featured Slider

Featured Post

Di Rumah Aja karena Pandemi Corona, Ngapain? | The New Normal

Sebagai pekerja lepasan alias freelance, sebenarnya saya sudah terbiasa untuk Work From Home (WFH). Paling yang berbeda, biasanya saya mendatangi beberapa event namun hal tersebut harus ditunda atau malah dibatalkan. Tapi syukurnya, saya masih dapat job yang dari rumah. Tak terasa memang sudah hampir 3 bulan di rumah saja.
There's always a good things in bad things. 
Semua orang dan sektor terkena imbas virus Corona. Gerak kami jadi terbatas. Karantina, isolasi diri, social distancing, dan apalah itu sebutannya, memang membuat kita menjadi bosan di rumah. Tapi saya cari kegiatan supaya gak bosan di rumah. Saya menyadari bahwa waktu di rumah adalah waktu yang berharga. Ketika di rumah aja ini, saya lebih menyadari spot-spot di rumah yang biasanya terlihat biasa saja, ternyata bagus juga.

1. Staycation di Rumah sama Suami
Kalo lagi gak jalan-jalan, saya (terlebih pak suami) lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Banyak juga ternyata yang bisa kami lakukan, nonton film dan masak bareng. Mampir juga ya ke channel youtube kami. Hihi.

2. Menikmati Langit biru dan awan gremet-gremet yang saya rindukan
Setidaknya kualitas udara di bumi membaik dan polusi udara berkurang. Entah kenapa setiap pagi saya selalu lihat jendela dan menantikan cuaca cerah yang membangkitkan semangat. Ketika lamgit biru atau senja, saya langsung keluar rumah untuk berfoto dan menikmatinya.

Let earth take a breathe for a while


3. Ikut Kelas/Workshop Online/Live Instagram
Sejak pandemi ini, banyak sekali kelas onlije atau workshop, live instagram, dan semacamnya yang diadakan secara gratis. Aku tak mau menyia-nyiakannya. Beberapa kelas yang aku ikuti seperti  "How to Document Your Traveling Photo like a Pro" dari Kadek Arini dan Astra Life, "Dari Blogging jadi Cuan" dari Satya Winnie dan Sisternet.

4. Nonton Korean Drama
Dulu itu aku seneng banget nonton Korea, sampe akhirnya nabung buat ke Korea karena mau lihat salju di sana. Tapi lama-lama udah gak nonton. Beberapa film yang aku rekomendasikan yaitu; Crash Landing On You, Wok of Love, Chocolate, Itaewon Class, The World of Marriage Couple (yang paling bikin palaku pening dari episode pertama). Review film bakal ku ulas terpisah ya.

Kalau dulu nonton Korea di TV Kabel seperti S-One, sekarang aku jadi suka nonton Korea dari Netflix dan Viu. Yaampun ternyata nonton drama series Korea begini bikin nagih. Kudu set timer biar gak lupa waktu. Haha.

5. Buka Usaha 
Salah satu makanan favoritku itu Gyoza dan karena lagi kangen dan kepengen banget ke Jepang entah kenapa aku iseng bikin gyoza dan coba memasarkannya. Puji Tuhan, dapat support dan ada aja yang beli tiap kali pre-order. Sebenernya dulu aku punya usaha bikin desserts namanya Salty Sweets. Tapi akhirnya gak kepegang karena sibuk kerja kantoran. Will juga punya usaha baru namanya Insta Repara, kepoin juga ya!

6. Virtual Photoshoot and Video Shoot
Secara sadar atau tidak, kita didorong menjadi lebih kreatif supaya gak bosan dan rebahan teruz. Selama di rumah aja, aku dan teman berkolaborasi untuk membuat virtual photoshoot dan virtual directing shoot. Lumayan sekali-kali mengabadikan momen ini di rumah aja. Hasilnya juga ternyata bagus banget!

7. Jadi Pembicara Talkshow Online
Awalnya aku sempat mikir, kenapa aku? Tapi aku harus menghargai diriku dan orang lain yang mengingatku. Aku hanya berbagi pengalamanku melalui media itu. Seorang aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi semoga kamu yang mendengarkannya saat itu bisa mendapat sedikit banyak manfaat ya!

Semua ingin kondisi kembali seperti semula, maka
dari itu setiap kita wajib berperan serta.
 
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Silaturahmi Tetap Asik Walaupun Tidak Mudik

Tak terasa sebentar lagi kita memasuki Bulan Ramadan. Tak sabar juga rasanya untuk mudik atau liburan bersama keluarga tercinta. Walaupun aku gak ikutan mudik, aku tetap ikut merasakan euforia lebaran di rumah. Apalagi dulu kalau Asisten Rumah Tangga (ART) pulang kampung alias mudik, aku selalu menantikannya kembali ke rumah karena Mba Sum (begitu aku memanggilnya) selalu membawa makanan oleh-oleh khas daerahnya dari Pacitan. Namun tahun ini, karena maraknya Virus Corona, Mba Sum akhirnya tak mudik.


Tunda Mudik Tahun Ini!

Siapa yang menyangka, saat Indonesia terkena Virus Covid-19 yang pada awalnya hanya 2 orang, saat saya menulis ini, jumlah kasus Virus Covid-19 di Indonesia sudah lebih dari 2.000 kasus! Masalah ini bukan hanya masalah satu negara saja, karena WHO sudah menetapkan status pandemi  (wabah penyakit global) untuk Virus Covid-19. Masa darurat virus Corona di Indonesia juga diperpanjang hingga akhir Mei 2020, yang artinya melewati masa lebaran.

Ciri-ciri dan Bahaya Virus Corona.
Tradisi mudik dalam rangka lebaran menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Tapi dalam kondisi seperti ini, kesabaran dan toleransi kita diuji. Himbauan dan keputusan untuk tidak mudik dan tidak piknik rasanya lebih baik demi kebaikan kita bersama termasuk demi kesehatan orang tua dan keluarga di kampung halaman. Loh kenapa?

1. Social dan Physical Distancing
Kita harus menjauhi kerumunan untuk sementara waktu (Social dan Physical Distancing) karena Virus Covid-19 bisa menyerang siapa saja, dimana saja, dan kapan saja melalui kontak fisik. Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak satu sama lain, setidaknya dua meter, dan hal tersebut sulit dilakukan terutama masyarakat yang mudik dengan transportasi umum. Saat dalam perjalanan, baik menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara, secara sadar atau tidak, kita bisa saja tertular virus Covid-19 karena banyak orang dalam suatu tempat.

2. Penyebaran Virus Covid-19 Terus Meningkat
WHO menyatakan 8 dari 10 orang yang positif Virus Covid-19 tidak merasakan gejala apa-apa. Tidak mudik bisa mencegah penyebaran Virus Covid-19 yang terus meningkat dari hari ke hari. Jika mudik, kita berpotensi menjadi pembawa virus (carrier) walaupun kita terlihat sehat-sehat saja. Bahkan Virus Covid-19 dapat menular melalui barang-barang yang kita bawa. Oleh karena itu penting untuk mencuci tangan dengan bersih, menggunakan masker, dan menyemprotkan disinfektan pada benda mati dalam upaya mengurangi penyebaran Virus Covid-19. Gak mau kan bawa oleh-oleh virus membahayakan ke kampung halaman?

3. Karantina Satu Bulan!
Seseorang yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) adalah yang bepergian atau berasal dari negara atau kota lain yang merupakan pusat penyebaran Virus Covid-19. Jakarta sudah memasuki zona merah Virus Covid-19. ODP harus dikarantina selama 14 hari dan setelah kembali ke perantauan harus karantina lagi 14 hari. Total karantina satu bulan lamanya! Bukankah jadi percuma jadinya jika ingin mudik jadinya malah diisolasi?

4. Menularkan Penyakit ke Kampung Halaman
Kita berpotensi menularkan Virus Covid-19 kepada keluarga yang lanjut usia, karena orang tua lebih rentan terkena virus ini. Bahkan bukan hanya keluarga, tapi juga berdampak satu kampung halaman. Belum lagi, jika terinfeksi fasilitas kesehatan di daerah belum tentu memadai. Rencana mudik yang mau bersenang-senang bersama keluarga malah bikin repot.

Lalu, ngapain dong #diRumahAja?

Presiden Jokowi sudah menghimbau berbagai kegiatan sebisa mungkin dilakukan di rumah, seperti bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Segala upaya dilakukan untuk menurunkan jumlah kasus Virus Corona di Indonesia. Aku percaya selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang ada. Saat di rumah aja, aku berpikir bahwa Virus Corona membuat kita lebih menghargai waktu, kesehatan, dan pertemuan. Virus Corona membuat kita lebih sadar kebersihan, memberi pelajaran untuk tidak serakah, dan mengajarkan kita untuk saling berbagi.
 

Bagi beberapa teman-teman yang introvert mungkin sudah lebih terbiasa dengan himbauan ini, namun bagi teman-teman yang ekstrovert, pasti rasanya agak gak betah ya di rumah aja. Tapi sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan kok walaupun di rumah aja. Misalnya: menonton film, membaca buku, memasak, dan olahraga. Lakukan kegiatan apa saja yang membuat kamu sehat dan bahagia!


Jangan bosan di rumah aja, karena kebosanan dan keadaan kita di rumah, mungkin adalah keinginan  dan kerinduan teman-teman yang gak bisa Work From Home (WFH) atau orang-orang yang selalu ada di garda terdepan seperti tenaga medis. Akupun punya sederet daftar tempat piknik yang ingin sekali didatangi. Aku juga sudah kangen jalan-jalan, tapi aku gak mau jalan-jalan sama Virus Covid-19. Jadi, mari kita bersabar supaya virus ini gak menyebar.


Silaturahmi Tetap Asik Meski Tidak Mudik

Menjaga jarak tak berarti terpisah. Bukti sayang keluarga saat ini adalah dengan Tidak Mudik dan Tidak Piknik karena kesehatan dan keluarga adalah harta yang paling berharga. Tapi tidak mudik bukan berarti tidak berkomunikasi dengan keluarga. Kita masih bisa memanfaatkan teknologi masa kini seperti; video call dan aplikasi zoom untuk melepas rindu, betul?
Kehadiran teknologi di zaman milenial setidaknya membantu kami melepas rindu lewat tatap layar kaca. Walaupun tak bertemu secara fisik, tapi doaku selalu ada untuk mereka. Menahan rindu memang berat, tapi jauh lebih penting melindungi kesehatan orang-orang tersayang. Liburan lebaran tahun ini, rasanya bukan momen yang pas untuk mudik atau piknik. Mari kita saling berdoa dan menguatkan agar keadaan kembali seperti sedia kala. 
Jauh di mata dekat di hati.
Small act, Big impact! Kita harus bekerjasama dan saling menolong untuk Indonesia pulih. Setiap kita berkontribusi agar rantai Corona terputus dan pandemi ini cepat berakhir. Stay healthy, stay at home, and stay productive! Yuk di Rumah Aja!


...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Wilayah Konservasi di tengah Deforestasi Hutan Papua

Papua itu Indonesia. Keindahan dan kekayaan alam Papua tak perlu diragukan lagi. Bahkan Papua menjadi wilayah konservasi dunia di tengah deforestasi dan eksploitasi hutan besar-besaran. Sebagai Warga Negara Indonesia, kita patut berbangga karena Papua Barat terpilih menjadi Provinsi Konservasi pertama di dunia!


Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan alam. Konservasi di Papua terdiri dari Taman Wisata Alam, Cagar Alam, Suaka Marga Satwa, dan Cagar Laut. Tujuan utama konservasi itu sendiri adalah pembangunan berkelanjutan, serta membantu melindungi sumber daya alam di darat maupun laut. Selain itu, dengan adanya konservasi juga menjadi standard bagi perusahaan atau industri yang hendak melakukan pembangunan agar tetap melestarikan alam dan penduduk lokal.

Hutan Papua Menjadi Konservasi Dunia.
Papua menyimpan banyak sekali sumber daya alam yang melimpah dan berbagai keanekaragaman hayati yang tidak dimiliki negara atau provinsi lain. Sebut saja, emas, perak, tembaga, minyak, batu bara, hingga hasil hutan yang begitu banyak. Bagi masyarakat Papua, hutan dan alam adalah investasi mereka, yang dapat memberikan manfaat berkelanjutan kepada generasi mendatang. 

Bagi masyarakat Papua, hutan adalah ibu yang memberi kehidupan. Itu sebabnya mereka sangat dekat dengan alam. Kehidupan masyarakat yang selaras dengan alam dan masih erat dengan nilai kebudayaan menjadi nilai tambah yang membuat Papua menjadi destinasi hijau yang sangat berharga. Apalagi Papua merupakan salah satu daerah yang dilalui garis Khatulistiwa, yang juga membuat berbagai hewan dan tumbuhan mendapat matahari yang cukup sepanjang tahun. Lantas kenapa Papua sangat layak menjadi wilayah konservasi dunia? 

1. Tutupan Hutan Terbesar di Indonesia
Di tengah maraknya deforestasi dan eksploitasi hutan, Papua memiliki hutan terluas di Indonesia yang mencapai 40.546.360 hektar, dan  hutan mangrove terbesar Indonesia ada di Papua. Hutan Papua Barat merupakan salah satu The Global Tropical Wilderness Area dan The Larger Rain Forest Ecosystem karena luasnya membentang dari pesisir pantai hingga pegunungan, serta termasuk dalam The World's Tropical Biodiversity Hotspots karena memiliki keanekaragaman hayati endemik yang sangat tinggi. Wow! Papua memang sangat pantas  memperoleh banyak predikat alam yang langka.

Sumber: Ulet Ifansasti untuk Greenpeace
Namun, hutan Papua tak luput menjadi daerah baru yang mulai dieksplorasi untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab deforestasi terbesar di Indonesia karena membutuhkan lahan yang luas dan air yang banyak. Pembangunan infrastruktur dan industri yang tidak bertanggung jawab mengganggu kelangsungan ekosistem dan aktivitas masyarakat. Bahkan mengganggu peran hutan sebagai salah satu paru-paru dunia.

Konservasi di tengah Deforestasi. Sumber: www.goodnewsfromindonesia.id 
Padahal hutan, khususnya hutan Papua memiliki banyak manfaat dan berpengaruh terhadap kehidupan di Indonesia dan dunia. Sebagai tutupan hutan terbesar di Indonesia, hutan Papua berfungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem, mengatur iklim, dan menjadi habitat mahkluk hidup. Wilayah hutan di Papua memiliki potensi yang besar dan menjadi benteng terakhir hutan tropis di Indonesia. Namun bagaimana jika rimba terakhir ini tidak dilestarikan?

2. Hutan adalah Ibu yang Memberi Kehidupan
Tahu gak sih kalau masyarakat Papua masih sangat bergantung dengan hutan dan alam dalam hidupnya? Saya sering mendengar Orang Asli Papua selalu bercerita dan menganggap hutan adalah ibu yang memberi kehidupan, yang harus dihargai dan dihormati. Hutan menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Sebut saja beberapa hasil pangan yang berasal dari hutan seperti; sagu, jamur, ubi jalar, pakis, rebung, dan masih banyak lagi.  Bahan-bahan tersebut yang juga menjadi sumber pangan bagi kita.


Contoh lainnya adalah kepiting bakau di wilayah Kampung Mandoni. Masyarakat bermata pencaharian dari hasil tangkapan kepiting bakau. Harganya Rp2000 per ekor. Harga yang pastinya sudah melambung tinggi jika dijual di Jakarta. Kampung Mandoni memiliki hutan mangrove yang luas. Para penduduk sangat menjaga kawasan tersebut karena di sana terdapat banyak mangi-mangi yang menjadi tempat berkembangnya kepiting bakau.

Kepiting Bakau. Sumber: EcoNusa 
Selain itu, hutan Papua menjadi apotek hidup bagi warga. Berbagai tanaman herbal diramu menjadi obat tradisional yang bisa dikonsumsi. Misalnya daun gatal untuk obat pegal-pegal, daun sampare untuk penyakit malaria, daun tumbuh daun yang berkhasiat untuk mengobati demam, dan buah merah yang dipercaya dapat menyembuhkan kanker dan kolesterol.

Buah merah asli Papua yang kaya manfaat. Sumber: www.hypegrid.id 
Papua memiliki kualitas udara dan air yang terbaik. Oleh karena itu, berbagai tanaman dapat tumbuh subur tanpa kompos dan pestisida. Contohnya daun tumbuh daun tadi yang hanya ditancap ke tanah dan akan tumbuh menghasilkan daun-daun lainnya. Masyarakat Papua hidup berdampingan langsung dengan hutan, di sana mereka merasa aman karena hutan adalah ibu yang memberi kehidupan.

3. Konservasi Menjaga Tradisi
Masyarakat adat Papua memiliki tradisi unik dalam melestarikan sumber daya alam di darat maupun laut yang disebut dengan Sasi Nggama. Sasi Nggama merupakan simbol penghormatan masyarakat terhadap alam. Sasi Nggama bertujuan untuk menjaga ekosistem alam agar tidak habis di bumi.

Papua memiliki lebih dari 200 suku yang melestarikan tradisi dengan menjaga hutan. Sebut saja Suku Kombai dan Korowai yang menetap di Hutan Sagu, Distrik Boven Digoel. Pohon Sagu sangat bermanfaat bagi kehidupan sandang, pangan, papan mereka. Terlebih ketika mereka mengadakan Festival Ulat Sagu yang bahan-bahannya berasal dari Hutan Sagu dan tergantung pada ketersediaan tumbuhan yang ada. 


Selain itu, ada juga suku Dani, Yali, dan Lani, yang tinggal di Lembah Baliem terletak di sekitar Pegunungan Jayawijaya. Setiap tahun, diadakan Festival Lembah Baliem. Festival Lembah Baliem mempertunjukkan tarian perang antar suku, yang kini menjadi daya tarik wisatawan. Mereka juga memiliki tradisi Bakar Batu, sebagai ungkapan rasa syukur yang diadakan saat ada kelahiran, pernikahan, dan penobatan kepala suku. Tradisi Bakar Batu adalah ritual memasak bersama, dengan memasak daging dan sayur-sayur yang bahan-bahannya berasal dari hutan.

Festival Lembah Baliem. Sumber: www.pesonaindo.com 
Namun tak sedikit lahan masyarakat adat yang sudah deforestasi, lalu digunakan untuk industri pertambangan atau perkebunan sawit yang mungkin tak juga mereka nikmati. Papua sebagai wilayah konservasi dunia harus memiliki manfaat bagi masyarakat lokal secara ekonomi dan sosial karena hutan masih menjadi sumber mata pencaharian bagi Orang Asli Papua dan menopang kehidupan mereka. 

4. Ekowisata Berbasis Budaya
Papua memiliki potensi yang besar, salah satunya menjadi destinasi wisata hijau karena keanekaragaman hayati dan kekayaan alam yang memukau. Salah satu cara melestarikan hutan Papua adalah melalui ekowisata. Papua memiliki flora dan fauna endemik nan unik yang hanya bisa dilihat di Bumi Cenderawasih, misalnya hewan Kanguru Pohon Mantel Emas, Kura-Kura Reimani, Wattled Smoky Honeyeater, tanaman Fleshy-Flowered Orchid, Rabon Bi, dan masih banyak lagi. Bahkan nama-nama tersebut belum pernah saya dengar sebelumnya.

Kangguru Pohon Mantel Emas. Sumber: www.goodnewsfromindonesia.id 
Kearifan lokal membuat masyarakat memanfaatkan hutan menjadi nilai tambah ekonomi dalam mengelola hutan. Misalnya di wilayah konservasi di Pegunungan Arfak, dimanfaatkan menjadi ekowisata, yaitu Ekowisata Bird Watching. Tidak ada pemburuan burung, tetapi uniknya kita dapat mengamati burung-burung spesies burung endemik, seperti; Cenderawasih Kerah, Burung Abu-abu/Meyeri, Cenderawasih Arfak, Burung Parotia Arfak, dan Namdur Polos. Caranya dengan masuk ke dalam dalam gubuk kecil yang diberi celah sehingga kita dapat melihat burung-burung tersebut tanpa mengganggunya.

Ekowisata Bird Watching. Sumber: Youtube CNN Indonesia 
Kampung Wisata Sauwadarek, Arborek, dan Lembah Baliem juga mengangkat ekowisata berbasis budaya dengan membuat Noken. Noken hanya dibuat oleh masyarakat Papua, khususnya dibuat penuh cinta oleh mama-mama Papua. Beliau-beliau terjun langsung keluar masuk hutan untuk mendapat serat kulit kayu dari pohon Seman sebagai bahan untuk membuat Noken. 

Sumber: www.nationalgeographic.grid.id 
Tahu kah kamu bahwa Noken juga di tetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Masyarakat Papua tidak mengenal plastik, mereka menggunakan Noken untuk membawa hasil pertanian atau membawa barang apapun. Noken adalah simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi tanah Papua. Jika suatu hari berkesempatan mengunjungi Papua, saya pasti tidak akan melewatkan Noken.

5. Papua Memiliki Tiga Taman Nasional yang Eksotis
Indonesia memiliki 54 Taman Nasional, 3 diantara ada di Papua, yaitu Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Taman Nasional Wasur, dan Taman Nasional Lorentz. Taman Nasional bertujuan untuk beberapa kepentingan seperti penelitian, pendidikan, budidaya, dan wisata. Taman Nasional di Papua juga berperan penting dalam pengembangan hutan Papua sebagai wilayah konservasi dunia.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Taman Nasional Teluk Cenderawasih adalah taman nasional perairan laut terluas di Indonesia dengan luas kurang lebih 1.453.500 hektar, yang terletak di Teluk Cenderawasih, Provinsi Papua Barat. Taman Nasional Teluk Cendrawasih menjadi menjadi habitat spesies langka dan dilindungi, seperti; Hiu Paus (Rhincodon typusyang panjangnya bisa mencapai 7 meter dan merupakan ikan terbesar di dunia. Tak heran Taman Nasional Cenderawasih menjadi pusat penelitian hiu paus di dunia.

Sumber: www.wartawisata.id 
Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Sumber: www.pesona.travel 
Taman Nasional Wasur
Taman Nasional Wasur terletak di Merauke, Provinsi Papua merupakan Ramsar Site (Situs Lahan Basah) yang berfungsi menjaga kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia. Taman Naional Wasur masuk dalam anggota East Asian Australian Flyway (EEAF) karena berperan penting sebagai tempat persinggahan dan migrasi burung-burung migran. Taman Nasional Wasur menyimpan berbagai flora dan fauna khas Papua, seperti; kanguru, burung pelikan, dan paruh kodok Papua, serta dikelilingi oleh hutan rawa, hutan masoon, dan padang rumput yang sangat luas.

Taman Nasional Wasur di Merauke. Sumber: www.superadventure.co.id 
Burung Migran. Sumber: www.lifetrubus.id 
Taman Nasional Lorentz
Taman Nasional Lorentz adalah kawasan konservasi terbesari di Indonesia, yang masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO dan menjadi taman nasional terbesar di Asia Tenggara. Kawasan ini terbentang di garis khatulistiwa di 10 kabupaten di Papua. Tak heran Taman Nasional Lorentz menjadi rumah bagi lebih dari 1000 spesies burung. Salah satu satwa langka di Taman Nasional Lorentz adalah burung Beo Pesquet.

Taman Nasional Lorentz. Sumber: www.tekno.tempo.co 
Salju di Puncak Jaya, Taman Nasional Lorentz. Nampak seperti di Himalaya. Sumber: www.pegipegi.com 
Burung Beo Pesquet. Sumber: www.tirto.id 
Selain itu Taman Nasional Lorentz merupakan salah satu dari tiga wilayah di dunia yang memiliki gletser di daerah tropis dan menjadi satu-satunya tempat di Indonesia dimana kita bisa melihat salju. Salju terakhir katanya, karena keindahan saljunya lama-lama mencair karena pemanasan global. 

Bersama EcoNusa Lestarikan Hutan Papua

Kekayaan dan keindahan Papua harus kita jaga bersama. Bukan hanya pemerintah saja, tapi industri yang bertanggung jawab dan masyarakat. 
Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa) bekerjasama dengan beberapa kabupaten di Papua dan Papua Barat untuk membantu menfasilitasi dan meningkatkan masyarakat dengan pemangku kepentingan. 


Yayasan EcoNusa memiliki visi kedaulatan masyarakat untuk menciptakan pengelolaan sumber daya alam yang adail dan berkelanjutan khususnya di tanah Papua dan Maluku. Beberapa kegiatan yang dilakukan Yayasan EcoNusa antara lain;


1. School of Eco Involvement
Membangun ketahanan masyarakat di sekitar hutan untuk mengelola sumber daya alam di kampungnya. 

2. School of Eco Diplomacy
Mengorganisir kaum muda khususnya di perkotaan untuk mempromosilan nilai lingkungan dan menjadi agent of change di Indonesia.

3. Best Practices
Mengumpulkan cerita sukses masyarakat dalam mengelola sumber daya alam dan mengembangkannya di kampungnya.

4. Policy Advocacy
Dukungan Teknis Tata Kelola Perizinan Konsesi Berbasis Lahan untuk menyelamatkan target lahan dan Perencanaan Pembangunan Rendah Karbon (PPRK).

5. Mari Cerita (Mace)
Menggaungkan cerita-cerita Papua di Jakarta.


Alam sudah menyediakan apa yang kita butuhkan, bukankah sudah seharusnya kita melestarikannya? Konservasi alam tak lepas dari kontribusi kita. Bagi saya, cerita tentang Papua memang tak pernah habisnya. Walaupun saya belum pernah menginjakkan kaki di Papua dan saya bukan orang Papua, tapi saya jatuh cinta dengan Papua. Semoga kelak impian saya bisa berkunjung ke Bumi Cenderawasih dapat terwujud.

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Mari Cerita Papua bersama EcoNusa

Tahu gak sih kalau Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 akan diadakan di Papua lho!
Tahu gak sih kalau beberapa kabupaten di Papua masih menggunakan sistem Noken dalam Pemilu. Apa pula itu sistem Noken?

Cerita tentang Papua selalu menarik buatku. Bersama EcoNusa, MaCe (Mari Cerita) Papua menghadirkan narasumber inspiratif dari berbagai profesi yang telah mengharumkan nama Papua bahkan Indonesia. MaCe Papua merupakan talkshow dua bulanan yang mengangkat cerita inspiratif dari Papua dan ragam karya anak Papua di Indonesia. Dimoderator oleh Putri Nere Patty, Founder of Papua Muda Inspiratif, MaCe Papua kali ini diselenggarakan di Pusgiwa Universitas Indonesia. 

Mari Cerita Papua bersama EcoNusadan 500 Mahasiswa Universitas Indonesia.
Jean Jokhu

Jean Richard Jokhu adalah Dosen President University dan Doktor asli Papua Termuda di Universitas Indonesia. Menurutnya, Papua memiliki masalah pendidikan, ekonomi, dan sumber daya manusia. Contohnya belum ada Universitas di Papua yang memiliki akreditasi A. Untuk itu, dia berusaha mengejar pendidikan S3 di Universitas Indonesia dan memiliki mimpi mejadikan universitas Papua berakreditasi A, atau setidaknya program studi berakreditasi A.

Bincang inspiratif bersama Jean Jokhu.


Kata beliau, Papua terlalu lama dimanja oleh alam. Meski memiliki alam yang luar biasa indahnya, pendidikan di Papua juga harus digalakkan agar kemampuan tidak hanya berasal dari alam saja namun juga skill yang diasah.

Perekonomian tidak tumbuh jika tidak ada infrastruktur. Membangun manusia itu juga penting di Papua dengan mengubah pola pikir kepala suku dan masyarakat agar memiliki edukasi, informasi, untuk mengelola dan memasarkan hasil sumber daya yang didapat. Dengan pendidikan, Jean berharap dapat lebih memajukan Papua dan menjadikan "Wakanda Papua" yang dipandang dunia.

Nanny Uswanas

Nanny Uswanas berasal dari Fakfak adalah seorang Direktur Institut Kalaway Muda Institute. Dia memperjuangkan adanya toleransi dan narasi positif bagi Papua. Kalaway Muda Institue menjembatani golongan kolonial dan milenial agar dapat berkolaborasi demi kemajuan Papua.

Banyak isu negatif mengenai Papua, padahal Papua memiliki banyak hal positif. Stereotipe warga Indonesia melihat orang Papua itu lucu, padahal warga negara asing melihat orang Papua itu unik dan mereka sangat menghargai toleransi.

Banyak media mengekspos isu negatif dan ricuh tentang Papua, padahal masyarakat hidup toleransi beragama. Misalnya di tempat kelahirannya di Fakfak, mayoritas penduduk beragama muslim, namun tanggal 5 Februari tetap memperingati Hari Damai, hari injil masuk di Papua.

Masyarakat Papua sangat multikultural dan memiliki nilai budaya yang tinggi. Papua memiliki beragam budaya dari 7 wilayah adat dan 400 suku dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Kita harus melihat Papua dari sudut pandang elang yang tinggi karena Papua memiliki budaya yang unik dan alam yang luar biasa indahnya.






Mari Cerita Papua Tahu gak sih kalau PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020 akan diadakan di Papua lho! Tahu gak sih kalau beberapa kabupaten di Papua masih menggunakan sistem Noken dalam Pemilu. Apa itu sistem Noken? Sistem Noken artinya pemilu 1 daerah diwakilkan oleh 1 kepala suku. Sedangkan 1 kepala suku membawa suara ratusan orang. Gimana menurut pendapat kalian? Cerita tentang Papua selalu menarik buatku. Foto pertamaku bersama 2 wanita Inspiratif Papua; Nanny Uswanas (Direktur Institut Kalaway Muda) dan Putri Nere Patty (Founder of Papua Muda Inspiratif) Bersama @econusa_id, MaCe (Mari Cerita) Papua menghadirkan narasumber inspiratif dari berbagai profesi yang telah mengharumkan nama Papua. Btw kaka yang main gitar itu seorang petani muda lho! Jadi, apa yang kamu tahu tentang Papua? Sharing yuk! MaCe Papua😊 Cerita selengkapnya tungguin di blog ya. #mariceritapapua #beradatjagahutan #kemahasiswaanui #UIuntukIndonesia
A post shared by ᴛʀᴀᴠᴇʟ ʙʟᴏɢɢᴇʀ | ɪʀᴇɴᴇ ᴋᴏᴍᴀʟᴀ (@pinktravelogue) on

Grison Krey

Grison Krey adalah petani muda Papua yang berasal dari Manokwari. Pada pembukaan acara MaCe Papua, beliau membawakan sebuah lagu yang bercerita tentang Papua merupakan surga kecil di bumi yang memiliki kekayaan alam. Hutan Papua adalah mama, yang tak bisa dilepaskan dari mereka.

Grison melakukan pendampingan pertanian organik di Pegunungan Arfak dengan mengajak masyarakat Papua mengolah lahannya sendiri, serta menghimbau masyarakat untuk tidak menggunakan pestisida saat bertani.

Grison Krey, Petani muda bersuara merdu.
Tidak banyak anak muda yang ingin jadi petani. Mungkin orang Papua di kota terlihat biasa saja, padahal mereka memiliki lahan yang luas untuk bertani lho! Grison juga merangkul anak muda untuk bertani karena Papua memiliki alam yang kaya. Tanah di Papua sangat subur, kualitas udara dan air adalah yang terbaik di dunia.

Ronald Manoach

Ronald Manoach adalah seorang penggiat sosial muda dan komisioner Bawaslu Papua. Beliau sempat menitikan air mata saat berbagi pengalamannya tentang Papua. Ronald membangun daerahnya dengan mendirikan Klinik Bumi Sehat di Sentani Papua. Beliau berkata bahwa banyak saudara kita di Papua, di hutan yang belum tesentuh dengan modernisasi. Ronald memiliki anak angkat dari Papua, ketika pertama kali melihat TV itu sangat aneh karena dulu di Papua gak ada benda kotak besar dengan gambar yang bergerak.
Keadlian diukur dari kasih sayang
Keadilan di Papua diukur dari kasih sayang. Papua butuh kasih sayang lebih agar tembok kemarahan runtuh. Pemerintah harus bekerjasama dengan mereka karena mereka membutuhkan hutan untuk ruang hidup. Papua itu tidak miskin sama sekali, hanya saja belum dikelola dengan baik. Hal tersebut menjadi masalah saat produk unik dan berkualitas namun butuh pemasaran yang baik.

Ronald Manoach cerita soal Papua.
Sebagai komisioner Bawaslu, beliau menceritakan bahwa beberapa kabupaten di Papua masih menggunakan Sistem Noken. Sistem Noken artinya pemilu 1 daerah diwakilkan oleh 1 kepala suku. Sedangkan 1 kepala suku membawa suara ratusan orang. Padahal setiap Warga Negara Indonesia memiliki hak suara dalam pemilu. Bagaimana menurut pendapat kalian?

Bahagia berkumpul bersama saudara-saudara dari Papua.
Pada Bulan Oktober 2020, Pekan Olahraga Nasional (PON) akan diadakan di Papua lho! Momen yang sangat berharga sekaligus waktu yang tepat untuk mempromosikan Papua yang unik. Mari kita dukung Papua! Kamu punya cerita tentang Papua? Sharing yuk!

...

Keep in Touch
Thanks for reading!