Wisata Banda Neira yang Wajib Dikunjungi

Gunung Api Banda menyambut kehadiran saya saat tiba di Banda Neira, Maluku Tengah. Setelah menempuh perjalanan menggunakan pesawat dari Jakarta - Ambon selama 3 jam, dan perjalanan laut dengan KM Pangrango selama 15 jam, akhirnya saya menginjakkan kaki di Banda Neira! Banda Neira memiliki wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah yang sangat menarik. 


Banda Neira menyimpan kisah perjuangan bangsa Indonesia. Bangunan-bangunan kuno yang saya lihat, seakan membawa saya pada zaman kolonial. Beberapa tempat wisata dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki, menyusuri tempat-tempat bersejarah yang jaraknya tak terlalu jauh satu sama lain. Bahkan saya melihat meriam di pinggir jalan raya.

No Filter Gunung Api Banda Neira.

1. Benteng Belgica


Benteng Belgica ini wisata pertama yang saya kunjungi saat ke Banda Neira. Jika dilihat dari atas, Benteng Belgica berbentuk segi lima, unik sekali! Pada bagian tengah benteng, ada batu berbentuk kotak gitu, sekilas saya kira sumur. Tapi ternyata itu adalah terowongan bawah tanah yang bisa nembus ke Benteng Nassau. Jadi semacam jalan rahasia yang dulu digunakan sebagai sistem pertahanan juga pada zamannya.

Itu kotak di bagian tengah yang ternyata jalan rahasia.
Ini bagian atas Benteng Belgica. View-nya menghadap laut dan Gunung Api Banda.

Awalnya Benteng Belgica dibangun oleh Portugis, namun sempat direbut oleh Inggris dan Belanda. Benteng Belgica menjadi saksi sejarah perjuangan Maluku saat melakukan perlawanan menentang monopoli rempah oleh VOC pada zaman itu. Dulu Benteng Belgica juga sempat dijadikan gudang pala. 

Bagian depan Benteng Belgica.

Benteng Belgica terletak di Pegunungan Tabaleku, untuk mencapainya kita harus sedikit berjalan dan menaikki beberapa anak tangga. Saat menaikki anak tangga dan menengok ke belakang, saya takjub melihat panorama Laut Banda yang indah! Benteng Belgica menjadi salah satu spot terbaik jika ingin swafoto dengan Gunung Api Banda. Dari bagian atas Benteng Belgica, bahkan terlihat tempat penginapan saya di Allan Bungalow dan gagahnya Gunung Api Banda.

2. Benteng Nassau


Selain Benteng Belgica, juga ada Benteng Nassau. Justru Benteng Nassau yang dibangun terlebihi dulu dan merupakan benteng pertama di Banda Neira. Benteng ini dibangun Belanda di atas pondasi yang dibangun oleh Portugis. Benteng Nassau berbentuk segiempat, dan pemandangannya juga menghadap Gunung Api Banda.


Lokasi Benteng Nassau tak jauh dari Benteng Belgica. Dulu, tempat ini pernah terjadi tragedi pembantaian 44 Orang Kaya Banda, orang yang sangat berpengaruh, disegani, dan terhormat pada zaman itu. Mendengar kisahnya itu buat hati ini pilu, mereka dibantai dengan dipenggal kepalanya dan dipotong bagian tubuhnya. Tercatat pula masyarakat lainnya ada yang dibunuh dan diasingkan secara paksa.

Benteng Nassau dengan pemandangan Gunung Api Banda.

Singkat cerita pembantaian tersebut terjadi karena masyarakat Banda Neira yang memperjuangkan tanahnya, agar Belanda dan Inggris tidak serta merta merebut memonopoli pala, komoditas yang diperebutkan waktu itu. Saat mengunjungi Benteng Nassau pada siang hari, saya baru sadar bahwa benteng ini ternyata saya lewati saat ritual Kasi Makan Negeri dalam rangkaian Festival Lewetaka. 

3. Cilu Bintang


Saya bertemu Abba Rizal Bahalwan, pemilik Cilu Bintang dan salah satu orang terhormat di Banda. Om Abba saya menyapanya. Om Abba menjamu kami dengan jus pala segar sambil bercerita tentang Banda Neira.  

Awalnya saya mengira Cilu Bintang adalah restoran yang juga menjadi toko oleh-oleh karena saya melihat berbagai cenderamata Banda dari buku-buku, mutiara, perhiasan, kaos, gantungan kunci, postcard, dan masih banyak lagi. Tapi lebih dari itu, ternyata Cilu Bintang menyediakan penginapan unik bernuansa vintage. Nama-nama kamarnya pun diambil dari nama tokoh penting Banda, seperti Ruangan Sjahrir, Hatta, dan Ratu.

Lantai 1 Cilu Bintang ada tempat oleh-oleh dan restoran.
Lantai 2 Cilu Bintang. Pemandangan lagi-lagi menghadap Gunung Api Banda dan Benteng Nassau.

Tapi walau tidak menginap, kita masih bisa menikmati suasana di Cilu Bintang. Apalagi bisa menikmati makan malam All You Can Eat sebesar Rp75.000 yang dimulai pukul delapan malam. Dari lantai dua Cilu Bintang, kita bisa melihat Benteng Nassau berlatar Gunung Api. Pada balkonnya juga masih ada meriam. Suasana di sini homey seperti nuansa rumah belanda. Oya, koleksi postcard dari Cilu Bintang bagus-bagus. Menurutku cocok buat jadi oleh-oleh yang murah meriah. Postcard tersebut juga bisa langsung dikirim dari sini. 

4. Istana Mini


Malam itu saat mengikuti prosesi Kasi Makan Negeri sebelum matahari terbit, saya sudah melihat bangunan putih ini. Pada waktu melihat Istana Mini waktu matahari terbit, saya langsung bilang, "Mirip Istana Negara di Jakarta". Ternyata dulu tempat ini memang digunakan sebagai kantor administrasi Belanda. Di depannya terdapat dua buah meriam dan juga halaman yang sangat luas.

Istana Mini Banda Neira. Mirip Istana Negara ya?

Bagian dalam Istana Mini.

Pada bagian dalam, banyak ruangan namun relatif kosong, tidak banyak perabot seperti meja, kursi, atau dekorasi lainnya. Pada bagian belakang terdapat ruang terbuka dan halaman yang cukup luas. Selain itu, di salah satu ruangan, terdapat coretan terakhir pegawai Belanda asal Perancis yang bernama Charles Humphrey.

Coretan itu diukir di jendela kamarnya menggunakan cincin berlian karena kerinduan terhadap kampung halaman dan keluarganya, tapi dia tidak bisa pulang. Tragisnya tak lama setelah itu, dia mati bunuh diri.

Coretan Jendela di Istana Mini. Sumber: Pak Budi - Ketua Lembaga Adat Ratu Naira. 

5. TWP Laut Banda


Taman Wisata Perairan (TWP) Laut Banda lokasinya berseberangan dengan Istana Mini. Saat saya datang ke sana pada akhir November, garis pantai terlihat jauh sekali karena di Maluku sedang terjadi Fenomena Meti. Fenomena Meti merupakan surutnya air laut sampai jauh sekali hingga nampak seperti pertanda tsunami. Saya melihat beberapa nelayan sedang mencari ikan di sana.

TWP Laut Banda dengan view Gunung Api Banda.
TWP Laut Banda dengan Fenomena Meti.

TWP Laut Banda merupakan salah satu Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Sebagai kawasan konservasi, TWP Laut Banda menjadi habitat berbagai biota laut. Sepenglihatan saya, kawasan ini bersih, tentu karena peran masyarakat untuk jaga banda dengan menjaga tradisi dan menjaga lingkungannya. 

Rumah Kora-kora di TWP Laut Banda.

Masih di area TWP Laut Banda, ada Rumah Kora-kora/Belang yaitu perahu tradisional Maluku yang dulu digunakan untuk berdagang maupun perang. Saat dalam rangkaian Festival Lewetaka, Tampa Siri juga diletakkan di Rumah Kora-kora sebagai bentuk penghormatan.

6. Gereja Tua Naira


Saya sering melewati gereja ini. Dari depan arsitekturnya nampak seperti bangunan di Eropa. Letaknya di pertigaan jalan, tepat di seberang Taman Tugu Rakyat Banda. Pilar-pilar putih pada gereja ini mengingatkan saya dengan Gereja Immanuel Jakarta. Waktu itu gereja sedang ditutup, saya hanya melihatnya dari depan. 

Gereja Tua Banda Neira. Pemandangan di belakangnya Gunung Api Banda (lagi)

Tapi siapa sangka, Gereja Tua Naira lantainya dibuat dari 30 makam nisan prajurit belanda yang gugur dalam peperangan. Hal ini tertulis di papan depan gereja. Jika nanti saya berkunjung ke Banda Neira lagi, semoga gereja dibuka dan saya bisa merasakan beribadah di sana.

7. Rumah Budaya Banda Naira


Lokasi Rumah Budaya Banda Neira tepat di seberang Delfika Guest House. Lokasi yang cukup strategis bagi pejalan kaki untuk menjangkau tempat-tempat bersejarah lainnya di sekitar Pulau Neira. Sepanjang di gang ini, saya melihat beberapa bangunan kuno juga yang dimanfaatkan para mahasiswa untuk berkegiatan. 

Tampak Depan Rumah Budaya Banda Neira.
Rumah Budaya Banda Neira.
Tentang Kora-kora dan Buka Puang.

Rumah Budaya Banda Neira seperti museum yang menyimpan sejarah perjuangan Banda Neira. Lagi-lagi, bangunan ini adalah milik keluarga Des Alwi, salah satu tokoh penting Banda yang juga anak angkat Bung Hatta dan Sjahrir. 

Berbagai peninggalan dan benda antik bisa kita temukan di sini. Misalnya keranjang pala, meriam peninggalan VOC, lukisan, keramik, uang kuno, dan lain-lain. Tiket masuknya sebesar Rp25.000, bisa dimasukkan ke kotak yang ada di depan.  

8. Rumah Pengasingan Bung Sjahrir & Rumah Pengasingan Bung Hatta


Masih dalam satu gang yang sama, tak jauh dari Rumah Budaya Banda Neira, ada Rumah Pengasingan Sjahrir. Namun sayangnya sedang tutup saat itu, saya hanya melihat beberapa peninggalan dan foto-foto dari jendela yang terbuka pada bagian depan. 

Bung Hatta dan Sjahrir menempati rumah ini setelah tempat pengasingannya di Boven Digul Papua. Walau tak berapa lama kemudian Bung Hatta pindah ke rumah pengasingan lain yang tak jauh dari situ. Tempat ini menjadi tempat pertemuan dengan tokoh sejarawan Banda, Des Alwi yang akhirnya menjadi anak angkat mereka. 

Rumah Pengasingan Bung Sjahrir dari jendela depannya.


Lokasi Rumah Pengasingan Bung Hatta masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Rumah Pengasingan Bung Sjahrir. Padahal saya melewati Rumah Pengasingan Bung Hatta berkali-kali, tapi berkali-kalipun saat hujan sampai saya gak sempat masuk ke dalamnya. Haha. 

Setiap kali kami menuju Rumah Adat Ratu Naira, pasti melewati Rumah Pengasingan Bung Hatta. Letaknya di pinggir jalan, masih satu blok dengan Rumah Adat Ratu Naira dan Benteng Belgica yang jaraknya hanya beberapa meter saja.

Bung Hatta mendirikan Sekolah Sore untuk anak-anak Banda Neira di teras belakang rumah ini. Bersama dengan Bung Sjahrir mengajar anak-anak tentang bahasa Inggris, membaca, menulis, berhitung, menanamkan nilai nasiolisme serta kedisipilinan. 

9. Wisata Bahari di Pulau Karaka dan Lava Flow


Banda Neira sudah terkenal akan keindahan bawah lautnya. Bermain di laut dan menikmati wisata bahari menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan! Pulau Karaka dan Lava Flow adalah dua spot diving yang saya kunjungi. Tentu bukan hanya spot ini, Banda Neira memiliki banyak sekali spot wisata bahari lain untuk snorkeling maupun diving. Namun spot ini lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap di Allan Bungalow.

Hujan deras saat itu, tapi siapa sangka ternyata saat berada di bawah laut tingkat visibility masih jelas dan tidak berarus. Di spot Pulau Karaka, saya melihat beragam biota laut, seperti; moray eel, clown fish, sweetlips fish, puffer fish, dan lain-lain. 

Sedangkan di spot Lava Flow, saya melihat banyak sekali terumbu karang yang besar-besar, cantik, berwarna, dan penyu sisik. Gimana ya speechless banget saya seperti berada dalam akuarium raksasa. Spot Lava Flow terbentuk karena aliran lava dari letusan Gunung Api Banda tahun 1988. Katanya mineral dari lava itu yang menyebabkan pertumbuhan terumbu karang yang lebih subur, cepat, dan banyak. 


10. Island Hoping  


Kepulauan Banda terdiri dari beberapa pulau, beberapa diantaranya yang berpenghuni yaitu Pulau Gunung Api, Pulau Banda Besar Besar, Pulau Rhun, Pulau Ay, Pulau Naira, Pulau Karaka, Pulau Sjahrir, dan Pulau Hatta. Oleh karena itu kita juga bisa island hopping untuk menikmati keindahan alam di sana. 

Peta Kepulauan Banda Neira (Ini postcard yang dibeli di Cilu Bintang)

Saat pengasingan di Banda Neira, Bung Hatta dan Sjahrir mendirikan Sekolah Sore dan mengajak anak-anak ke Pulau Pisang sambil menyanyi lagu Indonesia Raya. Oleh karena itu, saat ini Pulau Pisang dikenal dengan nama Pulau Sjahrir dan pulau di tenggara Pulau Banda dikenal dengan Pulau Hatta. 

Saat itu, saya bersama tim Moluccas Coastal Care menghabiskan waktu untuk menikmati wisata bahari di Pulau Sjahrir. Dari  atas kapal, laut terlihat sangat jernih, bahkan saya bisa melihat karang-karang dan ikan-ikan dengan jelas. 

Nah kalau di Desa Lonthoir Pulau Banda Besar, ada kebun pala terbesar dan pohon kenari yang membuat saya takjub! Ada Benteng Hollandia yang menjadi spot terbaik untuk swafoto dengan Gunung Api Banda saat matahari terbenam.

Kebun Pala terbesar dengan pohon-pohon Kenari bak negeri dongeng.
Best Photo Spot di Desa Lonthoir, Banda Besar. Photo by Arief Pokto

Selain itu, di Pulau Gunung Api, Rhun, dan Banda Besar (Lonthoir), Moluccas Coastal Care bersama Econusa membangun Rumah Belajar dengan konsep alam untuk memberikan edukasi anak-anak pesisir, bekerjasama dengan masyarakat untuk melakukan pembibitan sayur dan mengelola hasil panen di Rumah Pengering Rempah. Saya rasa hal ini bisa jadi salah satu alternatif wisata yang menarik yaitu agrotourism


Jangan lupa membeli buah tangan khas Banda Neira dengan olahan pala yang biasanya dijual di rumah-rumah warga seperti kopi pala, selai pala, sirup pala, dan lain-lain. Jika sudah kembali ke Ambon akan sulit menemukan oleh-oleh khas Banda seperti ini. Lagipula, oleh-oleh tersebut dibuat langsung oleh masyarakat Banda. 

Rasanya tak cukup hanya sekali saja ke Banda Neira. Masih ada wisata di sana yang belum sempat saya datangi seperti mendaki Gunung Api Banda dan ingin kembali menyelami keindahan bawah laut Banda. Sampai jumpa kembali Banda Neira.

====================================================================

Tips & Trick
  • Bawa drybag dan alas kaki yang nyaman, kalau bisa juga waterproof.
  • Waktu terbaik ke Banda Neira adalah bulan Oktober - November.
  • Bisa menggunakan jasa guide lokal supaya bisa lebih tahu cerita sejarah yang lebih detail.
  • Ada dua klinik di Banda Neira yang menyediakan tes Antigen.

====================================================================

How to Get There

Perjalanan Udara: Penerbangan menuju Bandara Pattimura Ambon, lalu naik pesawat perintis Sam Air menuju Bandara Banda Neira. (Penerbangan tidak beroperasi setiap hari jadi cari tahu terlebih dulu jadwalnya dan informasi tambahan ya naik kalau pesawat perintis bagasi tercatat hanya 10 kg)

Perjalanan Laut: Setelah tiba di Ambon, menuju Pelabuhan Ambon untuk naik kapal pelni KM Pangrango, atau menuju Pelabuhan Tulehu untuk naik kapal cepat. 


Selama di Banda Neira, saya lebih banyak berjalan kaki dan menggunakan ojek yang sebenarnya dari warga setempat juga. Tarifnya Rp5000-10.000 tergantung jarak. Saat island hopping, kami menyewa kapal. Kami juga sempat menggunakan motor tossa dari penginapan ke bandara.

Bersama kang Aip naik motor tossa ke bandara. Lengkap sama bangku VIP ini. Haha

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

1 comment:

  1. Keren bangetttt... Nggak nyangka Banda Neira sebagus ini loh. PR gue nih kayaknya kudu lebih banyak eksplor dalam negeri lagi :D

    ReplyDelete