Fakta Mencengangkan Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah

Bahagia rasanya melihat tawa anak-anak di Kampung Bajo. Kampung Bajo yang kumaksud ini bukan di Labuan Bajo - Nusa Tenggara Timur ya, tapi tepatnya Kampung Bajo yang terletak di Desa Kondowa, Kecamatan Mawasangka, Buton Tengah. 

Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah.

Bermain air sembari melompat dari jembatan kayu, sepertinya sudah menjadi mainan sehari-hari bagi anak-anak di sini. Main gadget? Tidak sama sekali. Masa kecil yang dihabiskan dengan bermain permainan tradisional, berlarian, layaknya anak-anak kecil pada zamanku dulu.

Anak-anak bermain air tiada henti.

Kami naik perahu kayu dari Jembatan Laano Lambua, di Kampung Kaudani menuju kampung terapung Suku Bajo/Bajau. Tak lama, sekitar 15 menit waktu perjalanannya. Selama perjalanan, aku melihat banyak bagang (penangkap ikan tradisional) milik warga yang memang sebagian besar mata pencariannya sebagai nelayan. Sarana transportasi di sini adalah sampan/perahu. Aku melihat deretan perahu di hampir setiap rumah. 

Kampung Terapung Suku Bajo dan jembatan kayu menghubungkan tali silaturahmi antar warga.

Pembangunan masjid (kiri). Panel Surya di rumah warga (kanan).

Ada 54 Kepala Keluarga di sini. Rumah-rumah warga masih ada yang beratap daun kelapa, ada juga yang beratap beton. Rumah-rumah warga terhubung dengan jembatan kayu. Hati-hati saat berjalan di atasnya dan hindari berkerumun saat melintasi jembatan. 

Uniknya, sebanyak 32 rumah di Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah, sudah menggunakan solar panel lho, keren ya! Saat ini juga sedang dibangun masjid terapung di sana. 

Ada Pulau Keramat Penghasil Minyak


Mayoritas Suku Bajo ternyata juga ada di Wakatobi, namun ada juga yang di Buton Tengah. Sebagian masyarakat memilih untuk tetap tinggal di kampung halamannya di Buton Tengah, karena sudah lama menetap di sini.  Katanya sih Suku Bajo di Buton Tengah merupakan yang tertua di Mawasangka. 

Katanya, pulau kecil di belakang itu Pulau Keramat.

Berdasarkan info dari salah seorang warga Ibu Suriani,  dulu kampung ini sempat ada yang dibakar karena warganya tidak mau dipindahkan ke darat. Faktornya adalah karena memang sebagian besar mata pencahariannya di laut dan katanya ada Sumber Daya Alam Minyak di daerah situ. "Ada di Pulau Keramat namanya Tanda Bulawa." katanya. Makanya area ini sempat diperdebatkan karena warga yang masih mau menjaga kelestarian alam di sini. 

Anak-anak (dulu) Berenang ke Sekolah


Fakta lainnya yang agak membuat aku kaget adalah dulu anak-anak di Kampung Terapung Suku Bajo berenang kalau mau sekolah. B-E-R-E-N-A-N-G guys! Berenang ke Pelabuhan Abu. Tak jarang mereka terlambat ke sekolah karena ini. Aku sampai bertanya beberapa kali untuk memastikan hal itu. 

Sekarang anak-anak diajarkan dahulu melalui 'Kelas Jauh' (sebutan kelas) oleh para ibu untuk keterampilan membaca dan menulis. Jika sudah bisa, baru mereka disekolahkan ke 'darat' (sekolah yang ada di darat). Kalau Suku Bajo di Wakatobi, Buton Selatan sudah ada rumah baca untuk anak-anak. Semoga di sini kelak juga akan ada ya. Apa ada yang tertarik untuk sumbangkan buku-buku?

Bersama anak-anak Suku Bajo.

"Anak-anak di sini, sudah berenang sejak kecil." Begitu kata seorang bapak yang sedang memperhatikan anak-anak bermain. Tak heran, Suku Bajo dikenal sebagai suku laut, yang memiliki kehidupan tidak jauh dari laut. Mereka pandai menyelam, sedari kecil sudah bermain di laut begini. Perairan di sekitar Kampung Terapung Suku Bajo kira-kira memiliki kedalaman 1-1,5 meter. 

Gunakan Tabir Surya Alami


Jika para laki-laki bekerja sebagai nelayan, saya melihat para perempuan sedang membudidayakan rumput laut, ada juga yang membuka warung. Beberapa anak-anak dan para perempuan yang saya lihat juga wajahnya memakai bedak putih. Saya kira itu adalah mereka sedang menggunakan masker wajah atau memakai taburan bedak wajah biasa yang gak rata, cemong istilahnya. 

Budidaya rumput laut di Kampung Terapung Suku Bajo, Buton Tengah.

Tapi ternyata itu namanya bedak pupur, yakni tabir surya/sunblock alami yang dibuat dari beras putih dan/atau kunyit yang ditumbuk. Kalau istilah kecantikan memang terlihat white cast ya, tapi biasanya yang seperti ini memang menangkal sinar matahari lebih baik. Sebagai suku yang hidup di laut, mereka menggunakan tabir surya alami ini untuk merawat dan melindungi wajah dari terik matahari. 

Ibu Suriani dan anaknya. Di belakangnya ada ibu yang menggunakan sunblock alami.

Hari sudah semakin sore dan cuaca mendung saat itu. Rasanya masih belum puas berkeliling Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah. Terima kasih untuk sambutan hangatnya. Sampai jumpa kembali!
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

1 comment:

  1. wishlist bisa dateng langsung ke tempat suku bajo yang di Sulawesi
    anak anak disana kayaknya kecil kecil udah pandai berenang

    ReplyDelete