Kenangan Erupsi Merapi dengan Merapi Lava Tour

Masih ingat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam? Kini kawasan Merapi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun lokal. Kami akan menyusuri bekas aliran lava pasca ketusan Gunung Merapi. Pagi-pagi betul sebelum matahari menampakkan rupanya, kami pergi menuju ke basecamp yang merupakan meeting point untuk mengikuti Merapi Lava Tour. 

Lokasi dari pusat kota Yogyakarta menuju lokasi Merapi Lava Tour cukup jauh, sehingga mewajibkan kami berangkat dari subuh. Dari awal, kami sudah bilang kalau kami tak mau basah-basahan saat di Kali Kuning (spot air) karena setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan ke Museum Ullen Sentalu yang lokasi tak terlalu jauh dari situ. Tapi kami tetap berjaga-jaga membawa baju ganti.

Naik jeep menyusuri Merapi Lava Tour.

Rombongan kami berjumlah 12 orang dan dibagi dalam 3 mobil jeep. Transportasi ini yang membawa kami menyusuri lereng Merapi. Sekitar jam 4 subuh kala itu, jaket windbreaker dan kacamata sudah aku kenakan sebelum menempuh perjalanan. Belum lama perjalanan kami menuju lokasi tur Merapi, angin dingin berhembus kencang hingga menusuk badan, tatkala kami menaikki jeep tanpa atap. 

Beberapa saat kemudian, jeep memasukki area bebatuan dengan guncangan yang sangat dahsyat!  Jeep itu terasa melaju sangat amat kencang! Mungkin karena jalur perjalanan gersang sehingga jeep melaju dengan kecepatan yang lebih tunggi. Tenggorokan terasa kering karena teriakan kami seakan melahap hawa dingin kala itu. Kebayang kan gimana teriakan cewek-cewek di satu jeep?

Aku pernah dengar cerita kalau ada orang terpental saat mengikuti Tur Merapi dan aku gak heran karena guncangan di jeep memang sangat luar biasa dahsyat! Bebatuan besar dan kecil yang menjadi jalan kami memang tak beraturan. Jadi, memang harus pegangan kencang karena sudah pegangan kencang saja, sikutku terkena benturan keras dan terasa sakit sekali!

Luka akibat benturan keras saat Merapi Lava Tour.

Saking sakitnya, dari heboh teriak-teriakan, aku tiba-tiba diam. Jujur mood saya langsung down karena terbentur dan menahan sakit. Tanpa aku sadari, sikutku terluka hingga berdarah dan darahnya nembus ke baju. Pantas aja sikut ini terasa sakit sekali saat digerakkan. Untungnya salah seorang temanku membawa betadine dan plester sehingga luka ini langsung diobati.

Bunker Kaliadem Tempat Berlindung dari Erupsi

Sampailah kami di spot pertama, yaitu spot sunrise di Bunker Kaliadem. Sudah banyak jeep warna-warni parkir di sana. Nampaknya banyak juga yang ingin melihat ufuk pagi di sini. Aku tak berharap banyak karena kabut tebal yang menutup Gunung Merapi dan matahari malu-malu menampakkan rupanya. 

Sunrise di Bunker Kaliadem.

Aku melihat tulisan Bunker Kaliadem itu tapi tak sempat melihatnya lebih dekat karena saat itu pengunjung ramai sekali. Padahal di sini menjadi salah satu tempat foto yang bagus dengan latar Gunung Merapi jika tak tertutup kabut. Kawasannya sejuk, letaknya menjorok ke dalam seperti ruang bawah tanah dan terlihat kokoh. Bunker Kaliadem ini dulu digunakan untuk mengamati aktivitas Gunung Merapi saat erupsi.

Sempat juga dijadikan tempat berlindung dari erupsi, namun pada akhirnya Bunker Kaliadem tak dapat menahan letusan Gunung Merapi sejak terjadi longsoran lava yang memakan korban. Konon menjelang malam, suka terdengar tangisan yang diduga korban letusan Gunung Merapi pada saat itu. 

Gunung Merapi yang tertutup kabut.

Tak jauh dari situ, kami menuju tempat penambangan batu bara. Di sana juga ada batu besar yang terlihat seperti muka manusia, namanya Batu Alien. Awalnya aku mengira ini batu biasa saja, tapi jika dilihat dari depan agak serong memang terlihat seperti muka alien. Batu Alien ini terbentuk dari bongkahan batu vulkanik yang berasal saat Merapi meletus saat itu.

Batu Alien

Museum Sisa Hartaku, Saksi Letusan Merapi

Setelah itu, kami menuju Museum Sisa Hartaku. Tempat ini adalah rumah warga yang dulu terkena erupsi Merapi yang kini dijadikan museum. Museum Sisa Hartaku menceritakan erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam. Terlihat porak poranda dan benar-benar menggambarkan sisa harta masyarakat saat erupsi terjadi.

Museum Sisa Hartaku.

Museum Sisa Hartaku menjadi saksi dan bukti letusan Merapi. Pada saat itu, rumah yang kini menjadi museum ini dilewati aliran wedhus gembel. Beberapa perabot rumah terlihat diselimuti abu vulkanik. Di dalam rumah itu juga masih ada jam dinding yang terpajang, yang menunjukkan jam letusan saat menerjang rumah ini. Selain itu ada juga kerangka tulang kerbau, sapi, motor, dan properti lain yang masih tersisa walaupun sudah leleh dan sudah tak sesuai bentuknya.

Bukti waktu letusan Merapi.

Melewati Kali Kuning

Spot terakhir kami adalah melintasi Kali Kuning. Kali Kuning adalah aliran sungai dilewati aliran lahar dari Merapi. Area ini sebenarnya tak terlalu luas, namun biasanya sebelum kembali ke basecamp bisa melalui jalur ini. 

Beberapa jarak sebelumnya, pak supir sudah memberi tahu untuk mengamankan barang-barang elektronik karena akan melintasi medan air. Aku dan teman-temanpun siap memakai jas hujan, terutama melindungi kamera. Sekali lagi, kami memberi tahu supir bahwa kami tidak ingin basah-basahan.

Tapi nampaknya pak supir tak terlalu menghiraukan kami dan seketika jeep melintasi Sungai Kuning, "Byaaaarrr!!!"

Kami basah perlahan, sembari sibuk pegangan erat, menjaga tas agar tidak basah, dan tak lupa teriakan kencang kami yang tak henti selama jeep melintasi Sungai Kuning.

"Semoga ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan ya mba. Maaf kalau saya ada salah." kata pak supir.

Oke pak, memang ada benarnya juga bahwa Pengalaman Merapi Lava Tour ini tak terlupakan. Dalam perjalanan, kami berbincang dengan pak supir. Beliau menceritakan bahwa rata-rata yang bekerja di sini adalah mereka yang dulu pernah menjadi korban Merapi Lava Tour.

Terima kasih pak untuk kenangannya.

Setibanya kami di basecamp lagi, kami langsung mengganti pakaian. Kami membatalkan itinerary ke Museum Ullen Sentalu karena kami basah luar dalam. Akhirnya kami kembali dulu ke guesthouse untuk membersihkan badan dan mengganti itinerary. Kadang memang apa yang kita sudah rencanakan tak selalu berjalan dengan lancar, tapi selalu ada momen tak terlupakan. Suatu saat nanti, aku ingin kembali lagi ke sini, melihat Merapi yang gagah dan menyusuri rute wisata lereng Merapi yang lebih panjang.
_____

Tips:
- Memakai jaket windbreaker dan kacamata.
- Menggunakan buff atau masker (karena jalanan banyak debu)
- Membawa drybag untuk menyimpan peralatan elektronik.
- Membawa pakaian ganti luar dan dalam.
- Membawa obat masuk angin dan P3K.
- Cek cuaca agar mendapatkan panorama terbaik.
- Tanya tour operator untuk memilih jeep tertutup atau terbuka.

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Zaman dulu banget pernah ke bekas erupsi Merapi dan jujur, merinding abis. Waktu itu ke sana bareng temen-temen, jalan sendiri, soalnya belum ada tur semacam ini. Dulu tuh rencananya pengin ngejer sunrise di ketinggian eh apa daya malah ketutupan kabut. Haha. Pengin deh cobain Merapi Lava Tour habis pandemi nanti.

    - Sintia (www.sintiaastarina.com)

    ReplyDelete