Hutan Indonesia Salah Satu Solusi Mitigasi Iklim

Gletser terakhir di Indonesia. Sumber: Good News From Indonesia

Beberapa tahun belakangan, berasa gak sih cuaca di negeri ini gak menentu? Apalagi kalau lagi panas rasanya menyengat banget, mataharinya gak ada diskon. Masih ingat juga banjir bandang yang terjadi di Kalimantan Selatan dan NTT belum lama ini? Kondisi ekstrem tersebut adalah tanda-tanda perubahan iklim. Makanya, kita butuh solusi untuk krisis iklim yang terjadi. Salah satunya adalah Hutan Indonesia sebagai Mitigasi Iklim. Apa maksudnya?



Masalah Krisis Iklim di Indonesia


Berdasarkan World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019, menyatakan bahwa perubahan iklim menempati posisi teratas sebagai penyebab musibah seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem. 

Yuyun Harmono, selaku Manager Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) mengatakan bahwa perubahan iklim yang terjadi menyebabkan biodiversitas dan ekosistem terganggu sehingga berdampak pada kehidupan manusia, seperti; kelangkaan air dan gagal panen/kekurangan pangan.
 

Sebuah lembaga analisis bernama Carbon Brief, mengumpulkan data dari enam lembaga pemantau suhu permukaan bumi dan menyatakan bahwa Tahun 2020 adalah suhu terpanas sepanjang sejarah dengan kenaikan 0,9 derajat celcius lho! Nah, jika peningkatan mencapai ambang batas suhu yaitu pada 1,5 derajat celcius, hal ini akan menyebabkan pemusnahan terhadap ekosistem penting yang mendukung kehidupan manusia, misalnya sumber pangan.
Dalam acara gathering virtual Eco Blogger Squad pertama ini, ka Gita memperkenalkan kami sebuah teori bernama Ekonomi Donat dari Kate Worth. Sebuah diagram yang berbentuk donat ini menggambarkan hubungan antara sumber daya alam, manusia, dan kesejahteraannya. 

Diagram terdiri dari lingkaran bagian luar dan dalam. Lingkaran pada bagian dalam menunjukkan sumber daya bagi kehidupan kita, seperti; makanan, air, energi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan lingkaran pada bagian luar menunjukkan batasan alam yang bisa menjadi potensi terjadinya krisis iklim, polusi air, rusaknya ekosistem, dan lain-lain.

Sedangkan ruang yang ada bagian tengah diantara keduanya menunjukkan ruang tempat manusia bertahan hidup. Diagram Ekonomi Donat menjelaskan bahwa lingkaran bagian luar adalah batas yang harus kita jaga, supaya apa yang ada pada lingkaran bagian dalam, tidak mengganggu fungsi ekologis. Tanpa tanah, udara, air yang kualitasnya baik, akan sulit untuk merencanakan sesuatu di ruang bagian tengah. 

Hutan Bukan Hanya Sekadar Pohon


Hutan memang identik dengan pohon-pohon. Tapi lebih dari itu, hutan adalah rumah bagi flora dan fauna khas Indonesia serta memiliki banyak kekayaan alam untuk kehidupan makhluk hidup, apalagi hutan di Indonesia. Hutan mungkin terlihat jauh di mata, namun manfaatnya bisa kita rasakan, termasuk sebagai pemasok oksigen paling besar di muka bumi dan sebagai sumber pangan. 



Pada tahun 2020, transaksi e-commerce mencapai nilai Rp266,3 T, namun presentasi produk lokal masih dibawah 20% di semua platform (fashion, makanan, alat rumah tangga, dan lain-lain). Padahal kita harusnya bangga dengan produk lokal dan hasil hutan Indonesia. Dengan membeli produk lokal hasil hutan, kita tidak hanya membantu melestarikan alam, tapi juga membantu masyarakat yang hidup dari hasil hutan.


Hutan Indonesia menjadi salah satu solusi mitigasi iklim dan hal-hal di atas adalah peran kita untuk bantu jaga hutan. Kita juga bisa dukung produk hutan non-kayu lainnya di sini ya. Christian Natalie, selaku program manager Hutan Itu Indonesia (HII) mengatakan bahwa kita harus gencar melakukan kampanye dan narasi tentang pentingnya hutan dan kaitannya dengan perubahan iklim.

Selain menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup, hutan itu adalah sumber inspirasi. Saya suka mendengarkan beberapa lagu dari musisi yang terinspirasi dari alam. Beberapa lagu favorit saya antara lain lagu; Alami (Slank), Mahameru (Ari Lasso), Indonesiaku (Trio Lestari). Apa kamu terinspirasi dari alam juga?

Hutan Indonesia sebagai Salah Satu Solusi Mitigasi Iklim


Climate change is real! Kamu tahu kan salju Pegunungan Cartenz Jayawijaya di Papua adalah satu-satunya salju abadi di Indonesia? Namun keberadaan salju di sana semakin menipis. Para peniliti memperkirakan bahwa gletser ini akan mencair dan hilang pada tahun 2025!

Masalah krisis iklim yang terjadi di Indonesia dapat ditangani salah satunya dengan menjadikan hutan  sebagai salah satu solusi mitigasi iklim. Mitigasi iklim maksudnya usaha untuk mengurangi resiko peningkatan emisi gas rumah kaca.
Merayakan hari bumi, juga menyelamatkan manusia. Alam bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam. -Gita Syahrani, kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)-
Krisis iklim terjadi karena pemanasan global. Banyak faktor yang menyebabkan pemanasan global, antara lain; meningkatnya efek rumah kaca, polusi udara, penggunaan listrik yang boros, sampah plastik, dan penggundulan hutan. Padahal fungsi hutan adalah mengatasi efek rumah kaca penyebab pemanasan global. 

Untuk itu penting juga untuk menerapkan prinsip energi berkeadilan dalam upaya melakukan mitigasi perubahan iklim, antara lain dengan; menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia, memastikan hak-hak pekerja, dan hak free, prior and informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak, serta memastikan energi yang adil, dan meminimalisir limbah energi itu sendiri. 

Hak free, prior and informed consent yang dimaksud adalah hak masyarakat adat untuk mengatakan "ya dan bagaimana" atau "tidak" untuk pembangunan yang mempengaruhi wilayah mereka. 


Dalam rangka Hari Bumi, yuk mari kita berkontribusi juga untuk mengurangi jejak karbon untuk bumi yang lebih lestari dengan apapun profesi kita. Hutan Indonesia menjadi salah satu solusi mitigasi iklim, mari kita jaga bersama. Let's celebrate earth day every day!


Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Tips Lestarikan Cantikmu


Narasi soal melestarikan lingkungan memang sudah sering digaungkan. Tapi pada kesempatan kali ini, dalam rangka Blogger Gathering bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Madani Berkelanjutan, Blogger Perempuan, dan bersama narasumber yang ahli di bidangnya, membahas tentang topik "Lestarikan Cantikmu" secara virtual. Lho gimana caranya melestarikan cantik itu?

Gunakan Skincare Harus Bikin Happy 


Narasumber pertama adalah kak Danang Wisnu, seorang skincare content creator yang juga berprofesi sebagai dokter gigi. Melihatnya di layar zoom saja sudah membuatku iri karena muka kak Danang glowing banget! Haha. Kak Danang berbagi cerita tentang pentingnya memperhatikan kandungan atau bahan baku yang ada pada produk kecantikan.
"Pakai skincare itu harus bikin happy. Ketika produk yang kita pakai diproses dengan bagus dari sumber yang bagus, bahkan kita bisa saling menolong sesama. Maka hal itu yang membuat kita semakin bahagia." kata ka Danang.
Aku setuju dengan statement ini. Ketika kita sudah menemukan skincare yang tepat untuk kulit kita, rasanya gak mau skip untuk memakainya dan ini menjadi rutinitas yang menyenangkan. Penggunaan produk kecantikan juga harus sesuai dengan permasalahan kulit masing-masing. Untuk itu penting bagi kita mengetahui kandungan yang ada dalam produk kecantikan tersebut. sehingga kita mengerti cara kerjanya.

See! Wajah bersinarnya ka Danang. Haha

Pemilihan bahan baku yang ramah lingkungan dengan kesehatan kulit juga harus diperhatikan. Dengan begitu, kita jadi lebih aman dan nyaman menggunakan produk tersebut dan kembali lagi bikin suasana hati juga jadi happy. Menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan bukan hanya berdampak bagi kulit tapi juga berdampak bagi bumi. 

Fyi, skincare itu bukan cuma untuk para perempuan aja ya! Tapi laki-laki juga wajib pakai skincare, apalagi menggunakan sunscreen. Setuju? Ternyata kak Danang mulai menggunakan sunscreen sedari SD lho! Apalah aku yang baru mengenal sunscreen sejak kuliah, itupun dikasih tahu teman sehabis pulang dari Gunung Semeru. Haha.

Tips Memilih Produk Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial


Aku tipikal orang yang punya banyak pertimbangan sebelum membeli produk kecantikan, apalagi aku memiliki kulit yang sensitif. Beberapa faktornya antara lain mengenai; harga, kualitas, bahan, kemasan, dan review dari influencer. Kalo kalian apa pertimbangannya sebelum membeli produk kecantikan?

Baca Juga: Sustainable Beauty

Berdasarkan survey tren kecantikan yang diadakan oleh LTKL, Madani Berkelanjutan, dan beberapa mitra lainnya untuk negara Korea, Jepang, dan Cina, ternyata faktor bahan dalam produk menjadi salah satu yang cukup dipertimbangkan. Terutama karena negara-negara tersebut perhatian terhadap polusi yang terjadi; polusi udara, darat, dan air. 


Produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial adalah produk yang tetap menjaga fungsi alam tanpa bencana, menyejatherakan petani/pekerjanya, dan menjaga limbah dan energi produksi secara bertanggung jawab. Menurut kak Gita Syaharani, selaku Kepala Sekretariat LTKL, ada 6 tips memilih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial: 
  1. Baca Label 
  2. Kenali Bahan
  3. Pahami Komoditas Asal
  4. Mengetahui Dampak dari Komoditas
  5. Pilih Produk yang Lestari
  6. Bagikan Ceritamu
Secara singkat, kak Gita mengatakan bahwa pilihlah produk yang bercerita. Misalnya, darimanakah komoditasnya berasal, bagaimana produk itu diproses, dan lain-lain. Brand yang bisa menceritakan dan mengedukasi produknya secara lengkap dan jujur kepada konsumennya juga harus diapresiasi. Dengan begitu, mereka menjamin produknya memang aman.

Lestarikan Cantikmu dengan Komoditas Lokal


Produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial juga menyejahterakan warga menjaga lingkungan. Kita juga bisa mendukung produk lokal agar semakin berkembang dan bangga terhadap buatan Indonesia. 

Narasumber ketiga, kak Christine menceritakan perjanannya saat dulu traveling dan divingSepanjang jalan melihat Indonesia indah sekali, tapi kemanapun pergi pasti melihat sampah, di lautpun juga begitu. Saat naik pesawat melihat pemandangan indah tapi terlihat juga area hutan-hutan yang botak.

Dulu saat menginap di hotel, kak suka membawa pulang botol-botol toiletries yang ada di hotel. Tapi ternyata hal tersebut juga membuatnya berkontribusi terhadap peningkatan sampah plastik. Oleh karena itu, kak Christine terinspirasi untuk membuat Segara Naturals, sebuah produk ramah lingkungan dan ramah sosial yang minim sampah, anti tumpah, dan sehat alami. Segara ternyata artinya laut lho! 



Ini salah satu produk dari Segara Naturals yaitu travel soap varian gado-gado. Sabun batangnya sudah dipotong-potong, bikin praktis, dan gak pake tumpah-tumpah seperti toiletries yang seperti biasanya ada di hotel. Siapa penasaran dengan sabun gado-gado ini?

Bicara soal komoditas bahan baku produk, Indonesia itu sangat kaya. Segara Naturals menggunakan komoditas lokal Indonesia seperti; kopi, tengkawang, madu, dan lain-lain. Produk lokal ini tidak hanya menerapkan meminimalisir penggunaan plastik pada produknya, tapi juga secara operasional, serta kesinambungan dari hulu ke hilir (dari supplier, produksi, hingga konsumsi). 

Segara Naturals merupakan salah satu produk kecantikan yang sangat memerhatikan lingkungan dan sosial. Punya pengalaman menggunakan produk kecantikan dengan komoditas lokal untuk lestarikan cantikmu? Tulis di kolom komen ya!
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

1 komentar:

Fakta Mencengangkan Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah

Bahagia rasanya melihat tawa anak-anak di Kampung Bajo. Kampung Bajo yang kumaksud ini bukan di Labuan Bajo - Nusa Tenggara Timur ya, tapi tepatnya Kampung Bajo yang terletak di Desa Kondowa, Kecamatan Mawasangka, Buton Tengah. 

Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah.

Bermain air sembari melompat dari jembatan kayu, sepertinya sudah menjadi mainan sehari-hari bagi anak-anak di sini. Main gadget? Tidak sama sekali. Masa kecil yang dihabiskan dengan bermain permainan tradisional, berlarian, layaknya anak-anak kecil pada zamanku dulu.

Anak-anak bermain air tiada henti.

Kami naik perahu kayu dari Jembatan Laano Lambua, di Kampung Kaudani menuju kampung terapung Suku Bajo/Bajau. Tak lama, sekitar 15 menit waktu perjalanannya. Selama perjalanan, aku melihat banyak bagang (penangkap ikan tradisional) milik warga yang memang sebagian besar mata pencariannya sebagai nelayan. Sarana transportasi di sini adalah sampan/perahu. Aku melihat deretan perahu di hampir setiap rumah. 

Kampung Terapung Suku Bajo dan jembatan kayu menghubungkan tali silaturahmi antar warga.

Pembangunan masjid (kiri). Panel Surya di rumah warga (kanan).

Ada 54 Kepala Keluarga di sini. Rumah-rumah warga masih ada yang beratap daun kelapa, ada juga yang beratap beton. Rumah-rumah warga terhubung dengan jembatan kayu. Hati-hati saat berjalan di atasnya dan hindari berkerumun saat melintasi jembatan. 

Uniknya, sebanyak 32 rumah di Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah, sudah menggunakan solar panel lho, keren ya! Saat ini juga sedang dibangun masjid terapung di sana. 

Ada Pulau Keramat Penghasil Minyak


Mayoritas Suku Bajo ternyata juga ada di Wakatobi, namun ada juga yang di Buton Tengah. Sebagian masyarakat memilih untuk tetap tinggal di kampung halamannya di Buton Tengah, karena sudah lama menetap di sini.  Katanya sih Suku Bajo di Buton Tengah merupakan yang tertua di Mawasangka. 

Katanya, pulau kecil di belakang itu Pulau Keramat.

Berdasarkan info dari salah seorang warga Ibu Suriani,  dulu kampung ini sempat ada yang dibakar karena warganya tidak mau dipindahkan ke darat. Faktornya adalah karena memang sebagian besar mata pencahariannya di laut dan katanya ada Sumber Daya Alam Minyak di daerah situ. "Ada di Pulau Keramat namanya Tanda Bulawa." katanya. Makanya area ini sempat diperdebatkan karena warga yang masih mau menjaga kelestarian alam di sini. 

Anak-anak (dulu) Berenang ke Sekolah


Fakta lainnya yang agak membuat aku kaget adalah dulu anak-anak di Kampung Terapung Suku Bajo berenang kalau mau sekolah. B-E-R-E-N-A-N-G guys! Berenang ke Pelabuhan Abu. Tak jarang mereka terlambat ke sekolah karena ini. Aku sampai bertanya beberapa kali untuk memastikan hal itu. 

Sekarang anak-anak diajarkan dahulu melalui 'Kelas Jauh' (sebutan kelas) oleh para ibu untuk keterampilan membaca dan menulis. Jika sudah bisa, baru mereka disekolahkan ke 'darat' (sekolah yang ada di darat). Kalau Suku Bajo di Wakatobi, Buton Selatan sudah ada rumah baca untuk anak-anak. Semoga di sini kelak juga akan ada ya. Apa ada yang tertarik untuk sumbangkan buku-buku?

Bersama anak-anak Suku Bajo.

"Anak-anak di sini, sudah berenang sejak kecil." Begitu kata seorang bapak yang sedang memperhatikan anak-anak bermain. Tak heran, Suku Bajo dikenal sebagai suku laut, yang memiliki kehidupan tidak jauh dari laut. Mereka pandai menyelam, sedari kecil sudah bermain di laut begini. Perairan di sekitar Kampung Terapung Suku Bajo kira-kira memiliki kedalaman 1-1,5 meter. 

Gunakan Tabir Surya Alami


Jika para laki-laki bekerja sebagai nelayan, saya melihat para perempuan sedang membudidayakan rumput laut, ada juga yang membuka warung. Beberapa anak-anak dan para perempuan yang saya lihat juga wajahnya memakai bedak putih. Saya kira itu adalah mereka sedang menggunakan masker wajah atau memakai taburan bedak wajah biasa yang gak rata, cemong istilahnya. 

Budidaya rumput laut di Kampung Terapung Suku Bajo, Buton Tengah.

Tapi ternyata itu namanya bedak pupur, yakni tabir surya/sunblock alami yang dibuat dari beras putih dan/atau kunyit yang ditumbuk. Kalau istilah kecantikan memang terlihat white cast ya, tapi biasanya yang seperti ini memang menangkal sinar matahari lebih baik. Sebagai suku yang hidup di laut, mereka menggunakan tabir surya alami ini untuk merawat dan melindungi wajah dari terik matahari. 

Ibu Suriani dan anaknya. Di belakangnya ada ibu yang menggunakan sunblock alami.

Hari sudah semakin sore dan cuaca mendung saat itu. Rasanya masih belum puas berkeliling Kampung Terapung Suku Bajo Buton Tengah. Terima kasih untuk sambutan hangatnya. Sampai jumpa kembali!
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar:

Lestarikan Cantikmu dengan Komoditas Lokal dan Ramah Lingkungan

Setiap perempuan ingin tampil cantik. Bersolek dan menggunakan produk untuk menunjang kecantikan dan kesehatan rasanya sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun sadar atau tidak, rutinitas ini ternyata juga menyumbang limbah yang mencemari lingkungan. Maka dari itu, sudah saatnya kita turut berkontribusi untuk melestarikan lestarikan alam melalui produk kecantikan dengan komoditas lokal dan ramah lingkungan.

Lestarikan Cantikmu dengan Komoditas Lokal dan Ramah Lingkungan.

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka berdandan setiap hari, saya lebih suka riasan natural. Bahkan saat di rumah, saya hanya menggunakan sunscreen dan lipbalm saja. Namun, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya saat hendak membeli produk kecantikan/skincare. Apalagi saya memiliki jenis kulit yang kering dan sensitif. Sebelum membeli produk kecantikan, saya pasti melakukan riset. 

Riset untuk mencari tahu ulasan orang lain, kandungan yang ada dalam produk, manfaat, kemasan, harga, dan apakah ramah bagi lingkungan. Walaupun sebenarnya produk kecantikan itu sebenarnya cocok-cocokan ya kaya aku dan dia. Tapi rasanya penting untuk melakukan riset agar kita bijak membeli produk kecantikan tersebut.

Produk Kecantikan Berkelanjutan (Sustainable Beauty)


Saat ini, istilah 'Berkelanjutan', bukan hanya untuk industri pariwisata atau lingkungan saja, tapi juga untuk Produk Kecantikan Berkelanjutan. Maksudnya adalah pengelolaan sumber daya alam yang digunakan sebagai bahan produk kecantikan, dapat menjamin keberlanjutan lingkungan hidup lainnya seperti; tanaman dan hewan, serta dapat dikembangkan secara ekonomi dan sosial. Termasuk manfaatnya bagi masyarakat setempat.

Produk kecantikan yang mengandung bahan kimia tak ramah lingkungan, tidak aman untuk kita dan bumi. Hal tersebut dapat merusak lapisan ozon, mencemari lingkungan, dan tentunya dapat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan kulit. 

Layaknya memilih pasangan hidup, sustainable beauty juga memiliki beberapa kriteria, antara lain; prosesnya menggunakan bahan organik/ramah lingkungan, minim jejak karbon, tidak melakukan uji coba pada hewan, memiliki kemasan yang dapat didaur ulang atau minim sampah.

Beberapa kriteria produk kecantikan yang aman untuk kita dan bumi.
Sumber: https://journal.sociolla.com/beauty/smallactsoflove-love-beauty-and-planet

Produk kecantikan berkelanjutan (Sustainable Beauty) tidak hanya melestarikan kecantikan kulit kita, tapi juga mengimplementasikan pada Profit, People, and Planet. Setiap perusahaan pasti menginginkan laba yang besar, namun tidak hanya itu. 

Peran Sumber Daya Manusia juga sangat penting, terutama agar masyarakat lokal semakin sejahtera. Poin yang tak kalah penting adalah tanggung jawabnya terhadap lingkungan. 'There's no Planet B' kalau kata pepatah. Cuma Planet Bumi tempat yang kita huni. 

Sayapun mulai beralih menggunakan produk sustainable beauty karena saya percaya kandungan bahan alami lebih aman dan kriteria diatas membantu saya berkontribusi melestarikan lingkungan melalui hal yang saya gunakan dalam produk kecantikan. 

Sustainable Beauty Products berinovasi menciptakan produk dengan komoditas lokal yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Hal tersebut tercipta dalam upaya mendukung dan mewujudkan komoditas berkelanjutan, mengurangi jumlah sampah plastik, dan mendukung konservasi hutan dan laut. 

Komoditas Lokal yang Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial


Saat ini, sudah banyak produk kecantikan yang menggunakan bahan-bahan alami. Indonesia memiliki Sumber Daya Alam yang sangat kaya. Komoditas lokal yang berasal dari alam dapat dijadikan untuk produk kecantikan dan kesehatan. Berikut beberapa bahan alami yang biasa digunakan untuk produk kecantikan dan kesehatan;

Lidah Buaya/Aloe Vera

Saya paling suka menggunakan produk kecantikan dengan komoditas lidah buaya. Alasan sederhana karena lidah buaya yang sudah diolah menjadi aloe vera gel merupakan produk yang multiguna. Manfaat utamanya adalah untuk melembabkan kulit sehingga sangat cocok untuk kulit kering seperti saya. Apalagi jika digunakan setelah berwisata panas-panasan di pantai atau gunung, aloe vera gel berguna untuk menenangkan kulit yang terbakar. 


Tanaman Lidah Buaya - Aloe Vera Gel - Minuman Segar Lidah Buaya

Selain itu, lidah buaya juga bisa diolah menjadi minuman segar yang berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Minuman ini menjadi salah satu minuman favorit warga Pontianak. Pantesan saja waktu itu saya pernah beli minuman lidah buaya di pasar swalayan asalnya dari Kalimantan. Ternyata Pontianak, Kalimantan Barat dikenal sebagai penghasil lidah buaya terbaik di Indonesia lho!

Daun Pegagan/Centella Asiatica/Cica

Bahan ini sudah sangat popular di kalangan industri kecantikan. Pada dasarnya Centella Asiatica merupakan tanaman liar yang tumbuh di daerah tropis. Nama Centella Asiatica juga berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia. Daun Pegagan atau Centella Asiatica yang sudah diolah, dimanfaatkan sebagai produk kecantikan yang berkhasiat untuk menyembuhkan luka hati, perawatan anti aging, dan jerawat.
Daun Pegagan dan contoh turunannya menjadi toner pada produk kecantikan.

Kelapa

Kelapa merupakan salah satu komoditas lokal berkelanjutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi di kehidupan masyarakat. Seluruh bagian dalam komoditas yang satu ini dapat digunakan; dari batang, daun, hingga buahnya.

Dalam industri kecantikan, produk turunan kelapa dimanfaatkan menjadi coconut oil, scrub, pelembab, masker, dan lipstik. Bahkan buah kelapa yang diminum secara rutin, dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. 

Contoh komoditas turunan kelapa yang diolah menjadi produk kecantikan.
Sumber: www.thebodyshop.com

Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB(FAO) tahun 2018, kita patut berbangga karena Indonesia merupakan Negara Penghasil Kelapa Terbesar di Dunia. Komoditas kelapa tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Sulawesi dan Maluku.


Komoditas lokal pada produk sustainable beauty dibudidayakan dengan cara yang tidak merusak alam. Perlu kita ketahui juga bahwa proses hingga produk kecantikan sampai di tangan kita melibatkan banyak hal dan peranan penting, antara lain; lahan hutan, petani, dan masyarakat yang mengolahnya. Hutan dan masyarakat sekitar juga bergantung akan hal itu. 

Dunia kecantikan dan lingkungan tak bisa dipisahkan. Konsep go green dengan komoditas lokal yang ramah lingkungan dan ramah sosial juga harus dilestarikan, sehingga lingkungan tetap terjaga, masyarakatpun sejahtera. 

Lestarikan Cantikmu, Lestarikan Bumi


Saat ini, tren sustainable beauty semakin berkembang. Yuk kita lestarikan lingkungan melalui produk kecantikan yang kita gunakan, mulai dari dari sendiri.

1. Perhatikan Kandungan dalam Produk
Sudah saatnya kita lebih teliti dengan kandungan dalam produk kecantikan. Pilihlah produk yang aman bagi kulit dan juga bagi lingkungan. Beberapa bahan kimia yang harus dihindari antara lain; BHA, parabene, polyethylene, natrium laurir sulfat. Lakukan riset sebelum memberli produk agar lebih sesuai kebutuhan.

Salah satu sunscreen reef-safe.

Sebagai contoh, penggunaan sunscreen sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kulit dari sinar matahari berlebih. Termasuk saat saya melakukan wisata air, penggunaan sunscreen yang ramah untuk biota laut dan terumbu karang sangatlah penting. Biasanya kandungan kimia berbahaya oxybenzone dan octinoxate terdapat dalam sunscreen. Coba cek sekarang kandungan sunscreen yang kamu gunakan.

2. Kemasan Ramah Lingkungan
Beberapa produk kecantikan yang saya tahu, sudah memiliki kampanye untuk mendaur ulang kemasannya. Jika kemasan berupa botol kaca atau botol dengan bentuk yang unik, biasanya saya memanfaatkannya sebagai dekorasi atau wadah penyimpanan. 

Upcycle Botol Kemasan Bekas Vitamin Rambut.

Berdasarkan data dari World Wildlife Fund (WWF), sebanyak 80% sampah plastik di laut, salah satunya berasal dari kemasan produk kecantikan berupa plastik dan kemasan. Hal ini tentu mengancam ekosistem terumbu karang dan biota laut.

Jika tidak bijak membeli dan menggunakannya, produk kecantikan yang dibeli akan menumpuk di meja riasmu, ujung-ujungnya menambah sampah. Sebagai alternatifnya, kita bisa mengirimkannya ke tempat pengolahan sampah. Kemasan yang ramah lingkungan dapat didaur ulang, dikompos, atau dapat dikembalikan kepada brand yang bersangkutan untuk diolah kembali.

3. Mengurangi Produk Kecantikan Sekali Pakai

Salah satu tips melestarikan cantikmu untuk kelestarian lingkungan adalah mengurangi produkkecantikan sekali pakai. Misalnya beralih menggunakan kapas kain. Kapas kain dapat dicuci dan digunakan berkali-kali. Sedangkan kapas pada umumnya hanya digunakan sekali dan langsung dibuang.

Contoh lainnya adalah penggunaan masker wajah (sheetmask) dengan bahan yang mudah terurai atau bahan alami, penggunaan cotton bud bambu dan sikat gigi bambu.
The surprising way, your personal care routine can reduce waste.
Reusable Cotton Pads.

Saya juga memiliki kebiasaan minum kopi atau teh di pagi hari. Bagi saya, minuman tersebut adalah moodbooster. Ampas dari kopi atau teh yang saya minum tadi tidak langsung dibuang. Namun saya menyisihkannya untuk dijadikan masker wajah. Ampas kopi atau teh berfungsi sebagai scrub untuk mengangkat kotoran dan mengeringkan jerawat. 


Banyak hal kecil yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Yuk lestarikan cantikmu dengan komoditas lokal dan ramah lingkungan. Mari berkontribusi demi kulit dan bumi yang sehat.
...

Keep in Touch
Thanks for reading!

2 komentar:

Green Jobs: Peluang Kerja Anak Muda, Mengolah Sampah

What's your dream job?

Era globalisasi membuat kita harus bisa beradaptasi dan bertransformasi. Saya ingin memiliki pekerjaan yang fleksibel, bisa dikerjakan di mana saja, dan memiliki kontribusi untuk bumi. Iya, bumi. Alasan sederhana karena cuma di sini tempat yang saya huni. There's no Planet B, kalau kata pepatah. 

Pekerjaan ramah lingkungan atau green jobs menjadi opsi untuk meningkatkan ekonomi dan membuat lingkungan lebih lestari. Salah satunya adalah peluang kita sebagai anak muda untuk mengolah sampah. 

Istilah Green Jobs diperkenalkan pertama kali oleh International Labour Organization (ILO), yang merupakan organisasi buruh dunia yang mendukung pentingnya pekerjaan yang berorientasi terhadap pelestarian lingkungan. 


Pekerjaan Ramah Lingkungan


Anak muda zaman sekarang sungguh kreatif dan inovatif. Masih muda, tapi sudah punya usaha sendiri. Apalagi usaha yang sejalan dengan pola pikir green jobs. Pekerjaan dilakukan tidak hanya untuk kesejahteraan hidup, tapi juga untuk pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.  Green jobs memberikan peluang kerja anak muda untuk memproduksi barang/jasa yang ramah bagi lingkungan.

Green Jobs dilatarbelakangi oleh keadaan bumi yang sedang tidak baik-baik saja. Beberapa faktornya adalah perubahan iklim dan kerusakan sumber daya alam. Oleh karena itu, kita harus mampu bertransformasi karena green jobs menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang baru.
Infografis: www.pinktravelogue.com

Menurut International Labour Organization (ILO), ada beberapa aspek dalam pelaksanaan green jobs, yaitu; mengurangi konsumsi energi dan bahan baku (dematerialize economy), mengurangi pengeluaran emisi gas rumah kaca (decarbonize economy), mengurangi limbah sampah & polusi, serta perlindungan & perbaikan ekosistem.

Contoh Green Jobs

Kategori green jobs mencakup pekerjaan yang berpotensi menjawab masalah perubahan iklim dan menjadi solusi untuk berbagai masalah lingkungan, antara lain; pengolahan limbah & daur ulang, transportasi umum, produksi pangan berkelanjutan, kehutanan berkelanjutan untuk mencegah deforestasi, suplai & efisiensi energi, serta pelestarian biodiversitas & ekosistem. Apakah kamu tertarik dari salah satu yang saya sebutkan?

Indonesia Lebih Bersih dari Sampah Plastik


Saya teringat waktu melakukan aksi bersih pantai, sampah plastik adalah sampah terbanyak di laut. Sampah botol plastik, mi instan, bungkus kopi, dan lain-lain menghiasi tepi pantai. Pengalaman yang sama juga saya temukan saat mendaki Gunung Merbabu, sampah plastik juga menjadi sampah terbanyak di sana. 

Persoalan sampah plastik masih sangat besar di Indonesia. Timbunan sampah akan bertambah jika kita tidak memiliki kesadaran untuk menguranginya. Sampah plastik berpotensi terhadap pencemaran lingkungan. 

Memang tak bisa dipungkiri bahwa kita tak bisa lepas dari satu benda bernama plastik. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengurangi penggunaannya. Jika bisa mengolahnya, pasti akan lebih baik. Tak ada salahnya mencoba mengolah sampah menjadi rupiah.

Masyarakat Lombok mengolah sampah plastik. Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Sebagai contoh, masyarakat di Lombok, Nusa Tenggara Barat sudah mempraktikkan pengolahan sampah dengan baik, mulai dari mengumpulkan, memilah, dan menjualnya pada bank sampah. Masyarakat juga mendirikan komunitas daur ulang untuk mengolah sampah plastik agar pantai di sana tidak tercemar.

Menuju Indonesia yang lebih bersih dari sampah plastik, sebisa mungkin saya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Membawa botol minum pribadi saat bepergian dan membawa tas belanja saat ke supermarket sudah saya lakukan. Saya juga tak lupa membawa kantong jaring untuk membawa sayur atau buah yang harus ditimbang. Hal ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Bagaimana dengan kamu?

Green Jobs: Peluang Kerja Anak Muda, Mengolah Sampah


Bagi saya, pekerjaan ramah lingkungan bisa dilakukan mulai dari hal kecil. Tahun ini, saya punya misi untuk mencoba membuat produk upcycle. Bahan pembuatan produknya adalah dari sampah rumah tangga seperti plastik bungkus mi instan, karton sereal, dan botol kaca dari sambal. Saya pikir, sampah punya kehidupan kedua jika kita bisa mengolahnya dengan baik.

Produk upcycle sedikit berbeda dengan recycle, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu mengurangi volum sampah dan mengubah barang bekas menjadi lebih berguna. Produk upcycle memanfaatkan produk bekas yang ada (tanpa proses pengolahan bahan). Sedangkan recycle adalah satu tahapan lebih karena produk yang dihasilkan biasanya membutuhkan proses pengolahan seperti dicacah atau dilebur.

Hasil Kerajinan Sampah Plastik

Saya mencoba memanfaatkan kantong plastik kresek dan bungkus mi instan untuk dijadikan sebuah pouch kecil, menggunakan teknik heat press dengan alat setrika. Selain itu, memanfaatkan botol kaca bekas vitamin rambut atau botol kaca bekas sambal menjadi vas bunga untuk dekorasi.

Menurut saya, sebenarnya sampah plastik memiliki nilai lebih jika diolah dengan baik. Saya pernah melihat hasil kerajinan tatakan gelas dari hasil recycle sampah botol plastik, yang dicacah dan diproses sehingga menjadi produk yang artistik.


Produk recycle tatakan gelas. Sumber: plastikkembali.com

Produk upcycle dan recycle memiliki keunggulan untuk dipasarkan. Hal ini merupakan peluang juga bagi kita sebagai anak muda untuk mendukung pekerjaan yang ramah lingkungan. Namun, jika kita tidak dapat mengolahnya, setidaknya kita bisa memilah dan mengirimkannya ke bank sampah untuk diolah. 
Small Act, Big Impact.
Aksi kecil, berdampak besar. Koaksi Indonesia juga mendukung green jobs melalui kampanye di media sosial untuk membagikan cerita inisiatif energi terbarukan di kota maupun desa, serta mendukung partisipasi aktif komunitas dan perusahaan yang memiliki peluang kerja ramah lingkungan. 

Melalu blog ini, sayapun ingin berbagi pengalaman dan kontribusi dalam menjalankan green jobsYuk, kita wujudkan green jobs dan berkontribusi untuk bumi yang hijau dan bersih dari sampah. Salam lestari.

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

0 komentar: