Jens Reisch selaku President Director Prudential Indonesia mengatakan bahwa pandemi Covid-19 tidak seharusnya membatasi semangat untuk menjaga tubuh tetap bugar, seperti dengan bersepeda sebagai salah satu olahraga favorit masyarakat.
PRURide 2020, Balap Sepeda Virtual Pertama Prudential Indonesia
Situasi pandemi seperti ini membuat kita sedikit banyak lebih memperhatikan pola hidup sehat, termasuk berolahraga. Tahu gak sih kalau olahraga bersepeda itu salah satu olahraga yang dianjurkan WHO yang dapat dilakukan masyarakat di tengah pandemi ini lho! Kalau kamu suka bersepeda keliling komplek atau taman, kamu wajib ikutan PRURide 2020 bareng Prudential.
Kegiatan PRURide 2020 sejalan dengan fokus We Do Health dan We Do Innovation Prudential. Selama hampir 25 tahun di Indonesia, Prudential berkomitmen menjadikan masyarakat hidup lebih sehat dan lama dengan berbagai solusi perlindungan kesehatan dan kegiatan. Sebelum virus corona menyebar luas di Indonesia, Prudential juga telah melakukan banyak hal dalam upaya membantu nasabah dalam memberikan benefit tambahan hospital cash Rp1juta selama 30 hari bagi nasabah. serta fasilitas rapid test gratis melalui aplikasi Pulse, yang bekerjasama dengan halodoc dan RS. Mitra Keluarga.
Ride with Pride
Kegiatan PRURide Indonesia diselenggarakan setiap tahun merupakan perwujudan dalah satu komitmen Prudential Indonesia untuk mendengarkan, memahami, dan mewujudkan gaya hidup sehat bagi masyarakat. Setelah sukses mengadakan PRURide 2019 di Yogyakarta, PRURide 2020 akan segera digelar kembali di Indonesia dengan konsep yang berbeda!
Prudential telah menyelenggarakan kegiatan bersepeda berskala besar di berbagai negara, seperti; London, Inggris, Hongkong, Filipina, dan Indonesia. PRURide 2020 akan dilaksanakan secara virtual sebagai kegiatan Virtual Ride pertama oleh Prudential. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menjaga kesehatan dan kebugaran di tengah pandemi.
PRURide 2020 membuka kesempatan bagi para pesepeda pemula untuk merasakan event bersepeda sebagai simulasi untuk race yang sebenarnya. Walaupun diadakan secara virtual, kegiatan balap sepeda ini gak kalah seru. Justru seharusnya kita patut berbangga karena menjadi bagian dalam sejarah balap sepeda virtual pertama di Indonesia. Ini adalah momen kegiatan balap sepeda yang tak terlupakan dan akan dikenang sepanjang masa.
How to Join PRURide 2020
PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride diselenggarakan pada tanggal 20-23 Agustus 2020. Para peserta dapat memilih kategori Gran Fondo (135 km) atau kategori Medio Fondo (70km) yang dapat diselesaikan secara langsung atau vertahap selama empat hari penyelenggaran. Setiap peserta akan menyelesaikan PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride melalui aplikasi. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekita lingkungan rumah masing-masing dengan tetap mematuhi protokol keamanan seperti memakan alat pelindung diri dan tetap berjaga jarak.
Pendaftaran dibuka mulai 8 Juni 2020, dengan promo early bird 50% hingga tanggal 15 Juni 2020. Setelah melakukan pendaftaran, panitia akan mengirimkan "Silver Rider Jersey" yang dapat digunakan saat mengikuti PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride. Silver Rider Jersey didesain khusus dengan desain dan kualitas terbaik, dalam rangka 25 Tahun Prudential Indonesia. Pendaftaran dibuka mulai 8 Juni 2020, dengan promo early bird 50% hingga tanggal 15 Juni 2020. Setelah melakukan pendaftaran, panitia akan mengirimkan "Silver Rider Jersey" yang dapat digunakan saat mengikuti PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride. Silver Rider Jersey didesain khusus dengan desain dan kualitas terbaik, dalam rangka 25 Tahun Prudential Indonesia.
Selain itu, PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride memiliki medali unik bernama Medalink, yang terdiri dari dua bagian yang saling terhubung. Bagi seluruh finisher PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride akan mendapatkan bagian yang pertama. Bagian kedua bisa didapatkan pada PRURide 2021, sebagai pengingat untuk menjalani gaya hidup sehat adalah sebuah komitmen.
Sebelum melakukan PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride, ada beberapa tips yang dapat dilakukan seperti melatih endurances dengan training plan yang benar. Saat bersepeda virtual, jangan lupa untuk membawa botol minum dan menikmati perjalanan. PRURide Indonesia 2020 Virtual Ride dapat diikuti seluruh masyarakat dari seluruh Indonesia. Salah seorang artis penggemar olahraga gowes, Sigi Wimala juga akan turut berpartisipasi dalam balap sepeda virtual ini. Yuk daftar disini http://bit.ly/pruridevr2020 ya. Salam gowes!
Adaptasi Kebiasaan Baru, Persiapan Perjalanan Setelah Pandemi Covid-19
Banyak hal terjadi hingga pertengahan tahun 2020 ini, termasuk salah satunya Virus Covid-19 yang masih beredar di dunia. Berbagai kalangan dan sektor terkena dampak tak terkecuali! Pandemi Covid-19 juga berpengaruh besar terhadap industri pariwisata yang selama ini berkontribusi besar terhadap perekonomian; mulai dari moda transportasi, akomodasi, dan tempat wisata itu sendiri.
Rasanya sudah sejak bulan Februari lalu, saya tidak melakukan perjalanan. Tapi hal tersebut tak boleh menyurutkan semangat kita untuk tetap mempromosikan pariwisata Indonesia di mata dunia ke depannya. Bagi saya dan para teman pejalan, adaptasi kebiasaan baru wajib diterapkan. Persiapan traveling setelah pandemi Covid-19 harus mengikuti protokol yang ada.
Sudah lebih dari tiga bulan saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Biasanya, saya sering menggunakan transportasi umum untuk bepergian. Rumah saya di Jakarta Utara, jika bepergian (jauh) ke Jakarta Selatan, semua moda transportasi umum saya naikki, mulai dari ojek online, LRT, Trans Jakarta, dan MRT. Apa kabarnya ya sekarang? Saat ini cuma bisa melihat dia dari foto dan sosial media saja. Ternyata ngangenin juga.
Padahal beberapa hari sebelum tempat wisata di Jakarta ditutup, saya dan beberapa teman sudah merencanakan pergi keliling Jakarta menggunakan transportasi umum. Tapi siapa sangka sejak saat itu, tempat wisata yang ingin kami kunjungi ditutup untuk umum. Namun, saya yakin saat tempat-tempat wisata dibuka lagi, kebersihan akan menjadi hal yang sangat penting bagi wisatawan maupun pengelola objek wisata.
Adaptasi Kebiasaan Baru
Sudah siap untuk menghadapi realita setelah pandemi Covid-19? Siap tidak siap, kita harus bisa menghadapi realita untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Adaptasi kebiasaan baru adalah bagaimana cara kita menyesuaikan kebiasaan dan gaya hidup. Walaupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlangsung, namun protokol kebersihan dan kesehatan tetap berlaku, sehingga kita tetap aman produktif.
Adaptasi kebiasaan baru juga dilakukan pada sektor penting yang terdampak Covid-19 seperti; transportasi umum, restoran, rumah ibadah, kantor, dan beberapa tempat yang sudah ditentukan berdasarkan zona pemetaan. Zona tersebut terbagi atas zona hijau: zona yang tidak berdampak, zona kuning: zona dengan resiko rendah, zona oranye: zona dengan resiko sedang, dan zona merah: zona dengan resiko tinggi. Berdasarkan Permenhub 18/2020, Kementerian Perhubungan juga mengeluarkan aturan batas kapasitas penumpang kendaraan umum saat masa Adaptasi Kebiasaan Baru, sesuai dengan zona Covid/PSBB masing-masing.
Untuk kedepannya, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan berencana memperkenalkan aplikasi L-Cov (Lacak Covid) bagi pengguna transportasi di Jabodetabek. Aplikasi L-Cov diharapkan dapat membantu masyarakat dalam melakukan pencegahan dini terhadap potensi penyebaran virus Covid-19, baik sebelum maupun saat bermobilitas menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi,
Persiapan Perjalanan Setelah Pandemi Covid 19
1. Pastikan Kamu Sehat Saat Bepergian
Tubuh yang sehat dan stamina yang fit pastinya membuat perjalanan menjadi lebih nyaman. Jika memiliki gejala batuk, flu, dan sesak nafas lebih baik memeriksakan diri ke dokter. Hal tersebut dilakukan demi kebaikan sendiri dan orang lain agar tidak tertular virus. Jangan lupa untuk membawa surat keterangan sehat (saat bepergian jarak panjang), selalu sedia obat-obatan pribadi, minum air yang cukup, dan konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
2. Datang dan Pergi Lebih Awal
Maksud saya, saat kondisi seperti ini kepadatan penumpang untuk menggunakan transportasi publik pasti meningkat, check in, dan pemeriksaan berkas serta fisik saat bepergian juga memakan waktu yang lebih lama. Physical Distancing yang diterapkan mengharuskan kita menjaga jarak satu sama lain setidaknya dua meter. Hal tersebut membuat antrean lebih panjang dan lama. Kita gak bisa menyalahkan keadaan karena semua terkena dampaknya. Tapi hal kecil yang bisa kita lakukan adalah, bangun lebih pagi dan berangkat lebih awal agar kita masih berada di antrean depan.
3. Pembelian Tiket Wisata/Reservasi Secara Online
Saat ini, dunia digital sangat membantu perkembangan dunia pariwisata. Hal ini juga dapat dimanfaatkan dalam pembelian tiket wisata atau reservasi tempat secara online demi mengurangi kontak fisik. Selain itu, hal tersebut juga dapat mengurangi penggunaan tiket fisik dan uang kertas. Sudah banyak operator perjalanan menyediakan aplikasi yang dapat mengakomodasi kebutuhan dan informasi bagi para pejalan. Perkembanga teknologi zaman sekarang, memudahkan kita dalam beradaptasi kebiasaan baru.
4. Membawa Masker dan Hand Sanitizer
Sebenarnya saat bepergian menggunakan transportasi publik, saya sudah terbiasa menggunakan masker mulut. Alasan sederhananya adalah agar saya tidak langsung terpapar debu atau asap kendaraan. Namun sekarang kegunaannya lebih dari itu karena siapa saja bisa terpapar virus bahkan tanpa gejala. Penggunaan masker mulut meminimalisir penyebaran droplets virus corona.
Gunakan masker kain/reusable sehingga dapat dicuci ulang dan mengurangi limbah masker sekali pakai. Masker kain digunakan tidak lebih dari empat jam, jadi sebaiknya kita selalu membawa masker cadangan dalam tas saat bepergian. Saya juga membawa tissue, parfum, serta hand sanitizer serbaguna untuk mencuci tangan saat tidak ada wastafel dan mencuci barang bawaan yang mungkin berpotensi terkena virus.
View this post on InstagramA post shared by ᴛʀᴀᴠᴇʟ ʙʟᴏɢɢᴇʀ | ɪʀᴇɴᴇ ᴋᴏᴍᴀʟᴀ (@pinktravelogue) on
5. Membawa Botol Minum dan Alat Makan Sendiri
Sebelum pandemi ini, saya memang sudah membawa botol minum senditi. Terlebih seorang teman pejalan saya, selalu mengingatkan untuk membawa alat makan sendiri karena lebih higienis dan nyaman karena tidak digunakan oleh orang lain. Dengan begitu, kita juga turut berkontribusi memutus penularan virus Covid-19 dan mengurangi limbah sampah kemasan makanan, kan?
6. Tetap Melakukan Pyhsical Distancing
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah diterapkan di berbagai tempat seperti di restoran, rumah ibadah, mall, terminal, stasiun, bandara, dan tempat publik lainnya. Kita harus tetap memperhatikan marka tanda jarak, dan berdiri atau duduk sesuai tanda yang disediakan. Saat naik transportasi publik; seperti bus, kereta, dan pesawat, kita wajib menghargai sesama pengguna transportasi dengan tidak ngobrol secara langsung ataupun melalui telepon karena hal itu mengganggu orang lain dan berpotensi menyebarkan virus Covid-19.
View this post on InstagramA post shared by ᴛʀᴀᴠᴇʟ ʙʟᴏɢɢᴇʀ | ɪʀᴇɴᴇ ᴋᴏᴍᴀʟᴀ (@pinktravelogue) on
Harapan Besar dengan Adaptasi Kebiasaan Baru
Masa pandemi Covid-19 membawa harapan yang besar bagi semua kalangan; harapan untuk hidup yang lebih baik. Kita semua turut ambil bagian dalam menanggulangi wabah ini. Saya berharap sektor pariwisata di Indonesia tetap meningkatkan protokol kebersihan karena faktor kebersihan membuat pejalan atau pelancong merasa lebih nyaman, mendatangkan suasana hati yang senang dan jiwa yang sehat.
Penyediaan pos sanitasi (wastafel) dan hand sanitizer tetap dipertahankan di ruang publik, serta perbanyak tempat sampah. Namun hal tersebut harus dibarengi dengan inisiasi masyarakat yang bijak dan sadar diri. Saat mendatangi toilet umum ataupun toilet di tempat wisata, saya berharap pengelola memiliki standar sabun yang sesuai, karena saya sering melihat rasio sabun dalam botol yang terisi banyak oleh air.
Saya juga berharap masyarakat bisa lebih tertib dan antre saat menggunakan transportasi publik. Fasilitas ini kita gunakan bersama sehingga sudah seharusnya kita turut menjaga demi kenyamanan bersama. Suatu hari, saat saya naik bus, beberapa orang berdesakan masuk ke dalam saat bus sudah penuh, bahkan hingga saya tak bisa bergerak. Saya rasa budaya antre, perlu ditekankan dan awak transportasi perlu ditambah sehingga armada datang lebih tepat waktu, serta tidak terjadi penumpukkan penumpang.
Hal-hal yang saya sebutkan diatas terlihat banyak ya? Tapi kita harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru ini. Setidaknya pandemi membawa perubahan tentang gaya wisata yang lebih mengedepankan aspek kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kenyamanan untuk kedepannya. Kita perlu ingat bahwa penyebaran virus Covid-19 ini belum berakhir, namun hidup ini akan terus berjalan. Saya sudah gak sabar untuk traveling lagi, pastinya setelah kondisi membaik dan tetap mematuhi protokol yang berlaku.
Di Rumah karena Corona, Ngapain Aja? | The New Normal
Sebagai pekerja lepasan alias freelance, sebenarnya saya sudah terbiasa untuk Work From Home (WFH). Memang ada beberapa hal yang berbeda, biasanya saya mendatangi beberapa event namun hal tersebut harus ditunda atau malah dibatalkan.
Tapi syukurnya, saya masih dapat kerjaan yang dari rumah. Masa seperti ini memang mendorong kita untuk bertahan dan melakukan apapun yang bisa membuat diri tetap waras. Lalu, di Rumah karena Corona, Ngapain Aja?
There's always a good things in bad things.
Semua orang dan sektor terkena imbas virus Corona. Gerak kami jadi terbatas. Karantina, isolasi diri, social distancing, dan apalah itu sebutannya, memang membuat kita menjadi bosan di rumah. Tapi saya berusaha mencari kegiatan supaya gak bosan di rumah.
Saya menyadari bahwa waktu di rumah menjadi waktu yang sangat berharga. Kesehatan dan kehadiran orang tersayang menjadi sangat berarti. Ketika di rumah aja, saya lebih menyadari spot-spot di rumah yang biasanya terlihat biasa saja, ternyata bagus juga.
1. Staycation at Home
Kalo lagi gak jalan-jalan, saya (terlebih pak suami) lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Banyak juga ternyata yang bisa kami lakukan, nonton film dan masak bareng. Saya mulai bebenah rumah pelan-pelan, demi menciptakan rasa nyaman dan suasana estetik. Haha! Memulai hari dengan beresin tempat tidur, meja kerja, dan secangkir kopi. Setidaknya hal itu bisa menaikkan mood saya di pagi hari.
2. Menikmati Cuaca yang Lebih Bersih, Langit Biru, dan Senja
Setidaknya kualitas udara di bumi membaik dan polusi udara berkurang. Entah kenapa setiap pagi saya selalu lihat jendela dan menantikan cuaca cerah yang membangkitkan semangat. Ketika langit biru atau senja, saya langsung keluar rumah untuk sekadar berfoto dan menikmatinya.
Let earth take a breathe for a while
Salah satu fenomena yang gak bisa saya lupa pada suatu senja. Saya merasa atmosfer dalam rumah terasa hangat dan berwarna kekuningan. Saya langsung bergegas melihat ke depan langit kala itu tampak menakjubkan. Saya, Will, dan Ponie menikmati senja dan awan mammatus yang jarang kami lihat.
@pinktravelogue Sunset unik depan rumah. #liburanonline #sejernihdepanmata #indonesia #tiktoktravel #beAuthentic #fyp #fypシ #tiktokindo #sunset #samasamadirumah ♬ Menuju Senja - Payung Teduh
3. Ikut Workshop Online
Sejak pandemi ini, banyak sekali kelas online atau workshop, live instagram, dan semacamnya yang diadakan secara gratis maupun berbayar. Saya tak mau menyia-nyiakannya. Beberapa kelas yang saya ikuti seperti "How to Document Your Traveling Photo like a Pro" dari Kadek Arini, "Dari Blogging jadi Cuan" dari Satya Winnie dan Sisternet, Kelas Menulis bersama Trinity, dan masih banyak lagi.
Selain itu, saya juga mendapat kesempatan berharga untuk ikut kelas ISB Blog Course yang diadakan oleh Komunitas Indonesia Social Blogpreneur selama 1,5 bulan dengan pertemuan 2x seminggu. Terbagi atas 3 materi dengan pembicara kompeten; kelas Blogging Refreshment and Learning oleh Teh Ani, kelas SEO, oleh mas Ardan, kelas Canva for blogger oleh Teh Eva.
Materi-materinya bikin saya makin semangat dan termotivasi untuk mengembangkan blog dan sosial media lain yang kupunya. Buatku, jika ada workshop online atau acara virtual semacam ini menjadi investasi dan tak ada ruginya untuk ikutan. Toh menambah pengalaman kita juga kan?
4. Nonton Drama Korea (lagi)
Dulu itu saya seneng banget nonton Korea, sampe akhirnya nabung buat ke Korea karena mau lihat salju di sana. Tapi lama-lama udah gak nonton lagi. Kalau dulu nonton Korea di TV Kabel seperti S-One, sekarang saya jadi suka nonton Korea dari Netflix dan Viu. Yaampun ternyata nonton drama series Korea begini bikin nagih. Kudu set timer biar gak lupa waktu. Haha. Beberapa film yang saya rekomendasikan yaitu;
- Crash Landing On You
- Wok of Love
- Chocolate
- Itaewon Class
- The World of Marriage Couple
- It's Okay to Not Be Okay
- Mystic Pop Up Bar
- Was It Love
- Record of Youth
- Reply 1988
5. Buka Usaha
Salah satu makanan favorit saya itu Gyoza dan karena lagi kangen dan kepengen banget ke Jepang entah kenapa saya coba bikin usaha gyoza, namanya Ichigyo. Puji Tuhan, dapat dukungan dan ada aja yang beli setiap kali pre-order. Sebenernya dulu saya punya usaha bikin desserts namanya Salty Sweets. Tapi akhirnya gak kepegang karena sibuk kerja kantoran. Will juga punya usaha baru namanya Insta Repara, kepoin juga ya!
6. Virtual Photoshoot and Video Shoot
Secara sadar atau tidak, kita didorong menjadi lebih kreatif supaya gak bosan dan rebahan terus. Selama di rumah aja, saya dan teman-teman berkolaborasi untuk membuat virtual photoshoot, virtual directing shoot, dan tiktok. Lumayan sekali-kali mengabadikan momen ini di rumah aja. Hasilnya juga ternyata bagus banget!
View this post on InstagramA post shared by ᴛʀᴀᴠᴇʟ ʙʟᴏɢɢᴇʀ | ɪʀᴇɴᴇ ᴋᴏᴍᴀʟᴀ (@pinktravelogue) on
@pinktravelogue After pandemi be like 👆🏻 #PassThePassportChallenge #samasamadirumah #dirumahaja #passthebrushchallenge ♬ original sound - pinktravelogue - Irene Komala
@pinktravelogue After pandemi be like 👆🏻 #PassThePassportChallenge #samasamadirumah #dirumahaja #passthebrushchallenge ♬ original sound - pinktravelogue - Irene Komala
7. Jadi Pembicara Talkshow Online
Selalu ada yang pertama kan untuk segala sesuatu? Kalau selama ini, saya suka pantengin workshop online, sayapun juga mendapat pengalaman baru menjadi pembicara di beberapa acara virtual. Perasaannya campur aduk, deg-degan, dan tegang. Tapi saya mendapat pelajaran baru untuk berbicara dan berbagi pengalaman dengan hal tersebut.
Kita semua beradaptasi dengan situasi new normal ini. Semoga keadaan segera membaik. Tetap semangat dan berusaha menjalani hari-hari di masa pandemi. Kalo kamu, ngapain di rumah aja?
Silaturahmi Tetap Asik Walaupun Tidak Mudik
Tak terasa sebentar lagi kita memasuki Bulan Ramadan. Tak sabar juga rasanya untuk mudik atau liburan bersama keluarga tercinta. Walaupun aku gak ikutan mudik, aku tetap ikut merasakan euforia lebaran di rumah. Apalagi dulu kalau Asisten Rumah Tangga (ART) pulang kampung alias mudik, aku selalu menantikannya kembali ke rumah karena Mba Sum (begitu aku memanggilnya) selalu membawa makanan oleh-oleh khas daerahnya dari Pacitan. Namun tahun ini, karena maraknya Virus Corona, Mba Sum akhirnya tak mudik.
Tunda Mudik Tahun Ini!
Siapa yang menyangka, saat Indonesia terkena Virus Covid-19 yang pada awalnya hanya 2 orang, saat saya menulis ini, jumlah kasus Virus Covid-19 di Indonesia sudah lebih dari 2.000 kasus! Masalah ini bukan hanya masalah satu negara saja, karena WHO sudah menetapkan status pandemi (wabah penyakit global) untuk Virus Covid-19. Masa darurat virus Corona di Indonesia juga diperpanjang hingga akhir Mei 2020, yang artinya melewati masa lebaran.
Tradisi mudik dalam rangka lebaran menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Tapi dalam kondisi seperti ini, kesabaran dan toleransi kita diuji. Himbauan dan keputusan untuk tidak mudik dan tidak piknik rasanya lebih baik demi kebaikan kita bersama termasuk demi kesehatan orang tua dan keluarga di kampung halaman. Loh kenapa?
1. Social dan Physical Distancing
Kita harus menjauhi kerumunan untuk sementara waktu (Social dan Physical Distancing) karena Virus Covid-19 bisa menyerang siapa saja, dimana saja, dan kapan saja melalui kontak fisik. Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak satu sama lain, setidaknya dua meter, dan hal tersebut sulit dilakukan terutama masyarakat yang mudik dengan transportasi umum. Saat dalam perjalanan, baik menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara, secara sadar atau tidak, kita bisa saja tertular virus Covid-19 karena banyak orang dalam suatu tempat.
2. Penyebaran Virus Covid-19 Terus Meningkat
WHO menyatakan 8 dari 10 orang yang positif Virus Covid-19 tidak merasakan gejala apa-apa. Tidak mudik bisa mencegah penyebaran Virus Covid-19 yang terus meningkat dari hari ke hari. Jika mudik, kita berpotensi menjadi pembawa virus (carrier) walaupun kita terlihat sehat-sehat saja. Bahkan Virus Covid-19 dapat menular melalui barang-barang yang kita bawa. Oleh karena itu penting untuk mencuci tangan dengan bersih, menggunakan masker, dan menyemprotkan disinfektan pada benda mati dalam upaya mengurangi penyebaran Virus Covid-19. Gak mau kan bawa oleh-oleh virus membahayakan ke kampung halaman?
3. Karantina Satu Bulan!
Seseorang yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) adalah yang bepergian atau berasal dari negara atau kota lain yang merupakan pusat penyebaran Virus Covid-19. Jakarta sudah memasuki zona merah Virus Covid-19. ODP harus dikarantina selama 14 hari dan setelah kembali ke perantauan harus karantina lagi 14 hari. Total karantina satu bulan lamanya! Bukankah jadi percuma jadinya jika ingin mudik jadinya malah diisolasi?
4. Menularkan Penyakit ke Kampung Halaman
Kita berpotensi menularkan Virus Covid-19 kepada keluarga yang lanjut usia, karena orang tua lebih rentan terkena virus ini. Bahkan bukan hanya keluarga, tapi juga berdampak satu kampung halaman. Belum lagi, jika terinfeksi fasilitas kesehatan di daerah belum tentu memadai. Rencana mudik yang mau bersenang-senang bersama keluarga malah bikin repot.
Lalu, ngapain dong #diRumahAja?
Presiden Jokowi sudah menghimbau berbagai kegiatan sebisa mungkin dilakukan di rumah, seperti bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Segala upaya dilakukan untuk menurunkan jumlah kasus Virus Corona di Indonesia. Aku percaya selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang ada. Saat di rumah aja, aku berpikir bahwa Virus Corona membuat kita lebih menghargai waktu, kesehatan, dan pertemuan. Virus Corona membuat kita lebih sadar kebersihan, memberi pelajaran untuk tidak serakah, dan mengajarkan kita untuk saling berbagi.
Bagi beberapa teman-teman yang introvert mungkin sudah lebih terbiasa dengan himbauan ini, namun bagi teman-teman yang ekstrovert, pasti rasanya agak gak betah ya di rumah aja. Tapi sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan kok walaupun di rumah aja. Misalnya: menonton film, membaca buku, memasak, dan olahraga. Lakukan kegiatan apa saja yang membuat kamu sehat dan bahagia!
Silaturahmi Tetap Asik Meski Tidak Mudik
Menjaga jarak tak berarti terpisah. Bukti sayang keluarga saat ini adalah dengan Tidak Mudik dan Tidak Piknik karena kesehatan dan keluarga adalah harta yang paling berharga. Tapi tidak mudik bukan berarti tidak berkomunikasi dengan keluarga. Kita masih bisa memanfaatkan teknologi masa kini seperti; video call dan aplikasi zoom untuk melepas rindu, betul?
Kehadiran teknologi di zaman milenial setidaknya membantu kami melepas rindu lewat tatap layar kaca. Walaupun tak bertemu secara fisik, tapi doaku selalu ada untuk mereka. Menahan rindu memang berat, tapi jauh lebih penting melindungi kesehatan orang-orang tersayang. Liburan lebaran tahun ini, rasanya bukan momen yang pas untuk mudik atau piknik. Mari kita saling berdoa dan menguatkan agar keadaan kembali seperti sedia kala.
Small act, Big impact! Kita harus bekerjasama dan saling menolong untuk Indonesia pulih. Setiap kita berkontribusi agar rantai Corona terputus dan pandemi ini cepat berakhir. Stay healthy, stay at home, and stay productive! Yuk di Rumah Aja!
Siapa yang menyangka, saat Indonesia terkena Virus Covid-19 yang pada awalnya hanya 2 orang, saat saya menulis ini, jumlah kasus Virus Covid-19 di Indonesia sudah lebih dari 2.000 kasus! Masalah ini bukan hanya masalah satu negara saja, karena WHO sudah menetapkan status pandemi (wabah penyakit global) untuk Virus Covid-19. Masa darurat virus Corona di Indonesia juga diperpanjang hingga akhir Mei 2020, yang artinya melewati masa lebaran.
![]() |
| Ciri-ciri dan Bahaya Virus Corona. |
1. Social dan Physical Distancing
Kita harus menjauhi kerumunan untuk sementara waktu (Social dan Physical Distancing) karena Virus Covid-19 bisa menyerang siapa saja, dimana saja, dan kapan saja melalui kontak fisik. Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak satu sama lain, setidaknya dua meter, dan hal tersebut sulit dilakukan terutama masyarakat yang mudik dengan transportasi umum. Saat dalam perjalanan, baik menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara, secara sadar atau tidak, kita bisa saja tertular virus Covid-19 karena banyak orang dalam suatu tempat.
2. Penyebaran Virus Covid-19 Terus Meningkat
WHO menyatakan 8 dari 10 orang yang positif Virus Covid-19 tidak merasakan gejala apa-apa. Tidak mudik bisa mencegah penyebaran Virus Covid-19 yang terus meningkat dari hari ke hari. Jika mudik, kita berpotensi menjadi pembawa virus (carrier) walaupun kita terlihat sehat-sehat saja. Bahkan Virus Covid-19 dapat menular melalui barang-barang yang kita bawa. Oleh karena itu penting untuk mencuci tangan dengan bersih, menggunakan masker, dan menyemprotkan disinfektan pada benda mati dalam upaya mengurangi penyebaran Virus Covid-19. Gak mau kan bawa oleh-oleh virus membahayakan ke kampung halaman?
3. Karantina Satu Bulan!
Seseorang yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) adalah yang bepergian atau berasal dari negara atau kota lain yang merupakan pusat penyebaran Virus Covid-19. Jakarta sudah memasuki zona merah Virus Covid-19. ODP harus dikarantina selama 14 hari dan setelah kembali ke perantauan harus karantina lagi 14 hari. Total karantina satu bulan lamanya! Bukankah jadi percuma jadinya jika ingin mudik jadinya malah diisolasi?
4. Menularkan Penyakit ke Kampung Halaman
Kita berpotensi menularkan Virus Covid-19 kepada keluarga yang lanjut usia, karena orang tua lebih rentan terkena virus ini. Bahkan bukan hanya keluarga, tapi juga berdampak satu kampung halaman. Belum lagi, jika terinfeksi fasilitas kesehatan di daerah belum tentu memadai. Rencana mudik yang mau bersenang-senang bersama keluarga malah bikin repot.
Lalu, ngapain dong #diRumahAja?
Presiden Jokowi sudah menghimbau berbagai kegiatan sebisa mungkin dilakukan di rumah, seperti bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Segala upaya dilakukan untuk menurunkan jumlah kasus Virus Corona di Indonesia. Aku percaya selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang ada. Saat di rumah aja, aku berpikir bahwa Virus Corona membuat kita lebih menghargai waktu, kesehatan, dan pertemuan. Virus Corona membuat kita lebih sadar kebersihan, memberi pelajaran untuk tidak serakah, dan mengajarkan kita untuk saling berbagi.
Bagi beberapa teman-teman yang introvert mungkin sudah lebih terbiasa dengan himbauan ini, namun bagi teman-teman yang ekstrovert, pasti rasanya agak gak betah ya di rumah aja. Tapi sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan kok walaupun di rumah aja. Misalnya: menonton film, membaca buku, memasak, dan olahraga. Lakukan kegiatan apa saja yang membuat kamu sehat dan bahagia!
Baca Juga : Tips Jalan-jalan di Rumah ala Irene
Jangan bosan di rumah aja, karena kebosanan dan keadaan kita di rumah, mungkin adalah keinginan dan kerinduan teman-teman yang gak bisa Work From Home (WFH) atau orang-orang yang selalu ada di garda terdepan seperti tenaga medis. Akupun punya sederet daftar tempat piknik yang ingin sekali didatangi. Aku juga sudah kangen jalan-jalan, tapi aku gak mau jalan-jalan sama Virus Covid-19. Jadi, mari kita bersabar supaya virus ini gak menyebar.
Silaturahmi Tetap Asik Meski Tidak Mudik
Menjaga jarak tak berarti terpisah. Bukti sayang keluarga saat ini adalah dengan Tidak Mudik dan Tidak Piknik karena kesehatan dan keluarga adalah harta yang paling berharga. Tapi tidak mudik bukan berarti tidak berkomunikasi dengan keluarga. Kita masih bisa memanfaatkan teknologi masa kini seperti; video call dan aplikasi zoom untuk melepas rindu, betul?
...
Keep in Touch
Subscribe to:
Posts (Atom)



















