulai menggunakan sunscreen sedari SD lho! Apalah aku yang baru mengenal sunscreen sejak kuliah, itupun dikasih tahu teman sehabis pulang dari Gunung Semeru. Haha.

Tips Memilih Produk Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial


Aku tipikal orang yang punya banyak pertimbangan sebelum membeli produk kecantikan, apalagi aku memiliki kulit yang sensitif. Beberapa faktornya antara lain mengenai; harga, kualitas, bahan, kemasan, dan review dari influencer. Kalo kalian apa pertimbangannya sebelum membeli produk kecantikan?

Baca Juga: Sustainable Beauty

Berdasarkan survey tren kecantikan yang diadakan oleh LTKL, Madani Berkelanjutan, dan beberapa mitra lainnya untuk negara Korea, Jepang, dan Cina, ternyata faktor bahan dalam produk menjadi salah satu yang cukup dipertimbangkan. Terutama karena negara-negara tersebut perhatian terhadap polusi yang terjadi; polusi udara, darat, dan air. 


Produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial adalah produk yang tetap menjaga fungsi alam tanpa bencana, menyejatherakan petani/pekerjanya, dan menjaga limbah dan energi produksi secara bertanggung jawab. Menurut kak Gita Syaharani, selaku Kepala Sekretariat LTKL, ada 6 tips memilih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial: 
  1. Baca Label 
  2. Kenali Bahan
  3. Pahami Komoditas Asal
  4. Mengetahui Dampak dari Komoditas
  5. Pilih Produk yang Lestari
  6. Bagikan Ceritamu
Secara singkat, kak Gita mengatakan bahwa pilihlah produk yang bercerita. Misalnya, darimanakah komoditasnya berasal, bagaimana produk itu diproses, dan lain-lain. Brand yang bisa menceritakan dan mengedukasi produknya secara lengkap dan jujur kepada konsumennya juga harus diapresiasi. Dengan begitu, mereka menjamin produknya memang aman.

Lestarikan Cantikmu dengan Komoditas Lokal


Produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial juga menyejahterakan warga menjaga lingkungan. Kita juga bisa mendukung produk lokal agar semakin berkembang dan bangga terhadap buatan Indonesia. 

Narasumber ketiga, kak Christine menceritakan perjanannya saat dulu traveling dan divingSepanjang jalan melihat Indonesia indah sekali, tapi kemanapun pergi pasti melihat sampah, di lautpun juga begitu. Saat naik pesawat melihat pemandangan indah tapi terlihat juga area hutan-hutan yang botak.

Dulu saat menginap di hotel, kak suka membawa pulang botol-botol toiletries yang ada di hotel. Tapi ternyata hal tersebut juga membuatnya berkontribusi terhadap peningkatan sampah plastik. Oleh karena itu, kak Christine terinspirasi untuk membuat Segara Naturals, sebuah produk ramah lingkungan dan ramah sosial yang minim sampah, anti tumpah, dan sehat alami. Segara ternyata artinya laut lho! 



Ini salah satu produk dari Segara Naturals yaitu travel soap varian gado-gado. Sabun batangnya sudah dipotong-potong, bikin praktis, dan gak pake tumpah-tumpah seperti toiletries yang seperti biasanya ada di hotel. Siapa penasaran dengan sabun gado-gado ini?

Bicara soal komoditas bahan baku produk, Indonesia itu sangat kaya. Segara Naturals menggunakan komoditas lokal Indonesia seperti; kopi, tengkawang, madu, dan lain-lain. Produk lokal ini tidak hanya menerapkan meminimalisir penggunaan plastik pada produknya, tapi juga secara operasional, serta kesinambungan dari hulu ke hilir (dari supplier, produksi, hingga konsumsi). 

Segara Naturals merupakan salah satu produk kecantikan yang sangat memerhatikan lingkungan dan sosial. Punya pengalaman menggunakan produk kecantikan dengan komoditas lokal untuk lestarikan cantikmu? Tulis di kolom komen ya!
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

1 komentar:

Fakta Mencengangkan Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah

Bahagia rasanya melihat tawa anak-anak di Kampung Bajo. Kampung Bajo yang kumaksud ini bukan di Labuan Bajo - Nusa Tenggara Timur ya, tapi tepatnya Kampung Bajo yang terletak di Desa Kondowa, Kecamatan Mawasangka, Buton Tengah. 

Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah.

Bermain air sembari melompat dari jembatan kayu, sepertinya sudah menjadi mainan sehari-hari bagi anak-anak di sini. Main gadget? Tidak sama sekali. Masa kecil yang dihabiskan dengan bermain permainan tradisional, berlarian, layaknya anak-anak kecil pada zamanku dulu.

Anak-anak bermain air tiada henti.

Kami naik perahu kayu dari Jembatan Laano Lambua, di Kampung Kaudani menuju kampung terapung Suku Bajo/Bajau. Tak lama, sekitar 15 menit waktu perjalanannya. Selama perjalanan, aku melihat banyak bagang (penangkap ikan tradisional) milik warga yang memang sebagian besar mata pencariannya sebagai nelayan. Sarana transportasi di sini adalah sampan/perahu. Aku melihat deretan perahu di hampir setiap rumah. 

Kampung Terapung Suku Bajo dan jembatan kayu menghubungkan tali silaturahmi antar warga.

Pembangunan masjid (kiri). Panel Surya di rumah warga (kanan).

Ada 54 Kepala Keluarga di sini. Rumah-rumah warga masih ada yang beratap daun kelapa, ada juga yang beratap beton. Rumah-rumah warga terhubung dengan jembatan kayu. Hati-hati saat berjalan di atasnya dan hindari berkerumun saat melintasi jembatan. 

Uniknya, sebanyak 32 rumah di Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah, sudah menggunakan solar panel lho, keren ya! Saat ini juga sedang dibangun masjid terapung di sana. 

Ada Pulau Keramat Penghasil Minyak


Mayoritas Suku Bajo ternyata juga ada di Wakatobi, namun ada juga yang di Buton Tengah. Sebagian masyarakat memilih untuk tetap tinggal di kampung halamannya di Buton Tengah, karena sudah lama menetap di sini.  Katanya sih Suku Bajo di Buton Tengah merupakan yang tertua di Mawasangka. 

Katanya, pulau kecil di belakang itu Pulau Keramat.

Berdasarkan info dari salah seorang warga Ibu Suriani,  dulu kampung ini sempat ada yang dibakar karena warganya tidak mau dipindahkan ke darat. Faktornya adalah karena memang sebagian besar mata pencahariannya di laut dan katanya ada Sumber Daya Alam Minyak di daerah situ. "Ada di Pulau Keramat namanya Tanda Bulawa." katanya. Makanya area ini sempat diperdebatkan karena warga yang masih mau menjaga kelestarian alam di sini. 

Anak-anak (dulu) Berenang ke Sekolah


Fakta lainnya yang agak membuat aku kaget adalah dulu anak-anak di Kampung Terapung Suku Bajo berenang kalau mau sekolah. B-E-R-E-N-A-N-G guys! Berenang ke Pelabuhan Abu. Tak jarang mereka terlambat ke sekolah karena ini. Aku sampai bertanya beberapa kali untuk memastikan hal itu. 

Sekarang anak-anak diajarkan dahulu melalui 'Kelas Jauh' (sebutan kelas) oleh para ibu untuk keterampilan membaca dan menulis. Jika sudah bisa, baru mereka disekolahkan ke 'darat' (sekolah yang ada di darat). Kalau Suku Bajo di Wakatobi, Buton Selatan sudah ada rumah baca untuk anak-anak. Semoga di sini kelak juga akan ada ya. Apa ada yang tertarik untuk sumbangkan buku-buku?

Bersama anak-anak Suku Bajo.

"Anak-anak di sini, sudah berenang sejak kecil." Begitu kata seorang bapak yang sedang memperhatikan anak-anak bermain. Tak heran, Suku Bajo dikenal sebagai suku laut, yang memiliki kehidupan tidak jauh dari laut. Mereka pandai menyelam, sedari kecil sudah bermain di laut begini. Perairan di sekitar Kampung Terapung Suku Bajo kira-kira memiliki kedalaman 1-1,5 meter. 

Gunakan Tabir Surya Alami


Jika para laki-laki bekerja sebagai nelayan, saya melihat para perempuan sedang membudidayakan rumput laut, ada juga yang membuka warung. Beberapa anak-anak dan para perempuan yang saya lihat juga wajahnya memakai bedak putih. Saya kira itu adalah mereka sedang menggunakan masker wajah atau memakai taburan bedak wajah biasa yang gak rata, cemong istilahnya. 

Budidaya rumput laut di Kampung Terapung Suku Bajo, Buton Tengah.

Tapi ternyata itu namanya bedak pupur, yakni tabir surya/sunblock alami yang dibuat dari beras putih dan/atau kunyit yang ditumbuk. Kalau istilah kecantikan memang terlihat white cast ya, tapi biasanya yang seperti ini memang menangkal sinar matahari lebih baik. Sebagai suku yang hidup di laut, mereka menggunakan tabir surya alami ini untuk merawat dan melindungi wajah dari terik matahari. 

Ibu Suriani dan anaknya. Di belakangnya ada ibu yang menggunakan sunblock alami.

Hari sudah semakin sore dan cuaca mendung saat itu. Rasanya masih belum puas berkeliling Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah. Terima kasih untuk sambutan hangatnya. Sampai jumpa kembali!
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

1 komentar: