featured Slider

Featured Post

Cukai Rokok Naik, Pandemi Saat Tepat Berhenti Merokok

Time to quit smoking.
"Sebat dulu ya."

Minimal dua kali sehari, kalimat singkat itu terlontar dari teman kantor saya. Bahasa gaul 'sebat' itu maksudnya adalah Sebatang Rokok. Waktu masih menyandang titel sebagai pegawai kantoran di salah satu agensi, rasanya tiada hari tanpa asap rokok. Tahu sendiri kan kalau pekerja seni butuh mood untuk mendapatkan ide. Tak jarang teman-teman sejawat ke luar ruangan dengan membawa beberapa batang rokok untuk mendapatkan inspirasi, katanya.

Tanpa basa-basi, saya langsung menutup hidung dengan tangan, hingga kelamaan saya meggunakan masker mulut agar tidak terhirup asap rokok itu. Ruang kerja dan ruang luar dibatasi oleh pintu kaca, namun tetap saja asap rokok masuk melalui celah pintu. Alhasil asap rokok tadi benar-benar mengganggu konsentrasi saya karena baunya yang sangat kuat dan menohok.

Harga Rokok di Indonesia Tergolong Murah

Bukan hanya orang dewasa saja, namun dalam lima tahun terakhir, banyak anak remaja yang merokok. Beberapa faktornya karena rokok masih dijual bebas dengan harga yang sangat terjangkau. Dengan harga kurang lebih Rp20.000-Rp30.000, mereka sudah bisa mendapatkan 1 bungkus rokok. Belum lagi jika rokok dijual eceran, harganya hanya kisaran Rp2000 per-batang saja! Data dari Global Youth Tobacco Survey pada tahun 2019, menunjukkan bahwa prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun naik dari 18,3% pada 2016 dan mencapai 19,2% pada 2019.

Sebagai ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai content creator, saya langsung berpikir kalau uang senilai Rp20.000 sudah bisa saya gunakan untuk membeli bahan makanan untuk makan sehari. Sayapun pernah melihat pemulung yang merokok di pinggir jalan. Lalu saya berpikir lagi, "Kenapa dia bisa beli rokok, tapi masih mengemis untuk membeli makan?"
Perbandingan harga rokok di Indonesia dan negara lain. 
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, harga rokok di Indonesia berada di peringkat bawah alias paling murah. Berdasarkan sumber dari Asian Money Guides, jika dirupiahkan harga rokok di Australia bisa mencapai Rp400.000. Wow! Nominal yang sangat besar dan jauh lebih mahal dibanding harga rokok di Indonesia. Saya jadi ingat waktu teman saya jalan-jalan ke Jepang, dia tidak mengosumsi rokok karena harganya mahal.

"Rokok di Jepang mahal banget, mendingan buat gue beli makanan enak di sana." katanya. 

Menurut data dari Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) pada tahun 2019 bertema 'The Tobacco Control Atlas, Asean Region', Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yaitu 65,19 juta orang. Hal itu disebabkan oleh harga dan tarif cukai rokok yang tergolong murah dan rendah.

Belum lagi saat pandemi yang belum diketahui kapan berakhirnya ini, konsumsi rokok di Indonesia semakin meningkat karena kondisi yang tak menentu membuat pikiran stres dan depresi. Ujung-ujungnya sebat menjadi salah satu sarana refreshing-nya. Bahkan sejumlah industri rokok tetap beroperasi karena permintaan rokok yang melonjak selama pandemi.

Dalam siaran Radio Ruang Publik KBR pada tanggal 29 Juli 2020, bersama Profesor Hasbullah Thabrany, selaku Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau dan Renny Nurhasana, selaku Dosen dan Peneliti Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, membahas pentingnya mengapa cukai rokok harus naik saat pandemi.

Ruang Publik KBR bersama Profesor Hasbullah Thabrany.
Ruang Publik KBR bersama Renny Nurhasana.
"Harga rokok Rp70.000/bungkus dapat lebih efektif mengendalikan konsumsi rokok di Indonesia. Hanya mereka yang sudah biasa merokok yang membeli rokok dan mereka (anak-anak) yang belum akan tidak memulai merokok." kata Profesor Hasbullah Thabrany.

Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Dalam hati saya bicara, memang sudah seharusnya harga rokok dinaikkan berkali lipat, supaya perokok berpikir ulang jika ingin membelinya. Dalam kajian ini, penting bagi pemerintah untuk menaikkan cukai rokok, terutama saat pandemi agar konsumsi rokok tidak semakin meningkat dan menegaskan sanksi bagi pelanggarnya.

Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi?

Cukai dikenakan terhadap barang tertentu yang konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu pengawasan, dan pemakaiannya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan. Salah satunya hasil tembakau yang meliputi rokok. Sudah jelas, rokok membawa dampak yang tidak baik bagi kesehatan dan perokok pasif. Selain itu asap dan puntung rokok juga berbahaya bagi lingkungan; asap dan puntung rokok menyebabkan polusi udara dan mencemari lingkungan.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.10/2019 mengenai Kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau. Cukai rokok di Indonesia sudah naik sejak 1 Januari 2020 sebesar 23% dan harga eceran rokok naik sekitar 35%. Menurut Profesor Hasbullah Thabrany,  hal ini dinilai belum signifikan. Beliau mengatakan bahwa kenaikan cukai rokok sebaiknya tidak dilihat dari besar persenannya, tapi harus dievaluasi sesuai tujuannya.

Pasalnya konsumsi rokok masih terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, konsumsi rokok di Indonesia sebanyak 220 miliar batang dan pada tahun 2020, konsumsi rokok mencapai 330 miliar batang! Lalu mengapa cukai rokok harus naik saat pandemi?

1. Perokok Lebih Terancam Virus Covid-19.
Kita tahu bahwa merokok berbahaya dan mengancam kesehatan. Perokok berpotensi 14x lebih parah terkena gejalan Covid-19. Baik itu merokok dari rokok batangan, rokok elektrik, ataupun cerutu. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, merokok adalah salah satu faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) penyebab penyakit Kardiovaskular, Kanker, Paru Kronis, dan Diabetes.

Perokok lebih terancam Virus Covid-19.
World Health Organization (WHO) juga sudah memperingatkan bahwa perokok berisiko lebih tinggi jika terkena Covid-19. Asap dari rokok mengganggu sistem pernapasan bagi perokok aktif maupun perokok pasif, sedangkan Covid-19 juga menyerang paru-paru. Merokok menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat menyebabkan penyebaran virus corona lebih cepat.

2.  Lebih Mudah Merokok karena (sebagian pegawai) Bekerja dari Rumah.
Renny Nurhasana mengatakan bahwa konsumsi rokok meningkat akibat pegawai yang banyak bekerja di rumah/work from home. Saat sulit dan waktu terbatas jika merokok di kantor, para perokok bisa dengan bebas merokok di rumah kapan saja. 

Alhasil intensitas merokok meningkat dan keluargalah yang menjadi korbannya sebagai perokok pasif. Rokok menjadi salah satu kebutuhan pokok selama pandemi. Mereka yang terpaksa bekerja dari rumah, memiliki akses merokok yang lebih bebas, ditambah dengan terbatasnya interaksi sosial.

3.  Keluarga Perokok Rentan Stunting.
Tahu gak sih kalau merrokok dapat penyebab stunting pada anak? Bagi kamu yang belum berkeluarga dan memiliki anak (seperti saya), mungkin istilah stunting terdengar asing. Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

Berdasarkan data statistik dari Kementerian Kesehatan, orang tua dengan riwayat perokok kronis memiliki kemungkinan mengalami stunting sebesar 5,5 % lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok. Mencegah stunting tentu sangat penting dan hal tersebut berawal dari lingkungan keluarga yang sehat.

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan bahwa 12,4% pendapatan masyarakat menengah ke bawah, digunakan untuk mengonsumsi rokok di tengah pandemi. Padahal di tengah ancaman krisis ekonomi karena pandemi, seharusnya masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan gizi dan pendidikan anak daripada rokok. 

Sebagai kasus contoh, jika seseorang memiliki pendapatan Rp50.000/hari, lalu Rp20.000 digunakan untuk membeli rokok. Artinya hampir setengah dari pendapatannya digunakan untuk mengonsumsi rokok. Bayangkan jika nominal Rp20.000 dibelanjakan bahan makanan bergizi seperti yang saya sebutkan di awal. 

4. Alihkan Uang Rokok untuk Investasi.
Pandemi adalah saat yang tepat untuk berhenti merokok. Kondisi seperti sekarang memaksa kita untuk lebih bijak dan menetapkan prioritas untuk bisa bertahan. Jika perokok memasukkan anggaran rokok dalam belanjanya sebesar Rp20.000/hari seperti contoh tadi, maka kalau ditabung selama sebulan nominalnya menjadi Rp600.000 per bulan atau senilai Rp7.200.000 setahun. Nominal yang cukup besar untuk menjadikannya sebagai investasi. 

Sumber: photo.kontan.co.id
Jika suatu saat kondisi tak terduga melanda, setidaknya tak menyesal sudah mengalokasikan anggaran belanja rokok untuk hal yang lebih penting. Saat ini, bukan hanya pandemi corona saja yang menyebar, namun sesungguhnya pandemi merokok juga menjadi masalah penting yang sudah ada sejak lama. Virus corona dan asap rokok sama-sama berbahaya. Biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit jika terkena keduanya. Oleh karena itu, penting untuk mengalokasikan uang rokok untuk investasi. 

Denormalisasi Rokok di Indonesia

Saat kondisi seperti ini, bantuan sosial dari pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Kartu Pra Kerja sudah diberikan dalam rangka subsidi bagi rakyat di tengah pandemi. Namun faktanya, Reni Nurhasana mengatakan bahwa persentase rokok penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) 3,5 batang per kapita per minggu lebih tinggi. Hal tersebut menyebabkan bantuan sosial tidak tepat sasaran.

Bantuan Langsung Tunai perlu pengawasan agar uang yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan tidak disalahgunakan untuk hal lain, misalnya rokok. Rokok di Indonesia sudah dianggap barang biasa yang tak membahayakan. Tidak seperti di luar negeri yang peredarannya harus dengan pengawasan ketat. 

"Di luar negeri anak-anak tidak melihat iklan rokok dan tidak tahu cara merokok." kata Reni Nurhasana

Oleh sebab itu, perlu adanya denormalisasi rokok di Indonesia. Pemerintah harus berani memberi kriteria bantuan sosial salah satunya dengan rumah tangga bebas rokok. Dalam upaya mengurangi konsumsi rokok tersebut, pemerintah harus berupaya menekan prevalensi rokok dengan beberapa hal;
  • Menaikkan tarif cukai, yang meningkatkan harga rokok per batang/bungkus, untuk menekan angka perokok.
  • Simplifikasi layer cukai rokok. Layer cukai rokok di Indonesia masih sangat kompleks, terdapat hingga 10 layer. Dengan simplifikasi layer, semakin sedikit variasi harga di masyarakat.
  • Mengkaji ulang penyaluran dan penggunaan bantuan sosisal agar tepat sasaran.
  • Memberikan edukasi melalui family development session.
  • Mendenormalisasi konsumsi rokok.
Upaya pelarangan iklan rokok di luar ruangpun sudah banyak di lakukan di beberapa kota seperti Jakarta, Bogor, dan Sawahlunto. Saya berharap konsumsi rokok bisa turun sehingga angka kematian akibat  penyakit yang disebabkan rokok bisa berkurang apalagi di tengah pandemi seperti ini. Peningkatan harga rokok dengan kenaikan cukai saat pandemi, merupakan salah satu langkah agar perokok bisa mengurangi konsumsi rokok bahkan berhenti merokok, serta mencegah anak-anak remaja yang ingin mulai merokok.

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesia Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Sumber Referensi:
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Kenangan Erupsi Merapi dengan Merapi Lava Tour

Masih ingat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam? Kini kawasan Merapi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun lokal. Kami akan menyusuri bekas aliran lava pasca ketusan Gunung Merapi. Pagi-pagi betul sebelum matahari menampakkan rupanya, kami pergi menuju ke basecamp yang merupakan meeting point untuk mengikuti Merapi Lava Tour. 

Lokasi dari pusat kota Yogyakarta menuju lokasi Merapi Lava Tour cukup jauh, sehingga mewajibkan kami berangkat dari subuh. Dari awal, kami sudah bilang kalau kami tak mau basah-basahan saat di Kali Kuning (spot air) karena setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan ke Museum Ullen Sentalu yang lokasi tak terlalu jauh dari situ. Tapi kami tetap berjaga-jaga membawa baju ganti.

Naik jeep menyusuri Merapi Lava Tour.

Rombongan kami berjumlah 12 orang dan dibagi dalam 3 mobil jeep. Transportasi ini yang membawa kami menyusuri lereng Merapi. Sekitar jam 4 subuh kala itu, jaket windbreaker dan kacamata sudah aku kenakan sebelum menempuh perjalanan. Belum lama perjalanan kami menuju lokasi tur Merapi, angin dingin berhembus kencang hingga menusuk badan, tatkala kami menaikki jeep tanpa atap. 

Beberapa saat kemudian, jeep memasukki area bebatuan dengan guncangan yang sangat dahsyat!  Jeep itu terasa melaju sangat amat kencang! Mungkin karena jalur perjalanan gersang sehingga jeep melaju dengan kecepatan yang lebih tunggi. Tenggorokan terasa kering karena teriakan kami seakan melahap hawa dingin kala itu. Kebayang kan gimana teriakan cewek-cewek di satu jeep?

Aku pernah dengar cerita kalau ada orang terpental saat mengikuti Tur Merapi dan aku gak heran karena guncangan di jeep memang sangat luar biasa dahsyat! Bebatuan besar dan kecil yang menjadi jalan kami memang tak beraturan. Jadi, memang harus pegangan kencang karena sudah pegangan kencang saja, sikutku terkena benturan keras dan terasa sakit sekali!

Luka akibat benturan keras saat Merapi Lava Tour.

Saking sakitnya, dari heboh teriak-teriakan, aku tiba-tiba diam. Jujur mood saya langsung down karena terbentur dan menahan sakit. Tanpa aku sadari, sikutku terluka hingga berdarah dan darahnya nembus ke baju. Pantas aja sikut ini terasa sakit sekali saat digerakkan. Untungnya salah seorang temanku membawa betadine dan plester sehingga luka ini langsung diobati.

Bunker Kaliadem Tempat Berlindung dari Erupsi

Sampailah kami di spot pertama, yaitu spot sunrise di Bunker Kaliadem. Sudah banyak jeep warna-warni parkir di sana. Nampaknya banyak juga yang ingin melihat ufuk pagi di sini. Aku tak berharap banyak karena kabut tebal yang menutup Gunung Merapi dan matahari malu-malu menampakkan rupanya. 

Sunrise di Bunker Kaliadem.

Aku melihat tulisan Bunker Kaliadem itu tapi tak sempat melihatnya lebih dekat karena saat itu pengunjung ramai sekali. Padahal di sini menjadi salah satu tempat foto yang bagus dengan latar Gunung Merapi jika tak tertutup kabut. Kawasannya sejuk, letaknya menjorok ke dalam seperti ruang bawah tanah dan terlihat kokoh. Bunker Kaliadem ini dulu digunakan untuk mengamati aktivitas Gunung Merapi saat erupsi.

Sempat juga dijadikan tempat berlindung dari erupsi, namun pada akhirnya Bunker Kaliadem tak dapat menahan letusan Gunung Merapi sejak terjadi longsoran lava yang memakan korban. Konon menjelang malam, suka terdengar tangisan yang diduga korban letusan Gunung Merapi pada saat itu. 

Gunung Merapi yang tertutup kabut.

Tak jauh dari situ, kami menuju tempat penambangan batu bara. Di sana juga ada batu besar yang terlihat seperti muka manusia, namanya Batu Alien. Awalnya aku mengira ini batu biasa saja, tapi jika dilihat dari depan agak serong memang terlihat seperti muka alien. Batu Alien ini terbentuk dari bongkahan batu vulkanik yang berasal saat Merapi meletus saat itu.

Batu Alien

Museum Sisa Hartaku, Saksi Letusan Merapi

Setelah itu, kami menuju Museum Sisa Hartaku. Tempat ini adalah rumah warga yang dulu terkena erupsi Merapi yang kini dijadikan museum. Museum Sisa Hartaku menceritakan erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam. Terlihat porak poranda dan benar-benar menggambarkan sisa harta masyarakat saat erupsi terjadi.

Museum Sisa Hartaku.

Museum Sisa Hartaku menjadi saksi dan bukti letusan Merapi. Pada saat itu, rumah yang kini menjadi museum ini dilewati aliran wedhus gembel. Beberapa perabot rumah terlihat diselimuti abu vulkanik. Di dalam rumah itu juga masih ada jam dinding yang terpajang, yang menunjukkan jam letusan saat menerjang rumah ini. Selain itu ada juga kerangka tulang kerbau, sapi, motor, dan properti lain yang masih tersisa walaupun sudah leleh dan sudah tak sesuai bentuknya.

Bukti waktu letusan Merapi.

Melewati Kali Kuning

Spot terakhir kami adalah melintasi Kali Kuning. Kali Kuning adalah aliran sungai dilewati aliran lahar dari Merapi. Area ini sebenarnya tak terlalu luas, namun biasanya sebelum kembali ke basecamp bisa melalui jalur ini. 

Beberapa jarak sebelumnya, pak supir sudah memberi tahu untuk mengamankan barang-barang elektronik karena akan melintasi medan air. Aku dan teman-temanpun siap memakai jas hujan, terutama melindungi kamera. Sekali lagi, kami memberi tahu supir bahwa kami tidak ingin basah-basahan.

Tapi nampaknya pak supir tak terlalu menghiraukan kami dan seketika jeep melintasi Sungai Kuning, "Byaaaarrr!!!"

Kami basah perlahan, sembari sibuk pegangan erat, menjaga tas agar tidak basah, dan tak lupa teriakan kencang kami yang tak henti selama jeep melintasi Sungai Kuning.

"Semoga ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan ya mba. Maaf kalau saya ada salah." kata pak supir.

Oke pak, memang ada benarnya juga bahwa Pengalaman Merapi Lava Tour ini tak terlupakan. Dalam perjalanan, kami berbincang dengan pak supir. Beliau menceritakan bahwa rata-rata yang bekerja di sini adalah mereka yang dulu pernah menjadi korban Merapi Lava Tour.

Terima kasih pak untuk kenangannya.

Setibanya kami di basecamp lagi, kami langsung mengganti pakaian. Kami membatalkan itinerary ke Museum Ullen Sentalu karena kami basah luar dalam. Akhirnya kami kembali dulu ke guesthouse untuk membersihkan badan dan mengganti itinerary. Kadang memang apa yang kita sudah rencanakan tak selalu berjalan dengan lancar, tapi selalu ada momen tak terlupakan. Suatu saat nanti, aku ingin kembali lagi ke sini, melihat Merapi yang gagah dan menyusuri rute wisata lereng Merapi yang lebih panjang.
_____

Tips:
- Memakai jaket windbreaker dan kacamata.
- Menggunakan buff atau masker (karena jalanan banyak debu)
- Membawa drybag untuk menyimpan peralatan elektronik.
- Membawa pakaian ganti luar dan dalam.
- Membawa obat masuk angin dan P3K.
- Cek cuaca agar mendapatkan panorama terbaik.
- Tanya tour operator untuk memilih jeep tertutup atau terbuka.

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Packing Light Perlengkapan Naik Gunung

Naik gunung itu punya sensasinya sendiri apalagi untuk penikmatnya. Tapi naik gunung juga butuh perlengkapan yang mumpuni biar bisa bertahan hidup. Penting banget untuk menerapkan packing light supaya gak semua isi rumah dibawa saat naik gunung. Waktu naik gunung pertama kali ke Gunung Prau, aku pinjam beberapa perlengkapan hiking sama teman. Aku pikir, cuma sekali-kali aja kok naik gunung, jadi yowes aku pinjam saja. 

Siap-siap naik gunung.

Setelah turun gunung dari pendakianku yang pertama, lah kok aku jadi nagih pengen naik gunung lagi. Akhirnya aku nyicil beli perlengkapan gunung dan mau bawa barang-barang yang penting saja supaya gak terlalu berat. Katanya sih kalo bawa carrier maksimal 30% dari berat badan kita. Jadi, inilah barang-barang yang aku bawa selama pendakian berdasarkan pengalamanku;

1. Carrier dan Rain Cover
Tas ransel biasa hanya akan membuatmu semakin pegal. Gunakan carrier dengan kapasitas yang sesuai badan dan memiliki fungsi air flow back system agar lebih nyaman saat mendaki. Carrier juga dilengkapi dengan strap belt supaya lebih ringan menopang beban dan kantong kecil di sisinya. Kantong kecil ini biasanya aku gunakan untuk menyimpan cokelat atau camilan sehingga mudah diambil saat aku butuh energi. Biasanya carrier sudah dilengkapi dengan rain cover yang bisa melindungi tas dari hujan, lumpur, tanah, dan debu. 

2. Sleeping Bag dan Matras
Ini satu paket yang tak bisa dipisahkan seperti kamu dan si dia, karena keduanya saling melengkapi dan menghangatkan. Sleeping bag yang aku punya juga ultra light dengan berat 500 gram saja. Mereknya Makalu Outdoor Alps Dream 700. Matras yang biasa digunakan untuk mendaki ada matras gulung karet dan matras aluminium. Aku biasanya menggunakan matras aluminium untuk lebih menghemat ruang dalam tas. Lebih baik lagi jika memiliki matras angin, karena pastinya tidur bisa lebih nyenyak. Namun harga matras angin relatif lebih mahal, tapi bentuknya lebih fleksibel dan ringan.

3. Jas Hujan
Cuaca di gunung memang tak menentu. Makanya kita harus siap dengan kondisi apapun. Pendakian saat musim kemarau atau hujan, kita wajib membawa benda ini jika tidak ingin menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Gak kebayang kan kalau hujan saat pendakian dan semua perlengkapanmu basah? Aku selalu membawa jas hujan multifungsi yang sangat ringan. Mereknya Dhaulagiri Waterproof Poncho 3 in 1, yang dapat digunakan sebagai matras, bivak, dan ponco. Jangan lupa membawa barang ini saat summit attack karena bisa saja kamu membutuhkannya. 

4. Pakaian Ringan dan Quick Dry
Pakaian waktu naik gunung itu memiliki fungsinya sendiri walaupun modelnya gak banyak. Gunakan pakaian yang tepat daripada salah kostum! Saat mendaki gunung, sebaiknya kita tidak menggunakan celana jins dan kaos biasa. Celana jins membuat ruang gerak kaki terbatas. Apalagi model skinny jeans yang terlihat keren itu sangat tidak disarankan, karena bisa membuat pangkal paha lecet, sulit dibersihkan apalagi dikeringkan jika terkena basah. Gunakan celana berbahan parasut atau kargo yang biasanya lebih ringan, breathable, dan waterproof.


Persiapan Naik Gunung.

Waktu pertama kali naik gunung, aku menggunakan kaos biasa, alhasil sampai tempat berkemah, aku jadi keringat dingin dan bajuku basah banget, sulit kering dan jadi menambah beban dalam tas. Jadi , penting sekali untuk memakai dan membawa kaos dryfit yang ringan dan cepat kering. Jika tidak, kita bisa saja terkena hipotermia karena kedinginan menggunakan pakaian yang basah.

Selain itu aku juga selalu membawa dua jenis jaket ringan yang bisa dilipat menjadi kecil. Pertama, jaket parasut yang windproof dan waterproof untuk pendakian pagi atau siang hari jika udara dingin dan angin berhembus kencang. Kedua, Ultra Light Down Jacket yang digunakan saat malam hari atau summit attack untuk suhu yang lebih tinggi. 

5. Senter dan Headlamp
Waktu pertama kali mendaki gunung, aku gak bawa senter apalagi headlamp. Aku pikir pakai saja senter dari ponsel, dan ternyata aku salah besar! Hal itu malah menyulitkanku dan membuatku gak fokus saat berjalan. Senter sangatlah penting, bisa digunakan untuk lampu tenda atau tambahan pencahayaan. Bawalah senter LED, biasanya berukuran lebih kecil namun cahaya yang dihasilkan lebih terang dengan jangkauan yang lebih luas. Sedangkan headlamp memudahkan untuk berjalan saat pendakian malam atau summit attack. Jangan lupa membawa baterai cadangan yang sesuai dengan ukuran senter kamu.

6. Trekking Pole
Aku tidak membawa trekking pole saat pendakian pertamaku. Mungkin karena keterbatasan pengalaman (dan budget). Awalnya aku gak kepikiran bahwa benda ini ternyata sangat penting. Akhirnya, aku membeli tongkat bambu seharga Rp5000 di Pos 2 jalur pendakian Prau via Patak Banteng. Ternyata benda ini sangat amat membantuku selama pendakian untuk menjaga keseimbangan dan ritme mendaki, dan menopangku saat hendak menanjak. Selain itu, trekking pole juga dapat digunakan sebagai penguat tenda agar tidak terbang saat badai. Aku menggunakan trekking pole lipat seperti ini;

Trekking Pole lipat. Sumber: IG @8rothers_adv.

7. Botol Air dan Peralatan Makan
Air adalah elemen yang sangat penting saat mendaki. Aku menggunakan botol minum lipat yang terbuat dari karet sehingga dapat dipakai berulang kali. Aku mengurangi sampah botol plasik dengan membawa botol minum seperti ini. Minum air yang cukup saat pendakian agar cairan dalam tubuh terpenuhi sehingga terhindar dari dehidrasi. Letakkan botol air di tempat yang mudah dijangkau. Aku biasanya menggantungkan botol air dibagian depan menggunakan karabiner. Kamu juga bisa menggunakan water bladder sehingga lebih mudah minum dari selangnya.
Aku punya 3 botol lipat ini yang selalu aku bawa saat naik gunung. Sumber: IG @8rothers_adv.

Memasak bersama saat naik gunung adalah momen yang asik, tapi tak lupa tentunya kami harus membawa peralatan masing-masing seperti piring atau tempat makan lipat, gelas, dan spork. Menggunakan peralatan makan lipat seperti ini pastinya menghemat tempat dalam tas.

Alat makan lipat. Sumber: IG @8rothers_adv.

8. Obat-obatan & Toiletries
Packing light bukan berarti mengabaikan aspek kesehatan dan kebersihan. Kondisi di gunung memang tak menentu. Oleh karena itu, kita harus selalu sedia P3K dan obat-obatan pribadi seperti;  hansaplast, betadine, tolak angin, minyak kayu putih, dan lain-lain. Dalam pouch kecil lainnya, aku juga memasukkan beberapa toiletries penting dalam ukuran kecil seperti; sikat gigi, deodoran, handuk kecil, pembalut, tabir surya, tissue, dan hand sanitizer spray


9. Tas Kecil
Tas ini bisa berupa backpack atau waist bag, yang digunakan untuk membawa barang-barang penting seperti HP, dompet, kamera atau peralatan pentingmu yang lain. Tas kecil juga digunakan saat summit attackJangan lupa juga membawa obat-obat dan baterai cadangan didalamnya. Lebih baik membawa tasmu sendiri saat summit attack, karena saat itu bisa saja temanmu berada di belakang atau di depanmu, sehingga kamu gak bisa terus mengandalkan temanmu untuk membawa cadangan logistik hanya dalam tas temanmu kan?

10. Karabiner
Barang kecil ini punya kegunaan yang sangat banyak. Setidaknya ada 3 buah karabiner yang terpasang pada tasku. Karabiner ini bisa digunakan untuk memudahkan membawa barang seperti air, sampah, sepatu, dan barang lainnya yang mungkin tak cukup masuk dalam tasmu.

List Perlengkapan Naik Gunung versiku.

Perlengkapan lainnya yang digunakan bersama-sama dengan kelompok, seperti; tenda, nesting, dan bahan logistik bisa dibagi antara anggota kelompok. Kalau gak mau ribet, kamu bisa juga membeli makanan di basecamp atau menyewa porter untuk mendirikan tenda. Setelah menulis postingan ini, aku jadi semangat mau siap-siap packing light lagi. Naik gunung apalagi ya?

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Kampung Kanibal Huta Siallagan | Toba Trip Part-3

Horas!

Itulah kata yang harus diucapkan saat memasukki Rumah Batak. Akupun baru tahu, saat berkunjung ke Huta Siallagan. Lokasinya tak jauh dari penginapan kami di Tabo Cottage. Dalam bahasa Batak, Huta adalah kampung. Siallagan adalah nama Raja Siallagan. Dahulu kala, area kampung ini dibangun oleh keluarga bermarga Siallagan yang dipimpin oleh Raja Siallagan. 

Horas!

Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp5000 saja, kita sudah bisa mengunjungi Objek Wisata Budaya Batu Kursi Raja Siallagan. Pintu masuk terbuat dari batu yang tak terlalu tinggi dan tak begitu lebar. Konon tembok batu itu dulu berfungsi sebagai penghalang serangan dari binatang buas atau serangan dari kampung lain. Setelah melalui pintu masuk bertulis Huta Siallagan, aku melihat beberapa deretan Rumah Batak yang ikonik.


Pintu Masuk Huta Siallagan.

Perkenalkan ini Tulang Gading yang mengajak kami berkeliling Huta Siallagan. Katanya, beliau juga dulu yang memandu Presiden Jokowi waktu rombongannya berkunjung ke Huta Siallagan. Dengan bangga dan antusias, beliau menceritakan sejarah Kerajaan Siallagan kepada kami. Dari penjelasan beliau, aku jadi paham kenapa kekeluargaan di suku Batak sangat erat. 

Tulang Gading sebagai tour guide kami di Huta Siallagan.

Rumah Batak Penuh Makna

Arsitektur Rumah Batak memang unik dan penuh makna. Terdapat tiga jenis rumah di komplek Huta Siallagan, yaitu Rumah Bolon, Rumah Siamporik, dan Rumah Sibola Tali. Rumah Bolon bentuknya lebih besar, tangga masuknya mengarah ke dalam, serta dihuni oleh raja dan keluarganya. Rumah Siamporik bentuknya lebih kecil, tangga masuk dari luar, serta dihuni oleh keluarga yang diundang untuk tinggal. Sedangkan Rumah Sibola Tali bentuknya lebih langsing dan kecil dan dihuni oleh kerabat raja.

Ini yang dimaksud tangga dari dalam dan dari luar.

Tapi Rumah Batak berada di Huta Siallagan ini, tak menampilkan ukuran asli karena dulu pernah terjadi kebakaran sehingga dibangun kembali untuk tetap melestarikannya. Lalu, bagian atap depan dan belakang Rumah Batak berbentuk meruncing yang artinya orang tua dan anak. Jika hendak masuk rumah, kami harus menundukkan kepala sebagai rasa hormat. Selain itu, bagian belakang atap lebih tinggi daripada bagian depan melambangkan generasi penerus harus lebih baik dan hebat dari orang tuanya.


Rumah Batak mengarah ke gunung yang artinya berkat datang dari tempat yang tinggi. Terdiri dari tiga tingkat yaitu; bagian atap untuk tempat penyimpanan barang, bagian tengah untuk tempat tinggal, dan bagian bawah untuk hewan peliharaan.

Rumah Batak di Huta Siallagan.

Corak yang terdapat pada Rumah Batak bukan hanya sebagai dekorasi, tapi juga memiliki makna yang dalam. Aku teringat akan perkataan salah seorang teman, jika di kamar penginapan ada tokek atau cicak jangan diganggu karena memiliki arti bagi masyarakat batak.

Ternyata simbol cicak yang terdapat di bagian depan Rumah Batak, melambangkan hewan yang bisa hidup dimana saja. Filosofi cicak digambarkan seperti perantau sejati yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam bahasa Batak, ukiran cicak disebut juga Gorga Boraspati yang merupakan simbol kebijaksanaan dan kekayaan.

Gorga Boraspati dan Adop-adop.

Selain itu, terdapat simbol payudara yang melambangkan orang batak tidak melupakan kampung halamannya jika merantau (seperti kembali ke pangkuan ibu). Dalam bahasa batak, ukiran payudara disebut juga Adop-adop. Adop-adop pertama diartikan sebagai simbol kesucian, adop-adop kedua diartikan sebagai simbol kesetiaan. Adop-adop ketiga diartikan sebagai simbol kesejahteraan, dan adop-adop keempat diartikan sebagai simbol kesuburan wanita.


Kisah Mistis Sigale-gale

Berada di seberang Rumah Batak tadi, ada boneka kayu yang menarik perhatianku, namanya Si Gale-gale. Rasa takut dan penasaran tercampur menjadi satu, lantaran aku lihat boneka tersebut berdiri diatas makam. Cerita Si Gale-gale berawal dari seorang raja yang kehilangan anaknya di medan perang.

Sang Raja tak ikhlas dan sakit-sakitan sehingga mereka membuat boneka kayu sebagai perwujudan anaknya. Boneka kayu itu dipakaikan ulos dan sortali, lalu diberi nama Manggale, sama seperti nama anaknya. Roh Manggale dipanggil masuk ke dalam boneka kayu tersebut. Sejak saat itu, boneka Si Gale-gale menari selama 7 hari 7 malam, sehingga membuat kondisi raja membaik.

Sigale-gale.

Pertunjukan Sigale-gale biasanya dilakukan saat ada seorang anak yang meninggal (terutama anak laki-laki), sebagai simbol kasih sayang orang tua dan anak. Namun sekarang, Pertunjukan Sigale-gale menjadi daya tarik wisatawan. Mereka bisa manortor bersama menggunakan ulos yang telah disediakan. Sayangnya saat itu, kami tidak sempat menari bersama Sigale-gale karena keterbatasan waktu dan terdapat minimal wisatawan untuk mengikuti Pertunjukan Sigale-gale ini.


Awal Mula Kanibal di Batu Persidangan

Setelah melewati deretan Rumah Batak bagian depan, tepat di depan salah satu Rumah Batak bagian tengah, terdapat meja dan kursi yang disusun melingkar, terbuat dari batu. Letaknya di bawah Pohon Hariara, yang merupakan pohon suci bagi masyarakat Batak. Tempat ini dinamakan Batu Parsidangan yang pertama. Fungsinya sebagai tempat rapat untuk menentukan hukuman kejahatan. Kemudian jika kita berjalan ke dalam lagi, terdapat Batu Persidangan yang kedua, yang menjadi tempat eksekusi hukuman pancung.


Tulang Gading mempersilahkan kami untuk duduk di kursi-kursi batu tersebut. Beliau menceritakan bahwa dulu tempat ini digunakan untuk mengadili dan menghukum para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Mereka diasingkan terlebih dahulu di rumah batak bagian bawah (karena dianggap seperti hewan) untuk menunggu waktu eksekusi hukuman pancung.

Batu Persidangan Pertama di bawah Pohon Hariara.

Batu Persidangan Pertama.

Untuk menentukan tanggal hukuman, Raja Siallagan memakai kalender Batak dan buku sakti bernama Pustaha Laklak untuk mencari hari baik. Pelaku kejahatan yang mendapat hukuman pancung terlebih dahulu diberi makan untuk melemahkan ilmu hitam, lalu dipukul menggunakan tongkat sakti bernama Tunggal Panaluan.

Kemudian, tubuh mereka disiksa hingga berdarah dan disiram air asam. Setelah itu, barulah hukum pancung dieksekusi. Kepala dan tubuh penjahat yang dipancung dibuang, tapi ada beberapa bagian tubuh lainnya diambil seperti; hati, jantung, dan darah untuk dimakan oleh raja dan . Konon katanya agar ilmu hitam raja semakin kuat dan menambah kekebalan tubuh. Hal tersebut yang menjadi awal mula tradisi kanibalisme di Huta Siallagan.

Tongkat Sakti Tunggal Panaluan, Kalender Batak, Pustaha Laklak, dan pisau untuk eksekusi hukuman pancung.

Adegan eksekusi hukuman pancung

Tapi tenang saja, sekarang hukuman pasung atau pancung sudah tidak ada. Ritual tersebut menghilang sejak pendeta Jerman Dr. Ingwer Ludwig Nommensen menyebarkan Agama Kristen. Lalu, Raja Siallagan yang menganut Parmalim (agama asli Batak) akhirnya memeluk agama Kristen, sehingga  jika ada kejahatan, hukuman pidana dan perdata yang berlaku.

Aku cukup tegang mendengar hukuman pancung tadi. Jika aku berada di masa itu, pasti akan kulakukan semua hal sebaik mungkin agar tak mendapat hukuman, karena hidup ini sesungguhnya berharga. Lalu terpikir juga olehku, apakah karena hal itu banyak orang Batak menjadi pengacara untuk menegakkan keadilan? 

Tulang Gading membuatkanku topi batak dari ulos. Katanya dulu ulos dari topi digunakan oleh para perempuan untuk ke ladang/bekerja dibawah terik matahari.

Saat menuju arah pulang, kami disuguhkan banyak sekali oleh-oleh khas Batak seperti kain, tas, ikat kepala ulos, dan masih banyak lagi. Kalau kamu mampir ke sini jangan lupa beli oleh-oleh juga ya, sekalian membantu perekonomian masyarakat lokal. Sayangnya aku belanjanya kurang banyak karena kupikir mau beli oleh-oleh pas hari terakhir yang ternyata gak keburu.

Toko Oleh-oleh, Jangan lupa belanja di sini ya!

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan foto dengan ulos. Tulang Gading baik sekali. Beliau mengambilkan aku dan Will ulos untuk berfoto di depan Rumah Batak. Padahal di tempat ulos tadi sedang ada pertunjukkan Sigale-gale. Kamipun baru tahu kalau ternyata ulos untuk laki-laki dan perempuan berbeda. 

Terima kasih Tulang Gading, sampai jumpa!

Waktu itu terasa cepat, rasanya kami masih belum puas berada di Huta Siallagan, mungkin kurang dari satu jam kami berada di sana. Aku berharap bisa kembali lagi untuk menyaksikan pertunjukkan Sigale-gale dan memakai pakaian adat batak lengkap. Horas!

_____

Huta Siallagan
Alamat Siallagan-Pindaraya, Ambarita, Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara 22395
Telepon: 0822 2226 0098
Tiket Masuk Rp5000
Jam Buka Pk06.00 - Pk18.00 (Senin-Sabtu), 
Pk11.00 - Pk18.00 (Minggu)

Sumber Referensi:


...

Keep in Touch
Thanks for reading!