Showing posts with label Environment. Show all posts

Keadilan Iklim dan Desa Tenggelam di Demak


Apakah kamu pernah mendengar desa tenggelam di Indonesia? Di kawasan Demak, beberapa desa sudah tenggelam akibat dampak perubahan iklim. Salah satunya adalah Desa Timbulsloko di pesisir Demak. Desa ini semakin parah tenggelam sejak 2017. Artinya sudah lima tahun berlalu. 

Area yang dulunya sawah-sawah yang ditanam padi dan pemukiman warga kini berubah. Kenaikan permukaan air laut membuat masyarakat sulit beraktivitas. Memangnya darimana sih kenaikan air laut itu berasal?

Singkatnya, ada dua faktor penyebab kenaikan permukaan air laut, yaitu air laut menghangat dan mengembang, serta melelehnya lapisan es atau gletser yang mencair. Semua itu dikibatkan karena pemanasan global/global warming yang dihasilkan dari gas rumah kaca (termasuk dihasilkan dari kegiatan manusia juga). Permukaan air laut yang meningkat ini yang menyebabkan desa atau kawasan pesisir perlahan akan tenggelam.


Sebenarnya gak hanya itu, kenaikan permukaan air laut juga menyebabkan gagal panen, juga musnahnya flora dan fauna, karena logikanya area tersebut ya sudah tenggelam. Lokasi Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki banyak kawasan pesisir Indonesia sangat berpotensi mengalami bencana akibat naiknya permukaan air laut. Ini adalah bukti nyata kalau krisis iklim bukan hoax! 

Selain menenggelamkan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, perubahan iklim juga berdampak pada penurunan jumlah pasokan ikan yang ditangkap nelayan. Ikan juga bisa migrasi lho kalau kondisi air laut tercemar. Itu yang menyebabkan nelayan juga semakin jauh wilayah tangkapan ikannya. Ya memang seperti efek domino. 

Istilah keadilan iklim atau climate justice mungkin memang jarang terdengar ya. Climate justice harus diupayakan. Keadilan iklim maksudnya adalah jalan keluar yang adil berdasarkan hak, kebutuhan, partisipasi masyarakat atau komunitas yang merasakan dampak terbesar perubahan iklim. 


Hal ini perlu dijamin prosedur hukum untuk memberikan keadlian terutama bagi kelompok rentan karena mereka yang paling terkena dampaknya. Pemerintah harus mengupayakan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, tidak hanya hanya menguntungkan industri, tapi juga masyarakat lokal dan keselamatan bumi.

Pembangunan proyek, pembabatan lahan telah merugikan masyarakat setempat yang seharusnya memiliki hak atas tanahnya, juga termasuk di dalamnya masyarakat adat. Masyarakat menanggung langsung dampak krisis iklim itu tanpa tahu soal kebijakan yang ada.  

Contohnya ya desa-desa tenggelam di Demak tadi. Banjir Rob, mereka menyebutnya. Tak ada lagi sawah hijau, lapangan untuk bermain anak-anak, hingga akses jalan yang terputus. Masyarakat tentu yang merasakan langsung dampaknya. Ada yang sudah pindah, namun ada yang masih bertahan di sana karena berbagai faktor. 


Saya rasa harus ada kebijakan dan tindakan nyata untuk memperjuangkan keadilan iklim. Tidak hanya pertemuan-pertemuan yang mungkin menghabiskan banyak dana, tapi juga harus menghasilkan keputusan yang jelas untuk dijalankan.  

Namun persoalan daratan tenggelam ternyata bukan hanya di Demak, nyatanya di tempat saya tinggal di Jakarta juga ada. Saya mendapat informasi dari teman sesaat setelah saya membagikan video mengenai Desa Timbulsloko yang tenggelam. Ada Masjid Waladuna di Penjaringan Jakarta Utara. Bahkan lokasinya sudah terdeteksi google maps dengan nama Masjid Tenggelam Muara Baru.

Fenomena perubahan iklim bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di dunia. Di Planet Bumi, satu-satunya  planet tempat kita tinggal. Perubahan iklim memang telah memberikan dampak signifikan terhadap kondisi sosial dan ekonomi. Diperkirakan tahun 2050, kenaikan permukaan laut akan lebih meningkat lagi. Kebayang gak kalau nanti kita akan menghadapi hal seperti ini atau bahkan lebih parah?  

__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Referensi:
https://www.kemitraan.or.id/kabar/aksi-perubahan-iklim-mustahil-tanpa-keadilan-dan-partisipasi-publik-yang-bermakna
https://www.antaranews.com/berita/3154385/walhi-indonesia-butuh-uu-perubahan-iklim-untuk-keadilan-iklim
https://reefresilience.org/id/stressors/climate-and-ocean-change/sea-level-rise/
https://www.walhi.or.id/aksi-perubahan-iklim-mustahil-tanpa-keadilan-dan-partisipasi-publik-yang-bermakna

Selamatkan Bumi dari Selimut Polusi dengan Transisi Energi

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Cuma 1,5 derajat aja kok! Eits, biar kata kelihatan kecil angkanya, tapi 1,5 derajat itu berdampak lho! Inget-inget waktu lagi pandemi covid saat suhu badan kita melebihi batas yang padahal cuma 1-2 derajat aja, badan udah gak enak dan jadi sulit mau beraktivitas. Ya kira-kira kaya gitu juga analoginya akibat selimut polusi di bumi. 

Suhu bumi diperkirakan akan naik 1,5 derajat pada 2030. Kok bisa? Polusi udara dari aktivitas manusia semakin banyak menyelimuti bumi. Isu ini bukan lagi menjadi urgensi bagi Indonesia bahkan dunia lho! Bahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 lalu, isu ini juga masuk dalam pembahasan forum yakni tentang transisi energi berkelanjutan.

Kenapa Harus Transisi di Bidang Energi?


Sadar atau tidak, aktivitas kita sehari-hari sebenarnya menggunakan energi fosil yang berasal dari batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Misalnya penggunaan listrik, saat mengisi daya HP, laptop, nonton TV, lampu, juga bahan bakar kendaraan.

Kenapa kita harus melakukan transisi energi tersebut, alasan kuatnya adalah untuk mengurangi penggunaan energi fosil yang lama-lama akan habis, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan beralih ke energi yang lebih rendah polusi. 

Emisi dari energi, seperti dari kendaraan dan pembangkit listrik dari bahan bakar fosil merupakan dua sumber emisi gas rumah kaca terbesar bersama dengan penebangan hutan. Saat ini, transisi energi dari sektor transportasi tengah diupayakan dengan penggunaan biodiesel B30 (30% biodiesel, 70 % solar) dan kendaraan listrik. Fyi, Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari bahan alam terbarukan seperti minyak nabati. 


Apa sih Gas Rumah Kaca?


Istilah ini sering kita dengar, namun tahukah kamu apa Gas Rumah Kaca yang menyebabkan Global Warming itu? Secara ilmiah, Gas Rumah Kaca antara lain adalah uap air, karbondioksida, metana, dinitrogen monoksida, dan gas lainnya. Berasa kaya lagi belajar Kimia ya. Gas Rumah Kaca ini yang membuat selimut polusi di bumi. 

Gas Rumah Kaca perlahan meningkatkan suhu bumi, itu yang kita kenal dengan istilah pemanasan global/global warming dan menyebabkan perubahan cuaca dalam jangka panjang yang kita kenal dengan istilah perubahan iklim/climate change.

Akibat dari Gas Rumah Kaca ini rasanya juga kita rasakan ya seperti cuaca yang sudah gak menentu musimnya. Kalau kemarau panas banget, kalau hujan sering banjir. Bahkan musim kemarau dan hujan sudah tidak bisa diprediksi lagi berdasarkan bulan saja. 

Global warming menyebabkan melelehnya es di kutub yang berimbas kawasan pesisir banjir bahkan terancam tenggelam. Bencana lain yang paling fatal adalah kekeringan dan gagal panen yang membuat harga bahan makan meningkat bahkan gak bisa dapat pasokan makanan. 

Tantangan dan Upaya Transisi Energi 


Di tempatku tinggal di Jakarta, penggunaan bus listrik juga sudah ada di beberapa titik. Kendaraan listrik tidak menghasilkan asap polusi walau pengisian dayanya berasal dari listrik juga yang berasal dari energi fosil. Walau di hulu transisi energi belum terlalu optimal karena kendaraan listrik tadi masih menggunakan listrik, sehingga transisi energi di bidang pemabangkit listriknya pun perlu dilakukan. 

Penggunaan biodiesel saat ini juga belum menggunakan bahan baku biodiesel generasi kedua yaitu dari limbah seperti minyak jelantah. Upaya transisi energi pada kegiatan sehari-hari yang masih menggunakan energi fosil menuju pembangkit listrik tenaga terbarukan.


Pembangkit listrik energi terbarukan yang dimaksud berasal dari angin, surya, air,  biogas, tenaga arus dalam laut, dan geotermal (dari panas bumi). Fyi, pembangkit listrik tenaga biogas yang menggunakan limbah cair seperti dari limbah kelapa sawit, sampah organik, kotoran ternak atau kotoran manusia. 

Untuk pembangkit listrik tenaga dalam laut memang belum ada di Indonesia. Pertemuan arus laut di spot tertentu dapat menggerakan turbin yang membuatnya menjadi pembangkit listrik. Selain itu, Indonesia merupakan wilayah ring of fire sehingga dapat menghasilkan energi dari panas bumi. Namun beberapa energi terbarukan seperti energi matahari dan angin tergantung lokasi dan musim. Pembangkit Lisrik Tenaga Air juga memerlukan ekosistem sungai yang terjaga kelestariannya. 


Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terbesar di Indonesia ada di Sulawesi Utara. Tepatnya di PLTS Likupang Kabupaten Minahasa yang memasok kebutuhan listrik di Kawasan Sulawesi Utara - Gorontalo. Selain itu juga ada PLTS Oelpuah di Kabupaten Kupang NTT yag memasok kebutuhan listrik di Pulau Timor bagian barat.


Contoh lainnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin terbesar di Indonesia yang terletak di Sulawesi Selatan, yaitu PLTB Sidrap Kabupaten Sidenreng Rappang dan PLTB Tolo Kabupaten Jeneponto. PLTB memungkinkan wilayahnya masih bisa ditanami tanaman atau menjadi tempat tinggal bagi hewan yang tinggal di area tersebut. Pada saat memproduksi energi listrik tetap menjaga kelestarian alam dan energi yang dihasilkan tidak menghasilkan polusi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?


Berbagai hal bisa kita lakukan untuk menghemat energi dan jejak karbon. Perubahan pola hidup ramah lingkungan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bersama-sama selamatkan bumi dari selimut polusi;

  • Terlibat dalam pengumpulan limbah rumah tangga untuk bahan baku energi non-fosil (biodiesel dan biogas)
  • Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, alternatifnya menggunakan kendaraan umum atau bersepeda.
  • Hemat penggunaan listrik. Matikan lampu saat tidak digunakan, pilih lampu LED yang lebih ramah lingkungan.
  • Mengkampanyekan penggunaan dan praktik baik inovasi produk energi terbarukan. 
  • Menerapkan gaya hidup eco lifestyle.

Upaya untuk melakukan transisi energi tengah diupayakan untuk mengurangi selimut polusi. Jika bukan sekarang kapan lagi, jika bukan kita siapa lagi?
 
#EcoBloggerSquad
__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Perjuangkan RUU Masyarakat Adat Jaga Hutan Indonesia

Foto bersama Masyarakat Adat dari Suku Batak, Suku Osing, dan Suku Beribe.

Tak terasa, sudah lewat setengah tahun ini kita jalani. Bulan Agustus terasa istimewa karena kita merayakan beberapa hari penting. Selain merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-77 tanggal 17 Agustus, kita juga merayakan Hari Hutan Indonesia tanggal 8 Agustus dan Hari Masyarakat Adat Sedunia tanggal 9 Agustus lho!

Rasanya ini momentum yang pas untuk tetap mengobarkan semangat perjuangan di era globalisasi dan modernisasi. Perjuangan kita belum selesai untuk menjaga hutan, memberi dukungan dan mendorong pemerintah mengesahkan Rencana Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat. 

Indonesia tak sekadar kaya akan keanekaragaman hayati, tapi juga alam yang mempesona, dan beragam suku, tradisi budaya yang melekat sebagai identitas. Hal tersebut tentu tak terlepas dari Masyarakat Adat yang menjaga alam dan menjunjung tinggi warisan nilai leluhur. Suku adalah bagian dari masyarakat adat dan Indonesia memiliki banyak sekali suku dari berbagai daerah. Sebut saja ada Suku Dayak, Suku Tengger, Suku Sasak, Suku Osing, Suku Asmat, dan masih banyak lagi!

Masyarakat Adat Jaga Hutan


Masyarakat adat merupakan kelompok masyarakat yang menempati wilayah turun-temurun, memiliki wilayah adat yang mengikat, pengurus adat, dan pastinya ada hukum adat yang berlaku dan dihormati. Hukum adat yang berlaku untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Masyarakat adat memiliki hubungan kuat dengan alam. Mereka mengambil secukupnya agar kelak anak cucu masih bisa menikmatinya. Terlebih lagi karena mereka menganggap hutan juga sebagai tempat leluhur yang harus dihormati. 

Ciri-ciri Masyarakat Adat.

Salah satu Hutan Adat yang ada di Indonesia yaitu Hutan Adat Depati Karo Jaya Tuo yang terletak di Kabupaten Merangin, Desa Rantau Kermas Jambi. Pengelolaan hutan ini berdasarkan Hukum Adat. Masyarakat tidak boleh menebang pohon atau membuka lahan sembarangan. Jika melanggar akan dikenakan hukum adat. 

Mereka memiliki Tanah Ajum yang digunakan untuk berkebun untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, seperti kebun kopi, kulit manis, kentang, cabe, dan jahe. Selain itu juga ada Tanah Arah yang digunakan untuk pemukiman. 


Ini pengalamanku waktu berkunjung ke Kampung Adat Lewokluok dan menggunakan pakaian adatnya. Atasannya disebut Baju Senui dan kain tenun bawahnya disebut Keriot Kinge. Ditenun langsung oleh para perempuan Lewokluok dari serat pohon kapas yang ada di sana. Kinge merupakan sebutan untuk kerang yang ditenun di pakaian itu, melambangkan bintang sebagai petunjuk waktu. Hebatnya masyarakat adat dapat menentukan waktu dari alam semesta.

Pakaiannya berwarna hitam dan merah melambangkan keberanian, karena setiap masyarakat Lewokluok akan berjuang walau sampai mati untuk mempertahankan tanahnya. Begitu dalam filosofi dari pakaian adat Lewokluok. Selain itu, makanan yang tersedia di sana juga diambil dari alam. Masyarakat adat menjaga tanahnya dengea mengelolanya secara arif. Ambil secukupnya dan tidak untuk dieksploitasi. Mereka memiliki hubungan kuat dengan adat, tradisi, dan alam. 

Peran Masyarakat Adat 


Masyarakat adat mengelola sumber daya alam dengan arif dan bijaksana. Keberadaannya sangat dekat dengan alam, perannya menjadi garda terdepan menjaga hutan. Bahkan mereka rela mengorbankan diri untuk melindungi wilayah adatnya.

  • Ritual Adat untuk Menjaga Lingkungan
Menurut saya, hebatnya masyarakat adat adalah mereka memiliki kearifan lokal untuk melestarikan alam. Misalnya dengan ritual adat atau festival adat yang dilaksanakan dalam waktu tertentu. Waktu mengikuti Festival Lewetaka di Banda Neira, saya menyaksikan Ritual Kasi Makan Negeri yang dilakukan masyarakat adat. Hal itu dipercaya sebagai ungkapan syukur atas hasil alam yang memenuhi kehidupan dan memohon berkat untuk kelangsungan hidup.


Dalam ritual tersebut, tetua adat membawa tampa siri yang cara pembuatannya dilakukan berdasarkan adat dan bahan-bahannya juga berasal dari alam. Di Maluku juga mereka mengenal Sasi, yaitu tidak mengambil komoditi sumber daya alam dalam waktu terntu untuk menjaga kelestarian dan keseimbangannya. Jika kamu pernah mendengar Festival Ulat Sagu di Papua, itu juga salah satu festival yang dilaksanakan agar eksistensi masyarakat dan hutan tetap terjaga. 

  • Masyarakat Adat Seniman Sejati
Masyarakat Utik yang tinggal di Sungai Panjang Iban masih bergantung dengan alam. Mereka menenun dan menghasilkan produk tenun kain dan tas. Tenun yang dihasilkan berupa motif yang rapi, penuh makna, dari benang per benang tanpa catatan desain. Saya takjub dengan keahlian masyarakat adat yang sangat kreatif. Saya juga pernah melihat sendiri para perempuan menenun Desa Suku Sade di Lombok. Saya mencobanya dan itu sulit!

  • Perempuan Adat 
Peran masyarakat adat juga tak terlepas dari Perempuan Adat yang memiliki peran penting. Para perempuan menjaga ketahanan pangan keluarga, untuk memberi makan dan obat. Termasuk aktivitas berladang yang dilakukan perempuan untuk menghasilkan bahan pangan. Bisa jadi, bahan makanan yang kita olah dan santap sekarang merupakan hasil dari peran perempuan adat. Saat di Hutan Perempuan, perempuan memiliki peran untuk menjaga hutan karena hanya kaum hawa yang bisa masuk ke dalamnya untuk mengambil bahan pangan, seperti kerang, udang, dan kepiting bakau. 

Ancaman Masyarakat Adat


Masalah besar Masyarakat Adat kini adalah perampasan wilayah adat. Hutan ditebang untuk eksploitasi. Tanpa ada izin atau musyawarah sebelumnya. Padahal bagi mereka, hutan bagai supermarket yang memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk kebutuhan kita juga lho! 

Saat ini contohnya ada pembangunan waduk di Nagekeo, Kabupaten Ngada di Nusa Tenggara Timur. Lokasi pembangunan waduk mengambil tempat pemukiman, perladangan, dan kuburan leluhur mereka. Walaupun sudah diberikan alternatif, namun suara mereka tetap menjadi minoritas. 
"Jika wilayah adat habis, maka masyarakat adat juga habis (tidak ada lagi). Tidak bisa lagi hanya memperjuangkan tari-tarian dan musik saja, tanpa memperjuangkan hak atas wilayah masyarakat adat.", Mina Susana Setra, Deputi IV Sekjen Sosial dan Budaya. Aliansi Masyarakat Adat (AMAN).
Tahu kah kamu kalau Rencana Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat sudah dicanangkan sejak tahun 2010 tapi sampai sekarang belum disahkan?! Padahal mereka berhak mendapatkan jaminan hukum. Di Negara Asia, Undang-undang tentang Masyarakat Adat sudah ada di Filipina. 

Tantangan lain adalah masuknya modernisasi yang terjadi, anak-anak mulai mengenal gadget, dan rasa ketidakpedulian. Maka penting juga untuk memanfaatkan teknologi untuk menyuarakan informasi positif tentang masyarakat adat. Kehidupan mereka akan terancam jika tidak dilindungi. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pemerintah segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat.

Menyuarakan Dukungan untuk Masyarakat Adat 


Gerakan Pulang Kampung diinisiasi oleh anak-anak muda, Barisan Pemuda AMAN Nusantara untuk memanggil anak muda di kota untuk kembali 'pulang kampung' membangun dan melindungi wilayah adatnya. Beberapa hal yang dilakukan antara lain mendirikan sekolah adat. Saat ini sudah ada 86 sekolah adat di seluruh Indonesia. 

Selain itu juga ada konservasi berbasis pertanian organik dengan membuat kebun menjadi ekowisata dan agrowisata, membanggun sanggar budaya di komunitas, smartphone movement, dan pendokumentasian data komunitas adat.


Kita juga bisa menyuarakan dukungan untuk masyarakat adat dengan membeli, memakai, dan mengonsumsi hasil produk lokal masyarakat adat. Senangnya waktu acara zoominar bersama Eco Blogger Squad dan AMAN beberapa waktu lalu, aku memperoleh produk lokal hasil non kayu, salah satunya Kopi Serampas. Kopi Serampas merupakan komoditi lokal Hutan Adat Depati Karo Jaya Tuo yang aku ceritakan diatas.

Peran anak muda sangat penting untuk terus menyuarakan dukungan untuk #SahkanRUUMasyarakatAdat. Dengan memanfaatkan media sosial, kita bangun narasi positif tentang masyarakat adat, dari segi kuliner, busana, budaya, dan lainnya dan kaitkan dukunhan untuk mendorong pemerintah mengesahkan RUU Masyarakat Adat. Mari perjuangkan RUU Masyarakat Adat Jaga Hutan Indonesia!
__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Peduli Bumi Lewat Lagu Dengar Alam Bernyanyi

Lagi liatin kamu langit dan indahnya semesta.

Apa yang membuat kamu bahagia? Buat saya, salah satunya adalah jika bangun pagi melihat jendela dan langit biru. Jujur buat saya yang tinggal di Kota Jakarta, melihat dan menikmati langit biru itu sebuah kemewahan. Apalagi kalo lagi traveling, langit biru juga bikin mood lebih happy, kan? 

Langit biru dan udara yang bersih tentu membuat kehidupan terasa lebih nyaman. Namun hal itu tak lepas dari kontribusi kita untuk menjaga dan peduli bumi. Kalo alam bisa bernyanyi, mungkin mereka bakal curhat banyak banget soal kondisi bumi yang lagi gak baik-baik aja. Melestarikan hutan adalah hal wajib yang harus kita lakukan untuk kelangsungan semua makluk hidup.

Apapun profesi kita, banyak cara untuk ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian hutan lho! Terlebih karena kita yang sebenarnya bergantung dengannya. Gak sedikit juga inspirasi pekerjaan datangnya dari alam. Teman saya seorang desainer baju terinspirasi dari buah Pala Banda untuk membuat karyanya, ada juga yang berprofesi sebagai koki yang membuat kreasi masakan dari bahan kacang kenari Maluku. 


Beberapa musisi favorit saya juga menuangkan lirik lagu yang terinspirasi dari alam. Salah satunya lagu Dengar Alam Bernyanyi yang diciptakan oleh Laleilmanino,yang juga dinyanyikan oleh HIVI!, Sheila Dara, dan Chicco Jerikho. Dengar Alam Bernyanyi menjadi lagu pertama yang diciptakan oleh Laleilmanino di luar studio. Tepatnya saat berada di Hutan Wisata Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 

Lagu Dengar Alam Bernyanyi telah dirilis pada 22 April 2022 saat Hari Bumi. Liriknya mengandung cerita dan pesan yang bagus, alunan musik yang easy listening, membuat saya tak cukup memutarnya hanya sekali saja dan menitikan air mata. Sampai-sampai saya sudah hafal liriknya sekarang. 

Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Situ Gunung di Taman Nasional Gunung Gede memiliki keindahan alam yang sangat indah. Ya, saya yakin setiap tempat memiliki pesonanya sendiri jika dijaga dan dirawat dengan baik. Waktu jalan-jalan ke sini, saya melihat banyaknya pohon-pohon, pegunungan, bahkan memiliki potensi wisata yang menarik. Suasana yang asri, udara yang sejuk, dan langit biru menemani perjalanan saya kala itu. Jadi gak heran, kalo Laleilmanino juga mendapatkan inspirasi untuk membuat lagu ini. 

Bagi saya, alam memang menjadi tempat healing terbaik. Namun banyak ancaman terhadap alam kita. Perhatikan setiap bait lirik Dengar Alam Bernyanyi yang amat menyentuh, mengajak kita bersama-sama untuk melihat kondisi Bumi. Menjadi pengingat bagi kita, bahwa kita yang pegang kendali untuk masa depan bumi karena manusia yang membutuhkan alam untuk hidup. Kalo dipikir-pikir itu benar 100%. Bayangkan gak ada pohon, gak ada hutan, gak ada komoditi bahan pangan yang tumbuh. 

    Dengar Alam Bernyanyi
Bila kau ada waktu
Lihat aku di sini
Indah lukisan Tuhan
Merintih ingin kau kembali
Beri cintamu lagi

Bila kau jaga aku
Kujaga kau kembali
Berhentilah mengeluh
Ingat, kau yang pegang kendali
Kau yang mampu obati
Sudikah kau kembali?

Reff: 
Pandanglah indahnya biru yang menjingga
Simpanlah gawaimu hirup dunia
Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada
Dengar Alam Bernyanyi

Bila kau lelah dengan panasnya hari
Jagalah kami agar sejukmu kembali
Bersatulah hajar selimut polusi
Ingatlah hai wahai kau manusia
Tuhan menitipkan aku
Di genggam tanganmu

Back to Reff

Dengarkanlah bisik mesra alam bernyanyi
Bawa canda dan riang tawa untuk dunia
Gunakan telinga, hati
Cobalah dengar nyanyian kami
Bayangkanlah hidupmu bila tak ada kami.

Back to Reff


Dengar Alam Bernyanyi, menceritakan isi hati para makluk hidup flora dan fauna yang hidup di hutan. Kalo alam ini bisa mengutarakan perasaannya, ya kurang lebih itulah yang dituangkan dalam lirik Dengar Alam Bernyanyi. Hutan punya peranan penting untuk mengatasi perubahan iklim. Walaupun terasa jauh dari perkotaan, tapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Makna lagu yang sangat dalam dikemas dengan alunan musik yang indah. Peran generasi muda Indonesia tentu sangat besar dalam pelestarian alam. Saya ikut bangga dan senang karena Komite Penyelenggara Youth 20 (Y20) tahun ini memilih lagu Dengar Alam Bernyanyi menjadi lagu tema resmi Y20 2022. Fyi, Y20 merupakan bagian dari Group of Twenty 20 (G20) yang berisi 19 negara dengan ekonomi besar di dunia dan 1 organisasi Uni Eropa.


Y20 menjadi platform generasi muda untuk berdialog dan mengajukan solusi dari isu-isu mendesak di dunia. Hal ini tentu menjadi momentum bagi Indonesia untuk menyuarakan dampak perubahan iklim. Tahun ini ada 4 isu prioritas yang diangkat, antara lain; Ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, Planet Berkelanjutan dan Layak Huni, Keberagaman dan Inklusi.

Pesan penting dalam lagu ini, mengajak anak-anak muda untuk bersama-sama menjaga alam untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan memberi cinta kepada alam. Lagu Dengar Alam Bernyanyi sangat sesuai dalam salah satu isu yang diangkat mengenai Planet Berkelanjutan dan Layak Huni. 

Gak cuma lirik dan musiknya yang sangat indah didengar, ilustrasi music video pun dikemas dengan sangat menarik. Para penyanyi; Chicco Jerikho diilustrasikan sebagai karakter pohon, Sheila Dara sebagai peri hutan, HIVI! sebagai Java Sparrow (burung pengicau), dan Laleilmanino sebagai karakter orang utan. Karakter yang menggambarkan flora dan fauna yang sedang menyuarakan isi hati. 

Peduli Bumi Lewat Lagu Dengar Alam Bernyanyi.

Dengan mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi, kita juga berkontribusi untuk bumi, karena sebagian royalti akan disumbangkan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan, Sekolah Adat Arus Kualan di Simpang Hulu dan Simpang Dua Kalimantan Barat. Yuk kita sama-sama jaga hutan kita! 

#EcoBloggerSquad 

__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Indonesia Kaya Keanekaragaman Hayati

Indonesia Kaya Keanekaragaman Hayati.

Membahas soal keanekaragaman Hayati di Indonesia memang gak ada habisnya. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati.  Ekosistem hutan dan laut punya peranan penting dalam kehidupan kita. 

Tingkat keanekaragaman hayati terbagi dalam ekosistem, yang merupakan keanekaan bentuk dan susunan bentang alam di darat maupun laut. Misalnya padang lamun, hutan hujan tropis, gambut, mangrove, terumbu karang, dan padang lamun. 

Kemudian spesies, yang merupakan keanekaragaman jenis yang yang menempati ekosistem yang punya ciri berbeda satu dengan yang lain. Misalnya Felidae (famili mamalia carnivora) ada kucing, cheetah, dan singa. Lalu genetik, yaitu keanekaragaman individu dalam suatu jenis. Misalnya buah mangga, ada mangga harum manis dan mangga manalagi. Wilayah Indonesia menempati 1,3% wilayah daratan di bumi, tapi punya 17% dari seluruh jumlah spesies di dunia lho!
Berbagai spesies keanekaragaman hayati fauna di Indonesia. 

Keanekaragaman hayati sebagai sistem penunjang kehidupan, Indonesia memiliki berbagai macam jenis tanaman pangan, sumber minyak, kacang-kacangan, rempah, sayur, dan buah. Bahkan beberapa daerah masih mengandalkan bahan alami dari alam sebagai obat-obatan. Sebut saja ada daun gatal, daun sambiloto, sereh, jahe, alan-alang, dan masih banyak lagi!

Kaya akan bahan pangan, Indonesia memiliki alternatif karbohidrat lain selain beras lho! Misalnya ubi, sagu, kedelai, jagung, dan sorgum. Pada zoominar #EcoBloggerSquad, Yayasan KEHATI memaparkan bahwa telah melakukan pendampingan komunitas sorgum di Likotuden - Flores Timur, Ende - Flores Tengah, dan Lembor - Flores Barat. 

Sorgum tumbuh baik di tanah kering tandus seperti di Flores. Hal ini menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim, dimana banyak tanaman (termasuk padi) rentan ketika suhu naik. Sorgum mengandung serat, rendah kalori, protein tinggi, dan perawatannya tanpa pupuk. Hasil olahannya bisa dijadikan kecap dan tepung.
Pendampingan Yayasan KEHATI terhadap masyarakat Flores, NTT.

Di Ende Flores Tengah, sorgum memiliki akar budaya yang kuat karena digunakan untuk ritual pelepasan roh. Aku pernah mengunjungi Nusa Tenggara Timur, tapi belum pernah coba sorgum. Kamu pernah coba sorgum?

Menjaga alam dengan tradisi adalah bentuk kecintaan masyarakat adat. Oleh karenanya masyarakat adat harus diperhatikan dan dijaga. Mereka lebih dekat dengan alam dan tahu bagaimana cara mencintai alam, karena mereka hidup langsung dari hasil alam. Selain bahan pangan, masyarakat menggunakan bahan pewarna alami dari tanaman. 


Contoh lainnya adalah masyarakat adat di Papua dan Maluku juga menerapkan sasi untuk menjaga alam. Jadi, sasi itu larangan untuk mengambil sumber daya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga kualitas dan keanekaragaman hayati yang ada. 

Selain itu, Yayasan KEHATI juga menaruh perhatian lebih kepada kaum perempuan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut dilakukan karena kaum perempuan  terlibat  mulai dari produksi-konsumsi, memperhatikan gizi anak, dan sudah banyak petani-petani perempuan. Peran perempuan sangat besar dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Petani Sorgum Perempuan. Sumber: https://kehati.or.id/

Indonesia memang kaya akan keanekaragaman hayati, namun juga memiliki ancaman karena berbagai penyebab dan pemicu. Sumber daya alam semakin berkurang karena pembangunan tidak berwawasan lingkungan, over eksploitasi (perdagangan satwa), deforestasi, dan perubahan iklim.

Climate change is real! Perubahan iklim bisa menyebabkan kekeringan yang menyebabkan gagal panen, yang ujung-ujungnya berimbas juga sama kita karena kurang bahan pangan. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan coral bleaching (pemutihan karang). Padahal tahu kah kamu, bahwa laut menyimpan oksigen terbesar di bumi?
A Reminder. Google on Earth Day 2022.
Pilih yang mana? Perubahan iklim juga menyebabkan coral bleaching (pemutihan karang).

Diperkirakan akan terjadi penurunan 10% panen padi untuk kenaikan suhu 1 derajat celcius pada bidang pertanian dan pangan, serta penurunan hingga 40% untuk tangkapan ikan di zona ekonomi ekslusif yang disebabkan ikan-ikan bergeser mencari iklim yang lebih sejuk.

Peran generasi mudah juga sangat penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dalam upaya menekan dampak perubahan iklim. Semakin kita kaya akan informasi, kita semakin sadar pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati. Kita bisa mulai dari diri sendiri untuk mendorong perubahan di masyarakat agar lebih peduli. Menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, dengan mengonsumsi pangan lokal, menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik.

Selamat Hari Bumi.
___

Keep in Touch
Thanks for reading!

Join Over 75k + Subscribers