Lestarikan Keindahan Hutan Indonesia Melalui Adopsi Hutan

Manusia butuh alam.

Kembali ke alam adalah hal yang paling saya rindukan. Saat musim kemarau, biasanya saya menjadwalkan diri berwisata mendaki gunung, untuk menikmati keindahan alam dan hutan Indonesia. Tanpa koneksi internet, jauh dari kebisingan, pemandangan hijau, dan udara sejuk memberi ketenangan dan energi positif bagi saya. 

Keunikan Hutan di Indonesia terletak pada kekayaan keanekaragaman hayati yang tak dimiliki oleh negara lain. Oleh karena itu, kita wajib menjaga dan melestarikannya. Tahu kah kamu bahwa Hari Hutan Indonesia jatuh pada tanggal 7 Agustus? Saya senang bisa merasakan euforia perayaan Festival Hari Hutan Indonesia secara virtual. Hari spesial tersebut menjadi momen pengingat untuk kita semua akan keberadaan hutan di Indonesia.
Earth is our mother, Forest is our Breath, and Water is our Blood. 
Hari hutan Indonesia adalah hari spesial saat semua orang dapat merayakan hutan hujan tropis Indonesia beserta semua kekayaan di dalamnya, seperti; air, udara bersih, habitat flora fauna, sumber pangan, bahan obat-obatan, penyerapan karbon, hingga akar kebudayaan.

Live Streaming Festival Hari Hutan Indonesia, 7 Agustus 2020.

Festival Hari Hutan Indonesia berlangsung meriah dan bermakna dengan talkshow serta pertunjukkan dari berbagai profesi, mulai dari penggiat lingkungan, komedian, dan musisi. Jadi, saya yakin setiap kita memiliki potensi untuk melestarikan hutan Indonesia sesuai dengan passion kita masing-masing. 

Indonesia Penyandang Gelar Zamrud Khatulistiwa
Kita patut berbangga dan bersyukur karena Indonesia menyandang gelar Zamrud Khatulistiwa. Layaknya batu Zamrud dengan warna hijau yang memukau, begitulah gelar Zamrud Khatulistiwa untuk Indonesia dengan hamparan hutan yang luas dan sebagai hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Kongo.

Dengan posisi di garis khatulistiwa, menyebabkan Indonesia mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahun sehingga begitu banyak keanekaragaman hayati tumbuh di dalamnya. Manfaat keanekaragaman hayati sangat penting sebagai bahan sandang, pangan, dan papan bagi makhluk hidup.


Indonesia memiliki lebih dari 70 jenis umbi dan 55 jenis rempah-rempah, yang juga dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat-obatan, misalnya madu. Selain itu, beberapa tanaman tanaman seperti labu air dimanfaatkan Suku Dani di Lembah Baliem Papua sebagai bahan sandang membuat koteka. Bahkan sebagai sumber papan, kita menggunakan kayu dan bambu untuk kebutuhan perabot dan tempat tinggal

Indonesia diberkahi dengan hutan yang luas, seperti; hutan bakau, hutan sabana, hutan musim, dan hutan hujan tropis. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017, hutan di Indonesia berperan besar sebagai penyumbang paru-paru dunia dengan luas tutupan hutan mencapai 125.922.474 hektare.

Keindahan Hutan Indonesia Bukan Hanya Pohon Saja
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas hutan di Indonesia bukan hanya tentang pohon saja. Di dalamnya terdapat berbagai flora, fauna, termasuk ekosistem yang membangun keberlangsungan makhluk hidup. Dalam acara festival Hari Hutan Indonesia yang digelar secara virtual, salah satu narasumber kak Ramon Tungka mengatakan bahwa janganlah menganggap hutan sebagai objek, tetapi kita adalah satu kesatuan.

Evergreen.

Awal tahun 2020, saya sempat mengunjungi Taman Nasional Baluran yang terletak di perbatasan Situbondo dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kami disambut oleh hutan musim yang lebat saat menuju Savana Bekol. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah saat kami melewati Evergreen, alias hutan hijau sepanjang tahun. Uniknya Evergreen tak pernah kering karena berada di wilayah cekungan yang terdapat sungai bawah tanah. Keindahan dan keunikan hutan Indonesia yang satu ini membuat saya bangga tinggal di Indonesia. 

Rantai Makanan di Savana Bekol, Taman Nasional Baluran.

Taman Nasional Baluran, tak hanya dihiasi oleh hutan dengan pohon saja, namun juga menjadi rumah bagi 444 jenis tumbuhan khas seperti widoro bukol, mimba, dan pilang. Selain itu, di sini terdapat 26 jenis mamalia, seperti banteng, kerbau, rusa, monyet, dan macan tutul. Sekitar 155 burung juga menggantungkan hidup dalam hutan ini. Saat saya melihat papan rantai makanan, saya semakin sadar bahwa tempat ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan ekologi.


Adopsi Hutan, Langkah Kecil Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Keberadaan hutan sangat penting bagi keberlangsungan makhluk hidup pada masa kini dan masa depan, untuk aku dan kamu. Namun sadar atau tidak, kita juga banyak kehilangan tutupan hutan karena berbagai faktor, seperti pembalakan hutan dan kebakaran hutan  yang menyebabkan habitat serta populasi didalamnya menjadi terancam. Tak hanya itu, warga lokal dan masyarakat adatpun juga terkena imbasnya.

Dalam rangka Hari Hutan Indonesia, yuk kita melakukan beberapa hal untuk melestarikan keindahan hutan Indonesia;

1. Mematuhi Aturan di  Taman Nasional atau Hutan
Jika kita mengaku sebagai pecinta alam, sudah sepantasnya kita menjaga dan melestarikannya dimanapun kita berada; di tempat wisata alam, taman nasional, dan hutan. Tidak melakukan vandalisme dan tidak membuang sampah sembarangan sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana. 

Saat saya pergi ke Taman Nasional Baluran, salah satu teman saya sudah siap mengeluarkan drone dari tasnya, tak lama kemudian ada papan larangan untuk tidak menerbangkan drone di kawasan tersebut. Jadi, kita harus patuhi aturan yang berlaku.

2. Menggunakan Barang Eco Friendly dan Produk Lokal untuk Mencegah Deforestasi
Gaya hidup ramah lingkungan memang gencar dikampanyekan, lalu apa hubungannya dengan hutan? Mungkin kita lupa bahwa fungsi utama hutan adalah menyerap karbon. Sadar atau tidak, setiap aktivitas kita meninggalkan jejak karbon yang menyumbang emisi gas rumah kaca.


Nah, gaya hidup ramah lingkungan sangat berkontribusi dalam pengurangan jejak karbon. Hutan hujan tropis di Indonesia juga menghasilkan banyak produk hutan non-kayu yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Misalnya dengan membeli produk lokal, kita sudah berkontribusi terhadap ekonomi masyarakat lokal dan turut mengurangi jejak karbon dengan mengurangi jarak tempuh produknya. 

3. Adopsi Hutan 
Awalnya, saya penasaran, apakah itu Adopsi Hutan? Adopsi hutan merupakan gerakan gotong royong untuk menjaga hutan yang masih ada. Mulai dari pohon tegaknya, flora dan fauna eksotis, dan keanekaragaman hayati di dalamnya. 

Hingga saat ini, Hutan Itu Indonesia (HII) bersama dengan Komunitas Konservasi Indonesia (WARSI) dan World Wide Fund for Nature (WWF) telah mengadopsi sebanyak 1039 pohon yang tersebar di Hutan Adar Rantau Kermas Jambi, Hutan Nagari Sungai Buluh Sumatera barat, dan Taman Nasional Gunung Rinjani.


Adopsi hutan gak mahal kok, melalui laman kitabisa.com/harihutanid dimulai dari nominal Rp1.000 saja. Hutan Itu Indonesia (HII) memiliki target hingga Rp1Miliar agar lebih banyak hutan yang bisa diadopsi. Kenapa nominalnya terlihat besar sekali? Jika 1 pohon memerlukan biaya perawatan sebesar Rp200.000/tahun, makan dengan Rp1Miliar , kita bisa mengadopsi 1.000 pohon selama 5 tahun. Makan lebih banyak, akan lebih baik.

Selain itu, dana yang terkumpul akan digunakan lembaga masyarakat setempat untuk patroli hutan desa/adat, modal wirausaha produksi hasil hutan non-kayu, dan klinik kesehatan warga. Setiap kita dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian hutan sesuai dengan passion masing-masing atau melalui donasi adopsi hutan untuk melestarikan keindahan hutan Indonesia. Salam lestari!
_____

Sumber Referensi:


Keep in Touch

Thanks for reading!

1 komentar:

Klaim Bagasi Rusak Saat Penerbangan dari Maskapai dan Asuransi Penerbangan

"Koperku kok oleng ya", kataku sambil menggerek koper yang tak seimbang setelah kuambil dari tempat pengambilan bagasi.

Aku perhatikan koperku dari semua sisi. Ternyata bagian sudut bawah dekat roda jebol! Jam empat subuh saat itu, saat aku tiba kembali di Bandara Soekarno Hatta, setelah penerbangan panjang dari Jepang. Mungkin karena masih terlalu mengantuk, aku dan suami bergegas mencari kendaraan untuk pulang karena ingin beristirahat lebih lama. 

Dalam perjalanan pulang, aku baru ingat, "Kita kan beli travel insurance, bisa dong klaim bagasi rusak?" Akhirnya aku mencari informasi dan menelepon customer service maskapai terkait kerusakan bagasi yang terjadi. Kemudian kami berinteraksi melalui email dan diarahkan ke email cgk lost and found untuk proses lebih lanjut. 

Perjalanan dengan Koper Pertama

Sebelum pergi ke Jepang, aku memang sudah berpikir untuk membeli koper baru karena koper pertamaku ini bagian rodanya sudah tidak berfungsi dengan baik. Sesuai dugaanku, benar saja setelah perjalanan ke Jepang koper kesayangan ini rusak.

Klaim Bagasi Rusak Saat Penerbangan
Foto terakhir bersama koper kesayangan.

Dulu waktu pertama kali ke luar negeri, saya membeli koper dari situs online dengn harga Rp350.000-an dengan ukuran 26 inch. Ukuran yang cukup besar karena saya akan pergi ke Korea selama 6 hari saat itu. Koper pertama ini sudah menemaniku ke berbagai tempat, seperti Korea, Singapura, Thailand, Bali, dan Jepang. Jadi sudah pasti koper ini menyimpan banyak kenangan mantan yang tak terlupakan.

Klaim Bagasi Rusak dari Pihak Maskapai

Awalnya aku gak terpikirkan untuk klaim bagasi, karena memang aku mau ganti koper dengan kualitas yang lebih baik juga. Mungkin kupikir, memang sudah saatnya ganti koper. Aku sudah sampai Jakarta dengan selamat dan koper itu gak rusak waktu di Jepang. Tapi beruntungnya aku, berdasarkan info yang kulihat di laman website ANA Airlines, klaim bagasi rusak bisa diurus paling lambat 7 hari setelah penerbangan.


Aku memang suka menyimpan tiket wisata, tiket pesawat fisik, termasuk baggage tag untuk kenang-kenangan. Tapi aku baru tahu lho kalo dibalik baggage tag itu ternyata ada keterangan baggage claim untuk klaim bagasi rusak. Yaampun, kemana aja Irene selama ini? Haha

Jangan dibuang dulu baggage tag-nya.

Beberapa dokumen yang perlu dilengkapi terkait klaim Kerusakan Bagasi dari pihak maskapai:
  1. Menginformarikan merek dan tahun pembelian bagasi
  2. E-Ticket keberangkatan dari Indonesia ke Indonesia
  3. Boarding Pass keberangkatan dari Indonesia ke Indonesia
  4. Baggage Tag
  5. Copy Passport
  6. Menginformasikan merek dan tahun pembelian koper
Aku mengajukkan klaim sebesar Rp500.000, namun yang disetujui sebesar Rp400.000. Proses klaim bagasi rusak dari pihak maskapai ANA Airlines gak terlalu lama, pelayanannya ramah dan fast response. Jika teman-teman mengalami kerusakan bagasi, lebih baik langsung bergegas ke bagian Baggage Claim untuk ditindaklanjutti lebih cepat.

Klaim Bagasi Rusak dari Pihak Asuransi Perjalanan

Ini kali pertama aku menggunakan asuransi perjalanan dan langsung mengajukan klaim. Sebelum pergi ke Jepang, aku dan Will beli travel insurance dari AXA, seharga Rp222.300 untuk 2 orang, dengan periode perjalanan selama 7 hari. Berarti per-orang sekitar Rp100.000-an aja!

Secara bersamaan, aku juga email pihak asuransi perjalanan untuk mendapatkan klaim bagasi rusak. Saat itu, aku baru benar-benar perhatikan isi polis asuransi perjalananku. Asuransi perjalanan ini tak hanya mencakup kerusakan atau kehilangan bagasi, tapi ada juga yang meliputi delay pesawat, rumah sakit, dan lain-lain.

Sempat foto di Bandara kerusakan bagasi ini.

Beberapa dokumen yang perlu dilengkapi terkait klaim Kerusakan Bagasi yang ingin diajukan:
  1. Formulir klaim (terlampir dari pihak asuransi perjalanan)
  2. Surat resmi dari pihak Maskapai mengenai Kerusakan Bagasi
  3. Menginformarikan merek dan tahun pembelian bagasi
  4. E-Ticket keberangkatan dari Indonesia ke Indonesia
  5. Boarding Pass keberangkatan dari Indonesia ke Indonesia
  6. Sertifikat Asuransi
  7. Copy Passport
  8. Menginformasikan merek dan tahun pembelian koper
Aku mengajukkan klaim sebesar Rp500.000, dan disetujui dengan nominal yang sama. Proses klaim bagasi rusak dari pihak asuransi perjalanan kira-kira satu bulan. Namun pelayanannya fast response. Untuk klaim bagasi rusak, aku harus mengirim koper rusakku ke kantor AXA sebagai barang bukti.

Klaim bagasi rudak saat penerbangan membuahkan hasil yang cukup. Setidaknya aku mendapatkan Rp900.000 dari hasil klaim bagasi rusak. Jadi, sebelum perjalananmu benar-benar selesai, jangan buang dokumen-dokumen penting penerbangan seperti baggage claim tag dan data penerbangan karena hal tak terduga seperti bagasi hilang atau rusak bisa saja terjadi. Simpan dokumen penerbangan untuk klaim bagasi rusak jika dibutuhkan. 
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Cukai Rokok Naik, Pandemi Saat Tepat Berhenti Merokok

Time to quit smoking.
"Sebat dulu ya."

Minimal dua kali sehari, kalimat singkat itu terlontar dari teman kantor saya. Bahasa gaul 'sebat' itu maksudnya adalah Sebatang Rokok. Waktu masih menyandang titel sebagai pegawai kantoran di salah satu agensi, rasanya tiada hari tanpa asap rokok. Tahu sendiri kan kalau pekerja seni butuh mood untuk mendapatkan ide. Tak jarang teman-teman sejawat ke luar ruangan dengan membawa beberapa batang rokok untuk mendapatkan inspirasi, katanya.

Tanpa basa-basi, saya langsung menutup hidung dengan tangan, hingga kelamaan saya meggunakan masker mulut agar tidak terhirup asap rokok itu. Ruang kerja dan ruang luar dibatasi oleh pintu kaca, namun tetap saja asap rokok masuk melalui celah pintu. Alhasil asap rokok tadi benar-benar mengganggu konsentrasi saya karena baunya yang sangat kuat dan menohok.

Harga Rokok di Indonesia Tergolong Murah

Bukan hanya orang dewasa saja, namun dalam lima tahun terakhir, banyak anak remaja yang merokok. Beberapa faktornya karena rokok masih dijual bebas dengan harga yang sangat terjangkau. Dengan harga kurang lebih Rp20.000-Rp30.000, mereka sudah bisa mendapatkan 1 bungkus rokok. Belum lagi jika rokok dijual eceran, harganya hanya kisaran Rp2000 per-batang saja! Data dari Global Youth Tobacco Survey pada tahun 2019, menunjukkan bahwa prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun naik dari 18,3% pada 2016 dan mencapai 19,2% pada 2019.

Sebagai ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai content creator, saya langsung berpikir kalau uang senilai Rp20.000 sudah bisa saya gunakan untuk membeli bahan makanan untuk makan sehari. Sayapun pernah melihat pemulung yang merokok di pinggir jalan. Lalu saya berpikir lagi, "Kenapa dia bisa beli rokok, tapi masih mengemis untuk membeli makan?"
Perbandingan harga rokok di Indonesia dan negara lain. 
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, harga rokok di Indonesia berada di peringkat bawah alias paling murah. Berdasarkan sumber dari Asian Money Guides, jika dirupiahkan harga rokok di Australia bisa mencapai Rp400.000. Wow! Nominal yang sangat besar dan jauh lebih mahal dibanding harga rokok di Indonesia. Saya jadi ingat waktu teman saya jalan-jalan ke Jepang, dia tidak mengosumsi rokok karena harganya mahal.

"Rokok di Jepang mahal banget, mendingan buat gue beli makanan enak di sana." katanya. 

Menurut data dari Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) pada tahun 2019 bertema 'The Tobacco Control Atlas, Asean Region', Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yaitu 65,19 juta orang. Hal itu disebabkan oleh harga dan tarif cukai rokok yang tergolong murah dan rendah.

Belum lagi saat pandemi yang belum diketahui kapan berakhirnya ini, konsumsi rokok di Indonesia semakin meningkat karena kondisi yang tak menentu membuat pikiran stres dan depresi. Ujung-ujungnya sebat menjadi salah satu sarana refreshing-nya. Bahkan sejumlah industri rokok tetap beroperasi karena permintaan rokok yang melonjak selama pandemi.

Dalam siaran Radio Ruang Publik KBR pada tanggal 29 Juli 2020, bersama Profesor Hasbullah Thabrany, selaku Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau dan Renny Nurhasana, selaku Dosen dan Peneliti Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, membahas pentingnya mengapa cukai rokok harus naik saat pandemi.

Ruang Publik KBR bersama Profesor Hasbullah Thabrany.
Ruang Publik KBR bersama Renny Nurhasana.
"Harga rokok Rp70.000/bungkus dapat lebih efektif mengendalikan konsumsi rokok di Indonesia. Hanya mereka yang sudah biasa merokok yang membeli rokok dan mereka (anak-anak) yang belum akan tidak memulai merokok." kata Profesor Hasbullah Thabrany.

Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Dalam hati saya bicara, memang sudah seharusnya harga rokok dinaikkan berkali lipat, supaya perokok berpikir ulang jika ingin membelinya. Dalam kajian ini, penting bagi pemerintah untuk menaikkan cukai rokok, terutama saat pandemi agar konsumsi rokok tidak semakin meningkat dan menegaskan sanksi bagi pelanggarnya.

Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi?

Cukai dikenakan terhadap barang tertentu yang konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu pengawasan, dan pemakaiannya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan. Salah satunya hasil tembakau yang meliputi rokok. Sudah jelas, rokok membawa dampak yang tidak baik bagi kesehatan dan perokok pasif. Selain itu asap dan puntung rokok juga berbahaya bagi lingkungan; asap dan puntung rokok menyebabkan polusi udara dan mencemari lingkungan.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.10/2019 mengenai Kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau. Cukai rokok di Indonesia sudah naik sejak 1 Januari 2020 sebesar 23% dan harga eceran rokok naik sekitar 35%. Menurut Profesor Hasbullah Thabrany,  hal ini dinilai belum signifikan. Beliau mengatakan bahwa kenaikan cukai rokok sebaiknya tidak dilihat dari besar persenannya, tapi harus dievaluasi sesuai tujuannya.

Pasalnya konsumsi rokok masih terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, konsumsi rokok di Indonesia sebanyak 220 miliar batang dan pada tahun 2020, konsumsi rokok mencapai 330 miliar batang! Lalu mengapa cukai rokok harus naik saat pandemi?

1. Perokok Lebih Terancam Virus Covid-19.
Kita tahu bahwa merokok berbahaya dan mengancam kesehatan. Perokok berpotensi 14x lebih parah terkena gejalan Covid-19. Baik itu merokok dari rokok batangan, rokok elektrik, ataupun cerutu. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, merokok adalah salah satu faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) penyebab penyakit Kardiovaskular, Kanker, Paru Kronis, dan Diabetes.

Perokok lebih terancam Virus Covid-19.
World Health Organization (WHO) juga sudah memperingatkan bahwa perokok berisiko lebih tinggi jika terkena Covid-19. Asap dari rokok mengganggu sistem pernapasan bagi perokok aktif maupun perokok pasif, sedangkan Covid-19 juga menyerang paru-paru. Merokok menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat menyebabkan penyebaran virus corona lebih cepat.

2.  Lebih Mudah Merokok karena (sebagian pegawai) Bekerja dari Rumah.
Renny Nurhasana mengatakan bahwa konsumsi rokok meningkat akibat pegawai yang banyak bekerja di rumah/work from home. Saat sulit dan waktu terbatas jika merokok di kantor, para perokok bisa dengan bebas merokok di rumah kapan saja. 

Alhasil intensitas merokok meningkat dan keluargalah yang menjadi korbannya sebagai perokok pasif. Rokok menjadi salah satu kebutuhan pokok selama pandemi. Mereka yang terpaksa bekerja dari rumah, memiliki akses merokok yang lebih bebas, ditambah dengan terbatasnya interaksi sosial.

3.  Keluarga Perokok Rentan Stunting.
Tahu gak sih kalau merrokok dapat penyebab stunting pada anak? Bagi kamu yang belum berkeluarga dan memiliki anak (seperti saya), mungkin istilah stunting terdengar asing. Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

Berdasarkan data statistik dari Kementerian Kesehatan, orang tua dengan riwayat perokok kronis memiliki kemungkinan mengalami stunting sebesar 5,5 % lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok. Mencegah stunting tentu sangat penting dan hal tersebut berawal dari lingkungan keluarga yang sehat.

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan bahwa 12,4% pendapatan masyarakat menengah ke bawah, digunakan untuk mengonsumsi rokok di tengah pandemi. Padahal di tengah ancaman krisis ekonomi karena pandemi, seharusnya masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan gizi dan pendidikan anak daripada rokok. 

Sebagai kasus contoh, jika seseorang memiliki pendapatan Rp50.000/hari, lalu Rp20.000 digunakan untuk membeli rokok. Artinya hampir setengah dari pendapatannya digunakan untuk mengonsumsi rokok. Bayangkan jika nominal Rp20.000 dibelanjakan bahan makanan bergizi seperti yang saya sebutkan di awal. 

4. Alihkan Uang Rokok untuk Investasi.
Pandemi adalah saat yang tepat untuk berhenti merokok. Kondisi seperti sekarang memaksa kita untuk lebih bijak dan menetapkan prioritas untuk bisa bertahan. Jika perokok memasukkan anggaran rokok dalam belanjanya sebesar Rp20.000/hari seperti contoh tadi, maka kalau ditabung selama sebulan nominalnya menjadi Rp600.000 per bulan atau senilai Rp7.200.000 setahun. Nominal yang cukup besar untuk menjadikannya sebagai investasi. 

Sumber: photo.kontan.co.id
Jika suatu saat kondisi tak terduga melanda, setidaknya tak menyesal sudah mengalokasikan anggaran belanja rokok untuk hal yang lebih penting. Saat ini, bukan hanya pandemi corona saja yang menyebar, namun sesungguhnya pandemi merokok juga menjadi masalah penting yang sudah ada sejak lama. Virus corona dan asap rokok sama-sama berbahaya. Biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit jika terkena keduanya. Oleh karena itu, penting untuk mengalokasikan uang rokok untuk investasi. 

Denormalisasi Rokok di Indonesia

Saat kondisi seperti ini, bantuan sosial dari pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Kartu Pra Kerja sudah diberikan dalam rangka subsidi bagi rakyat di tengah pandemi. Namun faktanya, Reni Nurhasana mengatakan bahwa persentase rokok penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) 3,5 batang per kapita per minggu lebih tinggi. Hal tersebut menyebabkan bantuan sosial tidak tepat sasaran.

Bantuan Langsung Tunai perlu pengawasan agar uang yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan tidak disalahgunakan untuk hal lain, misalnya rokok. Rokok di Indonesia sudah dianggap barang biasa yang tak membahayakan. Tidak seperti di luar negeri yang peredarannya harus dengan pengawasan ketat. 

"Di luar negeri anak-anak tidak melihat iklan rokok dan tidak tahu cara merokok." kata Reni Nurhasana

Oleh sebab itu, perlu adanya denormalisasi rokok di Indonesia. Pemerintah harus berani memberi kriteria bantuan sosial salah satunya dengan rumah tangga bebas rokok. Dalam upaya mengurangi konsumsi rokok tersebut, pemerintah harus berupaya menekan prevalensi rokok dengan beberapa hal;
  • Menaikkan tarif cukai, yang meningkatkan harga rokok per batang/bungkus, untuk menekan angka perokok.
  • Simplifikasi layer cukai rokok. Layer cukai rokok di Indonesia masih sangat kompleks, terdapat hingga 10 layer. Dengan simplifikasi layer, semakin sedikit variasi harga di masyarakat.
  • Mengkaji ulang penyaluran dan penggunaan bantuan sosisal agar tepat sasaran.
  • Memberikan edukasi melalui family development session.
  • Mendenormalisasi konsumsi rokok.
Upaya pelarangan iklan rokok di luar ruangpun sudah banyak di lakukan di beberapa kota seperti Jakarta, Bogor, dan Sawahlunto. Saya berharap konsumsi rokok bisa turun sehingga angka kematian akibat  penyakit yang disebabkan rokok bisa berkurang apalagi di tengah pandemi seperti ini. Peningkatan harga rokok dengan kenaikan cukai saat pandemi, merupakan salah satu langkah agar perokok bisa mengurangi konsumsi rokok bahkan berhenti merokok, serta mencegah anak-anak remaja yang ingin mulai merokok.

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesia Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Sumber Referensi:
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar: