Kampung Kanibal Huta Siallagan | Toba Trip Part-3

Horas!

Itulah kata yang harus diucapkan saat memasukki Rumah Batak. Akupun baru tahu, saat berkunjung ke Huta Siallagan. Lokasinya tak jauh dari penginapan kami di Tabo Cottage. Dalam bahasa Batak, Huta adalah kampung. Siallagan adalah nama Raja Siallagan. Dahulu kala, area kampung ini dibangun oleh keluarga bermarga Siallagan yang dipimpin oleh Raja Siallagan. 

Horas!

Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp5000 saja, kita sudah bisa mengunjungi Objek Wisata Budaya Batu Kursi Raja Siallagan. Pintu masuk terbuat dari batu yang tak terlalu tinggi dan tak begitu lebar. Konon tembok batu itu dulu berfungsi sebagai penghalang serangan dari binatang buas atau serangan dari kampung lain. Setelah melalui pintu masuk bertulis Huta Siallagan, aku melihat beberapa deretan Rumah Batak yang ikonik.


Pintu Masuk Huta Siallagan.

Perkenalkan ini Tulang Gading yang mengajak kami berkeliling Huta Siallagan. Katanya, beliau juga dulu yang memandu Presiden Jokowi waktu rombongannya berkunjung ke Huta Siallagan. Dengan bangga dan antusias, beliau menceritakan sejarah Kerajaan Siallagan kepada kami. Dari penjelasan beliau, aku jadi paham kenapa kekeluargaan di suku Batak sangat erat. 

Tulang Gading sebagai tour guide kami di Huta Siallagan.

Rumah Batak Penuh Makna

Arsitektur Rumah Batak memang unik dan penuh makna. Terdapat tiga jenis rumah di komplek Huta Siallagan, yaitu Rumah Bolon, Rumah Siamporik, dan Rumah Sibola Tali. Rumah Bolon bentuknya lebih besar, tangga masuknya mengarah ke dalam, serta dihuni oleh raja dan keluarganya. Rumah Siamporik bentuknya lebih kecil, tangga masuk dari luar, serta dihuni oleh keluarga yang diundang untuk tinggal. Sedangkan Rumah Sibola Tali bentuknya lebih langsing dan kecil dan dihuni oleh kerabat raja.

Ini yang dimaksud tangga dari dalam dan dari luar.

Tapi Rumah Batak berada di Huta Siallagan ini, tak menampilkan ukuran asli karena dulu pernah terjadi kebakaran sehingga dibangun kembali untuk tetap melestarikannya. Lalu, bagian atap depan dan belakang Rumah Batak berbentuk meruncing yang artinya orang tua dan anak. Jika hendak masuk rumah, kami harus menundukkan kepala sebagai rasa hormat. Selain itu, bagian belakang atap lebih tinggi daripada bagian depan melambangkan generasi penerus harus lebih baik dan hebat dari orang tuanya.


Rumah Batak mengarah ke gunung yang artinya berkat datang dari tempat yang tinggi. Terdiri dari tiga tingkat yaitu; bagian atap untuk tempat penyimpanan barang, bagian tengah untuk tempat tinggal, dan bagian bawah untuk hewan peliharaan.

Rumah Batak di Huta Siallagan.

Corak yang terdapat pada Rumah Batak bukan hanya sebagai dekorasi, tapi juga memiliki makna yang dalam. Aku teringat akan perkataan salah seorang teman, jika di kamar penginapan ada tokek atau cicak jangan diganggu karena memiliki arti bagi masyarakat batak.

Ternyata simbol cicak yang terdapat di bagian depan Rumah Batak, melambangkan hewan yang bisa hidup dimana saja. Filosofi cicak digambarkan seperti perantau sejati yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam bahasa Batak, ukiran cicak disebut juga Gorga Boraspati yang merupakan simbol kebijaksanaan dan kekayaan.

Gorga Boraspati dan Adop-adop.

Selain itu, terdapat simbol payudara yang melambangkan orang batak tidak melupakan kampung halamannya jika merantau (seperti kembali ke pangkuan ibu). Dalam bahasa batak, ukiran payudara disebut juga Adop-adop. Adop-adop pertama diartikan sebagai simbol kesucian, adop-adop kedua diartikan sebagai simbol kesetiaan. Adop-adop ketiga diartikan sebagai simbol kesejahteraan, dan adop-adop keempat diartikan sebagai simbol kesuburan wanita.


Kisah Mistis Sigale-gale

Berada di seberang Rumah Batak tadi, ada boneka kayu yang menarik perhatianku, namanya Si Gale-gale. Rasa takut dan penasaran tercampur menjadi satu, lantaran aku lihat boneka tersebut berdiri diatas makam. Cerita Si Gale-gale berawal dari seorang raja yang kehilangan anaknya di medan perang.

Sang Raja tak ikhlas dan sakit-sakitan sehingga mereka membuat boneka kayu sebagai perwujudan anaknya. Boneka kayu itu dipakaikan ulos dan sortali, lalu diberi nama Manggale, sama seperti nama anaknya. Roh Manggale dipanggil masuk ke dalam boneka kayu tersebut. Sejak saat itu, boneka Si Gale-gale menari selama 7 hari 7 malam, sehingga membuat kondisi raja membaik.

Sigale-gale.

Pertunjukan Sigale-gale biasanya dilakukan saat ada seorang anak yang meninggal (terutama anak laki-laki), sebagai simbol kasih sayang orang tua dan anak. Namun sekarang, Pertunjukan Sigale-gale menjadi daya tarik wisatawan. Mereka bisa manortor bersama menggunakan ulos yang telah disediakan. Sayangnya saat itu, kami tidak sempat menari bersama Sigale-gale karena keterbatasan waktu dan terdapat minimal wisatawan untuk mengikuti Pertunjukan Sigale-gale ini.


Awal Mula Kanibal di Batu Persidangan

Setelah melewati deretan Rumah Batak bagian depan, tepat di depan salah satu Rumah Batak bagian tengah, terdapat meja dan kursi yang disusun melingkar, terbuat dari batu. Letaknya di bawah Pohon Hariara, yang merupakan pohon suci bagi masyarakat Batak. Tempat ini dinamakan Batu Parsidangan yang pertama. Fungsinya sebagai tempat rapat untuk menentukan hukuman kejahatan. Kemudian jika kita berjalan ke dalam lagi, terdapat Batu Persidangan yang kedua, yang menjadi tempat eksekusi hukuman pancung.


Tulang Gading mempersilahkan kami untuk duduk di kursi-kursi batu tersebut. Beliau menceritakan bahwa dulu tempat ini digunakan untuk mengadili dan menghukum para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Mereka diasingkan terlebih dahulu di rumah batak bagian bawah (karena dianggap seperti hewan) untuk menunggu waktu eksekusi hukuman pancung.

Batu Persidangan Pertama di bawah Pohon Hariara.

Batu Persidangan Pertama.

Untuk menentukan tanggal hukuman, Raja Siallagan memakai kalender Batak dan buku sakti bernama Pustaha Laklak untuk mencari hari baik. Pelaku kejahatan yang mendapat hukuman pancung terlebih dahulu diberi makan untuk melemahkan ilmu hitam, lalu dipukul menggunakan tongkat sakti bernama Tunggal Panaluan.

Kemudian, tubuh mereka disiksa hingga berdarah dan disiram air asam. Setelah itu, barulah hukum pancung dieksekusi. Kepala dan tubuh penjahat yang dipancung dibuang, tapi ada beberapa bagian tubuh lainnya diambil seperti; hati, jantung, dan darah untuk dimakan oleh raja. Konon katanya agar ilmu hitam raja semakin kuat dan menambah kekebalan tubuh. Hal tersebut yang menjadi awal mula tradisi kanibalisme di Huta Siallagan.

Tongkat Sakti Tunggal Panaluan, Kalender Batak, Pustaha Laklak, dan pisau untuk eksekusi hukuman pancung.

Adegan eksekusi hukuman pancung

Tapi tenang saja, sekarang hukuman pasung atau pancung sudah tidak ada. Ritual tersebut menghilang sejak pendeta Jerman Dr. Ingwer Ludwig Nommensen menyebarkan Agama Kristen. Lalu, Raja Siallagan yang menganut Parmalim (agama asli Batak) akhirnya memeluk agama Kristen, sehingga  jika ada kejahatan, hukuman pidana dan perdata yang berlaku.

Aku cukup tegang mendengar hukuman pancung tadi. Jika aku berada di masa itu, pasti akan kulakukan semua hal sebaik mungkin agar tak mendapat hukuman, karena hidup ini sesungguhnya berharga. Lalu terpikir juga olehku, apakah karena hal itu banyak orang Batak menjadi pengacara untuk menegakkan keadilan? 

Tulang Gading membuatkanku topi batak dari ulos. Katanya dulu ulos dari topi digunakan oleh para perempuan untuk ke ladang/bekerja dibawah terik matahari.

Saat menuju arah pulang, kami disuguhkan banyak sekali oleh-oleh khas Batak seperti kain, tas, ikat kepala ulos, dan masih banyak lagi. Kalau kamu mampir ke sini jangan lupa beli oleh-oleh juga ya, sekalian membantu perekonomian masyarakat lokal. Sayangnya aku belanjanya kurang banyak karena kupikir mau beli oleh-oleh pas hari terakhir yang ternyata gak keburu.

Toko Oleh-oleh, Jangan lupa belanja di sini ya!

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan foto dengan ulos. Tulang Gading baik sekali. Beliau mengambilkan aku dan Will ulos untuk berfoto di depan Rumah Batak. Padahal di tempat ulos tadi sedang ada pertunjukkan Sigale-gale. Kamipun baru tahu kalau ternyata ulos untuk laki-laki dan perempuan berbeda. 

Terima kasih Tulang Gading, sampai jumpa!

Waktu itu terasa cepat, rasanya kami masih belum puas berada di Huta Siallagan, mungkin kurang dari satu jam kami berada di sana. Aku berharap bisa kembali lagi untuk menyaksikan pertunjukkan Sigale-gale dan memakai pakaian adat batak lengkap. Horas!

_____

Huta Siallagan
Alamat Siallagan-Pindaraya, Ambarita, Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara 22395
Telepon: 0822 2226 0098
Tiket Masuk Rp5000
Jam Buka Pk06.00 - Pk18.00 (Senin-Sabtu), 
Pk11.00 - Pk18.00 (Minggu)

Sumber Referensi:


...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Perjalanan ke Merbabu yang Bikin Rindu | Merbabu via Selo

Udah cocok buat poster film 5 cm (part 2) gak nih?


Perjalanan kereta malam dari Stasiun Senen menuju Stasiun Solo Balapan tak terasa lamanya, mungkin karena aku terlalu bersemangat menyimpan energi untuk pendakian esok hari. Matahari membangunkanku dari jendela kereta dan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu seakan menyapaku di pagi hari itu.

 

Mobil pick-up yang kami pesan sebelumnya, sudah siap mengantarkan kami ke basecamp Selo. Ada banyak sekali basecamp di Gunung Merbabu Selo dan kami singgah di basecamp pak Parman sebelum pendakian dimulai.


Basecamp Pak Parman di Selo.

Gunung Merbabu memiliki 5 jalur resmi pendakian yaitu jalur; Selo, Wekas, Thekelan, Chuntel, dan Suwanting. Kami memilih jalur pendakian Selo yang terkenal dengan panoramanya yang indah sekali, walaupun waktu pendakian lebih lama. Pendaftaran pendakian gunung Merbabu dilakukan secara online di www. tngunungmerbabu.org dengan minimal 3 orang pendaki. Tim kami berjumlah 5 orang, 2 diantaranya sudah pernah ke Gunung Merbabu sebelumnya.


Baca Juga: Mendaki Atap Pulau Jawa, Gunung Semeru


Selama beberapa kali aku naik gunung, aku rasa pendakian Gunung Merbabu ini melakukan briefing yang paling lengkap. Setiap kelompok yang hendak memulai pendakian di-interview satu per satu. Mereka menanyakan perihal kesehatan dan pengalaman mendaki gunung, serta mencatat apa yang kami bawa seperti; makanan dan berapa banyak air yang kami bawa karena jalur Selo tidak memiliki sumber air. Termasuk juga mencatat kelengkapan barang bawaan wajib kami, seperti sleeping bag, matras, jaket, dan lain-lain. Jika tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), kami wajib menyewa peralatan di tempat penyewaan perlengkapan mendaki dekat pos pendakian.

 

“Gelang apa itu Greg? Tumben pakai gelang warna orange”, tanyaku pada Grego, ketua kelompok kami.


Ternyata gelang itu diberikan kepada ketua kelompok pada saat briefing awal dengan petugas, namanya RFID. Gelang ini bertuliskan Taman Nasional Gunung Mebabu yang sudah ditanamkan chip Radio Frekuensi Identification (RFID).  Setiap kelompok akan terdeteksi jika sudah melewati tower emergency report yang berada di Sabana 1. Jika terjadi keadaan darurat, pendaki dapat menuju tower untuk menghubungi petugas melalui aplikasi yang sudah diunduh pada smartphone.


Gelang RFID. Sumber: http://ksdae.menlhk.go.id/


Hidup Tanpa Tisu Basah di Gunung Merbabu

 

Kami bersiap naik gunung Merbabu. Pemeriksaan barang bawaan dilakukan secara ketat dan tegas. Seperti biasa, aku membawa tisu basah saat hendak ke gunung. Alasan sederhananya untuk membersihkan muka, tangan, dan lain sebagainya. Akupun selalu membawa sampah turun tak terkecuali.

 

“Tisu Basah ditinggal di basecamp, kalau ketahuan nama Anda dan kelompok akan di blacklist di taman nasional gunung selama 2 tahun.”

 

Pernyataan itu terus menerus diulang. Saat berada di basecamp, kami sudah diperingati untuk tidak membawa tisu basah, bahkan saat briefing sebelum mendaki, kami diperingati lagi. Bawaan kami diperiksa dan dengan sangat terpaksa akhirnya aku meninggalkan tisu basah (yang baru aku beli) itu.


Baca Juga: Naik Gunung Cuma 1 Hari? Bisa dong!

Ternyata sampah tisu basah adalah sampah paling banyak di gunung selain sampah botol plastik. Tisu basah mengandung serat plastik  dan bahan kimia yang sulit diurai. Selain itu, aroma yang dihasilkan tisu basah yang dibuang sembarangan dapat mengundang datangnya hewan liar yang bisa membahayakan pendaki. Sekarang aku paham betul kenapa larangan itu ada.


Pos 1 Dokmalang Gunung Merbabu via Selo.

Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 tidak begitu curam dan dikelilingi oleh hutan rindang. Kami berhenti sejenak di sini untuk beristirahat dan menyantap makan siang. Aku melihat beberapa monyet di kawasan ini, sedihnya lagi aku melihat banyak sekali sampah, terutama sampah botol plastik dan tisu basah. Kebayang gak kalau monyet itu makan sampah kita?


Monyet meratapi sampah.

Setelah mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur yang kami lewati semakin menantang ditambah debu dan pasir yang terasa lebih banyak saat musim kemarau kala itu. Sesaat sebelum sampai Pos 2, ada satu tanjakan terjal dan puncaknya biasa disebut dengan pos bayangan. Aku ingat betul terdapat tali yang bisa kami gunakan untuk melewati tanjakkan terjal itu.


Tanjakan sebelum Pos Bayangan.
Jalur cukup terjal.
Mereka ini brotherhood dan sisterhood lho! (kiri-kanan: Grego, Devita, Tya, Gilbert).


Pemandangan alam terbuka semakin terlihat, saat tiba Pos 3 udara dingin dan angin semilir mulai terasa. Awalnya kami berencana untuk berkemah di Pos 4 (Sabana 1) karena lebih dekat dengan puncak, tapi hari mulai senja dan membutuhkan waktu lebih lama lagi menuju Pos 4. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkemah di Pos 3. Pos 3 adalah tempat yang direkomendasikan untuk mendirikan tenda karena tempat ini cukup luas.


Kami membagi tugas, para laki-laki membangun tenda, dan kami para perempuan membuat jamuan hangat dan menyiapkan masakkan untuk makan malam. Di sini kami dapat melihat Gunung Merapi yang gagah, terasa dekat dan besar. Senja di pos 3 terasa begitu indah. Walaupun angin dingin mulai menusuk kulit, tapi aku menikmati langit merah muda berganti jingga, hingga berganti malam yang penuh dengan bintang-bintang.


Camping ground di Pos 3.
Pink Sunset di Pos 3.


Mungkin karena banyak pendaki yang berkemah disini, aku melihat banyak sekali sampah tisu basah. Memang banyak sampah lainnya, tapi sampah tisu basah paling menonjol. Tak habis pikir, apa masih bisa disebut pendaki kah orang-orang yang masih membuang sampah di gunung ini?


Panorama Indah Menemani Perjalanan Menuju Puncak

 

Kami tidur lebih cepat dan bangun saat subuh sekitar jam 4 untuk memulai melakukan summit attack. Kami membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena kami berada di Pos 3. Persiapan logistik sudah siap dalam tas, kami mulai bergegas memasang headlamp, dan tak lupa berdoa kepada Sang Pencipta agar perjalanan kami lancar sampai puncak Gunung Merbabu.


Baca Juga: 7 Alasan Wajib ke Gunung Papandayan

 

Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 4 (Sabana 1) cukup menantang ditengah gelap dan dinginnya malam kala itu. Setelah kupikir-pikir, ada baiknya kami berkemah di Pos 3, karena tanjakan menuju Pos 4 ini cukup terjal  apalagi jika kami membawa carrier.


Pink Sunrise.

Saat di Sabana 1, kami berhenti sejenak dan menikmati matahari terbit. Pemandangan di Sabana 1 indah sekali, disini kami melihat banyak tenda-tenda pendaki. Matahari mulai tinggi dan saya menikmati langit merah jingga dengan edelweis, serta Gunung Merapi yang menjadi pemandangan kami menuju ke Pos 5 (Sabana 2). 


Pagi indah bersama Edelweis dan Gunung Merapi.


Perjalanan kami menuju puncak Merbabu sangat menyenangkan. Langkah ini terus bersemangat menuju puncak, setelah melewati Sabana 1 dan Sabana 2, dan menengok ke belakang, aku benar-benar terkejut! Aku melihat undakan Sabana yang kami lewati tadi, ditambah bonus Gunung Merapi dan lautan awan yang memesona.


Sabana 1, 2, dan Gunung Merapi menemani perjalanan kami.
Menuju Puncak Kentengsongo.
Tanjakkan yang kami tempuh sebelum Puncak Kentengsongo.

Akhirnya kami sampai di Puncak Kentengsongo 3142 mdpl! Dari sini, kami bisa melihat gunung-gunung lain seperti Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Lawu. Kami melihat ada tenda dan batu-batu di Puncak Kentengsongo. Sesuai dengan namanya terdapat 9 batu kenteng dan dikeramatkan oleh masyarakat. Kami mengambil waktu sejenak untuk bersyukur, melihat indahnya alam semesta, dan mengibarkan bendera merah putih di Puncak Kentengsongo.


Finally 3142 mdpl!

Saat tiba kembali di basecamp, sampah kami digeledah. Petugas memastikan apa yang kami bawa turun sesuai catatan pada saat kami hendak naik. Pada akhirnya, bisa juga aku bertahan di gunung tanpa tisu basah. Bahkan aku gak terlalu memikirkannya karena terlalu asik menikmati pemandangan di sini. Walaupun turun gunung muka penuh debu, tapi rasanya puas bisa mengurangi sampah tisu basah di gunung.


Kondisi jalur yang berdebu.

Gunung bukanlah tempat sampah. Jika hanya bisa membuang sampah di gunung atau menyembunyikan sampah dalam semak-semak, lebih baik kamu di rumah saja. Sampah di gunung sangat banyak dapat merusak ekosistem. Menjaga kebersihan alam adalah bagian dari perjalanan pendakian. Saat mendaki gunung lagi, mari siapkan satu kantong lebih untuk membawa sampah yang bukan milikmu, sebagai rasa peduli dan cintamu terhadap alam. 


Terima kasih Merbabu atas perjalanan yang membuatku rindu. Semoga kelak bisa kembali lagi melihatmu melaui jalur pendakian yang berbeda. 


Ritual Make Up dengan Rabbit Habit

Sebagai seorang pejalan, dalam hal penampilan wajah, aku cukup pemilih soal bawaan make up dalam pouch saat bepergian. Walaupun suka beraktivitas di luar ruang, aku suka berpenampilan natural dengan make-up yang praktis. Kali ini aku mau sharing tentang ritual make up yang aku gunakan dengan Rabbit Habit.


Rabbit Habit Produk Lokal Kosmetik Indonesia 
Awalnya aku penasaran banget sama arti nama Rabbit Habit. Ternyata produk lokal ini terinspirasi dari legenda cerita rakyat Asia "Moon Rabbit". Filosofinya berasal dari kelinci di bulan yang selalu bekerja tanpa lelah, yang menciptakan ramuan kecantikan terbaik untuk Dewi Bulan. Kisah tersebut yang membuat Rabbit Habit juga selalu berusaha yang terbaik untuk menciptakan produk make up dan skincare yang dapat dgunakan oleh semua wanita #FriendsOfRabbit. Rabbit Habit ingin menyeimbangkan hidup dengan tampil cantik natural dan efektif (effortless beautiful).

"Wow! Packagingnya cantik banget, elegan, warnanya juga aku suka banget." 
Itu kesan pertamaku saat produk Rabbit Habit ada di tanganku. Produk Rabbit Habit dikembangkan di Korea, namun dibuat di Indonesia. Selain bermanfaat untuk mempercantik penampilan pastinya, semua produk Rabbit Habit juga mengandung bahan skincare yang efektif merawat kulit, seperti bahan adesonine, allantoin, ekstrak bunga athemis nobilis (chamomile), niacinamide, dan squallane. Rangkaian ritual make up Rabbit Habit dijamin 100% halal, 100% cruelty-free, dan 100% no nasties. So, let's have a try!

Manfaat Kandungan Rabbit Habbit

Moon Glow, All in One Effortless Compact Pertama di Indonesia

Sebagai penganut make up minimalis dan praktis, aku suka banget karena ternyata Moon Glow ini bukan cushion biasa! Tapi didalamnya terdapat cushion foundation dan luminous concealer sekaligus. 2 in 1 Cushion Foundation (SPF50+/PA+++) dan Luminous Concealer merupakan produk lokal  pertama di Indonesia yang memadukkan foundation dan concealer hanya dalam satu genggaman. 


Aku menggunakan shade Moon Glow 3, yaitu Sand foundation dan Custard Concealer. Cushion foundation anti-aging ini teksturnya ringan dan medium-full coverage membuat wajahku glowing seketika. Cara pakainya pun sangat mudah! Aplikasikan dengan cara tap-tap puff ke wajah dan leher, serta pastikan rata ke seluruh kulit. 



Untuk menggunakan concealer, kita dapat menggunakan puff juga atau ujung jari untuk menutup noda hitam atau bekas jerawat. Pemakaian concealer dapat dilakukan sebelum atau sesudah pemakaian cushion foundation. Kemasan Moon Glow disertai dengan penutup magnet untuk memastikan produk tetap higienis dan tidak cepat kering. Concealer dan Cushion Foundation ini juga dapat di refill lho! Menurutku, Moon Glow praktis banget dibawa bepergian, karena bentuknya yang compact dan efisien.

Price: Rp289.000
Others Shade Available:
> Moon Glow 1: Ecru Foundation and Porcelain Concealer
> Moon Glow 2: Beige Foundation and Vanilla Concealer
> Moon Glow 4: Honey Foundation and Ginger Concealer
> Moon Glow 5: Caramel Foundation and Walnut Concealer

Pipi Merona Alami dengan Blushing Moon

Salah satu make-up wajib yang juga harus aku gunakan adalah blush on. Alasannya sederhana, karena pemakaian blush on membuat wajah lebih segar dan tidak terlihat pucat. Biasanya aku menggunakan blush on powder dengan kuas, tapi kali ini aku memakai Cushion Blush "Blushing Moon" dari Rabbit Habit, yang dilengkapi juga dengan spons (puff) lembutnya. 


Shade yang aku gunakan ini Burnished Brown, cocok digunakan untuk kita yang ingin berpenampilan natural dan meniruskan pipi atau rahang. Cara menggunakannya pun sangat mudah! Aplikasikan dengan cara tap-tap puff ke pipi hingga rata. Dengan puff lembut yang tersedia, kita tak perlu lagi mengotori jari untuk mengaplikasikannya. Teksturnya pigmented dan easy blend dengan foundationnya.


Price: Rp149.000
Colors Available: Tickled Pink, Coral Coquette, Salsa Red.

Velveteen Matte & Whipped Lip Cream Nggak Bikin Bibir Kering

Selain Cushion foundation dan blush, Rabbit Habit juga memiliki produk lipstik yang gak bikin bibir kering. Lagi-lagi aku jatuh cinta pada pandangan pertama karena packagingnya cantik banget, sekilas terlihat seperti kaca dengan finishing doff dan terlihat sangat elegan. Rabbit Habit memiliki 2 jenis lipstik yaitu Velveteen Matte dan Whipped Lip Cream. Pada bagian aplikator terdapat sejenis per yang menjaga produk agar tertutup rapat. Aplikatornya sangat mudah digunakan di bibir. Masing-masing terdiri dari 6 shade warna yang siap mempercantik penampilanmu. Kalau penasaran sama warna-warna lainnya, jangan lupa kepoin instagram atau website Rabbit Habit ya! Semua warnanya cantik sampai aku bingung mau beli yang mana lagi.


Velveteen Matte

Saat aku mengeluarkan aplikator dan memolesnya pada bibir, terasa teksturnya yang lembut dengan hasil akhir matte, dan tidak membuat bibirku kering. Aku menggunakan shade Boston Brownstone dengan warna merah agak jingga. Saat digunakan Velveteen Matte, aku merasa bibirku lembab dan tahan lama. Selain itu, tak perlu waktu lama dan menggosok bibir terlalu keras untuk membersihkannya.


Price: Rp149.000
Others Colors Available: Sweet Chestnut, Blush Crush, Verry Berry Craze, Strawberry Cooler, dan      Scarlet Startlet.

Whipped Lip Cream

Sedikit berbeda dengan Velveteen Matte, Whipped Lip Cream menampilkan hasil akhir semi-matte pada bibir. Aku menggunakan shade Mauve Over Darling dan langsung suka banget sama warnanya. Warna ini membuat tampilan natural nan cantik, kamu wajib coba! Untuk menggunakan Whipped Lip Cream, ada beberapa tips yang bisa kamu coba agar penampilan lebih menarik;
  • Jika ingin tampilan bibir natural, oleskan Whipped Lip Cream hanya di bibir bagian dalam. Kemudian ratakan ke seluruh bibir menggunakan jari manis.
  • Kamu juga bisa membuat tampilan ombre dan two tone sesuai dengan variasi dan intensitas yang diinginkan.    
  • Campurkan shade dan tekstur untuk menyesuaikan tampilan bibirmu. Setelah itu, kamu akan menemukan warna baru yang sesuai dengan keinginanmu.

Price: Rp149.000
Others Colors Available: Head Ochre Heels, Burgundy Belle, Lucky Charm, Peppy Pink, dan Peach Melba.

Overall, aku suka sekali dengan produk lokal Rabbit Habit yang berkualitas dan inovatif. Konsep make up yang unik, termasuk dalam penamaan produk-produknya yang bersatu dengan konsep. Kesan pertama, aku langsung jatuh cinta sama packagingnya, warnanya cantik dan terlihat elegan. 
Shade yang disediakan juga beragam.


Jadi, itulah ritual make up aku dengan Rabbit Habit. Nah, sekarang share juga yuk ritual make up kamu dengan Rabbit Habit, dengan menyertakan hashtag #RabbitHabitBeautyHabbit dan #FriendOfRabbit di instagram dan sosial media lainnya yang kamu miliki. Informasi selengkapnya, kunjungi www.rabbithabit.com ya! Let's make effortessly beautiful.

...


Keep in Touch

Thanks for reading!

Stop Iklan Rokok Selamatkan Generasi Penerus Bangsa

Perokok adalah salah satu orang yang saya hindari. Saya paham bahaya rokok bagi kesehatan perokok pasif. Saat teman saya sedang merokok, saya pasti akan menghindarinya. Alasannya karena saya akan sesak nafas jika mencium asap rokok, ditambah satu badan saya pasti bau rokok. Zaman sekarang perokok tak mengenal usia, bahkan anak dibawah umur saja sudah kenal dengan rokok. Padahal generasi muda memiliki peranan penting untuk membangun masa depan bangsa. 

Asap rokok, bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain dan lingkungan. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membeli rokok dalam sehari? Bagi saya, uang tersebut bisa saja dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Dalam kesempatan Talkshow Ruang Publik KBR (Kantor Berita Radio) bersama Dedi Syahendry, Kepala Dinsos PMD-PPA dan Nahla Jovial Nisa, Koordinator Advokasi Lentera Anak, saya mendapatkan beberapa informasi penting mengenai pentingnya daerah bebas reklame produk rokok dan pengaruhnya bagi generasi muda.

Sawahlunto Bebas Reklame Produk Rokok
Perjalanan panjang kota Sawahlunto memperjuangkan kota bebas reklame produk rokok akhirnya membuahkan hasil. Dimulai pada tahun 2012 dengan Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012 tentang peraturan mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. Tahun 2013 mencanangkan kota layak anak serta mengkaji persoalan penghapusan iklan rokok, tahun 2014 mengeluarkan Perda No. 3/2014 mengenai Kawasan Tanpa Rokok, tahun 2015-2016 menghimbau melalui instruksi waikota, dan tahun 2017 keluar intruksi walikota agar semua iklan rokok dihapus dan tidak menerima Pendapatan Asli Daerah (PAD) iklan rokok. Tahun 2018 instruksi walikota tersebut masih dipertahankan, dan pada akhirnya pada tahun 2019 dikeluarkan Peraturan Walikota (Perwako) mengenai kota Sawahlunto bebas reklame produk rokok.

Dedi Syahendry selaku Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PMD-PPA) Kota Sawahlunto mengatakan bahwa Pemerintah Sawahlunto mencari alternatif sektor lain untuk tetap memperoleh PAD. Dengan jumlah penduduk sebanyak 65.000 jiwa di empat kecamatan, hasil PAD iklan rokok di kota tersebut tidak terlalu banyak, kisaran Rp32juta/tahun. 
"Walaupun PAD dari segi iklan rokok hilang, tapi dari segi nilai dan pandangan orang lain melihat kota Sawahlunto, kota kecil tanpa iklan rokok sangat positif. Apalagi kota Sawahlunto masuk dalam World Heritage yang telah ditetapkan oleh UNESCO", Dedi Syahendry, Dinsos PMD-PPA.
Melalui Peraturan Walikota Sawahlunto nomor 70 tahun 2019, kota Sawahlunto melarang reklame produk di kota itu. Jika ada kegiatan dengan iklan rokok, kegiatan tersebut ditidiadakan. Setiap ada laporan mengenai iklan rokok, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan bertindak tegas. Spanduk-spanduk iklan rokok yang terpampang pada warung-warung akan diganti dengan spanduk pentingnya kesehatan tanpa rokok. 

Rintangan terbesar dalam aturan pelarangan iklan rokok ini adalah berhadapan perusahaan-perusahan rokok yang melakukan promosi secara masif. Namun pemerintah pusat sepakat bahwa walaupun kehilangan PAD iklan rokok, tapi bisa menyelamatkan anak-anak Sawahlunto dari pengaruh buruk rokok. 

Pemerintah Sawahlunto juga bekerja sama dengan radio kota Sawahlunto untuk tidak menyiarkan kegiatan apapun yang berhubungan dengan iklan rokok, serta menggandeng komunitas dan organisasi kampanye anti rokok. Harapan ke depannya agar Peraturan Walikota (Perwako) mengenai bebas reklame rokok ini menjadi Peraturan Daerah (Perda) agar hukum dan keberadaannya lebih kuat. 

Kawasan Tanpa Rokok di Jakarta
Jakarta, kota kelahiranku ini adalah kota metropolitan ini tak luput dari iklan rokok. Walaupun sudah ada larangan, iklan rokok di papan reklame, spanduk, dan poster masih ada yang terpampang. Termasuk iklan rokok tersembunyi yang ditemukan pada acara musik dan olahraga. Selain itu, modus iklan rokok terdapat di warung-warung dekat sekolahpun juga menjadi sasarannya. Pemilik warung dibayar sejumlah uang untuk memasang spanduk rokok dan membuat program kompetisi penjualan antar warung. 

Padahal dalam Pergub No.1 Tahun 2015 sudah ditetapkan tentang larangan penyelenggaraan reklame rokok dan produk tembakau pada media luar ruang. Sesuai aturan dari Kementerian Kesehatan juga sudah ditetapkan beberapa Kawasan Tanpa Rokok, antara lain; fasilitas kesehatan (puskesmas, klinik, dan rumah sakit), sekolah, tempat bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan fasilitas umum. 


Namun tak jauh dari rumah saya, di kelurahan Sunter Jaya sudah menetapkan daerahnya menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Masyarakat yang ingin merokok, harus keluar dari lingkungan tersebut. Dengan begitu, kawasan tersebut minim sampah puntung rokok dan dapat menikmati sirkulasi yang lebih segar. Di area pemukiman ini juga terlihat asri ditumbuhi tanaman. Mereka menyadari bahwa rokok dapat membahayakan keluarga dan kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Ada juga Kampung Penas Tanggul Jatinegara yang sudah menetapkan kawasan tanpa rokok. Kawasan ini dipenuhi mural yang berisi larangan dan himbauan berhenti merokok. Dulu kawasan ini terkenal kumuh, namun sejak ada kasus penyakit paru-paru yang diderita sekitar 20 anggota keluarga di sini, warga jadi sadar pentingnya kesehatan. Para ibu dan anak-anak menjadi 'polisi' yang melarang keras merokok.

Pemerintah harus melakukan upaya pembatasan pengguna rokok. Salah satunya dengan tegas menetapkan Kawasan Tanpa Rokok dan menjalankan sanksi bagi pelanggarannya. Menurut saya, kota Sawahlunto dan beberapa kampung bebas reklame rokok bisa menjadi contoh/panutan bagi kota-kota lain di Indonesia untuk menciptakan daerah bebas reklame produk rokok. 

Generasi Penerus Bangsa Bebas Rokok
Generasi masa kini suka mencoba hal baru dan menantang, mereka mudah terpengaruh oleh iklan yang berada di sekitar mereka. Salah satunya adalah iklan rokok yang mengancam masa depan mereka. Berdasarkan penelitian Uhamka pada tahun 2017, menyatakan bahwa 46% iklan rokok memengaruhi mereka untuk mencoba, menjadi kecanduan, dan sulit dihentikan. Tak dapat dipungkiri, bahwa salah satu faktor merokok adalah media seperti; papan reklame, media sosial, dan sponsor pada acara atau kegiatan.

Nahla Jovial Nisa, selaku Koordinator Advokasi Lentera Anak mendukung kebijakan tidak lagi adanya promosi rokok dan tidak menjual rokok kepada anak dibawah usia 18 tahun. Berdasarkan hasil survey Lentera Anak di 10 kota, iklan rokok dtargetkan bagi perokok pemula agar konsumsinya tidak menurun dan ada perokok pengganti. Jumlah perokok usia muda terus meningkat karena keberadaannya dekat dengan mereka, harga yang tak begitu mahal, dan bisa didapat di warung dekat sekolah. 

Dalam pasal 30 PP 109/2012 juga tertulis bahwa, "Selain pengendalian iklan produk tembakau yang dimaksud dalam pasal 27, iklan di media teknologi informasi harus memenuhi ketentuan situs merek dagang produk tembakau yang menerapkan pembatasan umur kepada orang berusia 18 tahun ke atas." 
"Indonesia adalah satu-satunya negara Asean yang belum melarang promosi iklan rokok. Negara lain masih bisa menjual rokok tanpa iklan", Nahla Jovial Nisa, Koordinator Advokasi Lentera Anak.
Pemuda-pemudi merupakan generasi penerus bangsa. Iklan rokok dapat memengaruhi psikis dan mental anak-anak dalam masa muda. Mereka yang sudah mencobanya sekali saja bisa berpotensi menyebabkan penyakit tidak menulat, seperti diabetes, penyakit pernapasan, hingga jantung. Hal tersebut tentunya menghambat kreativitas dan produktivitas mereka di usia produktif. Pembebasan iklan rokok di sekitar sekolah merupakan salah satu investasi dan langkah awal untuk menghasilkan generasi emas bebas rokok. 

Strategi Daerah Terapkan Pembatasan Iklan Rokok

Setiap daerah wajib membatasi iklan rokok di luar maupun dalam ruangan. Hal tersebut harus disertai dengan komitmen untuk melindungi sumber daya manusia dan lingkungan. Hingga saat ini, sudah ada  16 kabupaten kota daerah yang mengeluarkan larangan rokok dalam bentuk peraturan pemerintah, kota, bupati, dan surat edaran. PStrategi daerah dalam menerapkan pembatasan iklan rokok harus terus dijalankan dengan beberapa cara sebagai berikut;

  1. Pemerintah memiliki perspektif dan kesadaran bahwa hal ini bukan hanya untuk meningkatkan perekonomian saja, tapi untuk melindungi anak menuju generasi unggul. 
  2. Menegakkan Undang-Undang atau Peraturan tentang larang iklan rokok dan sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya.
  3. Mengganti Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada sektor lain selain iklan rokok. Salah satu contohnya adalah kota Bogor yang sudah mengganti PAD iklan rokok, yang bahkan membuat PAD kota Bogor meningkat.
  4. Mengganti iklan rokok dengan edukasi dan sosialisasi mengenai bahaya rokok. 
  5. Pembatasan iklan rokok pada media sosial karena zaman sekarang informasi dari media sosial cepat sekali beredar serta dapat diakses kapanpun dan dimanapun.
  6. Melarang penjualan rokok secara bebas, seperti larangan penjualan bir atau minuman beralkohol secara ilegal. 
  7. Melakukan talkshow/kegiatan ke sekolah-sekolah terkait bahaya rokok.

Besar harapan saya agar setiap daerah dapat menerapkan pembatasan bahkan #PutusinAja iklan rokok. Pembatasan iklan rokok membawa dampak baik bagi kita dan lingkungan. Meskipun iklan rokok dapat meningkatkan pendapatan bagi pendapatan Indonesia, tapi kembali lagi untuk hidup yang lebih sehat dan sejahtera, bukankah menyelamatkan generasi penerus bangsa lebih penting?

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti loba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.
_____

Sumber Referensi:

...

Keep in Touch
Thanks for reading!

Join Over 75k + Subscribers