First Divesary | Diving di Pulau Pramuka bareng Kurabesi Dive School

Hello! Photo by: Raymond

Gak kerasa udah setahun lalu sejak dapet lisensi Open Water Diver. Gak nyangka kalo diving jadi salah satu kegiatan wajib kalo lagi traveling, terutama kalo destinasinya memang punya spot diving. Gak nyangka si penakut kedalaman ini, ternyata bisa nyelem juga. Padahal dulu ke dasar kolam 3 meter aja takutnya bukan main. First Divesary, aku diving lagi di Pulau Pramuka bareng Kurabesi Dive School.


Selama setahun, aku sudah diving di Selayar dan Banda Neira. Gak nyangka juga kalo bisa diving di dua destinasi itu yang sebenernya karena lagi ada liputan. Pelan-pelan beli perlengkapan diving yang jujur harganya gak murah (tapi tetep dibeli juga, wkwk), karena itu akupun belinya nyicil gak sekaligus beli semua. 

Bulan April ini, aku diving di Pulau Pramuka lagi. Ini udah kali ketiga diving di Pulau Pramuka dan semua trip bareng Kurabesi. Awalnya aku gak tahu kalo bakal trip sama temen-temen sidemount diver. Hati ini langsung jiper. Haha. Sidemount itu diving yang pake dua tanki kiri-kanan gitu lho. I'm the only one the backmount (satu tanki).

BCD Sidemount Diver beda dari yang biasa yah. Tapi karena hadap belakang, jadi kamuflase apalagi wetsuit-ku hitam. Haha. Dive Buddies (kiri-kanan): Raymond, Eva, Stella, Arie, Ladysta, Zaki.
Preparation & Briefing.

Spot dive pertama dan kedua masih di sekitar dermaga dan langsung ketemu penyu yang ukurannya cukup geda. Setelah penyelaman selesai, kami nongkrong di dermaga sebentar sambil menyantap telor gulung khas Pulau Pramuka. Aseli ini tu awalnya cuma nyobain satu tusuk, tapi kelar diving malah abis sebungkus isi lima tusuk. Kalo ke sini pokoknya wajib cobain dah!

Penampakkan telor gulung hits di Pulau Pramuka.

Malemnya setelah evaluasi dan makan malam, kami nonton The Rescue, film tentang penyelamatan anak-anak tim sepakbola yang terjebak dalam gua berair di Thailand itu lho, inget gak? Cucok ya film ini buat temen-temen sidemount diver yang pengen cobain cave dive. Kalo aku ya ikutan nonton aja dulu. Haha!

Nobar "The Rescue".


Hari kedua, kami naik kapal untuk menuju titik Area Perlindungan Laut dan Soft Coral. Dua spot ini dulu spot yang sama waktu ujian open water diver tahun lalu. Gak nyangka kalo bakal ke spot Monas lagi (spot soft coral). Dulu aku susah banget turun ke spot ini, tapi sekarang lumayan lah udah ngiterin spot monas. Haha. Tempat yang sama dengan gaya yang berbeda. Dulu kakiku turun kayak ngayuh becak dan muke tegang banget, sekarang udah mendingan lumayan bisa streamline begini. Small progress, is still progress right?

Same spot, different style. Ini yang namanya spot Monas, karena yang bentuknya kaya Monas.
Latian foto di shipwreck ceritanya. Photo by: Zaki
With Sea Fan. Photo by: Zaki

Kalo diinget-inget sih tahun lalu takut banget, tapi tetep dicoba juga. Haha. Tapi it's okay guys! There's always first time for everything. If you never try, you'll never know. Thanks to Kurabesi Dive School buat ilmu dan pengalamannya, yang mungkin gak aku dapet di luar sana. Selalu ingetin hal-hal kecil yang penting buat diving, salah satu contohnya posisi streamline.

My Reminder Notes.

Bayangin aja kalo diving tapi kakinya turun terus pastilah ngerusak karang, posisinya bisa bikin kita naik, dan ya kurang estetik aja kalo difoto. Oops! Tapi beneran jadi keinget waktu diving di Lava Flow Banda, yang punya karang banyak dan indah banget, gak kebayang kalo waktu itu posisi kaki turun, kena semua karang-karang itu. 

Corals are my below, so streamline diving position is very important. In the other dive spot, I ever found diaper between them.

Selain ketemu banyak biota laut unik, alat tangkap ikan bubu, aku juga liat sendiri sampah di bawah laut. Misalnya sampah plastik kopi, botol kemasan gelas, dan popok. Jadi, bisalah yuk kita kurangi sampah plastik dan bertanggung jawab sama sampah kita juga kalo lagi traveling ya! Karena sampah yang banyak di laut tentu menjadi ancaman dan butuh waktu yang sangat lama untuk terurai (tergantung jenisnya).

Thank God for the perfect weather and visibility. (No Filter Photo).

Thank God, dua hari di Pulau Pramuka, kami dikasih cuaca cerah dan visibility yang bagus. Walaupun hari terakhir ternyata tiba-tiba hujan gede badai pula, tapi bersyukur bisa selamet balik lagi ke Jakarta.  Btw udah berapa banyak kata 'gak nyangka' aku tulis di postingan ini? Haha. Sampai jumpa di cerita diving berikutnya dan semoga udah bisa naik level dan dapet lisensi baru. Amin!
___

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Indonesia Kaya Keanekaragaman Hayati

Indonesia Kaya Keanekaragaman Hayati.

Bahasa soal keanekaragaman Hayati di Indonesia memang gak ada habisnya. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati.  Ekosistem hutan dan laut punya peranan penting dalam kehidupan kita. 

Tingkat keanekaragaman hayati terbagi dalam ekosistem, yang merupakan keanekaan bentuk dan susunan bentang alam di darat maupun laut. Misalnya padang lamun, hutan hujan tropis, gambut, mangrove, terumbu karang, dan padang lamun. 

Kemudian spesies, yang merupakan keanekaragaman jenis yang yang menempati ekosistem yang punya ciri berbeda satu dengan yang lain. Misalnya Felidae (famili mamalia carnivora) ada kucing, cheetah, dan singa. Lalu genetik, yaitu keanekaragaman individu dalam suatu jenis. Misalnya buah mangga, ada mangga harum manis dan mangga manalagi. Wilayah Indonesia menempati 1,3% wilayah daratan di bumi, tapi punya 17% dari seluruh jumlah spesies di dunia lho!
Berbagai spesies keanekaragaman hayati fauna di Indonesia. 

Keanekaragaman hayati sebagai sistem penunjang kehidupan, Indonesia memiliki berbagai macam jenis tanaman pangan, sumber minyak,  kacang-kacangan, rempah, sayur, dan buah. Bahkan beberapa daerah masih mengandalkan bahan alami dari alam sebagai obat-obatan. Sebut saja ada daun gatal, daun sambiloto, sereh, jahe, alan-alang, dan masih banyak lagi!

Kaya akan bahan pangan, Indonesia memiliki alternatif karbohidrat lain selain beras lho! Misalnya ubi, sagu, kedelai, jagung, dan sorgum. Pada zoominar #EcoBloggerSquad, Yayasan KEHATI memaparkan bahwa telah melakukan pendampingan komunitas sorgum di Likotuden - Flores Timur, Ende - Flores Tengah, dan Lembor - Flores Barat. 

Sorgum tumbuh baik di tanah kering tandus seperti di Flores. Hal ini menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim, dimana banyak tanaman (termasuk padi) rentan ketika suhu naik. Sorgum mengandung serat, rendah kalori, protein tinggi, dan perawatannya tanpa pupuk. Hasil olahannya bisa dijadikan kecap dan tepung.
Pendampingan Yayasan KEHATI terhadap masyarakat Flores, NTT.

Di Ende Flores Tengah, sorgum memiliki akar budaya yang kuat karena digunakan untuk ritual pelepasan roh. Aku pernah mengunjungi Nusa Tenggara Timur, tapi belum pernah coba sorgum. Kamu pernah coba sorgum?

Menjaga alam dengan tradisi adalah bentuk kecintaan masyarakat adat. Oleh karenanya masyarakat adat harus diperhatikan dan dijaga. Mereka lebih dekat dengan alam dan tahu bagaimana cara mencintai alam, karena mereka hidup langsung dari hasil alam. Selain bahan pangan, masyarakat menggunakan bahan pewarna alami dari tanaman. 


Contoh lainnya adalah masyarakat adat di Papua dan Maluku juga menerapkan sasi untuk menjaga alam. Jadi, sasi itu larangan untuk mengambil sumber daya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga kualitas dan keanekaragaman hayati yang ada. 

Selain itu, Yayasan KEHATI juga menaruh perhatian lebih kepada kaum perempuan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut dilakukan karena kaum perempuan  terlibat  mulai dari produksi-konsumsi, memperhatikan gizi anak, dan sudah banyak petani-petani perempuan. Peran perempuan sangat besar dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Petani Sorgum Perempuan. Sumber: https://kehati.or.id/

Indonesia memang kaya akan keanekaragaman hayati, namun juga memiliki ancaman karena berbagai penyebab dan pemicu. Sumber daya alam semakin berkurang karena pembangunan tidak berwawasan lingkungan, over eksploitasi (perdagangan satwa), deforestasi, dan perubahan iklim.

Climate change is real! Perubahan iklim bisa menyebabkan kekeringan yang menyebabkan gagal panen, yang ujung-ujungnya berimbas juga sama kita karena kurang bahan pangan. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan coral bleaching (pemutihan karang). Padahal tahu kah kamu, bahwa laut menyimpan oksigen terbesar di bumi?
A Reminder. Google on Earth Day 2022.
Pilih yang mana? Perubahan iklim juga menyebabkan coral bleaching (pemutihan karang).

Diperkirakan akan terjadi penurunan 10% panen padi untuk kenaikan suhu 1 derajat celcius pada bidang pertanian dan pangan, serta penurunan hingga 40% untuk tangkapan ikan di zona ekonomi ekslusif yang disebabkan ikan-ikan bergeser mencari iklim yang lebih sejuk.

Peran generasi mudah juga sangat penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dalam upaya menekan dampak perubahan iklim. Semakin kita kaya akan informasi, kita semakin sadar pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati. Kita bisa mulai dari diri sendiri untuk mendorong perubahan di masyarakat agar lebih peduli. Menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, dengan mengonsumsi pangan lokal, menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik.

Selamat Hari Bumi.
___

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Bawa Wadah Beli Makanan Kesukaan

Apa makanan favorit kamu?


Salah satu makanan favoritku Ci Cong Fan, kuliner khas dari Medan. Pertama kali aku mencicipinya waktu dulu ada penjual Ci Cong Fan di depan gerejaku, mang Udin namanya. Sejak saat itu, aku selalu membawa wadah saat ingin membeli makanan kesukaanku itu, karena biasanya dijual menggunakan wadah plastik sekali pakai.

Bawa wadah beli makanan kesukaan.

Ci Cong Fan terbuat dari beras, bentuknya seperti lembaran bak kwetiau. Rasanya tawar tapi agak kenyal, biasanya disuguhkan dengan gorengan pelengkap seperti bakso goreng, lumpia, dan uyen, serta toping bawang goreng dan wijen. Ditambah cocolan sambal dan kecap asin membuat rasanya semakin nikmat!

Jarang kutemukan penjual Ci Cong Fan di Jakarta, apalagi sejak pandemi. Aku jadi gak pernah makan Ci Cong Fan mang Udin karena ibadah diadakan secara daring. Tapi siapa sangka, ternyata gak jauh dari rumahku ada sentra kuliner Kampung Seafood yang menyajikan berbagai makanan dan jajanan yang menggoyang lidah. Senangnya ada kedai Ci Cong Fan yang mengobati rasa kangenku.


Kebetulan aku juga lagi ikut tantangan bersama Team Up For Impact untuk tidak membeli makanan atau minuman dalam kemasan. Jadi, aku sudah menyiapkan wadah dari rumah untuk membeli makanan kesukaanku Ci Cong Fan. Kemasan-kemasan makanan yang biasa kita beli biasanya berbahan plastik, bungkus kertas, atau sterofoam yang penggunaannya sekali pakai saja.

Wadah makanan membutuhkan waktu lama terurai. Apalagi wadah makanan dari sterofoam tidak dapat terurai di alam. Sampah plastik yang paling dominan sangat mencemari lingkungan; merusak ekosistem hutan dan laut. Pernah kebayang gak kalo mikroplastik yang dimakan ikan dan ikan yang kita yang konsumsi ikan? Ujung-ujungnya kita juga yang terkena dampaknya. 

Sampah plastik adalah masalah besar. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 mencatat bahwa limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun! Pembuatan plastik juga terbuat dari minyak bumi yang berpotensi merusak alam. Berdasarkan data dari The Balance, dibutuhkan 1,6 juta minyak untuk membuat botol plastik setiap tahun dan membutuhkan waktu sekitar 450 tahun untuk mengurainya.

Lama waktu sampah terurai.

Selain itu, kita juga harus menghabiskan makanan yang telah kita beli atau ambil. Paling gak, jikalau makanan yang kita konsumsi gak habis, bisa dibawa pulang supaya gak terbuang sia-sia. Makanan yang kita santap telah melewati beragam proses panjang dari rantai pasok. Sisa makanan yang gak habis, bisa menimbulkan potensi gas metana, salah satu gas yang menyebabkan pemanasan global yang mempercepat laju perubahan iklim. 

Tak lupa, aku membawa botol minum sendiri agar lebih sehat dan hemat. Kalo lagi traveling, sebenarnya bukan karena bisa dengan mudah membeli minum. Tapi kadang masalahnya itu, gak ada yang jual minuman di tempat tersebut. Kalau bawa botol minum pribadi, tubuh dapat terhidrasi dengan baik. Saat ini, di beberapa daerah di Indonesia juga sudah ada refill water station untuk isi ulang air minum. Semoga ke depannya semakin banyak lagi, yang bikin kita makin rajin bawa botol minum sendiri. 


Yuk sama-sama kita kurangi penggunaan plastik. Kita bisa mulai dengan membawa wadah untuk membeli makanan, membawa botol minum sendiri, membawa alat makan sendiri, dan membawa tas belanja lipat agar lebih ramah lingkungan. Dengan hal-hal tersebut, tentu kita berkontribusi untuk mengurangi sampah di bumi. Ikut tantangannya di sini yaLet's team up fot a better earth!

_____

Keep in Touch
Thanks for reading!

2 komentar:

DBS Asian Insights Conference 2022: Ekonomi Hijau dalam Pembangunan Indonesia dan Cerita Inspiratif Pemuda untuk Masa Depan

Mengurangi Karbon, Menuju Energi Terbarukan.

 

Tak terasa sudah dua tahun kita hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19. Namun ada tantangan lain yang tidak kalah besarnya yakni krisis iklim. Dampaknya tidak mengenal batas negara, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia! Cuaca yang tak menentu, kemarau panjang, gagal panen, kebakaran hutan, semua hal tersebut sangat mengancam kehidupan ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Pada konferensi iklim COP26 di Glasglow pada November 2021, seluruh dunia memiliki komitmen untuk menjaga suhu bumi global tidak naik lebih dari 1,5 derajat celcius dan isu penyelamatan pesisir laut dan pulau kecil juga turut disuarakan. Perubahan iklim menjadi darurat global yang mengancam kehidupan. Seluruh pemangku kepentingan maupun individu wajib terlibat untuk mengurangi karbon. 

Mengurangi Karbon, Menuju Energi Terbarukan


Dalam dokumen yang dimuat National Determined Contributions (NDC), Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebagai salah satu mitigasi iklim sesuai Kesepakatan Paris. Isu perubahan iklim juga masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 Indonesia. Agenda pembangunan tersebut meliputi tiga kunci pembangunan, yaitu peningkatan kualitas lingkungan hidup, peningkatan ketahanan bencana dan perubahan iklim, serta pembangunan rendah karbon.

Salah satu yang telah dilakukan pemerintah adalah melalui Program Kampung Iklim yang sudah ada sebanyak 3500 kampung di Indonesia. Kampung Proklim ini mendorong partisipasi masyarakat dan seluruh pihak dalam melaksanakan aksi untuk meningkatkan ketahanan dampak perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Presiden Jokowi menargetkan 20.000 lokasi Kampung Iklim pada tahun 2024.

Selain itu, Indonesia memiliki Strategi Jangka Panjang Pembangunan Rendah Karbon 2050 (Net Zero Emission 2050) di sektor kehutanan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan lahan gambut, meningkatkan kapasitas hutan alam dalam menyerap karbon, merestorasi lahan gambut dan hutan, mengadopsi hutan lestari, serta mengoptimalkan penggunaan lahan yang tidak produktif. 

DBS Asian Insights Conference 2022, pada tanggal 22 Maret 2022.
"Small Steps to Greener Future".

Dalam DBS Asian Insights Conference 2022 bertajuk Small Steps to Greener Future pada 22 Maret 2022, Muhammad Yusrizki selaku Ketua Komite Tetap Energi Baru dan Terbarukan KADIN memaparkan bahwa memiliki program KADIN Net Zero Hub untuk mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK). Dengan itu, beliau membuat knowledge based dengan menggandeng content partner untuk menyelaraskan aksi mitigasi perusahaan yang diimplementasikan dalam working group dari berbagai sektor.

Tantangan yang dihadapai adalah bagaimana menghasilkan produk dengan energi yang lebih kecil dan integrasi komitmen sustainability dengan keseharian yang dijalankan. Hal ini adalah sebuah proses untuk menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Carbon OffsetCarbon Offset merupakan kebijakan mengkompensasi karbon yang dikeluarkan perusahaan dengan membiayai pihak lain untuk menyerap emisi yang mereka hasilkan tersebut. Misalnya melakukan penghijauan dengan menanam pohon dan reboisasi.


Untuk menekan Emisi GRK, pemerintah juga mengeluarkan Perpres nomor 98 tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK) atau carbon pricing untuk mendukung capaian target emisi dan pengendalian emisi karbon dalam pembangunan nasional. Kemudian mulai 1 April 2022 juga mulai diberlakukan pajak karbon atau carbon tax, bagi sektor Pembangkit Litstrik Tenaga Uap (PLTU) dengan harga Rp30 /kg karbon.

Harapannya adalah pajak karbon dapat diterapkan dengan baik dan adil. Sebagai contoh untuk penggunaan kendaraan berbasis listrik yang dinilai lebih ramah lingkugan, apakah pajak tersebut akan digunakan untuk electric vehicle industry, sehingga membeli bahan bakar dengan harga yang lebih murah. Selain itu misalnya untuk subsidi penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS Atap).


Pelaku usaha mulai mengubah strategi bisnis menuju transisi energi hiijau dan beradaptasi untuk berbagai kemungkinan bahwasanya energi fosil akan habis suatu hari nanti. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan oleh Nafi Achmad Sentausa dari PT TBS Energi Utama bahwa pihaknya mulai beralih ke renewable energy atau Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat ini, ada beberapa penerapan energi terbarukan yang dapat diimplementasikan antara lain angin, air, surya, biomass, dan waste to energy.

Untuk mengantisipasi pensiun dini PLTU, pihaknya telah melakukan pembangunan renewable energy di beberapa daerah, salah satunya project mini hydro di daerah Sumber Jaya Lampung Barat dengan kapasitas 6 megawatt, dan 22 megawatt lainnya berupa renewable energy dari angin, biomass, dan waste to energy (mengubah sampah menjadi energi).


Insan Syafaat selaku Direktur Eksekutif Kemitraan untuk Pertanian Berkelanjutan Indonesia (Pisagro) sudah berkomitmen sejak tahun 2011 dengan 25 perusahaan untuk melaksanakan kebijakan hijau. Kebijakan hijau dengan konsep keberlanjutan, seperti food security, perlindungan terhadap lingkungan, sosial, dan rantai pasok. Prosesnya dapat dilakukan dari hulu ke hilir secara sustainable.

Beliau ingin melibatkan lebih banyak petani, peternak dalam rantai pasok untuk inklusif di beberapa daerah sentra besar misalnya kakao, memberikan dukungan terhadap lahan, mefasilitasi agroforestry, serta membuat panduan khusus agar perusahaan melaporkan kegiatannya. 


Saat ini, komunikasi dan kolaborasi berbagai pihak sangat dibutuhkan menuju Net Zero Emission, dimana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi jumlah emisi yang mampu diserap bumi. Pentingnya mitigasi untuk menurunkan emisi karbon dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Mitigasi iklim maksudnya adalah usaha untuk mengurangi risiko peningkatan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana. 

Melawan perubahan iklim bukan hanya perjuangan perorangan, namun kita semua dari sektor manapun dapat berkontribusi dan punya peran untuk membuat bumi yang berkelanjutan. Kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi G20 2022 dan Asean Summit 2023 mendatang, menjadi kesempatan bagi Indonesia sebagai momentum transisi energi hijau. 

Generasi Muda Inspiratif Membawa Perubahan untuk Bumi


Generasi muda memiliki peran penting untuk membawa perubahan. Salah satunya adalah kepedulian generasi muda terhadap urgensi isu perubahan iklim yang tertuang dalam DBS Asian Insights Conference 2022, bertema The Youth Who Makes a Difference pada 23 Maret 2022. Perubahan iklim yang terjadi saat ini tentu akan mempengaruhi kehidupan generasi muda di masa depan. 

DBS Asian Insights Conference 2022, pada tanggal 23 Maret 2022.
"The Youth Who Makes a Difference".

Pemerintah Indonesia juga sedang mendorong pertumbuhan ekonomi hijau untuk pembangunan yang berkelanjutan. Tahun ini, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah beberpa event internasional. Kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi G20 salah satunya, menjadi kesempatan bagi Indonesia sebagai momentum transisi ekonomi hijau tersebut. Konferensi Tingkat Tinggi G20 tahun 2022 mengangkat tema Recover Together, Recover Stronger yang rasanya cukup relevan dengan kondisi saat ini.

Mewakili suara generasi muda, Budy Sugandi selaku Co-Chair Y20 Indonesia 2022 mengatakan bahwa Youth 20 Summit (Y20) merupakan platform untuk pemuda pemudi dari seluruh negara G20 untuk berdialog. Y20 memiliki 4 isu prioritas yakni; Ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, Planet Layak Huni dan Berkelanjutan, dan Keberagaman & Inklusifitas.  Pada acara puncak Y20, akan mengundang para pelaku start up dari 20 delegasi negara untuk mengikuti virtual expo, yang menampilkan kreasi dari berbagai negara. 


Cerita inspiratif lainnya dari Kathleen Gondoutomo, CEO H!Cups brand minuman kekinian. Visinya memberdayakan perempuan melalui penciptaan lapangan kerja. Saat ini, mereka memiliki komposisi 85% tenaga kerja perempuan. Kathleen terinspirasi dari pengalamannya saat bergabung di Diaspora Ikhlas, mengajar Bahasa Inggris untuk anak SMP dan SMA. Suatu hari ia berkenalan dengan Nia, seorang siswa dari Aceh yang putus sekolah. 

Alasannya karena orang tua Nia tidak mampu menyekolahkan dia dan kakak laki-lakinya. Akhirnya orang tua mereka memutuskan hanya menyekolahkan anak laki-lakinya karena dianggap sebuah investasi, namun jika perempuan ke sekolah dianggap sebagai beban finansial. Kathleen menilai masih ada hak-hak perempuan yang dibatasi. Perempuan seharusnya lebih banyak terlibat dan diberi kesempatan untuk berkarya. Dengan demikian, mereka bisa berkontribusi untuk mencapai potensi maksimalnya dalam pemulihan ekonomi.


Dari industri fashion, Rowland Asfales, founder dari Pijak Bumi membuat prduk sepatu yang ramah lingkungan. Proses pembuatannya low carbon menggunakan material biodegradable atau recycle dan sudah terverifikasi. Beliau membentuk perusahaan yang sustainable longterm dengan konsep 3P, yaitu People, Planet, and Profit. 

Membuat sepatu ramah lingkungan seperti ini membutuhkan effort dua kali lipat. Katanya 95% sepatu yang beredar di pasar global mengandung bahan kimia berbahaya. Tahun 2021, Pijak Bumi berhasil menjual 100 juta pasang sepatu, yang dapat diilustrasikan sebagai 100 juta pasang sampah yang akan menumpung di kemudian hari. Hal ini menjadi tantangan bagi Pijak Bumi untuk mencari supply chain yang tepat, dengan biaya yang tidak sedikit, namun memiliki value yang dinikmati secara inklusif.


M. Bijaksana Junerosano, selaku CEO dan founder Waste4Change mengatakan bahwa kita perlu menyelamatkan bumi karena percepatan kerusakan lingkungannya lebih cepat daipada solusinya. Waste4Change berfokus pada jasa pengolahan sampah yang bertanggungjawab. 81% masyarakat di Indonesia, masih mencampur sampah. Dampak jika kita tidak memilah sampah adalah makin sulit untuk diolah dan didaurulang. Padahal aturannya sudah tertulis dalam UU 18 nomor 2008. Memilah merupakan titik awal. 

Generasi muda harus bisa berpikir kritis dan speak up tentang kebijakan pemerintah, tentang apa yang belum dilakukan atau perlu diimplementasikan. Contohnya peraturan tentang memilah sampah sampah tadi. Harapan kedepannya kebijakan ini dapat dijalankan dengan baik. Namun juga dibarengi dengan aksi nyata.

Para pemuda diharapkan dapat berperan dalam pembangunan Indonesia. Mari berkontribusi mengubah kaum rebahan menjadi kaum perubahan yang bermanfaat bagi banyak orang. Perubahan dimulai dari hal sederhana dengan usaha kecil-kecil tapi konsisten. Sekarang giliran kamu!

_____


Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar: