Kenangan Erupsi Merapi dengan Merapi Lava Tour

Masih ingat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam? Kini kawasan Merapi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun lokal. Kami akan menyusuri bekas aliran lava pasca ketusan Gunung Merapi. Pagi-pagi betul sebelum matahari menampakkan rupanya, kami pergi menuju ke basecamp yang merupakan meeting point untuk mengikuti Merapi Lava Tour. 

Lokasi dari pusat kota Yogyakarta menuju lokasi Merapi Lava Tour cukup jauh, sehingga mewajibkan kami berangkat dari subuh. Dari awal, kami sudah bilang kalau kami tak mau basah-basahan saat di Kali Kuning (spot air) karena setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan ke Museum Ullen Sentalu yang lokasi tak terlalu jauh dari situ. Tapi kami tetap berjaga-jaga membawa baju ganti.

Naik jeep menyusuri Merapi Lava Tour.

Rombongan kami berjumlah 12 orang dan dibagi dalam 3 mobil jeep. Transportasi ini yang membawa kami menyusuri lereng Merapi. Sekitar jam 4 subuh kala itu, jaket windbreaker dan kacamata sudah aku kenakan sebelum menempuh perjalanan. Belum lama perjalanan kami menuju lokasi tur Merapi, angin dingin berhembus kencang hingga menusuk badan, tatkala kami menaikki jeep tanpa atap. 

Beberapa saat kemudian, jeep memasukki area bebatuan dengan guncangan yang sangat dahsyat!  Jeep itu terasa melaju sangat amat kencang! Mungkin karena jalur perjalanan gersang sehingga jeep melaju dengan kecepatan yang lebih tunggi. Tenggorokan terasa kering karena teriakan kami seakan melahap hawa dingin kala itu. Kebayang kan gimana teriakan cewek-cewek di satu jeep?

Aku pernah dengar cerita kalau ada orang terpental saat mengikuti Tur Merapi dan aku gak heran karena guncangan di jeep memang sangat luar biasa dahsyat! Bebatuan besar dan kecil yang menjadi jalan kami memang tak beraturan. Jadi, memang harus pegangan kencang karena sudah pegangan kencang saja, sikutku terkena benturan keras dan terasa sakit sekali!

Luka akibat benturan keras saat Merapi Lava Tour.

Saking sakitnya, dari heboh teriak-teriakan, aku tiba-tiba diam. Jujur mood saya langsung down karena terbentur dan menahan sakit. Tanpa aku sadari, sikutku terluka hingga berdarah dan darahnya nembus ke baju. Pantas aja sikut ini terasa sakit sekali saat digerakkan. Untungnya salah seorang temanku membawa betadine dan plester sehingga luka ini langsung diobati.

Bunker Kaliadem Tempat Berlindung dari Erupsi

Sampailah kami di spot pertama, yaitu spot sunrise di Bunker Kaliadem. Sudah banyak jeep warna-warni parkir di sana. Nampaknya banyak juga yang ingin melihat ufuk pagi di sini. Aku tak berharap banyak karena kabut tebal yang menutup Gunung Merapi dan matahari malu-malu menampakkan rupanya. 

Sunrise di Bunker Kaliadem.

Aku melihat tulisan Bunker Kaliadem itu tapi tak sempat melihatnya lebih dekat karena saat itu pengunjung ramai sekali. Padahal di sini menjadi salah satu tempat foto yang bagus dengan latar Gunung Merapi jika tak tertutup kabut. Kawasannya sejuk, letaknya menjorok ke dalam seperti ruang bawah tanah dan terlihat kokoh. Bunker Kaliadem ini dulu digunakan untuk mengamati aktivitas Gunung Merapi saat erupsi.

Sempat juga dijadikan tempat berlindung dari erupsi, namun pada akhirnya Bunker Kaliadem tak dapat menahan letusan Gunung Merapi sejak terjadi longsoran lava yang memakan korban. Konon menjelang malam, suka terdengar tangisan yang diduga korban letusan Gunung Merapi pada saat itu. 

Gunung Merapi yang tertutup kabut.

Tak jauh dari situ, kami menuju tempat penambangan batu bara. Di sana juga ada batu besar yang terlihat seperti muka manusia, namanya Batu Alien. Awalnya aku mengira ini batu biasa saja, tapi jika dilihat dari depan agak serong memang terlihat seperti muka alien. Batu Alien ini terbentuk dari bongkahan batu vulkanik yang berasal saat Merapi meletus saat itu.

Batu Alien

Museum Sisa Hartaku, Saksi Letusan Merapi

Setelah itu, kami menuju Museum Sisa Hartaku. Tempat ini adalah rumah warga yang dulu terkena erupsi Merapi yang kini dijadikan museum. Museum Sisa Hartaku menceritakan erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam. Terlihat porak poranda dan benar-benar menggambarkan sisa harta masyarakat saat erupsi terjadi.

Museum Sisa Hartaku.

Museum Sisa Hartaku menjadi saksi dan bukti letusan Merapi. Pada saat itu, rumah yang kini menjadi museum ini dilewati aliran wedhus gembel. Beberapa perabot rumah terlihat diselimuti abu vulkanik. Di dalam rumah itu juga masih ada jam dinding yang terpajang, yang menunjukkan jam letusan saat menerjang rumah ini. Selain itu ada juga kerangka tulang kerbau, sapi, motor, dan properti lain yang masih tersisa walaupun sudah leleh dan sudah tak sesuai bentuknya.

Bukti waktu letusan Merapi.

Melewati Kali Kuning

Spot terakhir kami adalah melintasi Kali Kuning. Kali Kuning adalah aliran sungai dilewati aliran lahar dari Merapi. Area ini sebenarnya tak terlalu luas, namun biasanya sebelum kembali ke basecamp bisa melalui jalur ini. 

Beberapa jarak sebelumnya, pak supir sudah memberi tahu untuk mengamankan barang-barang elektronik karena akan melintasi medan air. Aku dan teman-temanpun siap memakai jas hujan, terutama melindungi kamera. Sekali lagi, kami memberi tahu supir bahwa kami tidak ingin basah-basahan.

Tapi nampaknya pak supir tak terlalu menghiraukan kami dan seketika jeep melintasi Sungai Kuning, "Byaaaarrr!!!"

Kami basah perlahan, sembari sibuk pegangan erat, menjaga tas agar tidak basah, dan tak lupa teriakan kencang kami yang tak henti selama jeep melintasi Sungai Kuning.

"Semoga ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan ya mba. Maaf kalau saya ada salah." kata pak supir.

Oke pak, memang ada benarnya juga bahwa Pengalaman Merapi Lava Tour ini tak terlupakan. Dalam perjalanan, kami berbincang dengan pak supir. Beliau menceritakan bahwa rata-rata yang bekerja di sini adalah mereka yang dulu pernah menjadi korban Merapi Lava Tour.

Terima kasih pak untuk kenangannya.

Setibanya kami di basecamp lagi, kami langsung mengganti pakaian. Kami membatalkan itinerary ke Museum Ullen Sentalu karena kami basah luar dalam. Akhirnya kami kembali dulu ke guesthouse untuk membersihkan badan dan mengganti itinerary. Kadang memang apa yang kita sudah rencanakan tak selalu berjalan dengan lancar, tapi selalu ada momen tak terlupakan. Suatu saat nanti, aku ingin kembali lagi ke sini, melihat Merapi yang gagah dan menyusuri rute wisata lereng Merapi yang lebih panjang.
_____

Tips:
- Memakai jaket windbreaker dan kacamata.
- Menggunakan buff atau masker (karena jalanan banyak debu)
- Membawa drybag untuk menyimpan peralatan elektronik.
- Membawa pakaian ganti luar dan dalam.
- Membawa obat masuk angin dan P3K.
- Cek cuaca agar mendapatkan panorama terbaik.
- Tanya tour operator untuk memilih jeep tertutup atau terbuka.

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

2 komentar:

Packing Light Perlengkapan Naik Gunung

Naik gunung itu punya sensasinya sendiri apalagi untuk penikmatnya. Tapi naik gunung juga butuh perlengkapan yang mumpuni biar bisa bertahan hidup. Penting banget untuk menerapkan packing light supaya gak semua isi rumah dibawa saat naik gunung. Waktu naik gunung pertama kali ke Gunung Prau, aku pinjam beberapa perlengkapan hiking sama teman. Aku pikir, cuma sekali-kali aja kok naik gunung, jadi yowes aku pinjam saja. 

Siap-siap naik gunung.

Setelah turun gunung dari pendakianku yang pertama, lah kok aku jadi nagih pengen naik gunung lagi. Akhirnya aku nyicil beli perlengkapan gunung dan mau bawa barang-barang yang penting saja supaya gak terlalu berat. Katanya sih kalo bawa carrier maksimal 30% dari berat badan kita. Jadi, inilah barang-barang yang aku bawa selama pendakian berdasarkan pengalamanku;

1. Carrier dan Rain Cover
Tas ransel biasa hanya akan membuatmu semakin pegal. Gunakan carrier dengan kapasitas yang sesuai badan dan memiliki fungsi air flow back system agar lebih nyaman saat mendaki. Carrier juga dilengkapi dengan strap belt supaya lebih ringan menopang beban dan kantong kecil di sisinya. Kantong kecil ini biasanya aku gunakan untuk menyimpan cokelat atau camilan sehingga mudah diambil saat aku butuh energi. Biasanya carrier sudah dilengkapi dengan rain cover yang bisa melindungi tas dari hujan, lumpur, tanah, dan debu. 

2. Sleeping Bag dan Matras
Ini satu paket yang tak bisa dipisahkan seperti kamu dan si dia, karena keduanya saling melengkapi dan menghangatkan. Sleeping bag yang aku punya juga ultra light dengan berat 500 gram saja. Mereknya Makalu Outdoor Alps Dream 700. Matras yang biasa digunakan untuk mendaki ada matras gulung karet dan matras aluminium. Aku biasanya menggunakan matras aluminium untuk lebih menghemat ruang dalam tas. Lebih baik lagi jika memiliki matras angin, karena pastinya tidur bisa lebih nyenyak. Namun harga matras angin relatif lebih mahal, tapi bentuknya lebih fleksibel dan ringan.

3. Jas Hujan
Cuaca di gunung memang tak menentu. Makanya kita harus siap dengan kondisi apapun. Pendakian saat musim kemarau atau hujan, kita wajib membawa benda ini jika tidak ingin menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Gak kebayang kan kalau hujan saat pendakian dan semua perlengkapanmu basah? Aku selalu membawa jas hujan multifungsi yang sangat ringan. Mereknya Dhaulagiri Waterproof Poncho 3 in 1, yang dapat digunakan sebagai matras, bivak, dan ponco. Jangan lupa membawa barang ini saat summit attack karena bisa saja kamu membutuhkannya. 

4. Pakaian Ringan dan Quick Dry
Pakaian waktu naik gunung itu memiliki fungsinya sendiri walaupun modelnya gak banyak. Gunakan pakaian yang tepat daripada salah kostum! Saat mendaki gunung, sebaiknya kita tidak menggunakan celana jins dan kaos biasa. Celana jins membuat ruang gerak kaki terbatas. Apalagi model skinny jeans yang terlihat keren itu sangat tidak disarankan, karena bisa membuat pangkal paha lecet, sulit dibersihkan apalagi dikeringkan jika terkena basah. Gunakan celana berbahan parasut atau kargo yang biasanya lebih ringan, breathable, dan waterproof.


Persiapan Naik Gunung.

Waktu pertama kali naik gunung, aku menggunakan kaos biasa, alhasil sampai tempat berkemah, aku jadi keringat dingin dan bajuku basah banget, sulit kering dan jadi menambah beban dalam tas. Jadi , penting sekali untuk memakai dan membawa kaos dryfit yang ringan dan cepat kering. Jika tidak, kita bisa saja terkena hipotermia karena kedinginan menggunakan pakaian yang basah.

Selain itu aku juga selalu membawa dua jenis jaket ringan yang bisa dilipat menjadi kecil. Pertama, jaket parasut yang windproof dan waterproof untuk pendakian pagi atau siang hari jika udara dingin dan angin berhembus kencang. Kedua, Ultra Light Down Jacket yang digunakan saat malam hari atau summit attack untuk suhu yang lebih tinggi. 

5. Senter dan Headlamp
Waktu pertama kali mendaki gunung, aku gak bawa senter apalagi headlamp. Aku pikir pakai saja senter dari ponsel, dan ternyata aku salah besar! Hal itu malah menyulitkanku dan membuatku gak fokus saat berjalan. Senter sangatlah penting, bisa digunakan untuk lampu tenda atau tambahan pencahayaan. Bawalah senter LED, biasanya berukuran lebih kecil namun cahaya yang dihasilkan lebih terang dengan jangkauan yang lebih luas. Sedangkan headlamp memudahkan untuk berjalan saat pendakian malam atau summit attack. Jangan lupa membawa baterai cadangan yang sesuai dengan ukuran senter kamu.

6. Trekking Pole
Aku tidak membawa trekking pole saat pendakian pertamaku. Mungkin karena keterbatasan pengalaman (dan budget). Awalnya aku gak kepikiran bahwa benda ini ternyata sangat penting. Akhirnya, aku membeli tongkat bambu seharga Rp5000 di Pos 2 jalur pendakian Prau via Patak Banteng. Ternyata benda ini sangat amat membantuku selama pendakian untuk menjaga keseimbangan dan ritme mendaki, dan menopangku saat hendak menanjak. Selain itu, trekking pole juga dapat digunakan sebagai penguat tenda agar tidak terbang saat badai. Aku menggunakan trekking pole lipat seperti ini;

Trekking Pole lipat. Sumber: IG @8rothers_adv.

7. Botol Air dan Peralatan Makan
Air adalah elemen yang sangat penting saat mendaki. Aku menggunakan botol minum lipat yang terbuat dari karet sehingga dapat dipakai berulang kali. Aku mengurangi sampah botol plasik dengan membawa botol minum seperti ini. Minum air yang cukup saat pendakian agar cairan dalam tubuh terpenuhi sehingga terhindar dari dehidrasi. Letakkan botol air di tempat yang mudah dijangkau. Aku biasanya menggantungkan botol air dibagian depan menggunakan karabiner. Kamu juga bisa menggunakan water bladder sehingga lebih mudah minum dari selangnya.
Aku punya 3 botol lipat ini yang selalu aku bawa saat naik gunung. Sumber: IG @8rothers_adv.

Memasak bersama saat naik gunung adalah momen yang asik, tapi tak lupa tentunya kami harus membawa peralatan masing-masing seperti piring atau tempat makan lipat, gelas, dan spork. Menggunakan peralatan makan lipat seperti ini pastinya menghemat tempat dalam tas.

Alat makan lipat. Sumber: IG @8rothers_adv.

8. Obat-obatan & Toiletries
Packing light bukan berarti mengabaikan aspek kesehatan dan kebersihan. Kondisi di gunung memang tak menentu. Oleh karena itu, kita harus selalu sedia P3K dan obat-obatan pribadi seperti;  hansaplast, betadine, tolak angin, minyak kayu putih, dan lain-lain. Dalam pouch kecil lainnya, aku juga memasukkan beberapa toiletries penting dalam ukuran kecil seperti; sikat gigi, deodoran, handuk kecil, pembalut, tabir surya, tissue, dan hand sanitizer spray


9. Tas Kecil
Tas ini bisa berupa backpack atau waist bag, yang digunakan untuk membawa barang-barang penting seperti HP, dompet, kamera atau peralatan pentingmu yang lain. Tas kecil juga digunakan saat summit attackJangan lupa juga membawa obat-obat dan baterai cadangan didalamnya. Lebih baik membawa tasmu sendiri saat summit attack, karena saat itu bisa saja temanmu berada di belakang atau di depanmu, sehingga kamu gak bisa terus mengandalkan temanmu untuk membawa cadangan logistik hanya dalam tas temanmu kan?

10. Karabiner
Barang kecil ini punya kegunaan yang sangat banyak. Setidaknya ada 3 buah karabiner yang terpasang pada tasku. Karabiner ini bisa digunakan untuk memudahkan membawa barang seperti air, sampah, sepatu, dan barang lainnya yang mungkin tak cukup masuk dalam tasmu.

List Perlengkapan Naik Gunung versiku.

Perlengkapan lainnya yang digunakan bersama-sama dengan kelompok, seperti; tenda, nesting, dan bahan logistik bisa dibagi antara anggota kelompok. Kalau gak mau ribet, kamu bisa juga membeli makanan di basecamp atau menyewa porter untuk mendirikan tenda. Setelah menulis postingan ini, aku jadi semangat mau siap-siap packing light lagi. Naik gunung apalagi ya?

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Kampung Kanibal Huta Siallagan | Toba Trip Part-3

Horas!

Itulah kata yang harus diucapkan saat memasukki Rumah Batak. Akupun baru tahu, saat berkunjung ke Huta Siallagan. Lokasinya tak jauh dari penginapan kami di Tabo Cottage. Dalam bahasa Batak, Huta adalah kampung. Siallagan adalah nama Raja Siallagan. Dahulu kala, area kampung ini dibangun oleh keluarga bermarga Siallagan yang dipimpin oleh Raja Siallagan. 

Horas!

Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp5000 saja, kita sudah bisa mengunjungi Objek Wisata Budaya Batu Kursi Raja Siallagan. Pintu masuk terbuat dari batu yang tak terlalu tinggi dan tak begitu lebar. Konon tembok batu itu dulu berfungsi sebagai penghalang serangan dari binatang buas atau serangan dari kampung lain. Setelah melalui pintu masuk bertulis Huta Siallagan, aku melihat beberapa deretan Rumah Batak yang ikonik.


Pintu Masuk Huta Siallagan.

Perkenalkan ini Tulang Gading yang mengajak kami berkeliling Huta Siallagan. Katanya, beliau juga dulu yang memandu Presiden Jokowi waktu rombongannya berkunjung ke Huta Siallagan. Dengan bangga dan antusias, beliau menceritakan sejarah Kerajaan Siallagan kepada kami. Dari penjelasan beliau, aku jadi paham kenapa kekeluargaan di suku Batak sangat erat. 

Tulang Gading sebagai tour guide kami di Huta Siallagan.

Rumah Batak Penuh Makna

Arsitektur Rumah Batak memang unik dan penuh makna. Terdapat tiga jenis rumah di komplek Huta Siallagan, yaitu Rumah Bolon, Rumah Siamporik, dan Rumah Sibola Tali. Rumah Bolon bentuknya lebih besar, tangga masuknya mengarah ke dalam, serta dihuni oleh raja dan keluarganya. Rumah Siamporik bentuknya lebih kecil, tangga masuk dari luar, serta dihuni oleh keluarga yang diundang untuk tinggal. Sedangkan Rumah Sibola Tali bentuknya lebih langsing dan kecil dan dihuni oleh kerabat raja.

Ini yang dimaksud tangga dari dalam dan dari luar.

Tapi Rumah Batak berada di Huta Siallagan ini, tak menampilkan ukuran asli karena dulu pernah terjadi kebakaran sehingga dibangun kembali untuk tetap melestarikannya. Lalu, bagian atap depan dan belakang Rumah Batak berbentuk meruncing yang artinya orang tua dan anak. Jika hendak masuk rumah, kami harus menundukkan kepala sebagai rasa hormat. Selain itu, bagian belakang atap lebih tinggi daripada bagian depan melambangkan generasi penerus harus lebih baik dan hebat dari orang tuanya.


Rumah Batak mengarah ke gunung yang artinya berkat datang dari tempat yang tinggi. Terdiri dari tiga tingkat yaitu; bagian atap untuk tempat penyimpanan barang, bagian tengah untuk tempat tinggal, dan bagian bawah untuk hewan peliharaan.

Rumah Batak di Huta Siallagan.

Corak yang terdapat pada Rumah Batak bukan hanya sebagai dekorasi, tapi juga memiliki makna yang dalam. Aku teringat akan perkataan salah seorang teman, jika di kamar penginapan ada tokek atau cicak jangan diganggu karena memiliki arti bagi masyarakat batak.

Ternyata simbol cicak yang terdapat di bagian depan Rumah Batak, melambangkan hewan yang bisa hidup dimana saja. Filosofi cicak digambarkan seperti perantau sejati yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam bahasa Batak, ukiran cicak disebut juga Gorga Boraspati yang merupakan simbol kebijaksanaan dan kekayaan.

Gorga Boraspati dan Adop-adop.

Selain itu, terdapat simbol payudara yang melambangkan orang batak tidak melupakan kampung halamannya jika merantau (seperti kembali ke pangkuan ibu). Dalam bahasa batak, ukiran payudara disebut juga Adop-adop. Adop-adop pertama diartikan sebagai simbol kesucian, adop-adop kedua diartikan sebagai simbol kesetiaan. Adop-adop ketiga diartikan sebagai simbol kesejahteraan, dan adop-adop keempat diartikan sebagai simbol kesuburan wanita.


Kisah Mistis Sigale-gale

Berada di seberang Rumah Batak tadi, ada boneka kayu yang menarik perhatianku, namanya Si Gale-gale. Rasa takut dan penasaran tercampur menjadi satu, lantaran aku lihat boneka tersebut berdiri diatas makam. Cerita Si Gale-gale berawal dari seorang raja yang kehilangan anaknya di medan perang.

Sang Raja tak ikhlas dan sakit-sakitan sehingga mereka membuat boneka kayu sebagai perwujudan anaknya. Boneka kayu itu dipakaikan ulos dan sortali, lalu diberi nama Manggale, sama seperti nama anaknya. Roh Manggale dipanggil masuk ke dalam boneka kayu tersebut. Sejak saat itu, boneka Si Gale-gale menari selama 7 hari 7 malam, sehingga membuat kondisi raja membaik.

Sigale-gale.

Pertunjukan Sigale-gale biasanya dilakukan saat ada seorang anak yang meninggal (terutama anak laki-laki), sebagai simbol kasih sayang orang tua dan anak. Namun sekarang, Pertunjukan Sigale-gale menjadi daya tarik wisatawan. Mereka bisa manortor bersama menggunakan ulos yang telah disediakan. Sayangnya saat itu, kami tidak sempat menari bersama Sigale-gale karena keterbatasan waktu dan terdapat minimal wisatawan untuk mengikuti Pertunjukan Sigale-gale ini.


Awal Mula Kanibal di Batu Persidangan

Setelah melewati deretan Rumah Batak bagian depan, tepat di depan salah satu Rumah Batak bagian tengah, terdapat meja dan kursi yang disusun melingkar, terbuat dari batu. Letaknya di bawah Pohon Hariara, yang merupakan pohon suci bagi masyarakat Batak. Tempat ini dinamakan Batu Parsidangan yang pertama. Fungsinya sebagai tempat rapat untuk menentukan hukuman kejahatan. Kemudian jika kita berjalan ke dalam lagi, terdapat Batu Persidangan yang kedua, yang menjadi tempat eksekusi hukuman pancung.


Tulang Gading mempersilahkan kami untuk duduk di kursi-kursi batu tersebut. Beliau menceritakan bahwa dulu tempat ini digunakan untuk mengadili dan menghukum para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Mereka diasingkan terlebih dahulu di rumah batak bagian bawah (karena dianggap seperti hewan) untuk menunggu waktu eksekusi hukuman pancung.

Batu Persidangan Pertama di bawah Pohon Hariara.

Batu Persidangan Pertama.

Untuk menentukan tanggal hukuman, Raja Siallagan memakai kalender Batak dan buku sakti bernama Pustaha Laklak untuk mencari hari baik. Pelaku kejahatan yang mendapat hukuman pancung terlebih dahulu diberi makan untuk melemahkan ilmu hitam, lalu dipukul menggunakan tongkat sakti bernama Tunggal Panaluan.

Kemudian, tubuh mereka disiksa hingga berdarah dan disiram air asam. Setelah itu, barulah hukum pancung dieksekusi. Kepala dan tubuh penjahat yang dipancung dibuang, tapi ada beberapa bagian tubuh lainnya diambil seperti; hati, jantung, dan darah untuk dimakan oleh raja dan . Konon katanya agar ilmu hitam raja semakin kuat dan menambah kekebalan tubuh. Hal tersebut yang menjadi awal mula tradisi kanibalisme di Huta Siallagan.

Tongkat Sakti Tunggal Panaluan, Kalender Batak, Pustaha Laklak, dan pisau untuk eksekusi hukuman pancung.

Adegan eksekusi hukuman pancung

Tapi tenang saja, sekarang hukuman pasung atau pancung sudah tidak ada. Ritual tersebut menghilang sejak pendeta Jerman Dr. Ingwer Ludwig Nommensen menyebarkan Agama Kristen. Lalu, Raja Siallagan yang menganut Parmalim (agama asli Batak) akhirnya memeluk agama Kristen, sehingga  jika ada kejahatan, hukuman pidana dan perdata yang berlaku.

Aku cukup tegang mendengar hukuman pancung tadi. Jika aku berada di masa itu, pasti akan kulakukan semua hal sebaik mungkin agar tak mendapat hukuman, karena hidup ini sesungguhnya berharga. Lalu terpikir juga olehku, apakah karena hal itu banyak orang Batak menjadi pengacara untuk menegakkan keadilan? 

Tulang Gading membuatkanku topi batak dari ulos. Katanya dulu ulos dari topi digunakan oleh para perempuan untuk ke ladang/bekerja dibawah terik matahari.

Saat menuju arah pulang, kami disuguhkan banyak sekali oleh-oleh khas Batak seperti kain, tas, ikat kepala ulos, dan masih banyak lagi. Kalau kamu mampir ke sini jangan lupa beli oleh-oleh juga ya, sekalian membantu perekonomian masyarakat lokal. Sayangnya aku belanjanya kurang banyak karena kupikir mau beli oleh-oleh pas hari terakhir yang ternyata gak keburu.

Toko Oleh-oleh, Jangan lupa belanja di sini ya!

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan foto dengan ulos. Tulang Gading baik sekali. Beliau mengambilkan aku dan Will ulos untuk berfoto di depan Rumah Batak. Padahal di tempat ulos tadi sedang ada pertunjukkan Sigale-gale. Kamipun baru tahu kalau ternyata ulos untuk laki-laki dan perempuan berbeda. 

Terima kasih Tulang Gading, sampai jumpa!

Waktu itu terasa cepat, rasanya kami masih belum puas berada di Huta Siallagan, mungkin kurang dari satu jam kami berada di sana. Aku berharap bisa kembali lagi untuk menyaksikan pertunjukkan Sigale-gale dan memakai pakaian adat batak lengkap. Horas!

_____

Huta Siallagan
Alamat Siallagan-Pindaraya, Ambarita, Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara 22395
Telepon: 0822 2226 0098
Tiket Masuk Rp5000
Jam Buka Pk06.00 - Pk18.00 (Senin-Sabtu), 
Pk11.00 - Pk18.00 (Minggu)

Sumber Referensi:


...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Perjalanan ke Merbabu yang Bikin Rindu | Merbabu via Selo

Udah cocok buat poster film 5 cm (part 2) gak nih?


Perjalanan kereta malam dari Stasiun Senen menuju Stasiun Solo Balapan tak terasa lamanya, mungkin karena aku terlalu bersemangat menyimpan energi untuk pendakian esok hari. Matahari membangunkanku dari jendela kereta dan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu seakan menyapaku di pagi hari itu.

 

Mobil pick-up yang kami pesan sebelumnya, sudah siap mengantarkan kami ke basecamp Selo. Ada banyak sekali basecamp di Gunung Merbabu Selo dan kami singgah di basecamp pak Parman sebelum pendakian dimulai.


Basecamp Pak Parman di Selo.

Gunung Merbabu memiliki 5 jalur resmi pendakian yaitu jalur; Selo, Wekas, Thekelan, Chuntel, dan Suwanting. Kami memilih jalur pendakian Selo yang terkenal dengan panoramanya yang indah sekali, walaupun waktu pendakian lebih lama. Pendaftaran pendakian gunung Merbabu dilakukan secara online di www. tngunungmerbabu.org dengan minimal 3 orang pendaki. Tim kami berjumlah 5 orang, 2 diantaranya sudah pernah ke Gunung Merbabu sebelumnya.


Baca Juga: Mendaki Atap Pulau Jawa, Gunung Semeru


Selama beberapa kali aku naik gunung, aku rasa pendakian Gunung Merbabu ini melakukan briefing yang paling lengkap. Setiap kelompok yang hendak memulai pendakian di-interview satu per satu. Mereka menanyakan perihal kesehatan dan pengalaman mendaki gunung, serta mencatat apa yang kami bawa seperti; makanan dan berapa banyak air yang kami bawa karena jalur Selo tidak memiliki sumber air. Termasuk juga mencatat kelengkapan barang bawaan wajib kami, seperti sleeping bag, matras, jaket, dan lain-lain. Jika tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), kami wajib menyewa peralatan di tempat penyewaan perlengkapan mendaki dekat pos pendakian.

 

“Gelang apa itu Greg? Tumben pakai gelang warna orange”, tanyaku pada Grego, ketua kelompok kami.


Ternyata gelang itu diberikan kepada ketua kelompok pada saat briefing awal dengan petugas, namanya RFID. Gelang ini bertuliskan Taman Nasional Gunung Mebabu yang sudah ditanamkan chip Radio Frekuensi Identification (RFID).  Setiap kelompok akan terdeteksi jika sudah melewati tower emergency report yang berada di Sabana 1. Jika terjadi keadaan darurat, pendaki dapat menuju tower untuk menghubungi petugas melalui aplikasi yang sudah diunduh pada smartphone.


Gelang RFID. Sumber: http://ksdae.menlhk.go.id/


Hidup Tanpa Tisu Basah di Gunung Merbabu

 

Kami bersiap naik gunung Merbabu. Pemeriksaan barang bawaan dilakukan secara ketat dan tegas. Seperti biasa, aku membawa tisu basah saat hendak ke gunung. Alasan sederhananya untuk membersihkan muka, tangan, dan lain sebagainya. Akupun selalu membawa sampah turun tak terkecuali.

 

“Tisu Basah ditinggal di basecamp, kalau ketahuan nama Anda dan kelompok akan di blacklist di taman nasional gunung selama 2 tahun.”

 

Pernyataan itu terus menerus diulang. Saat berada di basecamp, kami sudah diperingati untuk tidak membawa tisu basah, bahkan saat briefing sebelum mendaki, kami diperingati lagi. Bawaan kami diperiksa dan dengan sangat terpaksa akhirnya aku meninggalkan tisu basah (yang baru aku beli) itu.


Baca Juga: Naik Gunung Cuma 1 Hari? Bisa dong!

Ternyata sampah tisu basah adalah sampah paling banyak di gunung selain sampah botol plastik. Tisu basah mengandung serat plastik  dan bahan kimia yang sulit diurai. Selain itu, aroma yang dihasilkan tisu basah yang dibuang sembarangan dapat mengundang datangnya hewan liar yang bisa membahayakan pendaki. Sekarang aku paham betul kenapa larangan itu ada.


Pos 1 Dokmalang Gunung Merbabu via Selo.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 tidak begitu curam dan dikelilingi oleh hutan rindang. Kami berhenti sejenak di sini untuk beristirahat dan menyantap makan siang. Aku melihat beberapa monyet di kawasan ini, sedihnya lagi aku melihat banyak sekali sampah, terutama sampah botol plastik dan tisu basah. Kebayang gak kalau monyet itu makan sampah kita?


Monyet meratapi sampah.

Setelah mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur yang kami lewati semakin menantang ditambah debu dan pasir yang terasa lebih banyak saat musim kemarau kala itu. Sesaat sebelum sampai Pos 2, ada satu tanjakan terjal dan puncaknya biasa disebut dengan pos bayangan. Aku ingat betul terdapat tali yang bisa kami gunakan untuk melewati tanjakkan terjal itu.


Tanjakan sebelum Pos Bayangan.
Jalur cukup terjal.
Mereka ini brotherhood dan sisterhood lho! (kiri-kanan: Grego, Devita, Tya, Gilbert).


Pemandangan alam terbuka semakin terlihat, saat tiba Pos 3 udara dingin dan angin semilir mulai terasa. Awalnya kami berencana untuk berkemah di Pos 4 (Sabana 1) karena lebih dekat dengan puncak, tapi hari mulai senja dan membutuhkan waktu lebih lama lagi menuju Pos 4. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkemah di Pos 3. Pos 3 adalah tempat yang direkomendasikan untuk mendirikan tenda karena tempat ini cukup luas.


Kami membagi tugas, para laki-laki membangun tenda, dan kami para perempuan membuat jamuan hangat dan menyiapkan masakkan untuk makan malam. Di sini kami dapat melihat Gunung Merapi yang gagah, terasa dekat dan besar. Senja di pos 3 terasa begitu indah. Walaupun angin dingin mulai menusuk kulit, tapi aku menikmati langit merah muda berganti jingga, hingga berganti malam yang penuh dengan bintang-bintang.


Camping ground di Pos 3.
Pink Sunset di Pos 3.


Mungkin karena banyak pendaki yang berkemah disini, aku melihat banyak sekali sampah tisu basah. Memang banyak sampah lainnya, tapi sampah tisu basah paling menonjol. Tak habis pikir, apa masih bisa disebut pendaki kah orang-orang yang masih membuang sampah di gunung ini?


Panorama Indah Menemani Perjalanan Menuju Puncak

 

Kami tidur lebih cepat dan bangun saat subuh sekitar jam 4 untuk memulai melakukan summit attack. Kami membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena kami berada di Pos 3. Persiapan logistik sudah siap dalam tas, kami mulai bergegas memasang headlamp, dan tak lupa berdoa kepada Sang Pencipta agar perjalanan kami lancar sampai puncak Gunung Merbabu.


Baca Juga: 7 Alasan Wajib ke Gunung Papandayan

 

Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 (Sabana 1) cukup menantang ditengah gelap dan dinginnya malam kala itu. Setelah kupikir-pikir, ada baiknya kami berkemah di Pos 3, karena tanjakan menuju Pos 4 ini cukup terjal  apalagi jika kami membawa carrier.


Pink Sunrise.

Saat di Sabana 1, kami berhenti sejenak dan menikmati matahari terbit. Pemandangan di Sabana 1 indah sekali, disini kami melihat banyak tenda-tenda pendaki. Matahari mulai tinggi dan saya menikmati langit merah jingga dengan edelweis, serta Gunung Merapi yang menjadi pemandangan kami menuju ke Pos 5 (Sabana 2). 


Pagi indah bersama Edelweis dan Gunung Merapi.


Perjalanan kami menuju puncak Merbabu sangat menyenangkan. Langkah ini terus bersemangat menuju puncak, setelah melewati Sabana 1 dan Sabana 2, dan menengok ke belakang, aku benar-benar terkejut! Aku melihat undakan Sabana yang kami lewati tadi, ditambah bonus Gunung Merapi dan lautan awan yang memesona.


Sabana 1, 2, dan Gunung Merapi menemani perjalanan kami.
Menuju Puncak Kentengsongo.
Tanjakkan yang kami tempuh sebelum Puncak Kentengsongo.

Akhirnya kami sampai di Puncak Kentengsongo 3142 mdpl! Dari sini, kami bisa melihat gunung-gunung lain seperti Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Lawu. Kami melihat ada tenda dan batu-batu di Puncak Kentengsongo. Sesuai dengan namanya terdapat 9 batu kenteng dan dikeramatkan oleh masyarakat. Kami mengambil waktu sejenak untuk bersyukur, melihat indahnya alam semesta, dan mengibarkan bendera merah putih di Puncak Kentengsongo.


Finally 3142 mdpl!

Saat tiba kembali di basecamp, sampah kami digeledah. Petugas memastikan apa yang kami bawa turun sesuai catatan pada saat kami hendak naik. Pada akhirnya, bisa juga aku bertahan di gunung tanpa tisu basah. Bahkan aku gak terlalu memikirkannya karena terlalu asik menikmati pemandangan di sini. Walaupun turun gunung muka penuh debu, tapi rasanya puas bisa mengurangi sampah tisu basah di gunung.


Kondisi jalur yang berdebu.

Gunung bukanlah tempat sampah. Jika hanya bisa membuang sampah di gunung atau menyembunyikan sampah dalam semak-semak, lebih baik kamu di rumah saja. Sampah di gunung sangat banyak dapat merusak ekosistem. Menjaga kebersihan alam adalah bagian dari perjalanan pendakian. Saat mendaki gunung lagi, mari siapkan satu kantong lebih untuk membawa sampah yang bukan milikmu, sebagai rasa peduli dan cintamu terhadap alam. 


Terima kasih Merbabu atas perjalanan yang membuatku rindu. Semoga kelak bisa kembali lagi melihatmu melaui jalur pendakian yang berbeda. 


4 komentar: