Showing posts with label Gunung Indonesia. Show all posts

Fjällräven Discovery: Leave No Trace. FINALLY BROMO!

Akhirnya ke Bromo! 

Setelah 3x gagal ke Bromo, akhirnya kesampaian juga untuk eksplor keindahan alam Bromo. Pertama, dulu aku ikut klub fotografi di kampus dan akan hunting foto di Bromo, tapi gak dibolehin ortu karena ada pacar ikut. Maklum backstreet, jadi ga dapet restu. Akhirnya DP perjalanan hangus. 

Kedua, aku sudah pesan tiket kereta pulang-pergi dan rencana akan menginap di homestay teman. Tapi 3 jam sebelum keberangkatan batal, karena aku memutuskan untuk ga pergi ke stasiun. Alasannya? Virus Covid yang masih merebak tahun itu.

Ketiga, waktu itu ada kebakaran di Bromo yang disebabkan oknum pre-wedding yang menggunakan flare. Padahal aku dan teman-teman sudah berada di Malang dan memasukkan itinerary untuk eksplor lautan pasir Bromo, dan sekitarnya. Jadi wisata ke Bromo ditutup sementara saat itu.

Di pertengahan tahun 2024, ka Ulfa ngajakkin aku buat ke Bromo untuk ikut Fjällräven Discovery Bromo. Waktunya pas sekali H-1 bulan sebelum keberangkatan kami menuju ke Everest Base Camp. Jadi ini adalah ide yang bagus, sekaligus melatih stamina dengan trekking rute panjang. 


Rediscovering Bromo


Fjällräven Discovery terinspirasi dari Fjällräven Classic Sweden. Fjällräven Classic dimulai dari tahun 2006 dan sudah diadakan di beberapa negara lainnya seperti Korea, USA, Chile, Germany, Denmark, dan UK. Kegiatan outdoor ini dilakukan untuk menginspirasi lebih banyak orang kembali ke alam. 

Konsepnya sederhana tapi sangat bermakna. Kita akan menikmati keindahan alam dengan berjalan kaki, membawa perlengkapan sendiri, dan tentu menjaga alam dengan membawa kembali sampah yang dihasilkan. Gak ada kompetisi di sini, just enjoy the journey and the view!

Fjällräven Discovery Bromo ini versi lebih pendek dan acccessible dari Fjällräven Classic tapi tetap mempertahankan esensi yang sama. Soalnya kalo di luar negeri Fjällräven Classic diadakan dengan rute yang lebih panjang dan waktu yang lama. 

Nature is My Playground


Alasan utama kenapa aku pengen banget ikut Fjällräven Discovery Bromo karena rute yang kita lewati adalah rute spesial yang hanya diakses saat Fjällräven Discovery Bromo aja! Jadi ini bukan rute biasa yang didatangi wisatawan pada umumnya yang biasanya diakses menggunakan jeep. 


Konsep besarnya, ini adalah long trekking dan kita harus membawa semua peralatan pendakian masing-masing. Kita akan melewati lautan pasir bromo yang luas, hutan, savana, perkebunan warga sekitar lebih dari 30 km. Selama 3 hari 2 malam, kami akan menginap di area Bromo dengan sunrise yang cantik sekali! Gak ada reach summit di long trekking ini. Pokoknya nikmati aja perjalan mengelilingi kaldera Bromo. 

Cuaca saat siang hari cukup terik tapi terasa sejuk. Terwajib banget harus bawa buff karena pasir debu Bromo yang berterbangan kencang. Kalau malam hari, suhu justru bisa dingin sekali bahkan bisa sampai dibawah 0 derajat celcius. Di hari kedua, pagi hari terlihat es yang menghiasi tenda kami. Jadi jangan lupa bawa perlengkapan yang sesuai untuk long trekking di Bromo.


Leave with no Trace


Kami disediakan makanan cepat saji seperti; semur ayam, soto, bubur, nasi yang dapat dimasak dan dipanaskan dengan air mendidih. Nah, semua sampah yang kita hasilkan termasuk sampah bungkus makanan tersebut harus kita bawa sampai kembali ke garis finish di Hotel Lava View. Sampah tidak boleh ditinggal di area camp. Pokoknya semua peserta turut berkontribusi menjaga kebersihan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. 

Gak heran yah, kalo gak semua titik di area Bromo gak dibuka buat umum. Bukan karena persoalan ladang ganja, tapi gak kebayang aja kalo jalur ini dibuka bakal gimana tanggung jawab orang-orang untuk bawa balik sampahnya. Apalagi area Bromo luas banget!


Oya, sepanjang trek akan ada refreshment point dan ternyata kita disuguhkan minuman dari Tuku! Aseliii ini tuh booster banget. Jadi biasanya di refreshment point itu kita sekalian makan siang juga. Nah setiap kita sampai di refreshment point dan campsite, kita bakal dapet stamp. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian trekking, kita dapet medali. Seru banget kayak habis marathon lari dapet medali gitu.

Buatku, perjalanan ini bukan hanya soal menaklukkan jalur, tapi tentang recharge energy dengan alam dan tentang teman seperjalanan yang membuat perjalanan ini lebih berkesan. Sampai jumpa kembali Bromo! 

_____

Keep in Touch
Thanks for reading!

Labora Homestay Penginapan View Terbaik Gunung Kerinci

 

Labora Homestay View Gunung Kerinci.

Tak terasa setelah menempuh perjalanan roadtrip sekitar 7 jam dari Padang ke Jambi, kami tiba di homestay sebelum keesokan harinya mendaki Gunung Kerinci. Warna langit senja yang cantik dengan latar Gunung Kerinci mengantarkan kami ke Labora Homestay, penginapan dengan view terbaik di kaki Gunung Kerinci.

Setelah menaruh barang-barang di kamar, kami diajak ke rooftop. Area yang cukup luas dengan view langsung menghadap Gunung Kerinci terpampang nyata, indah sekali! Kami menginap di lantai dua, fasilitas di kamar cukup lengkap termasuk air minum, pemanas air minum, teh, kopi, water heater untuk mandi, dan WiFi pastinya.


Keesokan hari, kami menyantap sarapan yang disediakan. Ada pilihan nasi goreng dan soto ayam. Cuaca hari itu sangat cerah, view pemandangan Gunung Kerinci menemani pagi kami. Setelah sarapan, aku sempat membawa teh hangat ke rooftop dan menikmati keindahan Gunung Kerinci dan Kebun Teh Kayu Aro yang luas.

Aku menginap di sini sebelum dan sesudah mendaki Gunung Kerinci. Lokasi Labora Homestay sangat strategis, tak jauh dengan pintu rimba Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh. Selain menjadi spot terbaik untuk melihat indahnya sunrise dan sunset Gunung Kerinci, Labora Homestay juga dekat dengan beberapa tempat makan, toko perlengkapan mendaki gunung, bahkan ada minimarket persis di sebelahnya. 

Cobek Bakar Sambal Kerinci. Pedesnya bikin kuping pengeng tapi enak!

Hanya dengan berjalan kaki, kita bisa mampir ke warung makan Cobek Bakar Sambal Kerinci. Dua malam terakhir, aku makan di sini karena cocok di lidah dan harganya juga terjangkau. Sebelum pulang kembali roadtrip ke Padang, aku sempat membeli oleh-oleh teh khas Kayu Aro yang dijual di minimarket tadi. Harganya mulai dari Rp7000 saja. Sampai jumpa lagi Kerinci!

Labora Homestay Kerinci
Alamat Jalan Raya Pasar Kersik Tua, Batang Sangir, Kec. Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi 37163
Telephone 0822 4556 9979/0823 8360 4788
Instagram @labora_kerinci


__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Packing Light Perlengkapan Naik Gunung

Naik gunung itu punya sensasinya sendiri apalagi untuk penikmatnya. Tapi naik gunung juga butuh perlengkapan yang mumpuni biar bisa bertahan hidup. Penting banget untuk menerapkan packing light supaya gak semua isi rumah dibawa saat naik gunung. Waktu naik gunung pertama kali ke Gunung Prau, aku pinjam beberapa perlengkapan hiking sama teman. Aku pikir, cuma sekali-kali aja kok naik gunung, jadi yowes aku pinjam saja. 

Siap-siap naik gunung.

Setelah turun gunung dari pendakianku yang pertama, lah kok aku jadi nagih pengen naik gunung lagi. Akhirnya aku nyicil beli perlengkapan gunung dan mau bawa barang-barang yang penting saja supaya gak terlalu berat. Katanya sih kalo bawa carrier maksimal 30% dari berat badan kita. Jadi, inilah barang-barang yang aku bawa selama pendakian berdasarkan pengalamanku;

1. Carrier dan Rain Cover
Tas ransel biasa hanya akan membuatmu semakin pegal. Gunakan carrier dengan kapasitas yang sesuai badan dan memiliki fungsi air flow back system agar lebih nyaman saat mendaki. Carrier juga dilengkapi dengan strap belt supaya lebih ringan menopang beban dan kantong kecil di sisinya. Kantong kecil ini biasanya aku gunakan untuk menyimpan cokelat atau camilan sehingga mudah diambil saat aku butuh energi. Biasanya carrier sudah dilengkapi dengan rain cover yang bisa melindungi tas dari hujan, lumpur, tanah, dan debu. 

2. Sleeping Bag dan Matras
Ini satu paket yang tak bisa dipisahkan seperti kamu dan si dia, karena keduanya saling melengkapi dan menghangatkan. Sleeping bag yang aku punya juga ultra light dengan berat 500 gram saja. Mereknya Makalu Outdoor Alps Dream 700. Matras yang biasa digunakan untuk mendaki ada matras gulung karet dan matras aluminium. Aku biasanya menggunakan matras aluminium untuk lebih menghemat ruang dalam tas. Lebih baik lagi jika memiliki matras angin, karena pastinya tidur bisa lebih nyenyak. Namun harga matras angin relatif lebih mahal, tapi bentuknya lebih fleksibel dan ringan.

3. Jas Hujan

Cuaca di gunung memang tak menentu. Makanya kita harus siap dengan kondisi apapun. Pendakian saat musim kemarau atau hujan, kita wajib membawa benda ini jika tidak ingin menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Gak kebayang kan kalau hujan saat pendakian dan semua perlengkapanmu basah? 

Aku membawa jas hujan model setelan baju dan celana sehingga bisa menutupi seluruh badan dengan baik saat hujan deras di gunung. Dibanding model ponco rasanya kurang nyaman dipakai saat hujan dan model ini lebih leluasa bergerak. Tidak disarankan membawa jas hujan plastik sekali pakai, karena selain bahannya tipis lebih gampang robek

4. Pakaian Ringan dan Quick Dry

Pakaian waktu naik gunung itu memiliki fungsinya sendiri walaupun modelnya gak banyak. Gunakan pakaian yang tepat daripada salah kostum! Saat mendaki gunung, sebaiknya kita tidak menggunakan celana jins dan kaos biasa. Celana jins membuat ruang gerak kaki terbatas. 

Apalagi model skinny jeans yang terlihat keren itu sangat tidak disarankan, karena bisa membuat pangkal paha lecet, sulit dibersihkan apalagi dikeringkan jika terkena basah. Gunakan celana berbahan parasut atau kargo yang biasanya lebih ringan, breathable, dan waterproof. Jangan lupa masukkan pakaian tadi ke dalam zipper bag untuk antisipasi jika hujan deras menembus tas.


Persiapan Naik Gunung.

Waktu pertama kali naik gunung, aku menggunakan kaos biasa, alhasil sampai tempat berkemah, aku jadi keringat dingin dan bajuku basah banget, sulit kering dan jadi menambah beban dalam tas. Jadi , penting sekali untuk memakai dan membawa kaos dryfit yang ringan dan cepat kering. Jika tidak, kita bisa saja terkena hipotermia karena kedinginan menggunakan pakaian yang basah.

Selain itu aku juga selalu membawa dua jenis jaket ringan yang bisa dilipat menjadi kecil. Pertama, jaket parasut yang windproof dan waterproof untuk pendakian pagi atau siang hari jika udara dingin dan angin berhembus kencang. Kedua, Ultra Light Down Jacket yang digunakan saat malam hari atau summit attack untuk suhu yang lebih tinggi. 

5. Senter dan Headlamp

Waktu pertama kali mendaki gunung, aku gak bawa senter apalagi headlamp. Aku pikir pakai saja senter dari ponsel, dan ternyata aku salah besar! Hal itu malah menyulitkanku dan membuatku gak fokus saat berjalan. Senter sangatlah penting, bisa digunakan untuk lampu tenda atau tambahan pencahayaan. 

Bawalah senter LED, biasanya berukuran lebih kecil namun cahaya yang dihasilkan lebih terang dengan jangkauan yang lebih luas. Sedangkan headlamp memudahkan untuk berjalan saat pendakian malam atau summit attack. Jangan lupa membawa baterai cadangan yang sesuai dengan ukuran senter kamu.

6. Trekking Pole

Aku tidak membawa trekking pole saat pendakian pertamaku. Mungkin karena keterbatasan pengalaman (dan budget). Awalnya aku gak kepikiran bahwa benda ini ternyata sangat penting. Akhirnya, aku membeli tongkat bambu seharga Rp5000 di Pos 2 jalur pendakian Prau via Patak Banteng. 

Ternyata benda ini sangat amat membantuku selama pendakian untuk menjaga keseimbangan dan ritme mendaki, dan menopangku saat hendak menanjak. Selain itu, trekking pole juga dapat digunakan sebagai penguat tenda agar tidak terbang saat badai. 

Aku memilih menggunakan trekking pole lipat Tenacity Tracking Pole Eiger. Trekking pole ini cukup kokoh, praktis, dan lebih mudah disimpan Panjang maksimal 135 cm dan saat dilipat hanya 32 cm saja. 


7. Botol Air dan Peralatan Makan

Air adalah elemen yang sangat penting saat mendaki. Aku menggunakan botol minum lipat yang terbuat dari karet sehingga dapat dipakai berulang kali. Aku mengurangi sampah botol plasik dengan membawa botol minum seperti ini. 

Minum air yang cukup saat pendakian agar cairan dalam tubuh terpenuhi sehingga terhindar dari dehidrasi. Letakkan botol air di tempat yang mudah dijangkau. Aku biasanya menggantungkan botol air dibagian depan menggunakan karabiner. Kamu juga bisa menggunakan water bladder sehingga lebih mudah minum dari selangnya.
Aku punya 3 botol lipat ini yang selalu aku bawa saat naik gunung. Sumber: IG @8rothers_adv.

Memasak bersama saat naik gunung adalah momen yang asik, tapi tak lupa tentunya kami harus membawa peralatan masing-masing seperti piring atau tempat makan lipat, gelas, dan spork. Menggunakan peralatan makan lipat seperti ini pastinya menghemat tempat dalam tas.

Alat makan lipat. Sumber: IG @8rothers_adv.

8. Obat-obatan & Toiletries

Packing light bukan berarti mengabaikan aspek kesehatan dan kebersihan. Kondisi di gunung memang tak menentu. Oleh karena itu, kita harus selalu sedia P3K dan obat-obatan pribadi seperti;  hansaplast, betadine, tolak angin, minyak kayu putih, dan lain-lain. Dalam pouch kecil lainnya, aku juga memasukkan beberapa toiletries penting dalam ukuran kecil seperti; sikat gigi, deodoran, handuk kecil, pembalut, tabir surya, tissue, dan hand sanitizer spray


9. Tas Kecil

Tas ini bisa berupa backpack atau waist bag, yang digunakan untuk membawa barang-barang penting seperti HP, dompet, kamera atau peralatan pentingmu yang lain. Tas kecil juga digunakan saat summit attackJangan lupa juga membawa obat-obat dan baterai cadangan didalamnya. Lebih baik membawa tasmu sendiri saat summit attack, karena saat itu bisa saja temanmu berada di belakang atau di depanmu, sehingga kamu gak bisa terus mengandalkan temanmu untuk membawa cadangan logistik hanya dalam tas temanmu kan?

10. Karabiner

Barang kecil ini punya kegunaan yang sangat banyak. Setidaknya ada 3 buah karabiner yang terpasang pada tasku. Karabiner ini bisa digunakan untuk memudahkan membawa barang seperti air, sampah, sepatu, dan barang lainnya yang mungkin tak cukup masuk dalam tasmu.

List Perlengkapan Naik Gunung versiku.

Perlengkapan lainnya yang digunakan bersama-sama dengan kelompok, seperti; tenda, nesting, dan bahan logistik bisa dibagi antara anggota kelompok. Kalau gak mau ribet, kamu bisa juga membeli makanan di basecamp atau menyewa porter untuk mendirikan tenda. Setelah menulis postingan ini, aku jadi semangat mau siap-siap packing light lagi. Naik gunung apalagi ya?

__

Keep in Touch
Thanks for reading!

Perjalanan ke Merbabu yang Bikin Rindu | Merbabu via Selo

Udah cocok buat poster film 5 cm (part 2) gak nih?


Perjalanan kereta malam dari Stasiun Senen menuju Stasiun Solo Balapan tak terasa lamanya, mungkin karena aku terlalu bersemangat menyimpan energi untuk pendakian esok hari. Matahari membangunkanku dari jendela kereta dan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu seakan menyapaku di pagi hari itu.

 

Mobil pick-up yang kami pesan sebelumnya, sudah siap mengantarkan kami ke basecamp Selo. Ada banyak sekali basecamp di Gunung Merbabu Selo dan kami singgah di basecamp pak Parman sebelum pendakian dimulai.


Basecamp Pak Parman di Selo.

Gunung Merbabu memiliki 5 jalur resmi pendakian yaitu jalur; Selo, Wekas, Thekelan, Chuntel, dan Suwanting. Kami memilih jalur pendakian Selo yang terkenal dengan panoramanya yang indah sekali, walaupun waktu pendakian lebih lama. Pendaftaran pendakian gunung Merbabu dilakukan secara online di www. tngunungmerbabu.org dengan minimal 3 orang pendaki. Tim kami berjumlah 5 orang, 2 diantaranya sudah pernah ke Gunung Merbabu sebelumnya.


Baca Juga: Mendaki Atap Pulau Jawa, Gunung Semeru


Selama beberapa kali aku naik gunung, aku rasa pendakian Gunung Merbabu ini melakukan briefing yang paling lengkap. Setiap kelompok yang hendak memulai pendakian di-interview satu per satu. Mereka menanyakan perihal kesehatan dan pengalaman mendaki gunung, serta mencatat apa yang kami bawa seperti; makanan dan berapa banyak air yang kami bawa karena jalur Selo tidak memiliki sumber air. Termasuk juga mencatat kelengkapan barang bawaan wajib kami, seperti sleeping bag, matras, jaket, dan lain-lain. Jika tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), kami wajib menyewa peralatan di tempat penyewaan perlengkapan mendaki dekat pos pendakian.

 

“Gelang apa itu Greg? Tumben pakai gelang warna orange”, tanyaku pada Grego, ketua kelompok kami.


Ternyata gelang itu diberikan kepada ketua kelompok pada saat briefing awal dengan petugas, namanya RFID. Gelang ini bertuliskan Taman Nasional Gunung Mebabu yang sudah ditanamkan chip Radio Frekuensi Identification (RFID).  Setiap kelompok akan terdeteksi jika sudah melewati tower emergency report yang berada di Sabana 1. Jika terjadi keadaan darurat, pendaki dapat menuju tower untuk menghubungi petugas melalui aplikasi yang sudah diunduh pada smartphone.


Gelang RFID. Sumber: http://ksdae.menlhk.go.id/


Hidup Tanpa Tisu Basah di Gunung Merbabu

 

Kami bersiap naik gunung Merbabu. Pemeriksaan barang bawaan dilakukan secara ketat dan tegas. Seperti biasa, aku membawa tisu basah saat hendak ke gunung. Alasan sederhananya untuk membersihkan muka, tangan, dan lain sebagainya. Akupun selalu membawa sampah turun tak terkecuali.

 

“Tisu Basah ditinggal di basecamp, kalau ketahuan nama Anda dan kelompok akan di blacklist di taman nasional gunung selama 2 tahun.”

 

Pernyataan itu terus menerus diulang. Saat berada di basecamp, kami sudah diperingati untuk tidak membawa tisu basah, bahkan saat briefing sebelum mendaki, kami diperingati lagi. Bawaan kami diperiksa dan dengan sangat terpaksa akhirnya aku meninggalkan tisu basah (yang baru aku beli) itu.


Baca Juga: Naik Gunung Cuma 1 Hari? Bisa dong!

Ternyata sampah tisu basah adalah sampah paling banyak di gunung selain sampah botol plastik. Tisu basah mengandung serat plastik  dan bahan kimia yang sulit diurai. Selain itu, aroma yang dihasilkan tisu basah yang dibuang sembarangan dapat mengundang datangnya hewan liar yang bisa membahayakan pendaki. Sekarang aku paham betul kenapa larangan itu ada.


Pos 1 Dokmalang Gunung Merbabu via Selo.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 tidak begitu curam dan dikelilingi oleh hutan rindang. Kami berhenti sejenak di sini untuk beristirahat dan menyantap makan siang. Aku melihat beberapa monyet di kawasan ini, sedihnya lagi aku melihat banyak sekali sampah, terutama sampah botol plastik dan tisu basah. Kebayang gak kalau monyet itu makan sampah kita?


Monyet meratapi sampah.

Setelah mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur yang kami lewati semakin menantang ditambah debu dan pasir yang terasa lebih banyak saat musim kemarau kala itu. Sesaat sebelum sampai Pos 2, ada satu tanjakan terjal dan puncaknya biasa disebut dengan pos bayangan. Aku ingat betul terdapat tali yang bisa kami gunakan untuk melewati tanjakkan terjal itu.


Tanjakan sebelum Pos Bayangan.
Jalur cukup terjal.
Mereka ini brotherhood dan sisterhood lho! (kiri-kanan: Grego, Devita, Tya, Gilbert).


Pemandangan alam terbuka semakin terlihat, saat tiba Pos 3 udara dingin dan angin semilir mulai terasa. Awalnya kami berencana untuk berkemah di Pos 4 (Sabana 1) karena lebih dekat dengan puncak, tapi hari mulai senja dan membutuhkan waktu lebih lama lagi menuju Pos 4. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkemah di Pos 3. Pos 3 adalah tempat yang direkomendasikan untuk mendirikan tenda karena tempat ini cukup luas.


Kami membagi tugas, para laki-laki membangun tenda, dan kami para perempuan membuat jamuan hangat dan menyiapkan masakkan untuk makan malam. Di sini kami dapat melihat Gunung Merapi yang gagah, terasa dekat dan besar. Senja di pos 3 terasa begitu indah. Walaupun angin dingin mulai menusuk kulit, tapi aku menikmati langit merah muda berganti jingga, hingga berganti malam yang penuh dengan bintang-bintang.


Camping ground di Pos 3.
Pink Sunset di Pos 3.


Mungkin karena banyak pendaki yang berkemah disini, aku melihat banyak sekali sampah tisu basah. Memang banyak sampah lainnya, tapi sampah tisu basah paling menonjol. Tak habis pikir, apa masih bisa disebut pendaki kah orang-orang yang masih membuang sampah di gunung ini?


Panorama Indah Menemani Perjalanan Menuju Puncak

 

Kami tidur lebih cepat dan bangun saat subuh sekitar jam 4 untuk memulai melakukan summit attack. Kami membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena kami berada di Pos 3. Persiapan logistik sudah siap dalam tas, kami mulai bergegas memasang headlamp, dan tak lupa berdoa kepada Sang Pencipta agar perjalanan kami lancar sampai puncak Gunung Merbabu.


Baca Juga: 7 Alasan Wajib ke Gunung Papandayan

 

Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 (Sabana 1) cukup menantang ditengah gelap dan dinginnya malam kala itu. Setelah kupikir-pikir, ada baiknya kami berkemah di Pos 3, karena tanjakan menuju Pos 4 ini cukup terjal  apalagi jika kami membawa carrier.


Pink Sunrise.

Saat di Sabana 1, kami berhenti sejenak dan menikmati matahari terbit. Pemandangan di Sabana 1 indah sekali, disini kami melihat banyak tenda-tenda pendaki. Matahari mulai tinggi dan saya menikmati langit merah jingga dengan edelweis, serta Gunung Merapi yang menjadi pemandangan kami menuju ke Pos 5 (Sabana 2). 


Pagi indah bersama Edelweis dan Gunung Merapi.


Perjalanan kami menuju puncak Merbabu sangat menyenangkan. Langkah ini terus bersemangat menuju puncak, setelah melewati Sabana 1 dan Sabana 2, dan menengok ke belakang, aku benar-benar terkejut! Aku melihat undakan Sabana yang kami lewati tadi, ditambah bonus Gunung Merapi dan lautan awan yang memesona.


Sabana 1, 2, dan Gunung Merapi menemani perjalanan kami.
Menuju Puncak Kentengsongo.
Tanjakkan yang kami tempuh sebelum Puncak Kentengsongo.

Akhirnya kami sampai di Puncak Kentengsongo 3142 mdpl! Dari sini, kami bisa melihat gunung-gunung lain seperti Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Lawu. Kami melihat ada tenda dan batu-batu di Puncak Kentengsongo. Sesuai dengan namanya terdapat 9 batu kenteng dan dikeramatkan oleh masyarakat. Kami mengambil waktu sejenak untuk bersyukur, melihat indahnya alam semesta, dan mengibarkan bendera merah putih di Puncak Kentengsongo.


Finally 3142 mdpl!

Saat tiba kembali di basecamp, sampah kami digeledah. Petugas memastikan apa yang kami bawa turun sesuai catatan pada saat kami hendak naik. Pada akhirnya, bisa juga aku bertahan di gunung tanpa tisu basah. Bahkan aku gak terlalu memikirkannya karena terlalu asik menikmati pemandangan di sini. Walaupun turun gunung muka penuh debu, tapi rasanya puas bisa mengurangi sampah tisu basah di gunung.


Kondisi jalur yang berdebu.

Gunung bukanlah tempat sampah. Jika hanya bisa membuang sampah di gunung atau menyembunyikan sampah dalam semak-semak, lebih baik kamu di rumah saja. Sampah di gunung sangat banyak dapat merusak ekosistem. Menjaga kebersihan alam adalah bagian dari perjalanan pendakian. Saat mendaki gunung lagi, mari siapkan satu kantong lebih untuk membawa sampah yang bukan milikmu, sebagai rasa peduli dan cintamu terhadap alam. 


Terima kasih Merbabu atas perjalanan yang membuatku rindu. Semoga kelak bisa kembali lagi melihatmu melaui jalur pendakian yang berbeda. 


7 Alasan Wajib ke Gunung Papandayan


Welcome to Papandayan!

Banyak yang bilang kalau Gunung Papandayan salah satu gunung yang cocok untuk pendaki pemula. Sudah banyak pula trip operator yang membuka layanan untuk pergi kesini. Coba aja cari dengan hashtag #opentrippapandayan, nah banyak  banget tuh pilihannya. Tapi kali ini saya pergi berdua dengan Tya naik transportasi umum.

Ini rutenya :
Halte Bus Primajasa Cawang (Rp52,000) – Halte Guntur (Naik angkot Rp25.000) – Simpang Cisurupan (Naik mobil pick-up Rp25.000) – Gunung Papandayan.


Pemandangan pagi Gunung Cikuray dari Simpang Cisurupan.
Berlokasi di Wilayah Garut - Jawa Barat, Gunung Papandayan menjadi salah satu gunung favorit untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Perjalanan kami tak terasa karena malam itu kami tidur di bus. Sampai akhirnya aku bisa menikmati udara pagi dan melihat kabut indah yang menyelimuti persawahan dan gunung Cikuray dari mobil pick-up.

Waktu aku lagi ngobrol-ngobrol dengan supir mobil pick-up menuju Gunung Papandayan, pak supir menjelaskan pemandangan yang kami lihat sepanjang jalan; ada Gunung Puntang, Gunung Gede, Gunung Cikuray, dan Telaga Putih. Jadi kepingin kesana deh karena semuanya belum pernah aku kunjungi. Haha.

Lalu, pak supir juga cerita kalau pengunjung di Gunung Papandayan sudah tidak se-ramai dulu karena tiket masuknya sekarang mahal setelah dikelola pihak swasta (katanya sih pengelolanya sama dengan pengelola wisata Tangkuban Perahu Bandung). Orang-orang banyak juga yang pergi ke Gunung Cikuray karena lebih terjangkau harganya. Harga tiket masuk sebesar Rp65.000 membuat aku dan Tya cukup terkejut karena berdasarkan searching dari internet yang kami tahu tiket masuknya itu Rp35,000. Tapi ternyata kalau camping tambah lagi Rp30.000. Tapi setelah kupikir-kupikir tiket Rp65.000 itu worthit juga lho guys, kenapa?

Me and Tya

1. Jalan Aspal dan Banyak Tangga
Berbeda dengan gunung lain yang pernah aku kunjungi, dari pintu masuk saja jalanannya sudah aspal dan kami langsung disuguhkan pemandangan yang luar biasa! Tidak begitu banyak tanjakan terjal, topografi landai membuat kita bisa lebih santai menapakki jalan atau anak tangga sambil menikmati perjalanan.

Jalanannya sebagian besar udah dibikin tangga begini.
Mirip di Tangkuban Perahu ya!
2. Toilet Bersih
Tidak lama kami berjalan dari pos awal, aku melihat ada rumah kecil yang ternyata itu adalah TOILET! Gak hanya disitu, di beberapa titik kami juga melihat ada toilet lagi. Di dekat camping ground kamipun ada toilet lagi. Menurutku toiletnya pun bersih, ada air keran lengkap dengan closet duduk. Jadi gak usah ribet mikirin BAB, mantep kan?

Ditengah-tengah perjalanan ada bangunan ini, gak cuma satu tapi ada beberapa lho!
3. Air Bersih
Air minum menjadi salah satu logistik yang paling penting (dan paling berat) dalam pendakian. Tapi jangan khawatir jika air minum habis di tengah perjalanan, karena di dekat camping ground Pondok Saladah dan Gubber Hood terdapat air bersih yang bisa dikonsumsi. Kamipun sempat menggunakannya untuk memasak indomie.

4. Dilengkapi Petunjuk Arah
Biasanya kalo di gunung tiap persimpangan atau jalan ditandai dengan tali berwarna supaya kita gak nyasar. Tapi disini, ada tiang biru yang dilengkapi dengan kode nomor terpancang setiap beberapa meter. Petunjuk arah lebih jelas. (Kecuali kalau ke Tegal Alun mesti pakai guide ya, karena aku dan Tya pun bingung jalanannya bercabang banyak)

Tiang biru penanda jalan.
5. Petugas Pos
Belum sampai camping ground aja, ada penjaga pos yang wara-wiri. Setibanya di camping ground, kamipun disambut hangat oleh mereka. Biasanya juga ada sih  penjaga pos begini, tapi aku merasa disini lebih safety karena penjaga pos bener-bener tanya kondisi kita sebelum dan setelah kita camping. Malam-malam memastikan makanan kami digantung di pohon karena H-1 sebelum kami camping ada babi hutan yang menyerang tenda pendaki.


Ini salah satu bapak penjaganya.
6. Palang Quotes
Dari pintu masuk, dalam perjalanan, dan ketika mau pulang, kami melihat beberapa palang-palang quotes yang sangat inspiratif dan membuat kami semakin semangat di perjalanan kalau lagi cape. Kalau baca quotes-quotes tersebut semakin berasa deh aura positifnya.



7. Banyak Warung
Aku yakin ini pasti kalian paling suka kan! Disini tuh banyak warung. Di pos awal ada, di tengah jalan ada, di camping ground ada. Makanannya tuh gak cuma indomie lho, tapi ada nasi goreng, nasi ayam, lumayan banyak deh! Ada satu lagi yang kalah penting, di warung-warung tersebut juga ada jasa cas HP lho!

Warung tempat makannya buanyakk!


Pokoknya aku rekomendasi sekali Gunung Papandayan ini, sekali-sekali cobain ke gunung yuk, siapa tahu ketagihan!


...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Join Over 75k + Subscribers