featured Slider

Featured Post

Weekend dengan Scarlett Herbalism Mugwort Mask

Weekend enaknya ngapain ya?

Kalo lagi gak kemana-mana, aku suka me time aja di rumah. Biasanya aku menghabiskan waktu dengan nonton drama Korea, olahraga, makan makanan favorit, dan ngopi. Buat ambivert kaya aku gini, weekend jadi waktu untuk recharge energi dan merawat diri. Weekend juga waktunya untuk eksfoliasi kulit muka, dengan Herbalism Mugwort Mask dari Scarlett.

Duo andalan masker Scarlett.

Eksfoliasi itu berguna untuk membersihkan permukaan kulit dari kotoran dan sel kulit mati. Salah satu cara dengan maskeran. Rutinitas eksfoliasi kulakukan seminggu sekali. Biasanya kupakai saat malam hari sebelum tidur. Selain untuk merawat dan menutrisi kulit, ritual maskeran ini juga jadi bentuk relaksasi setelah seminggu beraktivitas. 

Herbalism Mugwort Mask mengandung bahan Niaciamide, Mugwort Extract, Green Tea Powder, Glutathione, Bamboo Charcoal, dan Chlorophyllin. Bahan-bahan tersebut dapat membantu menyamarkan noda gelap pada kulit, membantu merawat kulit berjerawat, hingga mencerahkan kulit. Nah! Pas banget karena aku mukaku lagi ada bekas jerawat, jadi kali ini aku pakai Herbalism Mugwort Mask.

Herbalism Mugwort Mask (BPOM RI NA 18210201219).

Kemasannya berupa jar bulat sebesar 100 gram, didominasi warna hijau toska dan putih. Dilengkapi dengan box sehingga produk lebih aman. Didalamnya sudah terdapat spatula kecil berwarna putih yang dapat kita gunakan untuk mengaplikasikan masker. Produk ini sudah teregistrasi di BPOM, bebas merkuri, dan hydroquinone. Kita bisa cek keaslian produknya pada barcode yang tertera pada kotak kemasan.

Menurutku teksturnya Herbalism Mugwort Mask ini lembut dan seperti ada butiran-butiran scrub halus saat digunakan, tapi sama sekali gak mengganggu di wajahku. Herbalism Mugwort Mask juga bisa dipakai untuk usia mulai 13 tahun, aman untuk ibu hamil dan menyusui. Tapi dianjurkan setelah melewati trimester kedua dan konsultasi dengan dokter kandungan masing-masing dulu ya.

The Power Ingredients Herbalism Mugwort Mask:
  • Niacinamide, membantu menyamarkan noda gelap pada wajah.
  • Mugwort Extract, membantu menyejukkan kulit.
  • Green Tea Powder, membantu merawat kulit berjerawat.
  • Glutathione, membantu mencerahkan kulit.
  • Bamboo Charcoal, membantu mengangkat sel kulit mati
  • Chlorophyllin, membantu melawan bakteri penyebab jerawat.

Self pamper dengan Scarlett Herbalism Mugwort Mask

Cara penggunaannya juga gampang banget:
  1. Ambil masker dengan mini spatula yang tersedia.
  2. Ratakan masker ke seluruh wajah, diamkan selama 15-20 menit.
  3. Bilas hingga bersih.
Aseli setelah maskeran pake Herbalism Mugwort Mask, kulit terasa lebih halus dan segar! Setelah itu, aku lanjut dengan pemakaian rangkaian Acne Series Scarlett. Fun fact, setelah aku bangun pagi, pak suami ngelus muka aku dan bilang, "halus bener". Haha.

Seriously Soothing & Hydrating Gel Mask (BPOM RI NA 18210201153).

Untuk permasalahan kulit yang cenderung kering dan sensitif, kamu bisa menggunakan Seriously Soothing & Hydrating Gel Mask. Bentuk dan ukurannya sama yaitu 100 gram. Kemasan didominasi warna putih dan merah muda, juga dilengkapi mini spatula. Teksturnya seperti gel dengan warna jingga kecokelatan transparan, dan ada tekstur seperti serpihan butiran gitu.

Seriously Soothing & Hydrating Gel Mask mengandung bahan Niacinamide, Vitamin C, Grape Fruit Water, Gingseng Extract, Centella Asiatica, Rose Flower, Allantoin, dan Seven Berry Extract (blackberry, blackcurrant, blueberry, raspberry, cranberry, acaiberry, strawberry). Bahan-bahan yang dapat menghidrasi kulit dan menyejukkan kulit. Wow banyak banget yah varian berry-nya!

The Power Ingredients Seriously Soothing & Hydrating Gel Mask:
  • Niacinamide, membantu menyamarkan noda gelap pada wajah.
  • Vitamin C, membantu meratakan warna kulit.
  • Centella Asiatica, membantu menyejukkan kulit yang teriritasi ringan.
  • Grape Water, membantu menghidrasi kulit.
  • Ginseng Extract, membantu merawat kekencangan kulit.
  • Allantoin, membantu menyejukkan kulit yang teriritasi ringan.
Jadi, kamu tertarik mau coba yang mana? Herbalism Mugwort Mask dan Seriously Soothing & Hydrating Gel Mask dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau sebesar Rp75.000. Kamu bisa membelinya di sini https://linktr.ee/scarlett_whitening. Selamat mencoba!
__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Perjuangkan RUU Masyarakat Adat Jaga Hutan Indonesia

Foto bersama Masyarakat Adat dari Suku Batak, Suku Osing, dan Suku Beribe.

Tak terasa, sudah lewat setengah tahun ini kita jalani. Bulan Agustus terasa istimewa karena kita merayakan beberapa hari penting. Selain merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-77 tanggal 17 Agustus, kita juga merayakan Hari Hutan Indonesia tanggal 8 Agustus dan Hari Masyarakat Adat Sedunia tanggal 9 Agustus lho!

Rasanya ini momentum yang pas untuk tetap mengobarkan semangat perjuangan di era globalisasi dan modernisasi. Perjuangan kita belum selesai untuk menjaga hutan, memberi dukungan dan mendorong pemerintah mengesahkan Rencana Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat. 

Indonesia tak sekadar kaya akan keanekaragaman hayati, tapi juga alam yang mempesona, dan beragam suku, tradisi budaya yang melekat sebagai identitas. Hal tersebut tentu tak terlepas dari Masyarakat Adat yang menjaga alam dan menjunjung tinggi warisan nilai leluhur. Suku adalah bagian dari masyarakat adat dan Indonesia memiliki banyak sekali suku dari berbagai daerah. Sebut saja ada Suku Dayak, Suku Tengger, Suku Sasak, Suku Osing, Suku Asmat, dan masih banyak lagi!

Masyarakat Adat Jaga Hutan


Masyarakat adat merupakan kelompok masyarakat yang menempati wilayah turun-temurun, memiliki wilayah adat yang mengikat, pengurus adat, dan pastinya ada hukum adat yang berlaku dan dihormati. Hukum adat yang berlaku untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Masyarakat adat memiliki hubungan kuat dengan alam. Mereka mengambil secukupnya agar kelak anak cucu masih bisa menikmatinya. Terlebih lagi karena mereka menganggap hutan juga sebagai tempat leluhur yang harus dihormati. 

Ciri-ciri Masyarakat Adat.

Salah satu Hutan Adat yang ada di Indonesia yaitu Hutan Adat Depati Karo Jaya Tuo yang terletak di Kabupaten Merangin, Desa Rantau Kermas Jambi. Pengelolaan hutan ini berdasarkan Hukum Adat. Masyarakat tidak boleh menebang pohon atau membuka lahan sembarangan. Jika melanggar akan dikenakan hukum adat. 

Mereka memiliki Tanah Ajum yang digunakan untuk berkebun untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, seperti kebun kopi, kulit manis, kentang, cabe, dan jahe. Selain itu juga ada Tanah Arah yang digunakan untuk pemukiman. 


Ini pengalamanku waktu berkunjung ke Kampung Adat Lewokluok dan menggunakan pakaian adatnya. Atasannya disebut Baju Senui dan kain tenun bawahnya disebut Keriot Kinge. Ditenun langsung oleh para perempuan Lewokluok dari serat pohon kapas yang ada di sana. Kinge merupakan sebutan untuk kerang yang ditenun di pakaian itu, melambangkan bintang sebagai petunjuk waktu. Hebatnya masyarakat adat dapat menentukan waktu dari alam semesta.

Pakaiannya berwarna hitam dan merah melambangkan keberanian, karena setiap masyarakat Lewokluok akan berjuang walau sampai mati untuk mempertahankan tanahnya. Begitu dalam filosofi dari pakaian adat Lewokluok. Selain itu, makanan yang tersedia di sana juga diambil dari alam. Masyarakat adat menjaga tanahnya dengea mengelolanya secara arif. Ambil secukupnya dan tidak untuk dieksploitasi. Mereka memiliki hubungan kuat dengan adat, tradisi, dan alam. 

Peran Masyarakat Adat 


Masyarakat adat mengelola sumber daya alam dengan arif dan bijaksana. Keberadaannya sangat dekat dengan alam, perannya menjadi garda terdepan menjaga hutan. Bahkan mereka rela mengorbankan diri untuk melindungi wilayah adatnya.

  • Ritual Adat untuk Menjaga Lingkungan
Menurut saya, hebatnya masyarakat adat adalah mereka memiliki kearifan lokal untuk melestarikan alam. Misalnya dengan ritual adat atau festival adat yang dilaksanakan dalam waktu tertentu. Waktu mengikuti Festival Lewetaka di Banda Neira, saya menyaksikan Ritual Kasi Makan Negeri yang dilakukan masyarakat adat. Hal itu dipercaya sebagai ungkapan syukur atas hasil alam yang memenuhi kehidupan dan memohon berkat untuk kelangsungan hidup.


Dalam ritual tersebut, tetua adat membawa tampa siri yang cara pembuatannya dilakukan berdasarkan adat dan bahan-bahannya juga berasal dari alam. Di Maluku juga mereka mengenal Sasi, yaitu tidak mengambil komoditi sumber daya alam dalam waktu terntu untuk menjaga kelestarian dan keseimbangannya. Jika kamu pernah mendengar Festival Ulat Sagu di Papua, itu juga salah satu festival yang dilaksanakan agar eksistensi masyarakat dan hutan tetap terjaga. 

  • Masyarakat Adat Seniman Sejati
Masyarakat Utik yang tinggal di Sungai Panjang Iban masih bergantung dengan alam. Mereka menenun dan menghasilkan produk tenun kain dan tas. Tenun yang dihasilkan berupa motif yang rapi, penuh makna, dari benang per benang tanpa catatan desain. Saya takjub dengan keahlian masyarakat adat yang sangat kreatif. Saya juga pernah melihat sendiri para perempuan menenun Desa Suku Sade di Lombok. Saya mencobanya dan itu sulit!

  • Perempuan Adat 
Peran masyarakat adat juga tak terlepas dari Perempuan Adat yang memiliki peran penting. Para perempuan menjaga ketahanan pangan keluarga, untuk memberi makan dan obat. Termasuk aktivitas berladang yang dilakukan perempuan untuk menghasilkan bahan pangan. Bisa jadi, bahan makanan yang kita olah dan santap sekarang merupakan hasil dari peran perempuan adat. Saat di Hutan Perempuan, perempuan memiliki peran untuk menjaga hutan karena hanya kaum hawa yang bisa masuk ke dalamnya untuk mengambil bahan pangan, seperti kerang, udang, dan kepiting bakau. 

Ancaman Masyarakat Adat


Masalah besar Masyarakat Adat kini adalah perampasan wilayah adat. Hutan ditebang untuk eksploitasi. Tanpa ada izin atau musyawarah sebelumnya. Padahal bagi mereka, hutan bagai supermarket yang memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk kebutuhan kita juga lho! 

Saat ini contohnya ada pembangunan waduk di Nagekeo, Kabupaten Ngada di Nusa Tenggara Timur. Lokasi pembangunan waduk mengambil tempat pemukiman, perladangan, dan kuburan leluhur mereka. Walaupun sudah diberikan alternatif, namun suara mereka tetap menjadi minoritas. 
"Jika wilayah adat habis, maka masyarakat adat juga habis (tidak ada lagi). Tidak bisa lagi hanya memperjuangkan tari-tarian dan musik saja, tanpa memperjuangkan hak atas wilayah masyarakat adat.", Mina Susana Setra, Deputi IV Sekjen Sosial dan Budaya. Aliansi Masyarakat Adat (AMAN).
Tahu kah kamu kalau Rencana Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat sudah dicanangkan sejak tahun 2010 tapi sampai sekarang belum disahkan?! Padahal mereka berhak mendapatkan jaminan hukum. Di Negara Asia, Undang-undang tentang Masyarakat Adat sudah ada di Filipina. 

Tantangan lain adalah masuknya modernisasi yang terjadi, anak-anak mulai mengenal gadget, dan rasa ketidakpedulian. Maka penting juga untuk memanfaatkan teknologi untuk menyuarakan informasi positif tentang masyarakat adat. Kehidupan mereka akan terancam jika tidak dilindungi. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pemerintah segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat.

Menyuarakan Dukungan untuk Masyarakat Adat 


Gerakan Pulang Kampung diinisiasi oleh anak-anak muda, Barisan Pemuda AMAN Nusantara untuk memanggil anak muda di kota untuk kembali 'pulang kampung' membangun dan melindungi wilayah adatnya. Beberapa hal yang dilakukan antara lain mendirikan sekolah adat. Saat ini sudah ada 86 sekolah adat di seluruh Indonesia. 

Selain itu juga ada konservasi berbasis pertanian organik dengan membuat kebun menjadi ekowisata dan agrowisata, membanggun sanggar budaya di komunitas, smartphone movement, dan pendokumentasian data komunitas adat.


Kita juga bisa menyuarakan dukungan untuk masyarakat adat dengan membeli, memakai, dan mengonsumsi hasil produk lokal masyarakat adat. Senangnya waktu acara zoominar bersama Eco Blogger Squad dan AMAN beberapa waktu lalu, aku memperoleh produk lokal hasil non kayu, salah satunya Kopi Serampas. Kopi Serampas merupakan komoditi lokal Hutan Adat Depati Karo Jaya Tuo yang aku ceritakan diatas.

Peran anak muda sangat penting untuk terus menyuarakan dukungan untuk #SahkanRUUMasyarakatAdat. Dengan memanfaatkan media sosial, kita bangun narasi positif tentang masyarakat adat, dari segi kuliner, busana, budaya, dan lainnya dan kaitkan dukunhan untuk mendorong pemerintah mengesahkan RUU Masyarakat Adat. Mari perjuangkan RUU Masyarakat Adat Jaga Hutan Indonesia!
__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Peduli Bumi Lewat Lagu Dengar Alam Bernyanyi

Lagi liatin kamu langit dan indahnya semesta.

Apa yang membuat kamu bahagia? Buat saya, salah satunya adalah jika bangun pagi melihat jendela dan langit biru. Jujur buat saya yang tinggal di Kota Jakarta, melihat dan menikmati langit biru itu sebuah kemewahan. Apalagi kalo lagi traveling, langit biru juga bikin mood lebih happy, kan? 

Langit biru dan udara yang bersih tentu membuat kehidupan terasa lebih nyaman. Namun hal itu tak lepas dari kontribusi kita untuk menjaga dan peduli bumi. Kalo alam bisa bernyanyi, mungkin mereka bakal curhat banyak banget soal kondisi bumi yang lagi gak baik-baik aja. Melestarikan hutan adalah hal wajib yang harus kita lakukan untuk kelangsungan semua makluk hidup.

Apapun profesi kita, banyak cara untuk ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian hutan lho! Terlebih karena kita yang sebenarnya bergantung dengannya. Gak sedikit juga inspirasi pekerjaan datangnya dari alam. Teman saya seorang desainer baju terinspirasi dari buah Pala Banda untuk membuat karyanya, ada juga yang berprofesi sebagai koki yang membuat kreasi masakan dari bahan kacang kenari Maluku. 


Beberapa musisi favorit saya juga menuangkan lirik lagu yang terinspirasi dari alam. Salah satunya lagu Dengar Alam Bernyanyi yang diciptakan oleh Laleilmanino,yang juga dinyanyikan oleh HIVI!, Sheila Dara, dan Chicco Jerikho. Dengar Alam Bernyanyi menjadi lagu pertama yang diciptakan oleh Laleilmanino di luar studio. Tepatnya saat berada di Hutan Wisata Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 

Lagu Dengar Alam Bernyanyi telah dirilis pada 22 April 2022 saat Hari Bumi. Liriknya mengandung cerita dan pesan yang bagus, alunan musik yang easy listening, membuat saya tak cukup memutarnya hanya sekali saja dan menitikan air mata. Sampai-sampai saya sudah hafal liriknya sekarang. 

Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Situ Gunung di Taman Nasional Gunung Gede memiliki keindahan alam yang sangat indah. Ya, saya yakin setiap tempat memiliki pesonanya sendiri jika dijaga dan dirawat dengan baik. Waktu jalan-jalan ke sini, saya melihat banyaknya pohon-pohon, pegunungan, bahkan memiliki potensi wisata yang menarik. Suasana yang asri, udara yang sejuk, dan langit biru menemani perjalanan saya kala itu. Jadi gak heran, kalo Laleilmanino juga mendapatkan inspirasi untuk membuat lagu ini. 

Bagi saya, alam memang menjadi tempat healing terbaik. Namun banyak ancaman terhadap alam kita. Perhatikan setiap bait lirik Dengar Alam Bernyanyi yang amat menyentuh, mengajak kita bersama-sama untuk melihat kondisi Bumi. Menjadi pengingat bagi kita, bahwa kita yang pegang kendali untuk masa depan bumi karena manusia yang membutuhkan alam untuk hidup. Kalo dipikir-pikir itu benar 100%. Bayangkan gak ada pohon, gak ada hutan, gak ada komoditi bahan pangan yang tumbuh. 

    Dengar Alam Bernyanyi
Bila kau ada waktu
Lihat aku di sini
Indah lukisan Tuhan
Merintih ingin kau kembali
Beri cintamu lagi

Bila kau jaga aku
Kujaga kau kembali
Berhentilah mengeluh
Ingat, kau yang pegang kendali
Kau yang mampu obati
Sudikah kau kembali?

Reff: 
Pandanglah indahnya biru yang menjingga
Simpanlah gawaimu hirup dunia
Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada
Dengar Alam Bernyanyi

Bila kau lelah dengan panasnya hari
Jagalah kami agar sejukmu kembali
Bersatulah hajar selimut polusi
Ingatlah hai wahai kau manusia
Tuhan menitipkan aku
Di genggam tanganmu

Back to Reff

Dengarkanlah bisik mesra alam bernyanyi
Bawa canda dan riang tawa untuk dunia
Gunakan telinga, hati
Cobalah dengar nyanyian kami
Bayangkanlah hidupmu bila tak ada kami.

Back to Reff


Dengar Alam Bernyanyi, menceritakan isi hati para makluk hidup flora dan fauna yang hidup di hutan. Kalo alam ini bisa mengutarakan perasaannya, ya kurang lebih itulah yang dituangkan dalam lirik Dengar Alam Bernyanyi. Hutan punya peranan penting untuk mengatasi perubahan iklim. Walaupun terasa jauh dari perkotaan, tapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Makna lagu yang sangat dalam dikemas dengan alunan musik yang indah. Peran generasi muda Indonesia tentu sangat besar dalam pelestarian alam. Saya ikut bangga dan senang karena Komite Penyelenggara Youth 20 (Y20) tahun ini memilih lagu Dengar Alam Bernyanyi menjadi lagu tema resmi Y20 2022. Fyi, Y20 merupakan bagian dari Group of Twenty 20 (G20) yang berisi 19 negara dengan ekonomi besar di dunia dan 1 organisasi Uni Eropa.


Y20 menjadi platform generasi muda untuk berdialog dan mengajukan solusi dari isu-isu mendesak di dunia. Hal ini tentu menjadi momentum bagi Indonesia untuk menyuarakan dampak perubahan iklim. Tahun ini ada 4 isu prioritas yang diangkat, antara lain; Ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, Planet Berkelanjutan dan Layak Huni, Keberagaman dan Inklusi.

Pesan penting dalam lagu ini, mengajak anak-anak muda untuk bersama-sama menjaga alam untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan memberi cinta kepada alam. Lagu Dengar Alam Bernyanyi sangat sesuai dalam salah satu isu yang diangkat mengenai Planet Berkelanjutan dan Layak Huni. 

Gak cuma lirik dan musiknya yang sangat indah didengar, ilustrasi music video pun dikemas dengan sangat menarik. Para penyanyi; Chicco Jerikho diilustrasikan sebagai karakter pohon, Sheila Dara sebagai peri hutan, HIVI! sebagai Java Sparrow (burung pengicau), dan Laleilmanino sebagai karakter orang utan. Karakter yang menggambarkan flora dan fauna yang sedang menyuarakan isi hati. 

Peduli Bumi Lewat Lagu Dengar Alam Bernyanyi.

Dengan mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi, kita juga berkontribusi untuk bumi, karena sebagian royalti akan disumbangkan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan, Sekolah Adat Arus Kualan di Simpang Hulu dan Simpang Dua Kalimantan Barat. Yuk kita sama-sama jaga hutan kita! 

#EcoBloggerSquad 

__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Konektivitas Transportasi Danau Toba Dukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)

Horas!

Keindahan Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba memiliki keunikan yang tak bisa kita temukan di tempat lain. Kunjungan ke Danau Toba kali ini adalah kunjungan kedua saya. Namun selalu ada cerita yang berbeda meski datang ke tempat yang sama 'kan? Kali ini, saya akan membagikan informasi mengenai konektivitas transportasi Danau Toba untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Gerbang Utama Menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba


Perjalanan saya menuju Pulau Samosir dan Danau Toba dimulai dari sini, Bandara Internasional Sisingamangaraja XII atau dikenal sebagai Bandara Silangit. Waktu ditempuh sekitar dua jam dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Bandara Silangit merupakan gerbang pariwisata menuju KSPN Danau Toba.

Kini, saya melihat lebih banyak toko-toko di sekitar bandara dan melihat kembali ramainya kembali situasi bandara pertanda kondisi pandemi yang sudah beralih endemi. Saya senang melihat bangunan arsitektur Bandara Silangit yang memadukkan unsur kearifan lokal dan budaya.

Bandara Silangit yang tetap memadukkan unsur budaya dan kearifan lokal.

Atap segitiga yang condong ke depan menggambarkan atap rumah batak yang memiliki makna hormat. Beberapa sudut juga dihiasi dengan corak Gorga (batik khas Batak) dari 7 kabupaten di sekitar Danau Toba. Juga ada alat musik tradisional Gondang dan Tagadin yang dimainkan oleh petugas bandara di hari-hari raya atau tamu tertentu.

Dukungan Kementerian Perhubungan pada Bandara Silangit mengembangkan panjang runway menjadi 2650 x 45 meter. Dengan begitu, pesawat berbadan besar bisa mendarat di Bandara Silangit dan membawa lebih banyak wisatawan ke sini. 

Sebelum pandemi, Bandara Silangit juga melayani rute penerbangan internasional dari Malaysia. Semoga tahun ini bisa kembali melayani kembali agar semakin banyak wisatawan asing berkunjung ke Danau Vulkanik Terbesar di Asia Tenggara ini ya!

Keliling Pulau Samosir dan Danau Toba Naik Bus Damri


Setelah mendarat dan mengambil bagasi, saya menuju loket pembelian tiket bus Damri. Bandara Silangit sudah terintegrasi dengan bus Damri untuk mempermudah perjalanan dengan beberapa rute dengan harga yang terjangkau. Antara lain rute; Ajibata - Silangit, Silangit - Tarutung, Silangit - Pematang Siantar, dan loop Samosir. Lihat postingan berikut untuk lihat harganya.


Bus Damri akan mengantarakan kita ke Pelabuhan Ajibata atau Pelabuhan Tigaraja dari Bandara Silangit untuk selanjutnya menyeberang ke Pelabuhan Lopo Parindo menuju Pulau Samosir. Pelabuhan Lopo Parindo di Tomok merupakan titik awal bus Damri akan membawa saya keliling Pulau Samosir dan Danau Toba. 


Beberapa wisata yang dapat kita kunjungi saat naik bus Damri keliling Samosir antara lain; Tugu Becak, Pantai Parbaba, Tugu Sepeda Siborong-borong, Bukit Sibea-bea, Air Panas Sipoholon Tarutung, Air Terjun Efrata, Pantai Batuhoda, dan masih banyak lagi. Hanya dengan harga Rp20.000, kita bisa keliling Samosir dan menikmati keindahan Pulau Samosir di Danau Toba.

Saat perjalanan juga ada pemandu yang siap menemani dan menjelaskan tentang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba ini. Jadwal keberangkatan Bus Damri dimulai dari pukul 05.00 - 20.00 WIB. Pengalamanku naik Damri KSPN Danau Toba ini bus nya bersih, nyaman, dan wangi lho! Iya ada pewangi semprot di dalamnya.


Pelabuhan Penyeberangan Dukung KSPN Danau Toba 


Belum lama ini, Presiden Jokowi meresmikan 7 pelabuhan di Danau Toba yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan. Tahu kan kalau Danau Toba dinobatkan sebagai Danau Vulkanik Terbesar di Dunia? Jadi tentu Pelabuhan Penyeberangan sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas dan mobilitas masyarakat di sana. 7 Pelabuhan dari total 13 pelabuhan yang yang diresmikan tersebut meliputi;

  1. Pelabuhan Ajibata, Kabupaten Toba
  2. Pelabuhan Balige, Kabupaten Toba
  3. Pelabuhan Tiga Ras, Kabupaten Simalungun
  4. Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir
  5. Pelabuhan Marbun/Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan
  6. Pelabuhan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara
  7. Pelabuhan Tongging di Kabupaten Karo

Dari 7 Pelabuhan Penyeberangan diatas, saya sempat mengunjungi 4 Pelabuhan Penyeberangan, yakni; Pelabuhan Ajibata, Pelabuhan Balige, Pelabuhan Simanindo, dan Pelabuhan Tigaras. Selain peresmian pelabuhan penyeberangan, juga ada 4 Kapal Motor Penumpang (KMP) yang diluncurkan yaitu KMP Pora-pora, KMP Kaldera, Bus Air KMP Asa-asa, dan Bus Air KMP Jurung-jurung.


Pelabuhan Ajibata merupakan pelabuhan ferry pertama di Danau Toba. Melayani rute Ajibata - Ambarita dengan KMP Ihan Batak yang sudah diresmikan pada 2018 silam. Kini Pelabuhan Ajibata terlihat megah, tertata bersih, rapi, dan tetap dengan ornamen batak yang khas pada bangunannya. Pelabuhan Ajibata menjadi pelabuhan percontohan dimana pembayaran tiket dilakukan secara online melalui WhatsApp, dalam waktu 24 jam sebelum keberangkatan dan sistem cashless.


Pelabuhan Mulia Raja Napitulu Balige melayani rute Balige - Onan Runggu dengan KMP Pora-Pora yang baru diresmikan. Harga tiket sebesar Rp24.500 (dewasa) dan tidak berlayar pada hari Jumat dikarenakan ada Pasar Tumpah yang ramai digelar ke arah jalan menuju pelabuhan. 

Pelabuhan Balige dengan KMP Pora-Pora.

Pelabuhan Simanindo melayani rute menuju Pelabuhan Tigaras dengan KMP Sumut I dan II dengan lama perjalanan 30 menit. KMP Sumut I dan II dapat mengangkut hingga 40 penumpang dan 12 kendaraan. Dengan adanya pembangunan di Pelabuhan Simanindo dan Pelabuhan Tigaras oleh Kementerian Perhubungan, keberangkatan dalam 1 hari bisa mencapai 16 trip pulang pergi (PP).

Pelabuhan Simanindo dengan KMP Sumut.

Pembangunan pelabuhan bukan hanya membantu masyarakat setempat tapi juga membantu meningkatkan ekonomi masyarakat dengan membuka lapangan kerja bagi UMKM. Beberapa pelabuhan baru/direvitalisasi yang saya datangi memiliki tempat khusus di lantai 2 yang dapat dipergunakan untuk menjual produk lokal.

Pelabuhan Tigaras dengan ruang tunggu yang asri (foto tengah).

Selain 7 pelabuhan yang sudah diresmikan, masih ada 6 pelabuhan lainnya dari total 13 pelabuhan penyeberangan di Danau Toba yang saat ini sedang tahap pembangunan. Pelabuhan tersebut antara lain; Pelabuhan Silalahi di Kabupaten Dairi, Pelabuhan Ambarita, Onan Runggu, dan Sipinggan di Kabupaten Samosir, Pelabuhan Sigapiton dan Porsea di Kabupaten Toba.

Dengan konektivitas transportasi udara, darat, maupun angkutan danau yang semakin maju, tentu mendukung perkembangan Kawasan Strategis Pariwsata Nasional (KSPN) Danau Toba sebagai destinasi super prioritas di Indonesia. 

Oya, selain Bandara Silangit, ternyata juga ada Bandara Sibisa. Bandara yang melayani rute menuju Pulau Nias. Jadi, jika kali ketiga saya kembali ke sini, saya ingin merasakan konektivitas penerbangan menggunakan pesawat perintis ke Pulau Nias. 

Kalo kamu, mau berkunjung kemana aja kalau ke Danau Toba?

__

Keep in Touch
Thanks for reading!