Showing posts with label Papua. Show all posts

Mengenal Pala Negeri Fakfak Papua Barat dan Produk Olahannya

Buah Pala Negeri Fakfak Papua Barat.

Selamat datang di Kota Pala, Fakfak Papua Barat! 


Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Kota Pala Fakfak. Perjalanan dari Sorong ke Fakfak ditempuh dalam waktu 50 menit menggunakan pesawat ATR. Kami mendarat di Bandara Torea yang ternyata memiliki runway pesawat ekstrem dan pendek. Fakfak merupakan kabupaten tertua di Papua, yang juga menjadi kota terdingin di Papua Barat. Kondisi geografisnya berbukit-bukit seperti di Busan Korea atau Hongkong katanya. Tapi kontur seperti ini yang juga membuat Buah Pala tumbuh baik di sini. 

Pala Fakfak disebut juga Pala Negeri, masyarakat lokal menyebutnya dengan Hanggi. Pala Negeri merupakan komoditas unggulan yang ada di sana. Ternyata selain di Banda Neira, Pala juga tumbuh baik di Fakfak. Tentu ada pembeda antara Pala Negeri dan Pala Banda. Katanya penyebaran biji pala di Fakfak ini disebarkan secara alami oleh burung pemakan pala bernama Julang Papua/Rangkong Papua. 


Buah Pala Negeri terlihat lebih besar dan lonjong, sedangkan buah Pala Banda terlihat lebih kecil dan bulat. Sekilas saya mengiranya seperti buah kemang atau matoa. Namun pada bagian dalamnya tetap sama yaitu memiliki buah, biji, dan fuli berwarna merah. Pala Negeri bisa dipanen saat buah terlihat berbintik. Kami diminta hati-hati saat memegang bagian tangkai pala yang ada getahnya karena jika terkena baju, akan timbul noda dan tidak bisa hilang.

Jika di Banda Neira aku melihat Pohon Pala memiliki pohon pelindung yaitu Pohon Kenari, saat di Fakfak aku melihat Pohon Pala Negeri berdiri sendiri dengan ukuran yang cukup tinggi. Bahkan menjadi pohon pelindung bagi tanaman di sekitarnya. Om Ekel berkata bahwa beliau memiliki Pohon Pala yang usianya sekitar 300 tahun dengan diameter pohon yang dapat dipeluk oleh tiga orang dewasa. Kebayang gak tuh besarnya?

Om Ekel sedang memetik Buah Pala Negeri.
Buah Pala Negeri yang sudah berbintik, siap untuk dikeringkan.

Buah Pala masih menjadi primadona hingga kini. Sebagian besar wilayah Kabupaten Fakfak merupakan hutan pala. Pala Negeri adalah Anugerah, setahun bisa mencapai tiga kali masa panen. Pamor Pala Negeri bahkan membuatnya menjadi ikon logo daerah Kabupaten Fakfak.

Buah Pala diambil menggunakan alat panjang terbuat dari bambu air yang disebut dengan hangkan dalam bahasa Fakfak. Semua bagian buah dapat dimanfaatkan. Untuk memisahkan kulit dan buahnya, om Ekel membelahnya sesuai garis yang ada pada buah pala. Setelah dikeringkan, buah pala bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomis.

Biji pala dapat diolah menjadi bumbu masakan, minyak wangi, dan bahan pengawet. Bunga pala atau fuli yang berwarna merah dapat digunakan untuk bumbu masakan dan bahan kosmetik. Sedangkan daging buahnya bisa diolah menjadi sirup, sari buah, manisan, dan kecap.


Bersama om Ekel di Kebun Pala.

Beberapa hasil olahan Buah Pala Negeri juga masuk dalam Nominasi Anugerah Pesona Indonesia tahun ini, yaitu Parfum Rempah Myristica Botanica untuk kategori Cenderamata dan Sari Buah Pala untuk kategori Minuman Tradisional. Semua produk diinisiasi dan dibuat oleh masyarakat lokal Fakfak.

Dukung produk wisata dari Fakfak dengan cara SMS ketik API 6H (untuk Parfum Rempah - Kategori Cenderamata) dan ketik API 2H (untuk Sari Buah Pala - Kategori Minuman Tradisional) lalu kirim ke 99386. 
Nominasi API Award 2022 dari Kabupaten Fakfak.
Oleh-oleh dari Fakfak. Beberapa diantaranya hasil olahan buah pala.

Pala Negeri memiliki potensi ekonomi yang besar sebagai produk unggulan. Jika berkunjung ke Negeri Pala Fakfak, jangan lupa menikmati hasil olahan Pala Negeri ya. Yuk kita dukung produk lokal dari Fakfak Papua Barat.

Updated:
  • Sari Buah Pala menjadi Juara 2 API Award 2022 kategori Minuman Tradisional
  • Parfum Rempah Myristica Botanica menjadi Juara 2 API Award 2022 kategori Cenderamata
  • Pala Negeri featured on National Geographic Indonesia. (link)

__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Merajut Rasa Timur Indonesia dalam Econusa Outlook 2022

Opening Ceremony. Tarian oleh Noken Lab.

Tahukah kamu kalau Indonesia memiliki salah satu hutan tropis terluas di muka bumi ini? Tutupan hutan tropis terbesar ada di wilayah timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua. Tanah Surga, katanya. Julukan yang menggambarkan betapa indahnya Negeri itu. Timur Indonesia memiliki segudang keindahan alam dan budaya yang sangat memikat. Namun tanah surga itu juga memiliki ancaman terhadap alam yang terus ada. 

Perjuangan dan semangat menyelamatkan Tanah Surga ini dipaparkan dalam Econusa Outlook 2022 yang mengangkat teman "Rasa Timur". Outlook artinya melihat ke depan tapi juga belajar dari pengalaman masa lalu. Outlook Econusa bertujuan mengenalkan program Econusa kepada publik dan menjaga relasi dengan mitra strategis untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan.

Tanah Surga tak terlepas dari problematika deforestasi yang mengancam alam dan hak masyarakat adat. Bagi masyarakat Tanah Papua dan Kepulauan Maluku, hutan adalah ibu, yang memberi kehidupan. "Masyarakat bergantung dengan alam, mereka mencari sumber pangan dari hutan", ujar Dr. Johny Kamuru, Bupati Sorong Provinsi Papua Barat. Namun jika hutan itu habis, dimana mereka (dan kita) mendapat makanan? Jika dipikir-pikir, apa yang kita konsumsi sekarang berasal dari alam toh, hasil dari hutan dan laut?


Di sini peran Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan (Econusa Foundation) hadir untuk membantu pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan, dengan mendorong pembangunan dan pengembangan masyarakat adat. Econusa menjembatani komunikasi antara pemangku kepentingan di wilayah timur Indonesia, yaitu Papua Barat, Papua, Maluku, dan Ternate.


Ibu Amalia Adininggar Wisyasanti, Deputi Bidang Ekonomi menceritakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 didorong oleh Indonesia bagian timur yaitu Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. Provinsi Maluku dengan pertumbuhan investasi dan ekspor produk nikel dan turunannya. Sedangkan Tanah Papua dengan investasi dan produksi emas dan tembaga.

Pada tahun 2022, Indonesia akan memaksimalkan pertumbuhan ekonomi antara lain dengan pemulihan daya beli dan usaha, peningkatan pemerataan infrastruktur dengan layanan digital, ketahanan pangan, serta pembangunan rendah karbon. Hal ini diupayakan untuk menekan laju perubahan iklim dengan komitmen ekonomi hijau, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan.

Merajut Rasa Timur, Beradat Jaga Hutan dan Laut


Keanekaragaman hayati di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku tak hanya terletak pada tutupan hutan tropis yang menjadi sumber kehidupan manusia, tapi juga terletak di lokasi strategis coral triangle atau segitiga terumbu karang. Hal ini menjadi rumah bagi banyak spesies terumbu karang yang otomatis membuat daerah tersebut memiliki komoditas ikan yang berlimpah.

Bustar Maitar, CEO Econusa.

Ekosistem hutan dan laut Indonesia berperan dalam menyeimbangkan iklim di dunia. Bustar Maitar, CEO Econusa bercerita mengenai pengelolaan sumber daya alam dan ketahanan iklim di Indonesia Timur. Masyarakat adat mengelola Sumber Daya Alam untuk keberlangsungan hidup. Krisis yang kita hadapi saat ini tidak hanya pandemi ini, melainkan krisis iklim. Percaya atau tidak, apa yang kita lakukan sekarang akan berdampak untuk kehidupan kita mendatang?

"Kita harus merasakan apa yang masyarakat adat rasakan", sebutnya. Rasa Timur yang ingin disampaikan di sini adalah rasa untuk menjaga hutan dan laut di Timur Indonesia sebagai benteng terakhir hutan alam luas yang tersisa di Indonesia untuk memerangi krisis iklim. Indonesia adalah negara yang berbudaya dan beradat, hal itu harus dipertahankan untuk membangun sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan. Untuk itu, kita sebagai manusia yang memiliki adat wajib menjaga alam; hutan, dan laut. 
Imagine a fish without water, imagine a world without trees. Can we survive?
Saya selalu ingat cerita fakta tentang salju terakhir di Pegunungan Jayawijaya. Salah satu gambaran nyata yang wajib kita ketahui bahwa dulu salju menyelimuti hampir semua pegunungan itu, tapi tahun demi tahun, perubaham itu nyata. Salju satu-satunya di Indonesia itu menipis. Hal ini menggambarkan bahwa lambat laun bumi ini akan habis termakan waktu jika kita acuh. 

Dr. Johny Kamuru, Bupati Sorong.

Dalam Econusa Outlook ini, Dr. Johny Kamuru bercerita tentang Komitmen Perbaikan Tata Kelola Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit dan Perlindungan Masyarakat Adat di Kabupaten Sorong. Dulu saat dirinya menjabat sebagai Kepala Distrik Sayosa, Pak Johny merasakan sendiri saat beliau harus berjalan kaki sekitar 9 jam karena sulitnya akses transportasi di wilayah itu.

"Saya melihat kayu besar, pemandangan yang indah, pepohonan, apa hutan ini masih ada sampai nanti?", katanya saat itu. Kalimat yang paling saya ingat, beliau mengatakan bahwa di Tanah Papua, kita tidak butuh orang dengan kata-kata yang kuat, tapi hati yang kuat, tulus, dan mau melayani. Hati saya bergetar, rasa (timur) itu sampai di hati. 

Lalu saat menjabat sebagai bupati, beliau turut hadir dalam sidang gugatan untuk membela masyarakat, mencabut izin perusahaan yang tidak dikelola dengan baik, agar jangan sampai dikorbankan karena keuntungan perusahaan semata. Bersama dengan itu, Econusa juga pendampingan dan proses evaluasi terhadap perizinan perkebunan kelapa sawit agar masyarakat mendapatkan hak kelolanya. 

Meningkatkan Potensi Sumber Daya Alam dan Kapasitas Sumber Daya Masyarakat 


Tanah Papua dan Kepulauan Maluku mempunyai potensi sumber daya alam yang besar. Oleh karena itu, Econusa turut mendukung dengan bekerjasama dengan mitra strategis, melakukan advokasi kebijakan, serta mendorong kapasitas masyarakat agar lebih mandiri sehingga tidak mudah menyerahkan tanahnya begitu saja kepada pihak luar. 

Pdt. Batseba Reyna Tuasela.

Salah satu potensi itu ada di Distrik Muting Kabupaten Merauke. Di sana ada Sungai Bian yang terkenal dengan adanya potensi ikan arwana, kakap, mujair, dan gastor (gabus toraja). Gereja Protestan Indonesia Papua Muting (GPI Papua Muting) berkolaborasi dengan Econusa memberdayakan umat dalam Program GERMAS (Gerakan Masyarakat) untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Pdt. Batseba Reyna Tuasela dari GPI Papua Muting menceritakan pentingnya mengelola Sumber Daya Alam untuk masyarakat Papua. Mereka memberikan pelatihan berupa skill membuat abon ikan kakap, mujair, dan gastor di Kampung Waan, Pachas, dan Tanas.

Lalu mengadakan pelatihan tentang higienitas dan kemasan, hingga pemasaran secara offline maupun online. Fyi, ternyata ikan gastor adalah ancaman/predator ikan arwana. Tapi justru melalui pelatihan ini, ikan gastor diubah menjadi abon yang memiliki nilai jual.

Kembali ke 'Rumah' Membangun Papua


"Papua itu luas sekali, di Teluk Arguni Kaimana, Pala menjadi sumber penghidupan masyarakat", kata kaka Yulince Zonggonau. Beliau lulusan fakultas pertanian Universitas Brawijaya, pulang kembali untuk membangun Papua. Kaka Yuli mendampingi masyarakat di Distrik Arguni Kaimana, yaitu Kampung Manggera, Kampung Kufuriyai, Kampung Egarwara, dan Kampung Wermenu, dalam melakukan budidaya tanaman.

Yulince Zonggonau.

Kaka Yuli mengembangkan padi organik dengan teknik argoforestry, membantu masyarakat mengelola komoditas kopi dan pala yang banyak tumbuh di wilayah itu. "Tanaman juga butuh makanan" sebutnya. Oleh karena itu, dengan bekal sebagai lulusan pertanian, beliau mengajarkan masyarakat proses budidaya yang baik, seperti mempraktekkan cara memberi pupuk pada tanaman kopi dan pembuatan pupuk organik. Beliau mengatakan bahwa sedang dilakukan kembali, penanaman 1 juta pohon di Kabupaten Paniai dan sudah ada 24 distrik yang sudah terlibat.

Saya tak menyangka bahwa pala juga menjadi komoditas unggulan di Kaimana. Kaka Yuli menceritakan tentang Sasi Pala yang akan diberlakukan kembali. Sasi merupakan adat khusus, larangan untuk mengambil hasil sumber daya alam tertentu dalam kurun waktu tertentu demi menjaga kelestarian alam. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat memanen pala saat waktunya sehingga kualitas lebih bagus dan harga jual yang lebih tinggi. Bersama Econusa juga memberikan pendampingan dengan pelatihan budidaya, pembuatan rumah pengering, hingga pemasaran.

Melestarikan Identitas Budaya


Pada acara Econusa Outlook 2022, Bapak Sjamsul Hadi, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat memberikan apresiasi kepada Econusa dan para mitra atas program dan komitmen dalam upaya pengembangan sumber daya alam yang berkelanjutan, perlindungan hak masyarakat adat, dan gerakan yang melibatkan anak muda melestarikan alam dan budaya.

Bapak Sjamsul Hadi bersama Kemendikbud berencana untuk mendirikan sekolah adat di Kampung Malaumkarta, Sorong. Sebelumnya, sekolah adat sudah ada di Kampung Hobong, Jayapura. Keberadaan sekolah adat menguatkan kearifan lokal, peduli lingkungan, melestarikan budaya, agar tidak tergerus oleh zaman. 

Pihaknya juga mengatakan ada sepuluh kegiatan yang akan menjadi agenda prioritas, antara lain pemberdayaan pemuda, pengembangan rumah baca di Kampung Yoboi dan menciptakan kreativitas seperti pembuatan baju noken yang ada di Wamena. Kita seharusnya bangga karena Noken masuk dalam warisan budaya tak benda oleh UNESCO, terlebih noken memiliki makna yang dalam dan menjadi identitas.

Bapak Sjamsul Hadi, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat.

Manusia dan alam memiliki ikatan yang kuat, semua tentang rasa. Satu kata berjuta makna yang membuat saya semakin cinta Timur Indonesia. Semua yang dilakukan harus dengan hati. Kisah dari para narasumber yang sangat menggugah, bercerita dengan rasa, dengan hati yang tulus untuk membangun tanah kelahiran. 

Setiap kita memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian alam di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. Semangat merajut Rasa Timur terus dilakukan, salah satunya melalui kampanye Defending Paradise. Econusa mengajak kawan-kawan semua untuk menyuarakan pentingnya menjaga hutan tropis, ekosistem laut, serta perlindungan hak masyarakat adat di Tanah Papua dan Maluku. Mari berkontribusi di sini dalam merajut Rasa Timur Indonesia. 

Now, it's your turn. Photo by Moch. Fikri
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

PON XX Papua, Harapan Baru dari Timur Indonesia Kenalkan Wisata Melalui Olahraga

Perhelatan Pekan Olahraga Nasional Terbesar di Indonesia ke-20 tahun 2021 akan segera dilaksanakan. Saya senang sekali PON XX diadakan di Papua, karena ini adalah momentum yang sangat tepat untuk menunjukkan kepada dunia akan segala keindahan yang ada di Bumi Cendrawasih. PON XX Papua mendorong segala daya tarik dan potensi bak Mentari Harapan Baru dari Timur Indonesia.

Saya ingat waktu berkunjung ke salah satu rumah di Kampung Yoboi, Distrik Sentani. Kami disambut sangat hangat oleh mama dan disediakan makan yang banyak sampai perut sudah kenyang sekali. Saya rindu kembali ke Papua, menyingkap berbagai pesonanya yang tak ada di belahan dunia manapun.

Saat berada di Kampung Yoboi.

Papua sebagai tuan rumah PON XX tahun 2021 sudah melakukan persiapan baik meskipun di tengah pandemi, dari segi infrastruktur hingga kualitas atletnya untuk memberikan yang terbaik. Tentu dengan ada kegiatan olahraga skala nasional empat tahunan ini, adalah ajang unjuk gigi bagi Papua untuk dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia dari berbagai industri. 

Kenalkan Wisata Melalui Olahraga


Banyak destinasi wisata Papua yang masih ada dalam daftar perjalanan saya. Mungkin tak cukup hanya 2-3 kali berkunjung, selalu ada alasan untuk kembali. PON XX Papua tahun ini memang spesial dengan memadukan alam dan mengenalkan wisata melalui olahraga. Hal ini mendukung suasana pertandingan menjadi semakin menarik. 

 Kenalkan wisata eksotis melalui PON XX Papua.
 
Pesta olahraga terbesar di Indonesia ini, menggelar 37 cabang olahraga yang akan dipertandingkan di empat kabupaten yang menjadi tuan rumah, yaitu Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Mimika. Lokasi pertandingan PON XX Papua bisa ko lihat juga di sini. 

Cabang olahraga apa favoritmu?

"Ko sudah ke Raja Ampat?" kata teman saya waktu itu.

Kalau itu, saya juga ingin sekali ke Raja Ampat dan menyelami keindahan bawah lautnya yang mendapat predikat sebagai "5 Destinasi Selam Terbaik Dunia 2020" dari Dive Magazine, majalah selam asal Inggris. Tapi lebih dari itu, Papua memiliki segudang wisata alam dan budaya yang wajib dikunjungi.

Sebut saja antara lain; Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Danau Love, Festival Lembah Baliem, Festival Ulat Sagu,  Hutan Perempuan, Bukit Tungkuwiri, Bukit Jokowi, Pantai Hamadi, dan salah satu yang menjadi bucketlist saya adalah mengunjungi Taman Nasional Lorentz.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengatakan bahwa PON XX Papua diselenggarakan bersamaan dengan Festival Danau Sentani. Pelaksanaanya bertujuan agar wisatawan yang datang, tidak hanya datang untuk mengikuti atau mendukung pertandingan, tapi juga bisa menikmati wisata Papua mengingat secara geografis pelaksanaan PON pertama kali digelar di ujung Timur Indonesia.

Festival Danau Sentani

Pemerintah dan masyarakat juga sudah menyiapkan paket tur wisata seperti; wisata pantai, hutan, kuliner, kerajinan tangan. Pokoknya pulang-pulang ko bisa bawa kenangan. Biasanya di festival budaya seperti ini, para mama suka menjajakkan hasil kerajinan tangan, seperti; noken, produk olahan sagu, kopi, dan hasil hutan non kayu lainnya. Jika ko berkunjung, jangan lupa beli hasil tangan buatan mama ee!

Pertahankan Identitas, Lestarikan Alam dan Budaya


Papua memiliki hutan yang masih rapat tutupan hijaunya. Keberadaannya menjadi garda terakhir dan harapan dari Timur sebagai salah satu hutan hujan di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Bahkan pada tahun 2015, Papua Barat pernah dinobatkan sebagai Wilayah Konservasi Dunia. 

Hutan Papua tak terlepas dari peran masyarakat setempat karena dari sana tradisi dan praktik menjaga hutan lahir. Mereka hidup berdampingan dengan alam dan mengambil secukupnya dari alam. Hutan Papua juga menjadi rumah bagi satwa endemik dan spesies burung unik seperti Kangpho dan Drawa, si maskot PON XX Papua. 

Kangpho dan filosofi atributnya.

Kangpho diambil dari nama Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus). Banyak orang mengira kanguru hanya ada di Australia, tapi kanguru jenis ini ternyata hewan khas Papua lho! Seperti kanguru pada umumnya, kanguru pohon mantel emas juga memiliki kantung di perutnya. Uniknya kanguru ini banyak melakukan aktivitas di atas pohon dan ke tanah saat hendak mencari air minum.
PON XX Papua 2021 menjadi momentum untuk menunjukkan Identitas Papua kepada dunia yang menjadi harapan baru dari Timur Indonesia.
Pada tahun 2015, The International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa kanguru pohon mantel emas masuk dalam kategori kritis. Semoga dengan adanya Kangpho sebagai maskot PON XX Papua, bisa melindungi satwa endemik ini dari kepunahan.

Drawa dan filosofi atributnya.

Sedangkan Drawa merupakan nama burung sakral di Papua, yaitu Cendrawasih (Paradisaeidae raggiana). Indonesia memiliki 41 spesies cendrawasih dan 37 spesies diantaranya ada di Papua. Cendrawasih merupakan satwa dilindungi, namun kita bisa menikmati keindahannya melalui ekowisata Bird Watching yang dikelola secara lestari oleh masyarakat. Misalnya di Bird Watching Isio Hill's, kita bisa memantau burung cendrawasih dan juga berbagai jenis burung lainnya. 

Maskot PON XX Papua 2021 didesain dengan atribut khas yang memiliki makna sportifitas, solidaritas, dan nasionalisme. Boneka maskot Kangpho dan Drawa akan diberikan untuk para atlet dan bisa menjadi buah tangan untuk para tamu.

Bersama Papua Jungle Chef, kaka Chato.

Selain satwa endemik, hutan papua menyimpan bahan pokoknya. Pernah ko datang ke restoran tengah hutan? Semua media masak dan bahan makanannya berasal dari alam. Saat sa tiba di Ungkea Jungle Resto, kaka Chato (Charles Toto) menyambut kami dengan memberikan teh hangat dengan cangkir yang terbuat dari batok kelapa. Kaka Chato, Papua Jungle Chef yang membawa nama Papua di kancah internasional. Beliau pernah ke Italia untuk memperkenalkan sagu sebagai identitas orang Papua. 
Sagu bukan hal baru tapi masyarakat harus tahu bahwa sagu adalah komoditi yang sangat penting bagi Papua.
Begitu banyak olahan sagu yang menjadi bahan utama kuliner Papua. Misalnya Papeda, Sagu Sep yang seperti pizza, dan lain-lain. Konon sagu menjadi salah makanan atlet untuk menambah stamina lho! Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada jurnal PubMed terhadap delapan atlet sepeda, para responden yang menyantap bubur sagu setelah berolahraga selama 15 menit, mengalami peningkatan performa 4% pada sesi berikutnya.

Bibit Unggul Harumkan Indonesia


Papua melahirkan anak-anak cerdas dari berbagai bidang. Tak hanya memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah, Papua juga memiliki Sumber Daya Manusia yang berpotensi. Papa saya seorang dosen dan pernah mengajar anak-anak Papua untuk mengikuti olimpiade sains di Jerman. 
Sa bisa bilang orang Papua pu hati baik sekali. Sa ingat waktu itu papa kehilangan ade saat mengajar, murid-muridnya samua datang melayat. Padahal belum kenal lama, tapi dorang su anggap sa pu papa seperti keluarga. 
Papa bersama anak-anak Papua

Papua melahirkan bibit unggul yang mengharumkan nama Indonesia, seperti; Michael Jakarimilena, yang menyuarakan Papua dan Indonesia lewat suara emasnya. Belum lama, kaka Michael merilis albumnya dengan lagu Sajojo di Amerika Serikat. Lalu, Olvah Alhamid menjadi 5 Besar Puteri Indonesia Papua Barat 2015 dan menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang Miss Eco Universe 2016 di Mesir.

Tak terkecuali, Papua juga melahirkan atlet-atlet berprestasi yang sudah megharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Sebut saja; Raema Lisa Rumbewas, seorang atlet angkat besi yang sudah mencetak banyak prestasi dengan meraih medali perak di Olimpiade Sydney 2000, medali perak di Olimpiade Athena 2004, medali perak di Kejuaran Dunia Angkat Besi di Republik Dominika pada tahun 2006. Nah ternyata darah atlet kaka Lisa berasal dari papanya yang seorang binaragawan dan ibunya yang juga seorang atlet angkat besi. 


Para atlet kebanggan Papua kini siap berlaga di PON XX Papua pada 2-15 Oktober 2021 mendatang. Vaksinasi menjadi syarat wajib bagi seluruh atlet dan individu yang terlibat. Waktunya Papua bersinar bagai mentari dari Timur untuk menjadi yang terbaik, siap berkompetisi secara sehat dan berprestasi.

PON XX Bangkitkan Sarana dan Infrastruktur di Papua


Sebagai simbol wadah pemersatu, pembangunan infrastruktur dilakukan pada Stadion Lukas Enembe yang terletak di Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur Jayapura dengan latar Pegunungan Cyclops di bagian utara dan Danau Sentani di bagian selatan. Desain stadion bagian depan terinspirasi dari motif khas Papua lho!

Stadion Lukas Enembe memiliki lapangan dengan standar internasional FIFA dan lintasan atletik bersertifikasi IAP merupakan stadion termegah ke-2 di Indonesia setelah Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta. Selain itu, stadion ini juga masuk dalam Nominasi Stadion Terbaik Dunia 2019 yang diselenggarakan oleh media online Polandia, StadiumDB.com. 

Stadion Lukas Enembe bernuansa alam, akan menjadi venue opening dan closing ceremony PON XX Papua.
Sumber foto: Presiden Joko Widodo
Stadion Lukas Enembe yang megah berkelas dunia.

Salah satu venue yang juga membuat saya terpukau adalah venue aquatic yang terletak di Istora Papua Bangkit. Terlihat kolam renang terbuka dengan pemandangan hijau bukit nan elok. Selain itu, Field of Play (FOP) arena aquatic sudah memperoleh sertifikat dari Federasi Renang Internasional (FINA) dan telah memenuhi standar Olimpiade. 

Tak hanya itu, Istora Papua Bangkit mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk 3 kategori, yaitu Struktur Atap Baja Lengkung dengan Bentang Terpanjang, Atap Dome Terluas Tanpa Baut, dan Instalasi Textile Duct dengan Ring Internal Terpanjang. Wow!

Selain pembangunan venue, ada pembangunan enam rumah susun untuk wisma atlet di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Merauke. Untuk mendukung mobilitas transportasi juga telah diselesaikan pembangunan Jalan Telaga Ria–Khalkote–Dapur Papua sepanjang 5,16 km, serta peningkatan Jalan Merauke–Kuprik–Tanah Miring sepanjang 7,36 km untuk mendukung kegiatan cabang olahraga balap motor. 


Kementerian perhubungan juga akan menyediakan 428 bis untuk mobilitas para atlet, panitia, dan official crew. Setelah PON berakhir nanti, bis akan digunakan untuk angkutan umum/angkutan perintis yang mendukung transportasi serta distribusi logistik di Papua.

Semoga dengan pembangunan infrastruktur ini dapat mendongkrak perekonomian dan kelak stadion ini bisa menjadi tuan rumah olimpiade, setuju to? Sa punya harapan besar untuk Papua dalam PON XX Papua. Semoga banyak potensi terkuak dari masyarakat Papua, semakin banyak orang bangga dan sayang Papua.

Sesuai dengan logo PON XX Papua 2021 yang menyimpan makna mendalam untuk menggali prestasi, sportifitas, dan solidaritas, berpadu dengan simbol kekayaan alam di Papua, PON XX Papua diharapkan juga mampu memajukkan industri pariwisata berkelanjutan. 
PON XX Papua su siap menyambut para atlet dan wisatawan, ko siap? Mari kitong dukung bersama dan kobarkan semangat sportifitas di PON XX Papua 2021. Torang Bisa! 
Jangan lupa ikuti perkembangan PON XX Papua 2021 di media sosial:
#PondemiKompetisiBlog #PONDEMI #MentariHarapanBaruDariTimur


...

Keep in Touch
Thanks for reading!


Sumber Referensi Tulisan:
  • https://travel.okezone.com/read/2020/11/27/408/2317176/sabet-penghargaan-destinasi-selam-terbaik-dunia-ini-5-spot-diving-mengagumkan-di-indonesia
  • https://www.pu.go.id/index.php/berita/jelang-pon-xx-papua-kementerian-pupr-venue-siap-digunakan-untuk-pertandingan-bertaraf-internasional
  • https://travel.okezone.com/read/2021/03/27/408/2384957/jelang-pon-papua-2021-pantai-khalkote-danau-sentani-bersolek
  • https://www.papuatoday.com/2019/12/09/bupati-awoitauw-pon-papua-bersamaan-festival-danau-sentani
  • https://beritabeta.com/mau-sehat-ayo-makan-sagu-ini-khasiat-dan-manfaatnya
  • https://www.mongabay.co.id/2021/06/28/kangpho-dan-drawa-maskot-pon-xx-yang-endemik-papua/
  • https://phinemo.com/wwf-bantu-masyarakat-adat-kembangkan-bird-watching-isio-hills-di-jayapura/

Join Over 75k + Subscribers