Potensi Aneka Pangan Lokal untuk Masa Depan Indonesia

Potensi Sumber Pangan Lokal untuk Masa Depan Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, setiap daerah di Indonesia menyimpan kekayaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan untuk masa depan. Keanekaragaman Hayati Indonesia menyediakan sumber pangan lokal yang bikin bangga!

Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan, Indonesia memiliki 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, dan 110 jenis rempah-rempah. Tak heran jika Indonesia mendapat predikat Negara Megabiodiversitas Kedua Terbesar di Dunia, setelah Brazil.

Begitu banyak ragam sumber pangan dan kuliner khas Indonesia yang tidak ada di negara lain. Saat saya mengunjungi suatu daerah, pasti saya akan menyantap kuliner khas daerah tersebut, mengenal asal pembuatan, bahkan tradisinya. Bicara soal pangan lokal Indonesia memang gak pernah ada habisnya, bahkan bisa bikin perut berdendang, betul?

Aneka Pangan Lokal Indonesia Bikin Bangga


Pangan lokal diproduksi suatu daerah untuk dikonsumsi atau dikembangkan guna kepentingan ekonomi. Pangan lokal biasanya juga tak terlepas dari tradisi budaya dan hasil alam daerah tersebut. Oleh karenanya, hal itu yang membuat pangan lokal memiliki keistimewaannya masing-masing. Apa saja nih potensi pangan lokal daerahmu?


Beragam sumber pangan lokal Indonesia berasal dari hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Tak hanya beragam, sumber pangan tersebut juga kaya nutrisi dan memiliki khasiat untuk kesehatan lho! Potensi pangan lokal harus dikelola dengan baik dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Nasi sebagai makanan pokok.

Beras merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Katanya kalau belum makan nasi, rasanya belum kenyang. Tapi sebenarnya, dengan keanekaragaman sumber pangan yang kita miliki justru memberikan pilihan sumber karbohidrat yang tak kalah bergizi selain beras, seperti; ubi jalar/keledek, ubi kayu/singkong, talas/keladi, jagung, sagu, dan sorgum. Saya suka mengukus ubi jalar di rumah karena cara masaknya yang praktis, rasanya manis, dan mengenyangkan. Meski manis, ternyata kandungan gula dalam ubi lebih rendah daripada nasi lho!


Saat saya menyusuri hutan, saya pernah menemukan tanaman yang bisa langsung dikonsumsi. Misalnya buah murbei yang rasanya asam manis dan lengkuas merah yang manis. Ada pula hasil hutan sebagai bahan pangan seperti kecombrang, tepung sagu, jamur, hingga daun sengkubak yang digunakan sebagai
penyedap alami.

Lengkuas merah yang manis.

Letak geografis Indonesia di Zamrud Khatulistiwa membuat Indonesia memiliki iklim tropis, sehingga berbagai bahan pangan tumbuh baik dan segar. Beberapa buah juga hanya ada di Indonesia, seperti Buah Lahung dari Kalimantan, Buah Carica dari Dataran Tinggi Dieng, Buah Matoa asal Papua yang hanya berbuah setahun sekali. 

Selain dijadikan makanan, tanaman khas Indonesia juga bisa digunakan sebagai obat, seperti Pasak Bumi di Kalimantan untuk obat kuat dan obat malaria, Daun Gatal di Papua digunakan  untuk obat anti pegal alami. Bahkan jamu empon-empon dengan perpaduan jahe, kunyit, dan serai kini banyak dikonsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Hal-hal yang saya sebutkan diatas hanyalah sebagian kecil keanekaragaman pangan Indonesia yang membuat saya sendiri bangga dan takjub. Alam begitu baik menyediakan kebutuhan pangan kita semua. Saya sadar bahwa banyak sekali potensi sumber pangan lokal yang selalu menarik untuk dieksplor dari segi rasa dan ceritanya. 

Pangan Lokal untuk Masa Depan

Kita tentu harus menjaga alam untuk memastikan ketersediaan pangan lokal untuk masa depan. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah. Begitu pula dengan keberadaan pangan lokal kita. Jika tak kenal, maka kita akan mengabaikan keanekaragaman hayati sebagai potensi sumber pangan lokal. Hal tersebut dapat memicu terjadinya deforestasi atau alih fungsi lahan.

Seorang teman saya di Papua pernah bilang bahwa hutan sagu yang terlihat di depan mata ini memang masih terlihat hijau, tapi dalamnya sudah ada yang hilang. Itu sebabnya saya bilang bahwa kita harus tahu betul bahwa hutan dan alam menyimpan sumber pangan lokal lho untuk keberlangsungan makhluk hidup termasuk kita. Ketidaktahuan itulah yang menyebabkan hilangnya sumber pangan lokal untuk masa depan.


Saya pernah mengunjungi Restoran Terunik di Indonesia, bahkan di Dunia! Pasalnya semua media masak dan bahan pangan berasal dari alam. Restoran dikelilingi pohon sagu, bangunan atap dan tempat sampah terbuat dari daun sagu. Wadah makanan terbuat dari sempe/tanah liat. Meja terbuat dari bambu dan daun sagu. Bahkan saat saya tiba, saya disambut dengan secangkir kopi hangat asal Papua. 

Ungkea Jungle Resto berada di tengah hutan, Toware.

Tak hanya itu, cara memasaknya juga tidak menggunakan minyak sama sekali! Makanan dihidangkan hangat dengan metode masak dengan cara dibakar. Sagu diolah menjadi kuliner khas sebagai tradisi budaya. Oleh karena itu, masyarakat Papua masih mengadakan Festival Ulat Sagu untuk melestarikan alam dan budaya.
Hutan Sagu di Papua itu seperti Ibu, yang memberi kehidupan. Sagu bukan hanya sebagai sumber pangan. Tapi seluruh bagiannya dapat digunakan dan bermanfaat. Charles Toto, Papua Jungle Chef.

Jenis paku-pakuan/pakis dan olahan sagu.

Menurut saya, sagu memiliki potensi tinggi untuk ketahanan pangan nasional. Sagu bisa menjadi salah satu alternatif makanan pokok yang bisa diolah dan dieksplorasi menjadi berbagai variasi produk konsumsi. Sagu dapat diolah menjadi mi sagu, beras sagu, bakso, ongol-ongol, sagu keju, jenang mutiara, bagea, kue beras, hingga menjadi tepung sagu yang juga bisa dijadikan oleh-oleh. Olahan sagu bisa dimanfaatkan untuk makanan pembuka hingga makanan penutup.

Satu pohon sagu setinggi 30 meter bisa menghasilkan 150-300 kg bahan baku tepung sagu. Sagu memiliki kandungan gizi yang tinggi. Dalam setiap 100 gram sagu mengandung 355 kalori, 85,6% karbohidrat, serta memiliki kadar gula rendah (glutten free).

Olahan Pangan dari Alam

Sadar atau tidak, bahan pangan yang kita konsumsi merupakan bagian dari keanekaragaman hayati di Indonesia. Berikut beberapa olahan pangan dari alam yang pernah saya santap;

Sarikaya Perenggi
Saya pernah mencicipi makanan penutup yang belum pernah saya coba sebelumnya. Namanya Sarikaya Perenggi, makanan pencuci mulut ini bisa dimakan sampai kulit-kulitnya. Tentu sangat ramah lingkungan dan zero waste. Olahan ini sangat kreatif, terbuat dari labu kuning yang dikukus lalu diisi dengan custard yang terbuat dari kuning telur, santan, gula aren, dan daun pandan.

Sarikaya Perenggi.

Papeda Bungkus
Papeda merupakan bubur sagu khas Papua yang menjadi makanan pokok masyarakat Papua. Bubur sagu sejenis dikenal dengan nama Kapurung di Sulawesi. Seperti yang saya sebutkan di atas, pangan lokal erat kaitannya dengan tradisi budaya daerah tersebut. 

Tahukah kamu bahwa Papeda singkatan dari Papua Penuh Damai? Uniknya, papeda juga bisa disimpan dengan cara dibungkus menggunakan daun fotovea sehingga tahan sampai dua minggu lho! Tanpa plastik, pembungkus makananpun sangat ramah lingkungan dan berasal dari alam.

Papeda Bungkus.

Sayur Babanci
Sayur Babanci merupakan kuliner khas kota kelahiranku, Jakarta. Terlihat seperti kari, rasanya gurih, dan kaya akan rempah. Bagaimana tidak, sayur Babanci terdiri dari 21 jenis bumbu dan rempah Indonesia lho! 

Beberapa diantaranya ada jahe, serai, kapulaga, cabe merah besar, bunga bintang, asam jawa, lengkuas, terasi, kemiri, serundeng, hingga kelapa muda. Namun kini, beberapa rempah yang digunakan sulit didapat, seperti; kedaung, botor, lempuyang, temu mangga, temu kunci, dan bangle. 

Sayur Babanci.

Sambal Ikan Lais
Penikmat kuliner Indonesia identik menyukai sambal, saya adalah salah satu diantaranya. Hampa tanpamu terasa jika makanan tak ada sensasi pedas. Indonesia memiliki berbagai jenis sambal yang membuat cita rasa makanan semakin nikmat. 

Salah satu sambal yang pernah saya icip adalah Sambal Ikan Lais. Ikan Lais hidup di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Kebayang kan kalau Sungai Kapuas tercemar, menyebabkan Ikan Lais punah, sehingga kita tidak bisa menikmati hasil olahan tersebut lagi?

Sambal Ikan Lais.

Kasuami
Awalnya saya kira Kasuami adalah tumpeng mini karena bentuknya yang segitiga seperti tumpeng. Namun kuliner khas Sulawesi Tenggara ini terbuat dari singkong. Saat saya berada di Buton Tengah, beberapa kali kami disajikan menu Kasuami tapi tidak ada hidangan nasi. Masyarakat lokal sudah terbiasa makan Kasuami dengan lauk pauk.  Kasuami ini cukup mengenyangkan, satu puncung Kasuami ini biasanya saya bagi dua. 

Kasuami.

Beberapa contoh olahan pangan dari alam menunjukkan bahwa alam menyediakan sumber pangan yang sangat beranekaragam. Namun tak sedikit bahan pangan mulai langka. Banyak potensi aneka pangan lokal yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan nilai sumber pangan lokal itu sendiri. Untuk bisa terus menikmati olahan pangan dari alam tentu kita harus menjaganya.

Dukung dan Cintai Aneka Pangan Lokal Indonesia

Indonesia memiliki segudang potensi sumber pangan untuk masa depan. Sumber pangan yang kita konsumsi sehari-hari berasal dari alam toh? Jadi, sebenarnya tak ada alasan bagi kita untuk tidak menjaganya. Setiap hari kita butuh asupan pangan untuk menjalani hidup. Kita bisa berkontribusi untuk memelihara keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. 

Untuk itu, kita bisa menjaga ketahanan pangan dengan cara diversifikasi pangan lokal. Diversifikasi pangan merupakan upaya agar kita bisa mengonsumsi varian makanan pokok agar tidak terfokus pada satu jenis. Misalnya sumber karbohidrat tidak selalu berasal dari beras, kita bisa mencoba olahan lain yang berasal dari ubi, jagung, sagu, dan sorgum. 

Hal tersebut juga bermanfaat untuk pemenuhan gizi yang variatif dan seimbang. Diversifikasi pangan menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi beras agak tidak melebihi produksi dan hal ini tercatat dalam Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan.

Pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga terrcermin dari ketersediaan pangan yang cukup dalam segi jumlah, mutu, aman, merata, dan terjangkau. Selain itu, kita juga bisa menjaga pangan lokal, mulai dari diri sendiri dengan cara sederhana, seperti;

Makan Secukupnya dan Habiskan
Sebelum membuang makanan, mari pikirkan proses makanan tersebut bisa dihidangkan sampai ke meja kita. Berapa banyak orang kelaparan, bagaimana jerih payah petani, hingga perjalanan proses produksi dan distribusinya yang memakan banyak energi? 

Sisa makanan/food waste yang dibuang dan tidak diolah akan membusuk dan menghasilkan gas metana dapat memicu perubahan iklim. Perubahan iklim tersebut berpengaruh terhadap produktivitas sumber pangan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain. Jadi, belanjalah dengan bijak, simpan makanan dengan benar, dan tidak menyisakan makanan adalah hal yang wajib kita lakukan.

Membeli Produk Lokal Hasil Hutan Non-Kayu
Mendukung produk lokal dengan membeli hasil hutan non-kayu, seperti madu hutan, teh gaharu, kopi mangrove, tepung sagu, jahe merah, dan masih banyak lagi, contohnya bisa dilihat di sini. Produk-produk tersebut diproduksi oleh masyarakat lokal. Oleh karena itu, selain cita rasa yang berkualitas juga lebih menyehatkan dan tanpa bahan pengawet, kita juga membantu meningkatkan perekonomian mereka. Kamu wajib coba untuk membuktikannya ya!

Koleksi produk lokalku.

Menggunakan Wadah Ramah Lingkungan
Jika kita membeli makanan, ada baiknya kita menyiapkan wadah sendiri untuk mengurangi sampah plastik. Pelaku industri makanan bisa beralih menggunakan wadah makanan ramah lingkungan dari besek bambu atau limbah pelepah serta menggunakan kantung singkong atau pati jamur.

Wadah makanan ramah lingkungan.

Dengan mengonsumsi sumber pangan lokal, kita juga membantu para petani dan pelaku UMKM di Indonesia, serta membantu upaya ketahanan pangan berkelanjutan. Yuk kita dukung dan cintai aneka pangan lokal Indonesia. Kita adalah bagian dari solusi, mari berkontribusi. 

...

Keep in Touch

1 comment:

  1. Setuju banget nih makan secukupnya dan habiskan jangan sampai kita membuang makanan ya

    ReplyDelete