Pengalaman Pertama Scuba Diving

Pertama kali nyebur ke laut waktu kecil itu pas snorkeling di Pulau Pantara, Kepulauan Seribu. Rasanya gak sampai 1 menit melihat bawah laut, aku trauma karena melihat ikan yang lebih besar dari badanku dan melihat kedalaman saat itu. Sekarang udah bangkotan, jadi penasaran gimana rasanya scuba diving

Pertama kali scuba divingSo nervous and excited at same time!

Kepikiran mau coba scuba diving mungkin sudah dari tahun lalu. Barulah tahun ini memutuskan, kalau gak sekarang, kapan lagi? Lalu, apa yang akhirnya membuat tekad bulat untuk ambil kelas? Aku pikir Indonesia itu sudah terkenal akan keindahan bawah lautnya. Kayanya seru juga ya eksplor bawah laut, selain wisata land tour.

Open Water Diver Course


Tanggal 11 April lalu, untuk pertama kalinya kelas kolam di Kolam Renang Sepolwan, Lebak Bulus. Ada kolam dangkal dan kolam dalam di sini. Kolam dalam sekitar 3,5 meter. Sebelumnya, kami dijelaskan mengenai alat-alat yang digunakan selama menyelam termasuk cara penggunaannya. Kelas kolam pertama aku dan Bayu (buddy), diajar sama ka Jonat dan ka Zaki dari Kurabesi Dive School.

Waktu akhirnya harus turun ke kolam dalam, even aku gak berani. Aku gagal terus untuk descent (turun) sampe dasar. Iya ditambah tingkat visibility kolam yang kurang baik saat itu, ditambah  juga hujan deras. Panik? Gak usah ditanya. Sampe bilang dalam hati, yaampun ini aku salah gak sih bisa sampe sini. Haha. 

Baru sebentar ka Jonat dan Bayu descent, aku sudah gak lihat keberadaan mereka dan aku jadi malah nunggu di surface. Parah banget rasanya pertama kali nafas pake mulut lewat regulator aja aneh buatku. Mungkin lebay, tapi kayanya tulisan ini sedikit banyak bisa menggambarkan kepanikanku ya.

Kelas kolam pertama. Muke serius amet nih.

Tanggal 14 April, kami ada kelas teori virtual by zoom. Kalo kata lagu Pamungkas "To the Bone" dijelasin teori-teori scuba diving. Mulai dari alat selam, fisika penyelaman, dan masih banyak lagi. Iya, kami belajar fisika dan matematika seperti zaman sekolah dulu. Semua materi termasuk videonya, bisa diakses online atau melalui aplikasi mySSI. Ada beberapa section dan tiap section ada tes, yang juga jadi materi saat ujian teori nanti. Selama 2,5 jam kelas berasa cepat aja gitu. 

Kelas teori virtual ditemenin sama Ponie.

Tanggal 15 April, kami kelas kolam lagi. Lokasinya di Kolam Renang Aquatic Center Bekasi. Sekarang kolamnya lebih dalam, sekitar 5 meter. Tapi karena tingkat visibility lebih baik, jadi rasa takutku berkurang (sedikit). Kami belajar materi-materi yang akan diujikan nanti saat open water ke laut, ada sekitar 20 basic skills lebih yang harus kami pelajari. Hari itu kami diajar sama ka Raymond, which is orang pertama yang aku hubungi saat mau gabung les diving ini. 

Kolamnya bening!

Pengalaman Pertama Scuba Diving di Laut


Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Tanggal 17-18 April, kami ke pergi ke Pulau Pramuka untuk latihan di laut sekaligus ujian praktek dan teori. Untuk lulus ujian dan menerima lisensi open water diver, kami harus menyelam di laut sebanyak empat kali. Kami berangkat dari Dermaga 16 Marina Ancol menuju Pulau Pramuka selama kurang lebih 1,5 jam dengan kapal ferry.

Persiapan diving hari pertama bareng ka Yasser.

Setelah check-in dan makan siang, kami bersiap untuk diving di spot pertama dan kedua. Lokasinya di Dermaga Pulau Pramuka. Pertama kalinya nyelup ke laut di kedalaman 6 meter, untuk mempraktekkan materi-materi yang sudah kami pelajari di kolam. Apa rasanya? Gak usah ditanya, lagi deg-degan, panik, takut, excited, campur aduk semua! Haha. 

"Mask on, regulator on." kata ka Raymond sambil menginsyaratkan jempol ke bawah.

Aku susah descent, sampai akhirnya ka Raymond bantu aku untuk sampai panggung putih, karena Bayu dan ka Yasser sudah menunggu di sana. Jujur aku deg-degan saat mask clearing dan mask removal. Aku harus merem saat itu karena mataku pake softlens

Walaupun udah latihan di kolam, tetap aja rasanya beda. Mata agak perih dan hidung agak tersedak. Tapi saat itu, apa yang bisa kulakukan adalah bertahan bukan? Haha. Kadang manusia begitu kan, saat terdesak, akhirnya jadi bisa melakukan apa yang sebelumnya mungkin dirasa gak bisa. Jadi akhirnya bisa juga mask clearing di bawah laut. 

Ini panggung putih di kedalaman 6 meter yang kumaksud.

Aku gak terlalu bermasalah dengan equalizing. Tapi kadang malah lebih khawatir mask di mata yang (berasanya) suka mau copot. Padahal ka Raymond bilang mask aku udah kenceng. Haha. Fyi, equalizing itu menyamakan tekanan udara pada telinga. Di kelas teori dikupas tuntas kenapa kita harus melakukan itu. Selain masalah mask clearing dan susah descent, masalah lainnya adalah bouyancy. Yaampun si Irene ini memang banyak masalah hidupnya. Haha.

Spot Menara.

Fish Shelter/Fish Apartement.

Spot ketiga dan keempat namanya Soft Coral dan Area Perlindungan Laut (APL). Aku melihat banyak hal yang belum pernah kulihat sebelumnya (norak). Di spot Soft Coral, ada menara tempat ikan berkumpul, kelihatannya kaya puncak monas ya. Lalu ada fish shelter/fish apartment (yang bentuknya kotak-kotak itu). 

"Fish shelter/Fish apartment itu semacam artficial structure yang ditaruh supaya ikan di sana dan berketurunan sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai, karena ikanpun butuh struktur untuk hidup. Makanya terumbu karang yang bentuknya macam-macam, jadi lokasi favorit ikan." kata ka Raymond. 

Finally got my bouyancy.

Ikan Memora yang nempel di tank-ku.

Area Perlindungan Laut adalah area yang tidak diperbolehkan melakukan kegiatan ekstraktif seperti memancing. Jadi hanya boleh berkegiatan non-ekstraktif seperti diving, snorkeling, dan penelitian. Hal tersebut dilakukan supaya ikan dan karang di dalam APL tumbuh sehat dan tidak memiliki tingkat kematian tinggi. 

Kami menyelam hingga kedalaman 15 meter. Selain belajar basic skills penyelaman, kami juga diajarkan menggunakan dive computer (dive comp) yang ternyata canggih banget! Bukan jam tangan biasa, tapi dive comp ini menunjukkan tekanan udara, kedalaman air, hingga suhu air laut. Terlebih saat mereka ada pada kedalaman tertentu, dive comp akan memberi tahu batas maksimal waktu yang dibutuhkan selama di bawah laut.

Moray Eel.

We did it!


Surprisingly, pas dibawah laut itu kok lama-lama rasanya malah bisa udah menikmati. Rasanya senang banget bisa lihat school fishing walaupun ikan kecil-kecil. Haha. Aku melihat penyu, bintang laut, jenis-jenis coral yang aku pelajari di kelas teori, ikan Nemo, ikan Memora dan Moray Eel. Tak terkecuali aku juga melihat banyak sampah. Hiks. 

Fyi, Moray Eel itu sejenis belut yang biasanya bersembunyi diantara karang. Dia menampakkan bagian kepala dan mulut dengan gigi yang tajam. Ka Raymond memberi tanda bahwa ikan ini berbahaya jika kita mengusiknya. Jadilah akupun bergegas meninggalkan Moray Eel. Haha

Serba-serbi Les Diving; Harga & Dive School


From pool to the sea. Aku bisa bilang ternyata untuk belajar basic scuba diving di open water course hanya membutuhkan waktu seminggu. Bisa dilihat dari tanggal diatas ya. Waktu yang terbilang singkat buatku. Tapi kegiatan olahraga menantang ini memang butuh jam terbang juga biar lebih terbiasa dengan air, alat, dan skill pastinya.


Pertanyaan paling banyak soal les diving ini adalah sekolah dimana dan berapa biayanya. Jadi waktu ke Papua akhir tahun lalu, aku ketemu sama mas Wiro. Doi cerita-cerita tentang diving gitu. Lalu pas akhirnya mau les diving, aku kepikiran tanya mas Wiro, kali aja punya kenalan. 

Eh beruntungnya aku dikenalin sama ka Raymond. Belum mulai les aja, udah diceritain macem-macem soal dunia perlautan yang bikin penasaran. He's Assistant Instructor Trainer SSI International, Marine Conservation Practitioner, and he's full experience of this for sure. Jadilah makin trusted, ya kan? Haha. ka Raymond ini yang jadi instructor-ku dari Kurabesi Dive School. Ada divemaster ka Zaki dan ka Jonat yang ngajarin kami juga.

Me and my instructor.

Pengajaran di Kurabesi Dive School itu fun tapi tetep fokus. Jadi kalau salah, pasti diminta ulang sampe kita benar melakukannya. Instructor dan divemaster sabar banget aseli, penjelasannya mudah dimengerti, diajarin sampe bisa, dan yang paling penting bikin nyaman. Oops! Maksudnya gini lho guys, jujur mungkin udah gak terhitung berapa kali aku panik di kolam dan laut apalagi. 

Tapi rasanya dengan instructor dan divemaster yang bikin tenang, dan berasa kalo kita gak sendirian, it feels like more safe and always in positive energy.  Aku ingat banget kata-kata ka Raymond, saat panik itu kadang kita bawaannya pengen buru-buru muncul ke surface. "Tapi apa yang kita cari di surface? Udara? Kita bawa udara di tank." Oh oke I will always noted then

Harga per April 2021. Mari coba sebelum harga naik.

Kelas Open Water Course di Kurabesi Dive School seharga Rp5.300.000 cukup worthit buatku. Harga tersebut sudah kelas kolam, kelas teori, dan kelas laut di Pulau Pramuka. Semua alat, termasuk wetsuit, mask, fins, tank, dan lain-lain juga sudah termasuk untuk dipinjamkan. All in tinggal bawa diri aja guys! Pembayarannya juga bisa dicicil lewat Tokopedia, jadi bisa pilih senyamannya. Haha.

Pengalaman pertama scuba diving sangat berkesan buatku. Bukan cuma teknik menyelam, tapi saat scuba diving, aku belajar banyak. Belajar percaya sama kemampuan diri, belajar untuk gak cepat panik. Kami juga belajar untuk menghargai dan melakukan evaluasi dari setiap penyelaman tentang apa yang baik dan kurang dari penyelaman kami, dari segi apapun. 

Thanks team!

Kalo udah lulus, selain dapat kaos, dapet merchandise, dan sertifikat juga guys.
Dapet jodoh juga bisa sih kalo cocok ye kan? Haha.

There's always first time for everything. Finally graduated as Open Water Diver. I still beginner and need more dive log. Haha. Thanks team, for made one of my bucket list come true. Hopefully, see you in the next dive trip!

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar: